Showing posts with label van Holland. Show all posts
Showing posts with label van Holland. Show all posts

June 12, 2015

Buat Yang Mau Studi Di Luar Negeri



Belakangan ini saya memperhatikan animo mahasiswa untuk melanjutkan studinya di luar negeri semakin meninggi. Wajar sih, karena peluangnya memang semakin terbuka lebar. Beasiswa yang pemerintah tawarkan untuk studi di luar negeri memang sangat menggiurkan. Apalagi sejak ada LPDP, program beasiswa yang tidak kalah menterengnya dengan program beasiswa dari luar, terutama dari segi tunjangan hidup.

Banyak alasan orang ingin studi di luar negeri, ada yang karena memang ingin mencari kualitas kampus yang lebih baik, ada yang cuma karena ingin merasakan tinggal di luar negeri, ada juga yang hanya sekedar gengsi atau ikut-ikutan. Well, saya hanya bisa bilang: Innamal a’malu binniyat. Amal itu tergantung niat dan mereka akan mendapatkan sesuai apa yang mereka niatkan.

Meski studi di luar negeri menawarkan banyak keuntungan, tapi perlu dicermati bahwa studi di luar negeri juga bisa membuat kita (umat Islam) kehilangan beberapa nikmat, apalagi kalau kita studi di negeri yang muslimnya menjadi minoritas, seperti kebanyakan di negara-negara Eropa. Niscaya kita akan benar-benar merindukan nikmatnya tinggal di Indonesia. Beberapa nikmat yang (menurut saya) hilang itu diantaranya adalah:

a.       Hilangnya Romantisme Mendengar Senandung Adzan
Di negara-negara yang muslimnya menjadi minoritas, terutama di Eropa, suara adzan tidak boleh dikumandangkan dengan menggunakan speaker karena menurut mereka itu adalah hal yang mengganggu. Kita akan merasakan betapa berbedanya suasana di sana dibandingkan dengan di Indonesia. Tidak ada lagi suara muadzin yang sahut-menyahut di langit untuk mengingatkan bahwa waktu sholat telah masuk, kemudian mengajak kita sholat berjamaah. Kita harus selalu sadar dan ingat kapan waktu sholat itu tiba. Jika lalai, maka bisa jadi kita tidak sadar bahwa kita telah masuk waktu sholat berikutnya. Terlebih waktu sholat di Indonesia dengan di Eropa sangat berbeda.

Kalau kita datang ke masjid bersamaan dengan waktu sholat tiba, mungkin kita masih beruntung bisa mendengarkan suara adzan karena muadzin tetap boleh adzan di dalam masjid tanpa speaker. Akan tetapi apakah kita selalu bisa seperti itu? Dan lagi, romantisme ketika langit ramai dengan suara muadzin yang mengagungkan asma Allah tidak akan bisa terganti dengan hanya mendengarkan suara seorang muadzin di dalam masjid saja.

b.      Hilang/Berkurangnya Kesempatan I’tikaf (Berdiam Diri di Masjid)
Tidak semua masjid buka 24 jam. Ada masjid yang hanya dibuka ketika waktu sholat tiba dan ditutup lagi setelah sholat berjamaah selesai dilaksanakan. Bagi mereka yang tau keutamaan berdiam diri lebih lama di masjid, hal ini tentu akan sangat merugikan. Ada banyak sekali kebaikan yang akan berkurang atau hilang, misalnya kebaikan didoakan oleh malaikat, diampuni dosa, dihujamkan ketenangan, dan ditumbuhkan rasa cinta kepada Allah.

c.       Rusaknya Sholat Berjamaah
Bagi laki-laki, saya bisa mengatakan bahwa studi di luar negeri bisa menjadi pintu utama dalam merusak kebiasaan mereka dalam sholat berjamaah. Ada banyak sekali penghalangnya, mulai dari letak masjid yang sangat jauh, suara adzan yang tidak berkumandang  sehingga tidak menyadari bahwa waktu sholat telah masuk, hingga cuaca yang tidak bersahabat, terlebih ketika memasuki musim dingin. Alhasil, kalau tekad tidak kuat, maka penghalang-penghalang tersebut akan selalu menjadi pembenaran bagi kita untuk tidak sholat berjamaah.

d.      Terbatasnya Makanan Halal
Beruntung kalau kita tinggal di negara yang memiliki kelompok umat muslim yang kuat karena biasanya mereka akan memfasilitasi umat muslim lainnya dalam banyak hal, terutama penyediaan makanan halal. Di Belanda misalnya, ada komunitas muslim dari Turki yang sangat kuat (meski mereka tetap menjadi minoritas di Belanda). Mereka memiliki beberapa toko yang menyediakan makanan-makanan halal, baik yang mentah maupun yang sudah siap santap. Meskipun dalam beberapa hal harganya bisa lebih mahal.

Masalah harga ini saya lihat cukup menjadi penggoyah juga bagi beberapa orang sehingga tidak sedikit yang akhirnya memilih membeli di tempat yang harganya lebih murah meskipun tidak jelas kehalalannya. Pertanyaannya, tidakkah kita khawatir dengan nasib kita ketika datang hari penghisaban nanti?

e.      Terbatasnya Majelis Ilmu
Kalau di Indonesia, kita bisa dengan mudah menemukan majelis ilmu di masjid-masjid. Tetapi kalau di luar negeri tidak semudah itu. Majelis ilmu cukup jarang dilaksanakan dan kalaupun dilaksanakan, biasanya menggunakan bahasa “mereka” masing-masing. Di Belanda misalnya, karena banyak imigran dari Turki, biasanya majelis ilmu mereka juga menggunakan Bahasa Turki. Ada juga majelis ilmu yang menggunakan Bahasa Belanda dan Arab. Saya sendiri belum pernah menemukan majelis ilmu yang menggunakan Bahasa Inggris. Beruntung teman-teman dari Indonesia punya majelis ilmu sendiri yang biasanya diadakan sepekan sekali.

Well, mungkin kita masih bisa mengobati kerinduan bermajelis seperti di Indonesia dengan cara mendengarkan via web streaming. Tapi perlu diingat juga bahwa kita akan banyak kehilangan berkah dari majelis ilmu kalau kita hanya mendengar via web streaming, misalnya berkah berkumpul bersama orang sholih, berkah menempuh perjalanan menuntut ilmu (kan kalau web steaming tinggal duduk di depan laptop sambil ngemil :p), serta berkah berdiam diri di masjid.

Dengan berbagai nikmat yang banyak berkurang itu, maka muslim yang baik harus benar-benar memperhitungkan jika ia hendak belajar ke luar negeri yang minoritas muslim. Sehingga kepergiannya ke sana dapat membuat kualitas dirinya sebagai hamba Allah bertambah-tambah, bukan justru semakin terkikis dan tergerus karena pengaruh negeri yang dikunjungi. Harus diingat bahwa kerugian bukanlah ketika kita gagal pergi ke luar negeri, tapi kerugian adalah ketika kita jauh dari Allah. Meskipun gagal ke luar negeri, tapi kalau tambah dekat dengan Allah, maka sejatinya dia untung.

#Wisma Pakdhe

February 7, 2012

Antara Menjaga Izzah dan Berbasa-basi


Satu pelajaran dari guru saya yang sangat melekat sampai sekarang adalah tentang menjaga izzah. Izzah secara sederhana berarti kemuliaan. Menjaga izzah berarti menjaga kemuliaan diri. Diri bisa mulia dengan menjaganya dari sifat tamak, hasad (dengki), riya’ (suka pamer), ujub, dan berbagai penyakit ruhani lainnya.

Satu bentuk penjagaan izzah lainnya yang sering guru saya sampaikan adalah dengan cara tidak bergantung pada pemberian orang lain. Guru saya menekankan agar kita seharusnya selalu berusaha untuk tidak tergiur dengan pemberian orang lain. “Kalau barang yang diberikan itu sudah kita miliki, lebih baik ditolak dengan cara yang baik” begitu kira-kira nasihat guru saya. Contoh sederhananya begini, saya sudah punya hp, kemudian datang seseorang memberikan hp kepada saya. Maka sebaiknya saya menolak pemberian itu. Toh saya sudah punya hp.

Kalaupun kita tidak bisa menolak pemberian itu karena kita sangat membutuhkan barang/jasa tersebut, maka kita harus membalasnya dengan balasan yang setimpal. Misalnya begini, ketika akan pergi ke kampus, saya selalu diboncengi teman saya karena saya tidak punya motor sendiri, sedangkan kosan saya jauh dari kampus (misalnya). Maka bentuk penjagaan izzah yang bisa saya lakukan, salah satunya adalah dengan cara membelikan bensin.

Mengapa kita harus sebegitu ketatnya menjaga izzah kita? Hal itu dilakukan agar kita bisa berlaku adil (proporsional) kepada setiap orang. Kalau kita sering diberi barang/jasa oleh orang lain (dan kita tidak membalasnya), kita akan digelayuti oleh perasaan hutang budi. Selain itu, kehormatan kita disisi dia pun akan turun jika kita selalu menerima pemberian dia. Semakin banyak barang/jasa yang kita terima, semakin rendah kedudukan kita disisi dia. Perasaan ini akan membuat kita tidak berlaku adil, cenderung selalu membenarkannya sebagai salah satu bentuk balas budi kita terhadapnya.

Masih mending kalau yang memberikan itu adalah orang yang ihsan, yang takut kepada Allah, yang hanya mengaharap ridho Allah ketika memberi. Kita akan lebih terjaga karena ia pasti takut berbuat dosa. Akan tetapi kalau yang memberikan itu adalah orang yang zhalim, yang semena-mena terhadap dirinya dan orang lain, maka siap-siap anda akan terbebani karena sangat mungkin dia akan memanfaatkan anda.

Contoh sederhananya begini, anda sering ditraktir makan siang oleh teman anda. Kemudian saat ujian, teman anda ingin menyontek kepada anda. Apa yang anda lakukan? Pasti anda merasa terbebani dan tidak enak jika tidak memberikan contekan karena dia sering mentraktir makan siang kepada anda. Begitulah, karena kita berhutang budi. Agar hal itu tidak terjadi, maka setiap sekali anda ditraktir, balaslah traktiran tersebut dengan yang setimpal atau lebih.


Menjaga Izzah atau Berbasa-basi

Menjaga izzah tidak sama dengan berbasa-basi. Kalau menjaga izzah, tekad kita sejak dari dalam hati adalah untuk menjaga kemuliaan. Sedangkan orang yang cuma berbasa-basi, biasanya tampak luarnya saja yang menolak, tapi dalam hatinya masih menginginkan (semoga tidak ada yang tersinggung). Tenang saudara-saudara, saya juga masih berjuang untuk terlepas dari ini.

Saat ngekos di Jogja, Ibu kos saya yang sangat baik itu sering kali memberikan saya makanan. Ada dua cara si ibu ini dalam memberikan makanan. Pertama, langsung mengetuk pintu kamar dan membawakan makanan (semoga Allah membalas segala kebaikan beliau dengan balasan terbaik). Kedua, menanyakan “Mas Fajar sudah makan belum?” kalau sedang berpapasan. Sungguh ini adalah salah satu ujian terberat saya dalam menjaga izzah.

Tentu anda sudah paham betul bagaimana nasib anak kost kebanyakan. Duit diirit-irit untuk memanage berbagai keperluan. Makan disederhanakan, bukan karena zuhud, tapi memang uangnya yang pas-pasan. Maka ketika tawaran memperbaiki gizi itu datang, sangat berat sekali (bagi saya) untuk menolaknya.

Well, saya sering menolak juga sih. Tapi saya sadar penolakan saya masih sering cuma sekedar basa-basi, bukan (atau lebih tepatnya belum) upaya menjaga izzah. Dan memang Ibu kos saya ini kekeuh sekali dalam berbuat baik, seolah tidak mau menerima penolakan. Meskipun saya menolak, misal dengan alasan sedang berpuasa (bukan alasan yang dibuat-buat tentunya), beliau akan berkata “Yaudah, ini buat buka puasa aja” atau beliau akan datang lagi sebelum maghrib untuk memberikan makanannya yang tadi saya tolak. Sampai sekarang saya masih bingung bagaimana membalas kebaikan ibu kos saya itu. Apa yang sudah saya berikan untuknya, masih sangat jauh dari apa yang sudah ia berikan untuk saya.

Sedang memikirkan balasan untuk keluarga Mas Izul yang sudah menampung saya di rumahnya selama 10 hari.

February 3, 2012

Semakin Berat Semakin Ajib

Terhitung sejak 31 Januari 2012 malam, saya menempati kamar baru di rumah seorang rekan dari Indonesia, Mas Izul namanya, di jalan Planetenlaan. Tidak lama sih, cuma 10 hari sampai tanggal 10 Februari 2012 karena setelah itu saya akan pulang ke Indonesia. Terkait dengan kepindahan itu, ada sedikit hal yang ingin saya share.

Letak rumah Mas Izul ini (atau kosan saya-sebutlah demikian) cukup dekat dengan masjid. Di kosan yang baru ini, jarak tempuh ke masjid (Selwerd, bukan Turki/Korreweg) hanya sekitar 7 menit bersepeda. Berbeda sekali dengan kosan yang lama, yaitu sekitar 25 menit. Hal ini patut saya syukuri karena dengan begitu (seharusnya) saya bisa lebih intens lagi berkunjung ke masjid. Kalau dulu saya sering mengkambinghitamkan jarak, (seharusnya) kini ia (jarak) sudah menjadi kambing putih.

Akan tetapi, meski jarak sudah dikambingputihkan, rupanya setan masih memiliki stok kambing-kambing hitam lainnya. Ya harap maklum, namanya juga setan, misinya aja menyesatkan manusia. Kalau mereka diam saja menyaksikan manusia taat kepada Allah, bukan setan namanya. Btw kambing hitam yang disodorkan kepada saya kali ini, setelah jarak berubah menjadi kambing putih, adalah cuaca.

Beberapa hari ini, cuaca di Groningen selalu berada di bawah 0 derajat. Minus. Atau orang fisika menyebutnya berada di bawah titik beku. Saya yang sudah berpakaian anti dingin pun (long john, thermal shirt, jacket, syal, kupluk, kaos tangan kulit, kaos kaki wol, dan jeans) masih bisa diterobos oleh nakalnya suhu yang dibawah minus itu. Di tengah cuaca seperti ini, praktis merapatkan diri di kamar adalah pilihan yang paling nyaman.

***

Berajin-rajin di kamar memang sangat menyenangkan. Apalagi ditemani dengan internet yang super duper cepat, 30an Mbps, pilihan untuk keluar rumah rasanya menjadi opsi terakhir. “Kalau tidak ada keperluan yang mendesak, tak usahlah keluar rumah, dingin begitu kok” begitu kira-kira setan memprovokasi.

Akan tetapi sebagai seorang muslim, saya “berkewajiban” untuk keluar rumah 5x sehari untuk melaksanakan sholat berjamaah, meski sebenarnya saat ini saya mendapatkan dispensasi. Maka konsekuensinya, pilihan untuk keluar rumah sejatinya bukanlah menjadi opsi terakhir. Justru harus menjadi opsi kedua setelah berajin-rajin di kamar. Tetapi, untuk merealisasikan hal itu beratnya bukan kepalang. Nah, dalam situasi inilah saya menjumpai Islam begitu cerdas memotivasi para pemeluknya untuk senantiasa istiqomah dalam beribadah kepada Allah.

Dalam Islam, saya mengenal kaidah seperti ini: “semakin sulit (berat) suatu ibadah, semakin besar pahala yang diraih.” Kaidah ini disimpulkan dari beberapa hadits dari Rasulullah saw. Berikut beberapa haditsnya:
"Orang yang membaca al-Qur'an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca al-Qur'an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala." (HR Bukhari & Muslim)
“Maukah aku tunjukkan kepada amal yang dengan Allah hapuskan kesalahan-kesalahan dan meninggikan dengan derajat? mereka berkata, ”Mau wahai Rosulullah!” Beliau bersabda, ”Menyempurnakan wudlu ketika sulit, banyak berjalan menuju masjid, dan menunggu sholat setelah sholat itulah ribath, itulah ribath, itulah ribath”. (HR Muslim).

Dalam hadits pertama, terlihat jelas bahwa “keberatan” seseorang dalam beribadah mendapat ganjaran yang berlipat. Dalam hadits itu, Rasulullah saw memompa semangat umat Islam yang belum lancar membaca al-Qur’an dengan ganjaran dua pahala.

Di hadits kedua, kaidah yang saya sebutkan di atas semakin tampak jelas. Kalimat yang saya cetak tebal dan diberi garis bawah itu sudah cukup menjelaskan bagaimana tingginya nilai ibadah ketika ibadah itu sulit atau berat untuk dilakukan.

Kalau sudah seperti ini, lalu apalagi yang menghalangi dirimu untuk istiqomah? Apalagi yang menghalangimu mengintensifkan diri ke masjid? Allah swt sudah begitu Pemurahnya mengobral pahala untuk setiap genjotan-genjotan yang berat, jari-jari yang membeku, dan desahan-desahan nafas yang tertahan. So, ambil sepedamu dan meluncurlah.


Di kamar baru, sedang nge-drop setelah diserbu suhu minus berhari-hari.

January 30, 2012

My First Snow is Special for You, Mom

Hampir 4 tahun saya hidup jauh dari Ibu saya. Semenjak kuliah di Jogja (UGM), praktis saya hanya bisa bertemu dengan ibu saya saat libur semester. Artinya, hanya ada 2 kesempatan dalam setahun. Ini adalah pengalaman pertama saya jauh dari orangtua karena sebelum kuliah di Jogja, saya selalu lengket dengan ibu-bapak saya.

Memang, kultur keluarga besar kami bukanlah kultur keluarga perantau. Almarhum/ah kakek dan nenek saya, baik dari ibu maupun bapak, (setau saya) adalah penduduk asli kampung yang sekarang kami tinggali. Lahir, besar, dan wafat di sana, tanah Betawi.

Ketika saya bilang ke ibu bahwa saya ingin kuliah di UGM, ibu awalnya tidak mengizinkan. Seperti umumnya orang Betawi, Ibu tidak suka kalau orang-orang terdekatnya jauh darinya. Ibu lebih menghendaki agar saya kuliah di Jakarta atau langsung cari pekerjaan saja.

Saya menolak. Saat itu saya memaksa. Saya berikan argumen ini dan itu mengapa saya tidak mau kuliah di Jakarta atau langsung bekerja, dan lebih memilih untuk kuliah di UGM. Tapi argumen-argumen itu juga bukanlah alasan yang dibuat-buat demi melancarkan niat saya kuliah di sana, melainkan argumen yang dipenuhi dengan kesadaran. Meski sudah memelas, Ibu masih terlihat berat untuk mengatakan “ya”.

Walaupun belum mendapat lampu hijau dari ibu saya, saya tetap mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi ujian masuk UGM yang katanya cukup sulit itu. Sambil terus memohon restu, saya intensifkan diri saya dalam berlatih soal-soal ujian. Seiring persiapan itu, alhamdulillah Ibu saya mulai menunjukkan tanda restunya. Ibu mulai melunak. Ibu mulai memancarkan senyum ridho.

Saya semakin senang. Semakin giat berlatih soal-soal ujian. Tak lupa pula saya selimuti ikhtiar itu dengan doa kepada Allah agar saya diluluskan dalam ujian masuk tersebut (belakangan saya sadar bahwa doa saya saat itu kurang tepat). Sadar bahwa doa orangtua, terutama ibu, sangat mustajab, maka saya pun mendekati ibu saya lagi agar didoakan.

Meskipun saya tau bahwa seorang ibu pasti selalu mendoakan kebaikan bagi putranya, tapi entah kenapa saya menjadi begitu kompulsif perihal doa ini. Sering sekali saya merengek kepada ibu agar didoakan. Pernah dalam suatu kesempatan, saya mendekati ibu yang baru selesai sholat. “Umi, “ begitu panggilan saya kepada beliau “doakan Fajar ya biar lulus ujian masuk UGM.” (jangan bayangkan nada saya dalam meminta doa itu seperti di film-film yah). Ibu saya tersenyum. Ah, dari sini saya yakin ibu saya sudah sepenuhnya merestui. Tinggal ikhtiarnya yang harus dimantapkan lagi.

Ujian pun berlalu. Alhamdulillah, atas rahmat Allah saya menjadi salah satu peserta yang berhasil lulus dalam ujian masuk UGM itu. Saya senang. Ibu saya pun senang, sekaligus sedih. Sekaligus bingung juga. Sedih karena sadar akan ditinggal merantau oleh putranya (dan kesedihan ini semakin terlihat jelas menjelang keberangkatan saya ke Jogja), juga bingung karena memikirkan biaya kuliah dan hidup saya nanti di Jogja.

Alhamdulillah, atas kemurahan Allah semua itu bisa kami lalui. Setidaknya sampai tahun ke tiga sejak saya meninggalkan kampung halaman.

Rengekan Jilid 2

Saya kembali merengek meminta doa kepada ibu saya ketika saya berencana mengikuti program pertukaran pelajar. Sekali lagi, meski saya tau bahwa seorang ibu pasti selalu mendoakan kebaikan bagi anaknya, tapi rupanya kompulisiftas itu terulang kembali. Setiap saya menelepon atau ditelepon ibu saya, pasti saya merengek minta didoakan. Berbeda dengan kasus pertama dimana ibu saya awalnya merasa berat untuk mengizinkan saya merantau ke Jogja, pada rengekan jilid 2 ini Ibu saya terlihat (atau lebih tepatnya terdengar, karena saya merengek lewat telepon) lebih kompromis sedari awal.

Saya senang. Saya masifkan upaya saya dalam mengumpulkan dan memenuhi semua persyaratan program pertukaran pelajar tersebut. Bagi saya yang belum berpengalaman mendaftar program pertukaran pelajar seperti ini, bisa mengumpulkan dan memenuhi semua persyaratan saja sudah seperti kemenangan.  Kemenangan dalam melawan diri sendiri yang sering mengeluh lelah. Lelah karena digelayuti oleh godaan berhenti di tengah jalan karena alasan ini-itu. Sampai akhirnya pengumuman peserta yang lolos itu diberitakan melalui email, saya menangis bersujud syukur karena saya menjadi salah satu peserta yang terpilih. Saya telepon Ibu saya untuk mengabari hasil seleksi ini.

Ibu awalnya “kurang” percaya. Respon ibu biasa saja. Tetapi semakin mendekati tanggal keberangkatan, barulah Ibu menunjukkan respon yang berbeda. Ibu terlihat agak ketar-ketir. Ketar-ketir yang hampir serupa ketika saya pertama kali akan berangkat ke Jogja. Saya sangat memahami kekhawatiran Ibu. Ibu mana sih yang tidak mengkhawatirkan putra yang akan jauh dari jangkauannya?

Sekarang saya sedang berada di Belanda, mengikuti program pertukaran pelajar yang saya dambakan tersebut. Kalau saya flashback perjalanan saya, betapa besar jasa-jasa ibu saya itu dalam mengantarkan saya ke sini. Saya yang tidak pernah sedikitpun membayangkan bisa berkuliah di Belanda, sekarang berkesempatan untuk menyicipinya, walau hanya satu semester.

Akan tetapi, di saat saya sedang menjalani program pertukaran pelajar ini, saya mendapat kabar yang kurang mengenakan dari rumah. Ibu saya sakit. Dan sakitnya beliau membuat saya benar-benar down karena bukan penyakit yang biasa. Ibu mengidap kanker payudara.
On writing: Syafakillah ummi (sumber: dokumentasi pribadi)

Rupanya, sejak saya berangkat bulan September lalu, Ibu sudah memiliki gejala-gejalanya. Sebelum berangkat dulu, Ibu terlihat sering batuk-batuk. Ibu mengira ini adalah batuk biasa. Saya pun mengira demikian. Sampai akhirnya, ketika saya baru 2 bulan tinggal di Belanda, ibu dirawat di rumah sakit. Berminggu-minggu Ibu dirawat dan bahkan sampai harus dioperasi untuk mengangkat cairan di paru-parunya, penyebab batuk-batuk. Selama perawatan itu, saya hanya bisa memantau kondisi ibu melalui telepon.

Setelah selesai dioperasi, saya sudah agak lega. Bapak saya bilang bahwa ibu masih harus dirawat di rumah sakit untuk menjalani kemoterapi. Awalnya saya agak bingung dan heran, mengapa kok sampai di-kemoterapi? Yang saya tau, kemoterapi biasanya untuk penderita kanker. Saat itu, saya hanya menyerahkan ke dokter yang menangani ibu saya, karena tentu dia yang lebih mengerti.

Ternyata proses menuju kemoterapi itu sangat lama. Sampai dua minggu lebih, ibu belum juga mendapatkan terapi yang dimaksud. Karena lelah menunggu dan tidak ada penanganan selama penantian terapi itu, akhirnya ibu memutuskan untuk pulang. Saya sudah berusaha membujuk ibu agar tinggal lebih lama lagi dan mengikuti saja saran dokter, tapi sebagaimana pasien rawat inap pada umumnya, tentu ibu juga ingin cepat-cepat pulang. Apalagi, ibu juga tidak diberi penanganan apa-apa selama penantian terapi tersebut sehingga semakin membuatnya bosan.

Akhirnya ibu benar-benar pulang setelah dirawat sekitar 4 minggu di rumah sakit (selama perawatan, bapak lah yang paling sering menjaga ibu. Semoga Allah membalas kebaikan bapak dengan sebaik-baik balasan). Pasca perawatan di rumah sakit, kondisi ibu rupanya belum juga membaik. Ibu masih sering batuk dan mengeluh merasakan sakit di dadanya. Setelah berobat lagi ke berbagai rumah sakit, akhirnya diketahui bahwa ibu terserang kanker payudara dan satu-satunya opsi penyembuhan dari para dokter itu adalah kemoterapi.

Sekarang ibu saya sedang menunggu jadwal kemoterapinya di rumah sakit. Sebenarnya, seharusnya jadwal beliau hari Rabu kemarin, tapi entah kenapa diundur menjadi hari Jumat. Saat tiba hari Jumat, ternyata jadwalnya diundur lagi menjadi hari Senin sebab kata dokter dosis obat yang akan digunakan untuk terapi kurang. Hari ini mudah-mudahan ibu mendapatkan yang terbaik untuknya. Kalaulah kemoterapi itu baik, semoga proses kemoterapi itu bisa berlangsung hari ini dengan lancar.


Dalam gerimis salju yang pertama

Groningen, 30 Januari 2012 pukul 01.23 CET

January 26, 2012

Siapa Memperdaya Siapa?

“I don’t hate Moslem, I hate Islam” (Geert Wilders)

Masih ingat dengan Geert Wilders? Ya, dialah politisi Belanda yang mencuat namanya karena Fitna yang ia sebarkan. Seperti yang tertulis di kalimat pembuka di atas, Wilders mengakui bahwa objek kebenciannya sebenarnya bukanlah muslim, melainkan Islam.

Alasan Wilders menjadikan Islam sebagai objek kebencian dan bukan muslim, sebenarnya sangat logis karena sebagai ad-diin, Islam hadir ke bumi bukan hanya mengatur ibadah ritual manusia kepada tuhannya, tapi juga mengatur tata kelola hidup dan kehidupan. Artinya, selain sebagai “agama”, Islam juga hadir sebagai sistem, ideologi, dan pandangan hidup, sedangkan muslim hanyalah penata laksana tata kehidupan tersebut.

(Untuk mengetahui pengertian ad-diin lebih lengkap, silahkan baca artikel berikut. http://www.dakwatuna.com/2008/05/634/makna-kata-ad-diin/)

Sebagai seorang nasionalis-liberal, Wilders khawatir berkembangnya Islam di negerinya akan mengikis budaya asli yang sudah ada.  Dengan kata lain, dia khawatir “Belanda”-nya tidak menjadi “Belanda” lagi. Maka dari itu, dia memerangi Islam dengan penuh totalitas.

Selain Fitna, tercatat ada beberapa ulah lain darinya yang sempat muncul di media. Dia sempat mengampanyekan pemberlakukan tarif (pajak) bagi muslimah yang memakai jilbab, menghentikan gelombang masuk imigran (yang mayoritas adalah muslim), serta mendukung pelarangan penyembelihan hewan. Dahsyatnya lagi, dia bahkan pernah mengampanyekan pelarangan peredaran al-Qur’an karena menurutnya al-Qur’an sama bahayanya dengan buku fasisme Adolf Hitler, Mein Kampf.

Akan tetapi anehnya, upaya Wilders yang tekun dan rapi dalam membuat tipu daya untuk mendiskreditkan Islam itu seolah berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Saya menyaksikan Islam justru semakin “berkredit” di Belanda. Hal itu dibuktikan dengan tidak putus-putusnya gelombang masyarakat yang berikrar syahadat. Hampir di setiap shalat Jumat ada saja yang menjadi muallaf, meski saya sendiri tidak mengetahui muallaf tersebut warga asli Belanda atau bukan karena kebanyakan yang menjadi muallaf adalah wanita (tidak bisa dilihat karena tertutup hijab).

“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya" (Terjemah Q.S. Ali-Imran: 54).

Sedikit intermezzo

Seorang teman bercerita bahwa peraturan tentang pelarangan total penyembelihan hewan di Belanda batal dikeluarkan. Hal itu dikarenakan lobi Yahudi yang sangat kuat (Yahudi juga memiliki ritual penyembelihan hewan yang sama dengan Islam).

Sebenarnya peraturan tersebut sudah disetujui di tingkat kabupaten (saya istilahkan seperti itu karena saya kurang paham dengan tingkatan wilayah di sini), tapi kemudian mentah di parlemen karena mereka (Yahudi) punya “bagian” di sana.

Wallahu ‘alam

#dimuat di Fimadani dengan editing

December 25, 2011

My First Noble Qur'an-English Translation

Lagi. Lidah ini sontak berucap alhamdulillah ketika salah seorang jamaah masjid Korreweg, Pak Ahmad namanya, tanpa diduga memberikan sebuah al-qur’an terjemah Bahasa Inggris kepada saya.
Beliau memberikan al-qur’an itu tadi malam, ketika kami bertemu di Masjid Korreweg saat sholat Maghrib.  Entah apa alasan beliau memberikan al-qur’an tersebut, saya sendiri kurang memahaminya. Satu alasan yang sempat terlintas di benak saya adalah mungkin karena beliau merasa kasihan melihat saya yang tidak bisa berbahasa Arab dan Belanda, sedangkan setiap kajian dan diskusi umunya menggunakan kedua bahasa tersebut.
Sebenarnya, sebelumnya beliau yang berasal dari Mesir ini telah memberikan sebuah CD kepada saya yang (katanya) berisi al-qur’an terjemah 40 bahasa dan kitab-kitab (saya sendiri belum mengeceknya karena laptop saya tidak dilengkapi dengan CD Drive).
Tentu saya sangat senang dengan 2 pemberian ini. Apalagi saya sendiri sudah lama mendambakan al-qur’an terjemah Bahasa Inggris. Akan tetapi saya juga merasa malu, baik kepada diri sendiri, jamaah, maupun Allah, karena saya benar-benar merasa diistimewakan, padahal…. Ah…
Saya ingat nasihat yang disampaikan oleh Aa Gym. Suatu ketika beliau mengatakan bahwa Allah menutupi kita dengan 3 tutup sehingga kita masih dihormati oleh orang lain. Tutup pertama adalah kulit tubuh. Seandainya saja kulit kita dikelupas, maka orang lain akan jijik kepada kita. Kedua, Allah menutupi pikiran kita. Artinya, orang lain tidak mengetahui apa yang sedang kita pikirkan. Dan ketiga, Allah menutupi kita dari aib-aib kita.
Jika ketiga tutup itu dibuka oleh Allah, maka kemungkinan besar tidak akan ada lagi orang yang mau berhubungan dengan kita.
Masyaallah…
Then which of the Blessings of your Lord will you both (jinn and men) deny? (Ar-Rahman: 13)

December 14, 2011

Serba-serbi Van Houtenlaan (VHL) Student Housing


Tidak terasa sudah 3 bulan lebih saya tinggal di Belanda. Artinya, 2 bulan lagi saya harus berpisah meninggalkan kota Groningen dan Van Houtenlaan (VHL), housing saya selama di Belanda. Hmm…biar memori tentang VHL tidak lekang selepas kepulangan saya ke Indonesia, sepertinya saya perlu menuliskan beberapa hal tentang housing ini.

Okay, saya akan memulai dengan menceritakan alasan saya memiliih VHL. Alasannya sebenarnya sederhana saja, yaitu karena housing ini lebih murah dibanding housing-housing lainnya. Harga sewa kamar di sini rata-rata 280-an euro (kecuali beberapa kamar khusus yang ukurannya agak lebih besar, harganya di atas 310 euro), beda dengan housing lainnya yang rata-rata di atas 310 euro. Tapi ndilalahnya, saya malah kebagian yang kamar khusus itu, haha. Yah, anggaplah rejeki, dapat kamar yang lebih besar.

Untuk menyewa housing ini, saya harus mendaftar dulu di Housing Office, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pencarian housing sekaligus mengelola housing2 tersebut. Biaya untuk mendaftar Housing Office cukup mahal, yaitu 300 euro ditambah biaya deposit (jaminan) sebesar 325 euro. Deposit ini digunakan untuk mengganti barang-barang mereka yang kita rusak atau hilangkan, misalnya peralatan dapur. Kalau kita tidak merusak atau menghilangkan apa-apa, deposit itu akan dikembalikan setelah kontrak selesai.

Anyway, Van Houtenlaan, sesuai dengan namanya, terletak di jalan Van Houtenlaan 27. Lokasinya berada di sebelah selatan kota Groningen. Posisi ini sebenarnya kurang strategis karena agak jauh dari mana-mana. Sebagai perbandingan, jarak antara VHL dengan Central Station 2,6 km, dengan Centrum (pusat kota) 3,7 km, dengan kampus Psikologi 5,7 km, dengan masjid Korreweg 5,5 km, dengan masjid Selwerd 8 km, dengan kampus Zernike (ruang ujian) 9 km, dan dengan ACLO Sport Centrum 8,8 km (tenang, saya tidak mengukur jarak-jarak itu dengan manual kok, kan ada mbah google). Dan semua lokasi itu harus saya tempuh dengan bersepeda. Tidak harus sih, sebenarnya masih bisa menggunakan bis, tapi berhubung tarif bis cukup mahal, 1,5 euro sekali jalan, maka demi penghematan saya biasakan naik sepeda. Untungnya di Jogja juga sudah terbiasa bersepeda, hehe. Kesimpulan: kalau mau ke Belanda, dan memilih VHL sebagai housing, banyak-banyaklah latihan bersepeda.

VHL memiliki 7 lantai. Total kamarnya berjumlah 151. Housing ini memiliki fasilitas penunjang yang cukup lengkap, mulai dari dapur, mesin cuci, pengering, microwave, water heater, kulkas, dan peralatan memasak. Sayangnya, semua fasilitas itu adalah milik bersama, kecuali peralatan memasak yang setiap student diberikan peralatan masing-masing.  Jadi tanggung jawabnya juga bersama. Hal ini rupanya sering memunculkan social loafing (teori psikologi, tanya mbak google aja ya, hehe). Students banyak yang jadi apatis terhadap kenyamanan housing, misalnya tentang kebersihan.

Saya ambil contoh kebersihan di koridor saya, terutama bagian dapur. Meskipun ada kitchen duty (upaya yang bagus buat meminimalisir social loafing), tapi rupanya hal itu tidak berjalan dengan baik sehingga dapur di koridor saya sering kotor dan penuh sampah. Sayangnya, si student manager juga ikut-ikutan apatis dengan tidak menjalankan tugas piketnya dan tidak menegur student yang gak mau piket (lha piket aja ndak og, gimana mau negur?). Alhasil, students makin banyak yang gak peduli dan dapur jadi semakin berantakan. Buat saya yang “hobi” masak (you have to pay your attention at the “hobi”-LOL) keadaan ini sangat membuat tidak nyaman.

Selain banyak yang apatis, beberapa student di sini juga rupanya punya benih-benih kriminal (Wew! Jadi serem gitu). Iya, soalnya saya pernah kehilangan susu yang saya simpan di common refrigerator. Kejadian itu membuat saya kapok menyimpan makanan/minuman jadi di kulkas bersama. Yang saya simpan di sana paling-paling cuma bumbu-bumbu dapur, seperti bawang putih, bawang merah, cabe, dan kroni-kroninya (Kesimpulan: ternyata students di sini seperti vampire yang takut dengan bawang-bawangan).

Btw, kenapa hanya karena susu seliter aja sampe dibilang punya benih kriminal?

Sebenarnya gak cuma masalah susu, tapi juga masalah lain yang lebih berat. Salah satu student di koridor saya bahkan kehilangan laptopnya. Ada juga yang kehilangan paket posnya. Bahkan katanya ada yang pernah ditodong juga (nah lho!). Maka dari itu saya menyimpulkan keamanan dan kenyamanan di VHL sangat kurang.

Oya, ada cerita unik juga nih tentang VHL, yaitu fire alarmnya yang sering banget berbunyi. Intensitasnya sudah seperti puasa Nabi Daud aja. Waktu baru datang ke sini, saya kaget banget pas fire alarmnya bunyi. Saya kira ada kebakaran apa gitu, tapi setelah diberi tau tetangga, ternyata gak ada kebakaran apa-apa. Dari tetangga itu, saya jadi tau bahwa fire alarmnya aja yang genit, makanya sering berbunyi.

Belakangan ada penjelasan dari Housing Office bahwa fire alarm di VHL memang sangat sensitif. Jadi, ketika ada asap sedikit saja, bisa langsung berbunyi. Oleh karena itu, si student manager mewanti-wanti agar tidak merokok atau memasak di dalam kamar (jangan-jangan bunyi fire alarm itu salah satunya karena ulah saya yang sering masak nasi di kamar, haha).

Hmm…mau cerita apa lagi ya? Mungkin itu dulu kali, nanti kalau ada tambahan, saya akan buat lagi di tulisan lainnya. 

December 1, 2011

Dosen dan Peneliti


Tadi malam saya berdiskusi dengan teman-teman asal Indonesia. Ada banyak bahan diskusi yang kami bahas, tapi satu diskusi yang cukup menyita perhatian dan pemikiran saya sampai saat ini adalah tentang moratorium PNS. Qodarulloh teman-teman diskusi saya ini banyak yang bekerja di birokrasi, jadi mereka cukup tau seluk beluknya.

Dari mereka saya (baru) tau bahwa pemerintah telah mengeluarkan moratorium (penangguhan penerimaan) PNS yang berlaku sejak tahun ini sampai tahun 2014. Dengan kata lain, pemerintah tidak akan membuka lowongan PNS sampai moratorium ini selesai.

Alasan diberlakukannya peraturan ini menurut teman-teman saya adalah karena anggaran belanja untuk keperluan pegawai sangat besar, jauh melebihi anggaran-anggaran lainnya. Hal ini memicu perkembangan sektor-sektor yang berada di luar kepegawaian menjadi terhambat, misalnya sektor pembangunan daerah (Hmm..pantas saja saya sering menemukan jalan rusak di Indonesia).

Lalu apa urgensi berita ini untuk saya?

Saat ini moratorium itu memang tidak berpengaruh langsung pada kehidupan saya, tapi kemungkinan akan berpengaruh di tahun mendatang karena selepas kuliah saya berniat untuk menjadi seorang dosen atau peneliti LIPI yang notabene adalah profesi PNS.

Mengapa Memilih menjadi dosen atau peneliti LIPI?

Saya sendiri agak kesulitan menjelaskan mengapa saya tertarik dengan dua profesi ini. Dua profesi ini baru terpikirkan ketika saya memasuki tahun-tahun terakhir kuliah. Sebelumnya, bayangan saya setelah lulus kuliah nanti saya akan bekerja di perusahaan swasta.

Saya pribadi sebenarnya tidak memiliki banyak pengalaman menjadi seorang pengajar. Satu-satunya pengalaman mengajar yang cukup intens adalah ketika saya diminta terlibat menjadi pengajar TPA di masjid dekat kos-kosan saya. Selebihnya, saya intens menjadi orang yang diajar.

Di sisi lain, menjadi seorang peneliti pun sangat jarang saya lakukan. Satu-satunya penelitian “professional” yang pernah saya lakukan dan terlibat di dalamnya dari mulai penyusunan konsep sampai tahap eksekusi adalah ketika proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) saya diterima Dikti. Selebihnya, saya hanya menjadi pembaca hasil penelitian (inipun tidak intens).

Akan tetapi, sedikitnya pengalaman mengajar dan meneliti itu menurut saya tidak mengalahkan besarnya kecenderungan saya untuk selalu ingin bersinggungan dengan dunia akademik. Dan pikiran heuristik saya mengatakan bahwa dengan menjadi dosen atau peneliti, kecenderungan itu akan lebih mudah terpenuhi dibanding menjadi seorang pegawai di kantor.

Well, tapi itu hanya pendapat saya. Pandangan yang (mungkin) sangat subjektif. Boleh jadi di waktu mendatang Allah merubah kecenderungan hati saya, seperti dulu merubah keinginan saya untuk menjadi seorang pegawai di kantor? Sehingga mungkin di waktu mendatang saya tidak lagi naksir berat dengan dua profesi tersebut. 

Ah, kehidupan ini memang penuh dengan pilihan.

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad diinik

Notes: Ya ampun, selagi menuliskan tulisan ini, saya teringat nasihat seorang guru tentang ketenangan seorang muslim menghadapi hidup. Mengapa saya jadi merisaukan moratorium? Padahal ketetapan Allah kan tidak tergantung adanya moratorium atau tidak.

Lalu kenapa dilanjutkan menulisnya dan dipostingkan? Karena sudah kadung ditulis dan sudah sampai pertengahan, jadi sayang kalau tidak dilanjutkan, hehe.

November 30, 2011

Belanda, ckckck...

Salah satu hal menarik yang saya tunggu-tunggu dari kursus Bahasa Belanda adalah pada sesi terakhirnya. Di sesi terakhir ini, biasanya meneer dosen menceritakan segala hal yang berhubungan dengan Belanda. Dulu saya pernah menuliskan sejarah yang berhubungan dengan bahasa Belanda yang diceritakan oleh dosen ini (bisa dilihat di sini). Kemarin malam, dosen saya menceritakan sejarah lain tentang perjuangan warga Belanda untuk tetap survive di tengah keterbatasan yang ada.

Peta Belanda
Di sesi terakhir kursus tadi malam, dosen Bahasa Belanda saya sempat menunjukkan sebuah peta geografis negeri kincir tersebut. Dari peta itu saya mengetahui bahwa negara yang kita sebut sebagai Belanda ini ternyata hanya memiliki sedikit sekali daratan. Dari beberapa provinsi yang ada, hampir sebagian (seharusnya) tertutup laut, termasuk kota Amsterdam yang tersohor itu (lihat peta-bagian warna biru adalah daerah yang (seharusnya) tertutup air laut).

Ya, seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Belanda adalah negara yang terletak di bawah permukaan laut. Karena letak geografis yang sangat tidak strategis itu, Belanda selalu diliputi ancaman banjir. Bencana banjir terakhir yang sempat melanda Belanda terjadi pada tahun 1953. Ketika itu sebuah banjir dahsyat akibat merangseknya air laut ke daratan membuat nyawa 1800-an warga Belanda yang tinggal di Zeeland melayang.

Ancaman banjir yang senantiasaa membayang-bayangi itu rupanya tidak serta merta membuat warga Belanda putus asa. Mereka justru dengan kreatif memutar otak untuk menetralkan wilayah mereka dari luapan air laut (banjir rob). Salah satu strategi yang mereka gunakan untuk “memindahkan air laut ke laut” itu adalah dengan menggunakan kincir angin.


Sistem Kerja Kincir
Kincir angin tradisional yang sudah menjadi trademark Belanda ini mulai digunakan sejak abad pertengahan. Saya sendiri baru mengetahui kalau ternyata kincir ini dulunya digunakan untuk memindahkan air laut (sistem kerja kincirnya bisa dilihat di gambar sebelah). Saya kira kincir ini hanya digunakan untuk keperluan pertanian saja, seperti irigasi.

Seiring berjalannya waktu, rupanya kincir inipun tidak cukup banyak membantu membuang air laut yang masuk karena volumenya yang sangat banyak, sedangkan jumlah kincirnya sangat terbatas. Maka merekapun mulai memikirkan alternatif lain. Alternatif solusi yang cukup ampuh dan digunakan sampai saat ini adalah dengan membangun dijk (tanggul).

Salah satu dijk di Belanda
Belanda membangun dijk di semua daerah yang berpotensi tenggelam. Dosen saya bercerita bahwa dijk yang terpanjang yang dibangun Belanda ukurannya mencapai 33 km. Saya menggeleng-geleng kepala ketika mendengarnya. Antara kagum dan tidak percaya. Bagaimana mungkin mereka membangun tanggul yang menyumbat air laut dan memiliki panjang 33 km? Sebuah usaha bertahan hidup yang luar biasa.

Setelah mengetahui fakta ini, saya jadi merenung, betapa dimanjakannya bangsa Indonesia. Secara default, Indonesia sudah memiliki alam yang sangat ideal. Kita tidak perlu bersusah payah memindahkan air laut untuk menciptakan apa yang disebut sebagai “wilayah negara” seperti yang Belanda lakukan. Akan tetapi sayangnya, kondisi alam yang memanjakan itu rupanya membuat etos kerja bangsa Indonesia tidak segigih bangsa Belanda.

November 24, 2011

Idul Adha ala Groningen


Jam di handphone saya sudah menunjukkan pukul 08.15 CET. Artinya, sudah sekitar 2 jam berlalu dari waktu sholat Subuh. Saya bergegas menuju De Holm (3,3 km) untuk membantu persiapan sholat Idul Adha. “Pelaksanaan sholat akan dimulai pukul 09.00 CET”. Begitu kira2 instruksi yang diberitakan di mailing list deGromiest (The Groningen Moslem Society).

Ya, hari ini kami akan melaksanakan sholat Idul Adha. Sholat ‘Ied yang berbeda dari biasanya. Sholat yang bukan dilaksanakan di Masjid maupun tanah lapang, tapi di gedung pertemuan yang biasa digunakan untuk berbagai kegiatan. deGromiest menyengaja menyewa gedung tersebut agar umat muslim, khususnya muslim Indonesia, tetap bisa merayakan hari raya yang cuma ada setahun sekali ini.

Sebenarnya di Groningen sendiri ada dua masjid, yaitu Masjid Selwerd dan Masjid Korreweg, tapi berhubung umat Islam di kota ini cukup banyak (muslim Indonesia sendiri berjumlah seratusan), jadi kedua masjid itu pun tidak cukup menampung semua jamaah*. Mau menggelar sholat ‘Ied sampai ke pelataran masjid rasanya tidak memungkinkan karena akan mengusik kenyamanan warga sekitar dan ujungnya bisa berurusan dengan polisi. Dengan pertimbangan itu, akhirnya kami, warga Indonesia, berinisiatif untuk menyewa gedung sendiri sebagai tempat pelaksanaan sholat Idul Adha.

Gedung itu bernama De Holm. Gedung yang biasa dipakai untuk berbagai kegiatan seperti latihan senam, salsa, dan belajar kelompok ini bertarif 70 euro (sekitar 800 ribu) per hari. Meski ukurannya agak kecil, gedung ini mampu menampung semua jamaah Indonesia dan segelintir foreigner yang ikut bergabung.

Seperti biasa, sebelum sholat dimulai, jamaah saling sahut menyahut mengumandangkan takbir. Takbir seperti ini baru terdengar di pagi hari karena malam sebelumnya kota Groningen sunyi senyap, kecuali oleh suara lonceng gereja yang berdentang secara berkala. Saya sendiri menyiasati kesenyapan malam takbir itu dengan menyetel takbir dari youtube. Well, memang jauh berbeda dengan suasana di Indonesia, tapi lumayan lah.

Pelaksanaan sholat ‘Ied dimulai pukul 09.20 CET. Khatib membawakan khutbah tentang kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Setelah selesai, kami bersalam2an dan menikmati jamuan yang ada (*berasa Idul Fitri).

Sayangnya, di hari Idul Qurban ini, kami justru tidak bisa menyaksikan pengurbanan hewan karena kegiatan penyembelihan merupakan kegiatan yang terlarang di Belanda. Ada aturan yang sangat ketat tentang hal itu. Kalau nekat mau menyembelih, maka harus siap2 berhadapan dengan hukum.

Lalu bagaimana warga Belanda menikmati daging? Inilah uniknya, mereka melarang menyembelih tapi bukan berarti melarang pemotongan hewan. Mereka tetap memotong hewan tapi hewan yang akan dipotong harus dibius dulu, sehingga meminimalisir rasa sakit yang diderita si hewan ketika disembelih. Begitu kira2 pendapat mereka. Pendapat yang kemudian diperdebatkan oleh umat Muslim dan Yahudi, yang juga memiliki ritual penyembelihan hewan (mungkinkah ada duet antara Islam dan Yahudi untuk menentang aturan ini? Kita tunggu saja kelanjutannya).

By the way, tidak ada penyembelihan bukan berarti tidak bisa menikmati hidangan khas Idul Adha seperti sate dan kari. Kami tetap dapat mencium aroma bakaran sate karena ada toko daging halal di sini. Jadi, kami beli dulu dagingnya, kemudian baru disate beramai2 di rumah salah satu warga. Meskipun jatah sate setiap orang sangat terbatas, 2 tusuk, tapi suasana kekeluargaan yang ada setidaknya dapat menjadi pengganti suasana Idul Adha di Indonesia.

*Alhamdulillah islam cukup berkembang di sini. Di masjid Selwerd sendiri hampir tiap selesai jumatan ada warga yang berikrar syahadat. Insyaallah mulai tahun depan masjid ini akan diperluas dan dimasifkan lagi peran Islamic Center nya. Mohon doa dari teman2.

November 23, 2011

Minggu di Groningen


Kota Groningen di hari Minggu seperti kota tidak berpenduduk. Sepi senyap. Kota ini berubah sedemikian drastisnya dari hari2 biasanya. Kalau saat weekdays kota ini ramai dengan orang yang berlalu lalang dan bertransaksi di pertokoan, maka tidak pada hari ini karena hampir semua toko tutup pada hari Minggu.

Ya, satu hal yang sulit saya mengerti adalah mengapa toko2 itu justru tutup pada saat hari libur, hari dimana orang2 justru punya banyak waktu luang. Logika sederhananya seharusnya para pemilik toko memanfaatkan momen tersebut untuk meraup keuntungan lebih besar lagi, seperti yang sering kita jumpai di Indonesia, tapi nyatanya itu tidak terjadi.

Rupanya, tutupnya toko2 tersebut sebenarnya bukan murni atas kehendak para pemilik toko, tapi karena adanya peraturan pemerintah. Pemerintah, yang didukung kuat oleh kalangan Kristen, menghendaki pertokoan tutup pada hari Minggu agar warga bisa beristirahat dan beribadah. Pengecualian dilakukan di kota2 wisata/turis, seperti Amsterdam.

Kondisi ini sangat berkebalikan dengan Indonesia. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia pertokoan selalu buka 7 hari seminggu. Bahkan tidak sedikit yang berani mengusung sistem 24/7. Buka 24 jam sehari , 7 hari seminggu. Seolah2 tidak mengenal istirahat.

Saya sendiri setiap hari Minggu biasanya ikut latihan bulu tangkis dan futsal. Selain untuk membuyarkan sepi dan menjaga kesehatan, berolahraga juga bisa jadi ajang silatu’ukhuwah saya dengan warga Indonesia. 

November 19, 2011

Dimana Mujahadahnya?



Tinggal di negeri yang mayoritas penduduknya non muslim, bukan berarti pintu untuk bertholabul ilmi  tertutup rapat. Saya masih bisa mendapatkan kajian2 Islam dari banyak sumber. Bisa dari kajian pekanan rekan sesama muslim Indonesia maupun kajian dari muslim internasional (seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, Arab vs Belanda). Akan tetapi, karena kajian tatap muka langsung seperti itu intensitasnya sangat terbatas, saya lebih banyak menyimak melalui internet, baik melalui kajian streaming (online) maupun rekaman kajian yang di-upload.

Kajian streaming yang cukup populer adalah kajian dari Daarut Tauhid Bandung yang disiarkan melalui MQFM Network dan Radio Pengajian. Sedangkan rekaman kajian bisa didapatkan di banyak situs, tapi karena saya tinggal di Jogja, biasanya saya mendownload kajian2 yang dibawakan oleh ustadz2 di Jogja, yang sudah saya kenal sebelumnya.
***
Kalau dipikir2 lagi, kondisi saya saat ini bahkan sebenarnya serba berlebih. Lebih mudah, lebih nyaman, dan lebih praktis dalam bertholabul ilmi. Jadi, tidak ada halangan berarti. Saya bisa setiap saat mendengarkan kajian. Kalau mau, saya bisa mendengarkan kajian2 tersebut setiap hari. Bahkan setiap jam. Dengan akses internet yang begitu cepat, saya bisa menyimak kajian2 tersebut tanpa buffering sehingga tidak mengganggu kenyamanan dalam menyimak.  

Saya juga bisa lebih santai dalam mendengarkan kajian. Saya bisa menyimak sambil meminum kopi, mengudap cemilan, buah2an, dan tidak jarang juga sambil tidur2an. Akan tetapi, ternyata justru di situlah masalahnya. Kadang saya berpikir, kegiatan yang saya lakukan ini sebenarnya mendengarkan kajian sambil santai2 atau santai2 sambil mendengarkan kajian?

Ah, saya jadi mulai merenung. Mulai mengingat2 nasihat yang disampaikan KH. Cholil Ridwan saat memberikan ceramah singkat untuk muslim Indonesia di Groningen 2 minggu yang lalu. Beliau saat itu sempat menyampaikan tentang mujahadah dalam berdakwah dan sempat mengkritik ustadz2 yang ceramah di tv2.

Menurut beliau, nilai mujahadah ustadz2 yang ceramah di tv2 sangat kurang. Bagaimana tidak, sudah diperlakukan istimewa, memberikan ceramah di ruangan yang nyaman, plus diberikan honor berjuta2 pula. Bahkan menurut beliau, ada di antara mereka yang berani mematok harga. Karena alasan inilah, beliau menilai ustadz2 itu kurang mujahadahnya.

Nah, kondisi yang sama sepertinya terjadi juga pada saya, tapi dengan pekerjaan yang berbeda. Kalau ustadz2 tersebut kurang bermujahadah dalam berdakwah, saya kurang bermujahadah dalam menuntut ilmu. Lha dimana letak mujahadahnya kalau caranya seperti yang saya ceritakan di atas?

Ya, apa yang saya lakukan saat ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan ulama2 dulu, Imam Bukhori  misalnya. Beliau rela menyusuri gurun berhari2 dalam memburu sebuah hadits. Ah, jauh. Saya masih sangat jauh dengan beliau. Jangankan menyusuri gurun berhari2, mengayuh sepeda 30 menit untuk ikut dalam forum mingguan saja beratnya minta ampun. Saya lebih asyik duduk manis (atau tidur2an manis) menyimak sambil ngemil di dalam kamar yang dilengkapi dengan pengahangat.

Ah, dimana mujahadahnya?

November 17, 2011

Teleskop Impian


Sejak duduk di bangku sekolah, saya punya kebiasaan mengamati benda2 langit. Kebiasaan ini mulai muncul setelah saya menyaksikan film Petualangan Sherina yang dulu cukup populer saat saya masih SD. Dalam film itu, ada scene di mana Sherina dan Derby mengunjungi museum Boscha dan melihat benda2 langit melalui teleskop yang ada di sana. Gambar2 benda langit yang diperlihatkan di film tersebut membuat saya tertakjub2 dan akhirnya muncullah kebiasaan itu.

Kebiasaan itu rupanya punya pengaruh cukup kuat dalam diri saya. Karena kebiasaan itu, dulu saya pernah bercita2 ingin masuk jurusan Astronomi ITB, tapi karena saya kepayahan di fisika, akhirnya saya melepas cita2 itu dan beralih ke cita2 saya yang lain.

Meskipun cita2 menjadi astronom (dan astronot) lepas, tapi kebiasaan mengamati benda langit masih ada sampai sekarang. Sampai saat ini, saya masih suka menatap langit malam dan memperhatikan benda2 yang “menempel” di sana. Saya juga jadi suka mengikuti berita2 terkait astronomi, meskipun tidak secara intens dan profesional.

Pernah dulu saya menonton berita di televisi bahwa akan ada hujan meteor yang bisa disaksikan dari langit Jakarta mulai pukul 00.00-04.00 WIB. Gara2 berita ini, ibu saya harus berdingin2 nongkrong di luar rumah menemani anaknya menantikan hujan meteor yang dijanjikan berita. Karena saat itu saya ketakutan nongkrong tengah malam di luar rumah sendirian. Untungnya rasa penasaran itu terbayarkan. Meskipun langit agak mendung, tapi alhamdulillah saya masih bisa melihat beberapa meteor melintas dan lenyap tergerus langit bumi.

Perlahan2, kebiasaan ini mendorong saya untuk berbuat lebih. Saya pun mulai mengidam2kan teleskop agar saya bisa mengamati dan melihat benda2 langit lebih jauh lagi. Akan tetapi, karena teleskop bukan kacang goreng yang murah dan bisa didapat di mana saja, impian membeli teleskop itu sepertinya harus ditahan lebih lama.

Impian itu sebenarnya semakin terlihat dekat ketika dulu, saya melihat ada teleskop yang dijual dengan harga cukup murah di toko barang second (Barkas, di jalan Gejayan). Harganya “cuma” 500ribu, tapi saya tidak jadi membelinya karena dua alasan. Pertama, karena belum punya duit (hehe). Kedua, karena meragukan kualitasnya.

Nah, saat ini saya punya peluang lagi (bahkan lebih lebar) untuk mewujudkan impian saya memiliki teleskop. Posisi saya yang saat ini berada di Eropa dan (alhamdulillah) ada rejeki, memudahkan saya untuk mendapatkan teleskop yang saya inginkan.

Eropa, dalam hal ini Belanda, memiliki banyak sekali model2 teleskop yang dijual secara umum. Selain model yang variatif, menurut teman saya, harga teleskop yang ada di Eropa juga lebih murah 2x lipat dibanding dengan yang ada di Indonesia. Hal ini membuat saya semakin ngiler untuk membelinya.

Saya sendiri menginginkan teleskop Newtonian dengan diameter lensa lebih dari 150 mm. Dari hasil browsing, saya mengetahui bahwa teleskop dengan spesifikasi seperti itulah yang cukup tepat digunakan jika mau mengamati benda2 langit. Harga teleskop dengan spesifikasi seperti itu di toko online Belanda seharga 259 euro. Karena saya masih sangat awam dalam urusan perteleskopan, maka sebelum membeli saya tanyakan dulu hal ini ke beberapa teman dan forum di internet. Setidaknya dengan cara ini, saya bisa meminimalisir resiko yang ada. Tapi sayangnya, sampai saat ini belum ada respon dari mereka (well, saya baru menanyakannya tadi pagi).

Nah, di tengah penantian respon dari teman2 saya itu, saya seolah mendapat notice dari Allah mengenai rencana saya ini. Notice ini saya dapatkan tadi siang, sekitar pukul 13.30 CET (atau pukul 19.30 WIB) ketika saya mendengarkan kajian dari Aa Gym. Di tengah ceramahnya, beliau menasihati agar kita sebaiknya hanya membeli barang2 yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, karena setiap barang yang kita miliki akan ada hisabnya di akhirat kelak.

Beliau juga mengatakan bahwa setiap barang yang kita beli karena “keinginan” dan bukan “kebutuhan” akan cepat membosankan. Karena “ingin” itu serupa dengan “nafsu”. Dan takdirnya, Allah menciptakan keberadaan nafsu di kehidupan manusia hanya dalam waktu yang singkat.

Saya jadi ragu, apakah saya meneruskan rencana membeli teleskop ini atau tidak. Apakah ini hanya nafsu belaka atau benar2 kebutuhan saya? Saya sadar ini adalah hobi, tapi sebenarnya hobi itu lebih dekat kemana sih, keinginan atau kebutuhan? Dan sebenarnya bagaimana sikap Rasulullah saw terhadap hal2 semacam ini (kebiasaan/hobi)?

Hmm…saya penasaran. Saya harus banyak belajar.

November 16, 2011

Ketika Belanda Berbicara Indonesia

Saya tersentil. Telinga saya yang “made in Indonesia” ini tersentil selepas mengikuti kursus Bahasa Belanda tadi malam. Sentilan itu membuat kegundahan di hati saya dan saya merasa perlu mengatarsiskannya di tulisan ini.

Di akhir sesi kursus tadi malam, sang pengajar yang merupakan orang Belanda, menunjukkan kepada para mahasiswa, negara mana saja, yang jika kita berkunjung kesitu, penduduknya bisa diajak berbahasa Belanda. Sambil menunjuki negaranya, ia menceritakan latar belakang mengapa negara tersebut bisa berbahasa Belanda. Kalau tidak salah ingat, negara2 itu adalah Belgia, Netherlands Anthiles, Aruba, Suriname, Namibia, Afrika Selatan, Angola, Zambia, dan Indonesia.
Kincir angin Belanda (sumber : dok. pribadi)

Hampir semua negara yang ia tunjuki itu berlatar belakang bekas jajahan Belanda, kecuali Belgia yang merupakan negara yang memisahkan diri dari Belanda. Rupanya menurut beliau, latar belakang bekas jajahan itu membuat membuat negara2 tersebut secara otomatis bisa berbahasa Belanda. Apalagi rata2 penjajahan dilakukan dalam kurun waktu yang sangat lama, mencapai ratusan tahun seperti yang dialami Indonesia, sehingga sangat wajar jika negara2 itu bisa berbahasa Belanda. Begitu kira2 logika yang disampaikan.

Di sini lah saya mulai tersentil. Fakta yang disampaikan dosen itu, entah sengaja atau tidak, jelas2 bertentangan dengan kondisi sebenarnya. Setidaknya bertentangan dengan kondisi Indonesia (karena saya tidak tahu kondisi negara2 jajahan lain, kecuali Suriname yang penduduknya memang fasih berbahasa Belanda).

Seperti kita ketahui, rakyat Indonesia jelas2 tidak bisa berbahasa Belanda. Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas dan kemungkinan besar berasal dari kaum terpelajar, bukan rakyat proletar.

Fakta bahwa Belanda menjajah Indonesia dalam waktu yang sangat lama memang benar adanya, tapi apakah juga benar bahwa dalam tempo waktu yang lama itu, 3,5 abad, Belanda juga memberikan pendidikan untuk Indonesia? Alih2 mengajarkan ilmu, bangsa Indonesia dibiarkan tidak terdidik agar tidak ada pemberontakan melawan mereka.

Dengan kondisi seperti ini, logika bahwa negara jajahan akan serta merta mengerti bahasa negara penjajahnya tidak berlaku sama sekali. Bagaimana mungkin rakyat Indonesia bisa berbahasa Belanda sedangkan pendidikannya saja tidak diberikan? Bukankah tidak adanya pendidikan sama dengan tidak adanya transfer ilmu pengetahuan? Padahal bahasa itu sendiri adalah ilmu pengetahuan.

(Bangsa Indonesia kemudian baru dapat mencecap pendidikan ketika mereka hampir merdeka dan itupun terbatas bagi kalangan atas saja, yaitu mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan hubungan dekat dengan Belanda.)

Ah, saya jadi teringat obrolan saya dengan seorang teman asal Sri Lanka. Obrolan yang kemudian membuat saya semakin gemes jika mengingat perlakuan Belanda di masa penjajahan. Dia bercerita bahwa rata2 penduduk Sri Lanka bisa berbahasa Inggris karena negara penjajahnya, Inggris, mengajarkan mereka bahasa tersebut. Dan dia begitu kaget ketika mengetahui hal yang sebaliknya terjadi pada Indonesia.
***
Kuping saya semakin tersentil ketika dosen itu mengatakan bahwa Indonesia sekarang memiliki bahasa sendiri karena Indonesia membenci bahasa Belanda. Secara implisit, pesan yang disampaikan dosen itu bermakna bahwa Indonesia tidak menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa nasional karena rakyat Indonesia benci dengan bahasa tersebut. Artinya, rakyat Indonesia sebenarnya bisa berbahasa Belanda, tapi tidak mau menjadikannya sebagai bahasa nasional karena kadung benci.

Sekali lagi, di sini saya menemukan fakta yang bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Pertama, pernyataan itu memutarbalikkan fakta bahwa rakyat Indonesia bisa berbahasa Belanda. Kenyataannya justru sebaliknya, seperti yang sudah saya jelaskan di atas.

Kedua, apakah benar rakyat Indonesia membenci bahasa Belanda? Jika pertanyaan itu diajukan ke saya, maka jawaban saya adalah tidak. Saya tidak benci, tapi bukan berarti saya senang. Sikap saya terhadap bahasa Belanda adalah biasa2 saja. Sama seperti sikap saya terhadap bahasa Spanyol, Perancis, Italia, Jerman, dan sebagainya. Tidak benci. Tidak juga senang. Normal.

“Itukan menurut kamu, bagaimana menurut rakyat yang dulu merasakan penjajahan? Barangkali mereka benci”. Tidak. Saya tetap tidak sependapat jika para pendahulu saya dikatakan membenci bahasa Belanda. Mungkin bukan benci, tapi lebih tepatnya tidak mencintai.

Kalau memang mereka tidak mencintai, itu adalah hal yang wajar. Lha bagaimana mungkin mereka mencintai sesuatu yang tidak mereka mengerti? Dan bagaimana mungkin juga mereka menjadikan bahasa yang tidak mereka mengerti sebagai bahasa nasional? Mungkin kalau mereka mendapatkan pendidikan bahasa Belanda akan lain ceritanya.
***
Cerita sang pengajar kemudian berkembang menjadi sebuah promosi atas kegagahan negaranya yang mampu menjajah negara lain sampai ratusan tahun lamanya. Dia bangga menceritakan pengalaman negaranya menjajah banyak negara di berbagai benua, termasuk Indonesia, yang kemudian dengan hasil jajahannya itu mereka membangun negaranya. Amsterdam pun kini menjadi sedemikian majunya berkat sumbangan dari Indonesia sejak berabad silam. Begitu kata dosen tersebut.

Saya hanya bisa termenung mendengarkan cerita dosen itu. Sejak awal sebenarnya saya ingin protes, tapi selalu ragu2. Keragu2an yang terus bertahan sampai akhirnya kelas berakhir. “Ah, payah”. Saya mengkritik diri sendiri.

*Saya menjadi semakin kagum dengan para pahlawan yang dulu berani bersuara lantang di depan parlemen Belanda guna memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dan saya semakin menyadari bahwa saya belum ada apa2nya dibanding mereka.

November 15, 2011

Arab vs Belanda


Di kampus tempat saya kuliah saat ini, Rijkuniversiteit Groningen, sedang dibuka program kursus singkat Bahasa Belanda untuk mahasiswa2 Internasional. Programnya akan berlangsung selama 7 minggu, November sampai pertengahan Desember, dan minggu ini sudah memasuki minggu kedua.

Saya sendiri ikut bergabung dalam program tersebut, tapi bukan karena ingin fasih berbahasa Belanda, melainkan untuk membangun relasi yang lebih luas lagi dengan mahasiswa internasional (well, bukan berarti saya tidak punya keinginan sama sekali untuk bisa berbahasa Belanda).

Di fakultas tempat saya belajar sekarang, Behavioral and Social Science,  banyak sekali mahasiswa Jerman. Hampir setiap orang yang saya ajak berkenalan pasti berasal dari Jerman. Bahkan buddy saya pun seorang Germany. Maka dari itu, agar saya punya relasi yang lebih variatif, saya ikut program kursus singkat ini. Akan tetapi sayangnya di program ini pun ternyata mahasiswa Jerman masih mendominasi. Mungkin sekitar 2/3 kelas isinya Jerman  -_-‘. Itu saya ketahui ketika meneer pengajar menanyakan negara asal mahasiswa.
***
Walaupun saat ini saya tinggal di Belanda, tapi saya justru lebih memiliki keinginan untuk bisa berbahasa Arab daripada Belanda. Alasannya, karena hampir setiap umat Islam yang ada di sini bisa berbahasa Arab dan biasa berkomunikasi dengan bahasa itu.

Saya kadang iri melihat keakraban mereka. Mereka sangat cair satu sama lain. Mau menjalin keakraban serupa sepertinya sangat sulit karena hanya segelintir dari mereka yang bisa berbahasa Inggris. Pernah saya diundang dalam acara aqiqah salah satu jama’ah. Acaranya sangat meriah dan banyak dihidangkan makanan yang memanjakan lidah. Meski demikian, saya merasa seperti orang asing di situ karena selain saya adalah satu2nya jamaah dari Indonesia, saya juga satu2nya jamaah yang tidak bisa berbahasa Arab.  Jadi, saya hanya bisa memasang senyum dan bahasa2 non verbal lain yang dibuat seramah mungkin.

Terkadang, saya juga malu jika ikut kajian singkat yang biasa dilaksanakan setelah sholat ashar di Masjid Korreweg (komunitas Turki). Pasalnya, setiap sang Imam selesai membacakan dan menjelaskan kitab rujukan, Riyadush Shalihin, beliau selalu minta seseorang yang fasih berbahasa Inggris untuk menerjemahkan kepada saya tentang apa yang baru saja beliau katakan. Dan beliau melakukan ini “spesial” hanya untuk saya, karena hanya saya dalam jamaah tersebut yang tidak bisa berbahasa Arab (meskipun terkadang saya juga cukup mengerti jika beliau membacakan hadits yang cukup populer). Diperlakukan spesial seperti ini sering membuat saya keki, salah tingkah, dan malu.

Pengalaman seperti ini membuat saya kembali meneguhkan tekad untuk kembali belajar bahasa Arab. Dulu saya sempat belajar, tapi belum mampu istiqomah sehingga hasilnya sangat jauh dari maksimal. Semoga tekad saya kali ini bukan tekad musiman yang timbul tenggelam seiring bergantinya musim. Mudah2an tekad kali ini diiringi keistiqomahan dan kesungguhan sehingga bisa mendapatkan hasil yang lebih optimal.