Showing posts with label Moom.... Show all posts
Showing posts with label Moom.... Show all posts

September 24, 2018

Si Putih

Si Putih. Sebut saja demikian. Itu bukan nama sapi, apalagi anjing. Itu julukan untuk laptop saya. Eh bukan laptop, tapi netbook merek Samsung tipe NC108. Usianya sudah tujuh tahun tiga bulan dan hingga kini masih aktif saya pakai setiap hari. Sebagai barang elektronik zaman now, usia Si Putih terbilang cukup panjang dengan performa yang masih oke. Selama kurun waktu itu, saya tidak pernah mendapati Si Putih sakit keras. Baterainya pun masih lumayan, kuat dipakai hingga tiga jam. 

Satu-satunya penyakit yang menimpa Si Putih adalah adanya lingkaran hitam yang berada di pojok kanan layar. Persis mirip black hole. Teman saya sering meledek untuk tidak terlalu dekat dengan lingkaran tersebut karena khawatir tersedot, haha. Lingkaran itu muncul setelah Si Putih jatuh menghentak dari ketinggian satu meter. Awalnya hanya titik-titik kecil di beberapa bagian, kemudian menyebar dan jadilah bentuknya seperti sekarang. Tetapi untungnya black hole itu tidak menghalangi pandangan saya dan tidak mengganggu kinerja sama sekali.

Si Putih dengan black hole-nya
Si Putih saya beli tepat di akhir semester enam, yaitu ketika saya akan mengikuti program pertukaran pelajar di Belanda di semester tujuh. Saat itu saya khawatir tidak menemukan rental komputer di sana sehingga saya minta ke ibu untuk dibelikan laptop, haha. Tetapi saya kira saat itu memang saat yang sangat tepat untuk membeli laptop karena setelah dari Belanda saya langsung bergelut dengan skripsi.

Ibu mentransfer uang ke saya tiga juta. Dengan uang itu saya langsung berangkat ke El’s Computer yang terletak di Jalan C. Simanjuntak daerah Terban dekat Mirota Kampus. Dengan mahar 2,8 juta, saya bisa memboyong Si Putih ke kamar kost.

Saya ingat betul saat itu saya menggunakan sepeda saya menuju toko itu. Jarak dari kostan ke toko memang tidak terlalu jauh, tidak sampai dua kilometer, tetapi jalannya agak menurun. Dari kost ke toko menurun, sedangkan dari toko ke kost menanjak. Tetapi karena saat itu saya memboyong “mainan baru”, lelah akibat kondisi jalan yang menanjak ketika pulang pun teralihkan dengan suka cita mendapatkan Si Putih.

Bersama Si Putih, saya telah melewati berbagai suka dan duka. Melalui Si Putih pula, saya menumpahkan ide untuk skripsi dan tesis sehingga dapat menghasilkan gelar sarjana dan master. Rasanya sudah banyak sekali jasa Si Putih bagi saya.

Sebenarnya sudah beberapa kali muncul keinginan untuk membeli laptop baru. Apalagi jika melihat spesifikasi komputer untuk software-software terkini sudah semakin tinggi. Biar bagaimanapun, Si Putih yang berasal dari generasi lampau akan kewalahan jika berhadapan dengan software (apalagi operating system) paling mutakhir. Tetapi niat itu masih belum saya laksanakan karena saya pikir Si Putih masih cukup bugar untuk sekedar melaksanakan tugas Office, yang menjadi perangkat utama saya dalam bekerja. Dan alasan terpenting mengapa saya masih mempertahankan laptop ini adalah karena laptop ini salah satu kenangan dari ibu saya. Saya berharap kebaikan-kebaikan yang muncul dari laptop ini akan mengalir juga pahalanya bagi beliau.

#Asrama Mahasiswa King Saud University, Riyadh

March 10, 2017

Akhwat Spesial



Dia itu akhwat spesial. Selalu bisa menundukkan saya. Kalau biasanya saya selalu menolak menyentuh lawan jenis, tapi kepadanya saya tidak pernah bisa menolak. Tidak pernah sekalipun saya acuhkan uluran tangannya untuk bersalaman. Bahkan bukan hanya itu, saya juga tidak kuasa menahan tangannya mengusap-usap wajah saya. Suatu hal yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh akhwat biasa. Hanya dia yang bisa membuat saya terpaku, tidak melawan, seperti itu. 

Dia juga menjadi satu-satunya akhwat yang paling sering menelepon saya. Herannya saya tidak pernah menolak ditelepon olehnya. Meski durasi obrolan kami di telepon cukup lama, tapi saya tidak pernah bosan ngobrol dengannya. Bahkan tidak jarang saya duluan yang meneleponnya. Dan dia juga dengan senang hati menerima telepon saya.

Bersamanya, apapun saya bicarakan. Senang maupun sedih. Suka maupun duka. Seolah tidak ada batas malu atau sungkan. Bisa jadi dialah akhwat yang paling tau segala permasalahan saya. Paling mengerti saat-saat senang maupun sedih saya. Dan di waktu yang sama dia juga merasakan senang dan sedih itu bersama saya. Benar-benar psikolog sejati!

Saya juga tidak pernah menolak mengantarnya jika dia ada keperluan. Kalau biasanya saya “pagari” jok belakang motor saya dari para akhwat, tapi khusus untuk dia “pagar” itu selalu saya buka. Kapanpun dia butuh, saya selalu siap sedia. Jangan dikira saya meminta bayaran! Tidak! Semua service itu gratis saya berikan tanpa pamrih darinya. Melihatnya senang sudah merupakan bayaran tak ternilai bagi saya.

Kalau saya berpergian ke kota lain, dia tidak pernah absen mengantar saya ke terminal atau bandara. Pada waktu-waktu seperti itu, dia biasanya membuatkan saya makanan untuk bekal di perjalanan. Meski sederhana, tapi persembahan darinya ini selalu terasa spesial karena saya tau ada kasih di dalamnya.

Ilustrasi Ibu (sumber : images6.fanpop.com)
Kalau ditanya apakah saya cinta kepadanya, saya tidak bisa bohong. Ya, saya sangat cinta, tapi tidak mungkin bagi saya untuk menikahinya karena akhwat yang saya maksud adalah ibu saya sendiri.

Miss you mom, deeply.

#Asrama Mahasiswa KSU

January 12, 2014

It's True Great


Ada dua kabar gembira yang saya dapat seminggu ini. Kabar pertama dari perkuliahan. Paper yang saya buat untuk tugas matakuliah Kebijakan dan Kelembagaan dinobatkan menjadi salah satu yang terbaik di kelas. Tidak hanya itu, paper saya bahkan dijadikan acuan penulisan untuk tugas matakuliah tersebut. Artinya, semua teman seangkatan di prodi saya akan membaca dengan seksama paper itu. Prof. Purwo, pengampu matakuliah ini, bahkan memberikan kredit tersendiri atas paper tersebut. Berikut adalah email yang dikirimkan oleh Prof. Purwo kepada kami: 

"Peserta kuliah Kebijakan dan Kelembagaan ysh Dalam komentar umum yang telah saya sampaikan, saya mengatakan bahwa sebagian besar makalah yang disusun para peserta tidak mengacu pada referensi yang memadai, terlebih referensi dalam bisang kebijakan dan kelembagaan. Sehubungan dengan komentar itu, saya menemukan setidaknya satu yang terkecuali, yakni naskah ini. Ini adalah contoh naskah yang mengacu pada literature tentang proses pelembagaan. Dengan acuan yang relatif banyak, mas Fajar tetap mengekspresikan gagasannya dengan baik. Hanya saja, bagian pengantarkan agak bertele-tele. Selamat buat mas Fajar. Bagi peserta yang lain: Selamat mengambil inspirasi dari tulisan mas Fajar. Salam Purwo Santoso."

Saya senang. Bukan karena saya bisa menjadi yang terbaik, tapi karena saya bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Sebelumnya, kami semua bingung atas maksud Prof. Purwo. Termasuk saya! Ketidakfamiliaran cara beliau dalam menyampaikan materi saya rasa menjadi faktor utama yang mendatangkan kebingungan tersebut.Oleh karena ketidakpahaman instruksi itulah, akhirnya kami semua gagal memenuhi ekspektasi beliau seperti yang beliau paparkan dalam email di atas.

Saya sendiri sebenarnya tidak menyangka jika paper saya mendapat kredit sebagus itu. Saya hanya berusaha menuliskan apa yang beliau inginkan. Oleh karena itu, sebelum menulis tugas tersebut, saya berusaha mengerti dulu apa yang benar-benar beliau ekspektasikan. Maka saya pun bertanya kepada teman-teman sekelas. Hampir sepertiganya saya tanyakan. Anehnya, semakin saya tanya, saya justru semakin bingung. Tidak puas dengan itu, saya mencoba bertanya kepada Bang Iyeng, maestro Sospol yang saya kagumi. Yang saya tanyakan bukan tentang tugas, tapi tentang matakuliah dan cara Prof. Purwo mengajar. Apa sebenarnya esensi dari kuliah tersebut dan bagaimana “kemauan” Prof. Purwo kepada mahasiswanya. Dari situ, mulai tersingkaplah kabut-kabut yang selama ini menutupi.

Setelah bertanya kepada teman sekelas dan Bang Iyeng, selanjutnya saya kumpulkan bahan-bahan tentang kelembagaan. Prof. Google sangat membantu saya dalam hal ini. Untungnya, saya juga menemukan satu makalah yang khusus membahas kelembagaan dalam hal kebencanaan. Berulang-ulang kali saya baca paper tersebut untuk memahami isi dan alur berpikirnya. Setelah benar-benar paham, barulah saya menuliskan paper saya. Dan hasilnya dapat dibaca dari petikan email di atas. Alhamdulillah :-D

Akan tetapi, “great” yang Prof. Purwo berikan bukanlah yang ultimate bagi saya kala itu. Meski patut diakui bahwa hati ini sempat tercuri karenanya, tapi tidak lama setelah itu ada “great” lain yang lebih “digdaya” yang mampu menyingkirkan “great” Prof. Purwo dari hati. “Great” yang membuat kegembiraan saya benar-benar meledak minggu lalu adalah mimpi tentang Umi.

Ya, mimpi tentang Umi. Dalam mimpi tersebut, paman saya menyampaikan kepada saya bahwa makam Umi akan dipindahkan. Saya diminta datang untuk menyaksikan pemindahan makam tersebut. Ketika makam telah digali, saya melihat jasad Umi ternyata masih utuh. Bahkan tidak hanya utuh, tetapi juga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, dalam mimpi tersebut saya juga mendapat ilustrasi makam Umi dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah. Masya Allah…

Saya yakin ini adalah pertanda baik. Ini adalah mimpi yang baik. Saya meyakininya karena saya memulai “prosesi” mimpi itu dengan baik. Saya mengawali tidur saya dengan baik. Membersihkan dan menyucikan diri sebelum tidur. Menyikat gigi dan berwudhu. Tidak lupa membaca do’a, lalu membaringkan posisi tubuh saya ke arah kiblat, sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Saya juga menjadikan suara Tilawah Al-Qur’an Syaikh Sudais sebagai pengantar menuju alam mimpi sampai akhirnya Allah menakdirkan saya bertemu dengan mimpi tersebut. Ah, semoga ini memang benar-benar pertanda baik buat Umi saya.

Seminggu sebelumnya, saya menitipkan doa kepada Mas Firman, seorang kawan dari Bandung, yang akan berangkat umroh. Doa yang saya titipkan ada dua, salah satunya adalah doa untuk kebaikan Umi saya. Mungkinkah mimpi itu adalah tanda dari Allah swt bahwa doa tersebut ter-ijabah? Wallahu ‘alam.

#Wisma Pakdhe

September 3, 2013

28 Maret 1988

28 Maret 1988. Hari itu adalah hari bersejarah bagi sepasang muda-mudi. Hari yang melegalkan perkara yang sebelumnya termasuk ke dalam dosa besar. Bukan hanya legal (mubah), tapi perkara itu pun bernilai kebaikan (pahala) bagi mereka. Bahkan dianggap ibadah karena ijab kabul telah membingkainya dengan indah.

28 Maret 1988. Hari itu adalah hari Senin, bertepatan dengan 10 Sya’ban 1408 H. Senin adalah salah satu hari yang istimewa. Rasulullah saw bersabda bahwa hari Senin (dan Kamis) adalah hari dimana malaikat menyetorkan amal manusia ke hadapan Allah swt (oleh karena itu beliau berpuasa sunnah pada kedua hari itu). Dan momen berharga itu juga menjadi hari pernikahan sepasang muda-mudi tersebut. Semoga ada nilai lebih darinya.
Sumber: pinterest.com

28 Maret 1988. Mereka sebenarnya masih sangat muda. Sang mempelai pria baru di pertengahan 24 menuju 25 tahun. Usia yang pada saat ini dianggap belum matang dan jauh dari kemapanan. Alih-alih menikah, pacaran dijadikan pilihan yang lebih logis oleh banyak kalangan. Sebagian lainnya menenggelamkan diri dalam kehedonisan sebagai wujud aji mumpung, “mumpung masih muda”.

Usia mempelai wanita dambaan lebih mencengangkan lagi, baru memasuki akhir 18 tahun. Jangankan menikah, dewasa ini usia segitu justru sedang pol-polnya hura-hura. Menonton konser, pergi ke mall, tenggelam dalam gadget dan socmed, serta genit-genitan dengan lawan jenis sangat lumrah ditemui di kehidupan gadis remaja saat ini.

Akan tetapi, sepasang muda-mudi itu memilih menikah sebagai jalan hidup mereka. Meski mereka belum mapan secara ekonomi, meski gairah pemuda untuk berhura-hura sedang bergejolak, dan meski kematangan mungkin belum hadir dalam ruang berpikir mereka, tapi mereka tidak ambil pusing. Semua itu insyaallah akan menyertai seiring melengkungnya janur kuning di pintu masuk pelaminan.

Dan hal itu benar-benar terwujud 8 bulan 13 hari kemudian. Allah swt mengaruniakan rezeki berupa anak sebagai pelengkap kebahagiaan mereka. Achmad Fery nama buah cinta pertama tersebut. Sekarang usianya sama dengan usia ayahnya ketika menikah dulu, tapi dia belum ingin menikah karena harus konsentrasi menyelesaikan pendidikan masternya yang baru saja dimulai.

Tujuh tahun berselang setelah kelahiran si sulung, lahir buah cinta kedua, yang diikuti buah cinta ketiga sepuluh tahun berikutnya. Ketiga anak mereka semuanya adalah laki-laki, atau “jagoan” dalam bahasa kampung. Itu berarti mempelai wanita menjadi wanita tercantik di keluarga kecil tersebut.

Keluarga kecil itu merintis semuanya dari nol. Mempelai pria, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bukan merupakan pria yang sudah mapan. Dia merintis karir dari bawah sekali hingga kini akhirnya telah memiliki penghidupan yang lebih layak. Mempelai wanita, sang manjaer rumah tangga, mendidik anak-anak dengan pendidikan terbaik, hingga berhasil mengantarkan anaknya melanglang buana sampai ke negeri Eropa.

Sayangnya, ada badai yang harus dihadapi oleh keluarga kecil tersebut. Mempelai wanita diuji oleh penyakit yang sangat berat hingga akhirnya menghadap Sang Khalik satu tahun sebelum usia perak pernikahannya. Meskipun badai itu belum sepenuhnya berlalu dan masih membuat bahtera keluarga kecil itu limbung, tapi mereka selalu percaya bahwa Allah selalu menjaga mereka.

#wisma Pakdhe

May 26, 2013

Wis Sudah #1

Alhamdulillah, berkat pertolongan dari Allah, saya telah lulus dari program S-1 Psikologi dan telah diwisuda pada Selasa, 21/05/13 kemarin. Entah kenapa saya tidak merasakan ada sesuatu yang spesial atas wisuda tersebut. Walaupun saya mendapat selempang cum laude (ehem..), tapi perasaan saya saat akan, ketika, dan sudah diwisuda biasa-biasa saja, tidak terlalu bergembira.

Well, saya akui memang pada saat akan, ketika, dan sudah diwisuda otak saya banyak dipenuhi oleh sampah-sampah pikiran yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan, tapi berhubung saya adalah tipe “pemikir”, jadilah sampah-sampah itu memenuhi otak saya yang memiliki kapasitas terbatas ini. Mengenai apa saja sampah-sampah itu, sepertinya tidak perlu saya sampaikan di sini. Lha, untuk apa saya memberi sampah?

Anyway, prosesi wisuda kemarin berlangsung dengan cukup khidmat. Pagi-pagi sekali (jam 6) kami (para wisudawan) sudah diminta kumpul di GSP. Acara wisuda sendiri baru efektif dimulai sekitar jam 8 pagi. Upacara wisuda dibuka oleh Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. Oya, sebelum wisuda dimulai, ada persembahan seni karawitan dari kelompok yang saya lupa namanya, tapi masih keluarga besar UGM juga. Sangat nge-Jawa sekali.
Ilustrasi Wisuda di UGM (sumber: zulfaalfaruqy.blogspot.com)

Kemudian, acara dilanjutkan dengan prosesi wisuda, yaitu pemberian ijazah kepada para wisudawan. Satu persatu wisudawan dipanggil. Saya mendapat giliran yang cukup lama karena wisudawan Psikologi dapat bagian tempat duduk yang agak di belakang. Setibanya giliran saya, saya agak gerogi juga, takut membuat kesalahan yang memalukan, misalnya keserimpet, terjatuh, dsb, mengingat baju toga yang saya kenakan ukurannya lumayan besar. Akan tetapi, alhamdulillah kekhawatiran itu tidak terjadi. Ijazah saya terima dari dekan Fakultas Psikologi, Ibu Supra Wimbarti. Ph.D., dengan mulus.

Setelah semua wisudawan mendapatkan ijazahnya, acara dilanjutkan dengan hiburan dari paduan suara mahasiswa (PSM) UGM. Mereka membawakan dua buah lagu, yaitu Yang Terbaik (Ada Band) dan satu lagi saya lupa. Lagu pertama adalah lagu persembahan untuk ayah, sedangkan lagu kedua merepresentasikan pengorbanan ibu. Beruntung, saya tidak tau sama sekali lagu kedua, sehingga saya tidak terlarut dalam emosi karena mengingat ibu saya.

Akan tetapi, sontak telinga saya berdiri manakala PSM mulai mengarahkan lagu kedua ke sebuah lagu yang saya tau betul liriknya, yaitu lagu dengan judul Bunda (Melly Goeslaw). Masya Allah, padahal saya berharap sekali agar lagu ini tidak dibawakan karena saya takut akan terjadi “hujan lokal”, tapi ternyata dibawakan juga.

Lirik demi lirik mereka nyanyikan, yang kemudian membuat mereka mendapatkan perhatian saya dengan sempurna. Lagu itu sangat berhasil menggiring air mata saya menuju muaranya. Sekuat tenaga saya berusaha menahan air yang sudah menggenang di depan mata ini agar tidak tumpah. Sekali saja saya berkedip, tentu mata saya sudah meleleh.

Sungguh saya terkenang pada Umi, beliau yang doanya selalu terlantun dan begitu ingin menyaksikan saya diwisuda, tapi takdir tidak memperkenankannya. Masya Allah…

Sekiranya dalam kelulusan dan pencapaian saya ini ada kebaikan yang mengiringi, semoga Umi juga mendapat bagian darinya.

#pojok Tawangsari

March 28, 2013

Ketika Wanita Mulia Diabaikan

Miris. Benar-benar miris saya melihatnya. Seorang tetangga kos “mengabaikan” ibu dan adik kecil yang sedang mengunjunginya. Dia meninggalkan ibu dan adiknya berdua di kamar dan lebih memilih mengobrol dengan tetangga kos yang lain sejak semalam. Ibunya dicuekin. Kedatangan ibunya diacuhkan.
Sumber: republika.co.id

Sejak kedatangannya semalam, saya belum mendengar percakapan antara mereka berdua.  Padahal saya tau, teman kos saya itu berasal dari luar Jawa. Artinya, kemungkinan besar ibunya pun datang dari luar Jawa. Hal ini menambah daftar kemirisan hati saya. Mengapa seorang anak begitu tega “mengacuhkan” orangtua (apalagi Ibu) yang sudah jauh-jauh datang dari kampung? Kenapa dia bisa sampai hati memilih menghabiskan waktu bersama teman kosnya yang setiap hari ada di situ daripada dengan ibunya yang hanya sesekali datang?

Bahkan ketika matahari baru akan terbit, ia bukannya men-treat ibu dan adiknya dengan menyediakan sarapan, teh hangat, atau makanan ringan, tapi malah keluar kamar lagi untuk melanjutkan obrolannya yang semalam. Masya Allah. Bagi saya, itu sudah sangat keterlaluan.

Saya saja selalu memimpikan ibu saya (sewaktu beliau masih ada) bisa mengunjungi saya di sini, tapi karena satu dan lain hal, beliau belum bisa berkunjung ke Jogja. Rencananya ibu akan datang saat wisuda saya, tapi hal itu sudah tidak mungkin lagi karena beliau sudah wafat bulan Ramadhan tahun lalu.

Oleh karena itu, setiap kali ada teman kos yang dikunjungi orangtuanya, terutama ibu, saya menjadi begitu emosional (dalam artian psikologis). Saya bahkan pernah menitikkan air mata ketika seorang teman dikunjungi ibunya. Ibunya itu begitu perhatian dan sangat ramah kepada anak kos lain. Kasih sayang ibu tersebut mengingatkan saya kepada umi.

Itulah mengapa saya begitu “sensitif” dengan perilaku abai teman saya itu. Pesan untuk anda: jangan mempertontonkan perilaku abai anda terhadap ibu di depan saya!

#rindu Umi
#pojok kamar wisma Pakdhe

March 5, 2013

Akad Pertama

Sabtu, 23 Februari 2013, sepupu saya, Dian (23 tahun), menikah dengan seorang gadis pilihannya yang usianya masih relatif muda (sekitar 20 tahun). Pertama kali mendengar beritanya dari encing (bibi) saya (bahwa Dian akan menikah), saya agak kaget. Kaget karena sepupu saya itu masih muda, bahkan lebih muda dari saya. Dengan usia segitu, dia sudah berani membentangkan layar bahtera untuk mengarungi samudera rumah tangga bersama sang istri. Salut…
Ilustrasi akad nikah (sumber: healthynutritiontips.info)

Ya, saya benar-benar salut kepadanya. Juga kepada istrinya karena mereka berani dan bernyali untuk menghadapi resiko-resiko yang kemungkinan akan dihadapi. Saya salut kepada mereka berdua karena mereka tidak menjadi pasangan yang pengecut, yang memuaskan diri bermesra-mesra sebelum ijab kabul dilantunkan. 

Memang, dewasa ini terlalu banyak pasangan muda-mudi yang pengecut, yang bersembunyi dibalik tembok “pacaran” untuk melakukan hubungan layaknya suami-istri. Pacaran sudah begitu dimaklumi oleh masyarakat. Bahkan mereka seolah sepakat bahwa sebelum menikah, ya harus pacaran dulu, agar bisa saling mengenal. Ckckck…

Meskipun demikian, saya yakin bahwa orangtua sebenarnya tidak terlalu mengetahui bagaimana liarnya gaya anak muda sekarang dalam berpacaran. Kalau mereka tahu, mungkin mereka memiliki sikap yang lebih keras terhadap pacaran.

Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi dan salut kepada mereka (cowok-ccewek) yang menikah di usia muda karena dengan begitu (insyaallah) dosa maksiat dan zina dapat terminimalisir. 

Hikmatnya Akad
Pada saat akad nikah sepupu saya itu, saya menyengaja diri menghadirinya. Sejujurnya, ini adalah kesempatan pertama saya menyaksikan akad nikah secara langsung dan full. Sebelumnya, saya belum pernah menyaksikan prosesi “serah terima” mempelai wanita seperti ini secara langsung.

Akad nikah dilangsungkan di kediaman mempelai wanita. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Hanya berjarak sekitar satu kilometer. Saya datang bersama Dayat dan abangnya, sepupu saya yang lain.  Dayat diminta bantuan oleh Dian untuk menjadi fotografer.

Pada saat kami datang, prosesi akad belum dimulai. Tidak lama setelah itu, hujan rintik mulai turun mengiringi akad yang akan segera dimulai.

Penghulu di pernikahan Dian rupanya sangat komunikatif. Meskipun masih muda (usianya mungkin masih di bawah 35 tahun), tapi beliau sepertinya sudah sangat berpengalaman. Beliau tidak jarang melemparkan joke kepada calon pengantin dan tamu yang hadir untuk mencairkan suasana yang agak tegang tersebut, terutama bagi calon pengantin.

Tidak lupa penghulu memberikan nasihat dan petuah-petuah bijak untuk kedua calon pengantin. Hati saya tiba-tiba terhenyak ketika penghulu mengucapkan kata-kata yang kurang lebih redaksinya seperti ini: “Bapak (berbicara kepada orangtua mempelai wanita), kewajiban Bapak dan Ibu sebagai orangtua sudah tuntas sampai di sini. Berikutnya, suami anak Bapak lah yang memiliki kewajiban untuk mengurusnya. Segala dosa dan kesalahan anak Bapak nantinya akan menjadi tanggung jawab suaminya.”

Subhanallah… mata saya berkaca-kaca mendengar ucapan itu. Saya membayangkan betapa beratnya tugas dan tanggung jawab seorang suami. Dia menjadi pihak yang berdiri di garis paling depan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan istri dan anak-anaknya di dunia. Beruntunglah dia ketika mendapati istri dan anak-anaknya menjadi insan yang solih-solihah. Sebaliknya, celakalah dia ketika mereka membangkangi ketentuan Allah.

Mata saya semakin merembes ketika ijab kabul mulai dilantunkan. Saya membayangkan sosok umi saya. Bagaimana nanti pilunya akad pernikahan saya ketika umi tidak hadir mendampingi saya. Saya tidak bisa mencium tangannya. Memohon restunya. Dan meminta maaf atas kesalahan saya. Masya Allah…

#pojok kamar wisma Pakdhe

January 25, 2013

Dosen Plus-plus

Ketika umi sakit, saya sering berdiskusi (boleh juga dibilang curhat) kepada salah seorang dosen psikologi, namanya Ibu Indati. Saya menjadikan beliau sebagai teman diskusi karena beliau juga dulunya pernah mengalami penyakit yang sama dengan umi saya, yaitu kanker payudara. Harapannya, dengan berdiskusi bersama beliau, saya bisa mendapat nasihat untuk kebaikan umi, saya, dan keluarga.
Ilustrasi kuliah

Beliau bercerita bahwa untuk sembuh dari penyakit itu, ia harus menghadapi 12 kali sesi kemoterapi dan 20 an kali penyinaran. Subhanallah, tidak terbayang rasa sakitnya seperti apa... Umi saya yang “cuma” menjalani enam kali sesi kemoterapi saja sudah terlihat sangat kepayahan. Saya benar-benar tidak tega melihat kondisinya saat itu. Bagaimana jika 12 kali?

Saya sering meminta nasihat kepada Ibu Indati tentang bagaimana seharusnya sikap saya dan keluarga dalam mendampingi umi saya. Beliau sering menasihati saya agar saya dan keluarga selalu menemani umi dan mengajak beliau berbicara. Intinya, jangan sampai umi merasa kesepian sehingga memperburuk kondisi psikologisnya.

Sesi konsultasi itu saya lakukan via telepon dan tatap muka langsung. Ibu Indati selalu bersedia meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan saya. Bahkan dulu beliau pernah mengutarakan keinginan untuk berkunjung ke rumah saya supaya bisa memberikan motivasi secara langsung kepada umi, tapi karena kendala ruang dan waktu, niat baik itu belum sempat terwujud. Saat baru pulang dari umroh, beliau juga sempat menawarkan air zam-zam untuk umi, tapi sekali lagi karena kendala ruang dan waktu, niat baik itu belum kesampaian.

***

Hari Selasa yang lalu (22 Januari 2013) secara tidak sengaja saya bertemu dengan beliau di kampus. Betapa terkejutnya saya melihat kondisi beliau saat itu. Terkejut sekaligus sedih. Betapa tidak, saya melihat sebuah benda (mungkin logam) menutup rapat mata kiri beliau. Saya sendiri tidak tahu, apakah mata kiri beliau itu masih berfungsi atau tidak.

Memang, beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kabar bahwa beliau baru saja operasi mata. Entah karena sakit apa. Tapi saya tidak membayangkan kalau matanya sampai seperti itu. Semoga itu hanya bagian dari pengobatan saja sehingga matanya bisa berfungsi dengan normal lagi nanti. Aamiin…

Ibu Indati sendiri, berdasarkan cerita beliau, memang sering kali mendapat ujian berupa penyakit. Selain kanker payudara, beliau juga pernah bermasalah dengan rahimnya. Permasalahan pada rahim itu kemudian membuat rahimnya harus diangkat sehingga beliau tidak bisa hamil lagi. Untungnya saat itu dia sudah punya satu anak.

Mendengarkan cerita beliau berjuang untuk hidup melawan penyakitnya membuat saya benar-benar kagum kepada beliau. Perjuangannya benar-benar luar biasa. Saya berdoa semoga semua ikhtiar dan peluh beliau itu mendapat balasan terbaik dari Allah.

#pojok kamar, wisma Pakdhe

November 29, 2012

A Treasure from Old MMC

Beberapa hari yang lalu, saya iseng membuka file MMC dari hp saya sewaktu SMA.  Entah kenapa tiba-tiba saya teringat dengan MMC ini. File di MMC ini sudah lama sekali tidak dibuka, mungkin lebih dari empat tahun.

Ketika pertama kali ke Jogja dulu, saya sengaja membawa MMC ini agar suatu saat saya bisa mengenang masa-masa “muda”, tapi karena sampai akhir tahun ketiga saya di Jogja, saya belum punya laptop dan atau komputer, maka saya tidak pernah membuka file di MMC ini. Saya sendiri sudah lupa apa saja yang ada di dalamnya.

Well, let’s check it out.
Ilustrasi harta karun (sumber: wikiclipart.com)

Setelah saya buka, file yang ada di dalam MMC itu ternyata kebanyakan adalah foto-foto saya dan teman-teman sewaktu SMA. Tidak saya sangka ternyata saya lumayan narsis waktu SMA dulu, hehe.

Selain itu, ada juga beberapa tulisan yang dulu diupload di blog saya yang lama (saya lupa alamat blognya apa). Sejak SMA saya memang lumayan suka menulis, tapi bukan menulis yang berat-berat, melainkan cuma menulis pengalaman hidup aja.

Hmm… Saya jadi ingat bagaimana cara saya meng-upload tulisan di blog dulu. Kalian tau bagaimana caranya? (I’m swear, it was the most stupid duty) Caranya adalah, saya ketik tulisan-tulisan itu di hp saya, kemudian saya upload melalui gprs.

Bayangkan! Betapa dahsyatnya saya! Saya menggunakan keypad hp untuk menulis dua halaman! Gak ada kerjaan banget ya?

Kenapa saya tidak menulis di komputer? Pertama, saya baru punya komputer ketika lulus SMA. Kedua, saya juga jarang ke warnet karena jaraknya lumayan jauh. Jadilah saya memanfaatkan sumber daya yang ada. (Gak usah tepuk tangan)

By the way, tulisan saya zaman dulu ternyata alay banget >.< Jadi malu sendiri membacanya (*blush)

Anyway, di MMC itu, saya juga menemukan beberapa file yang berhubungan dengan Fahri (my youngest brother). Di situ, ada foto dan video Fahri sewaktu masih berumur satu hingga dua tahun. Tidak banyak sih, tapi lumayan menghibur.

Sayangnya, dalam foto itu, Fahri selalu sendiri, padahal saya berharap dapat menemukan Umi juga di situ. Ada juga sih foto yang ada Umi nya, tapi wajahnya gak kelihatan, cuma badannya aja.

Satu file yang sangat menghibur adalah video Fahri ketika berulang tahun kedua (tahun 2007). Saya rekam video itu menggunakan kamera hp Nokia 6600. Di video itu, Fahri terlihat sedang dalam prosesi meniup lilin. Dia kelihatan malu-malu karena ditonton banyak orang. Awalnya dia tidak mau meniup lilin itu, tapi setelah dibujuk akhirnya dia mau juga.

Hal yang menarik di situ adalah, terlihat ada umi di sebelah Fahri. Sayangnya, lagi-lagi umi hanya terlihat setengah badan. Wajahnya tidak kelihatan. But it doesn’t matter because I could hear her voice. 


Update 27/12/2018: Videonya tidak saya tayangkan karena ummi gak pakai hijab

November 27, 2012

For My Beloved Mom: The Last “Present” from My Mom

For the first time after has been living alone for more than 3 years in Yogyakarta, I feel so difficult to leave my hometown, South Tangerang. It is too easy for me to get homesick when I am in Yogyakarta. I miss my father, my brothers, and also my close family in South Tangerang.

I guess it happened because I didn’t get enough support here. Well, for the truth, I still need support to go through the tragedy of my mom’s passed away. It makes me down to the lowermost level moreover I am on progress to finish my thesis.

In South Tangerang, when I miss my mom, I used to go to my close family houses or visit to her resting place. Seriously, I feel better when I meet with her brothers and sisters (my uncles and aunts). I don’t know why this happen, but I think it caused they are the closest people with my mom, after my father and my brothers. So, they can be a representative of my mom. They also frequently tell me about her goodness and I am delighted to hear that.

In addition, I commonly visit her cemetery once in two weeks. Surely, it has a big impact for me. After visiting her cemetery, my miss is reduced. Besides, the Messenger of Allah (pbuh) said we have to frequently visit a sacred place in order to make us remember about our die. Therefore, I am pleased to go to her resting place.

For those reasons, I feel better to live in South Tangerang than Yogyakarta for this moment. But then, the strongest reason why I feel more comfort to live in South Tangerang is my father and my brother, especially my youngest brother (Fahri-7 years old). There is no hesitates to say that I’m really happy when I through my life time with him. He is the last “present” from my mom.
Sumber: dokumentasi pribadi

When I interact with him, I get some pleasure. I enjoy when I teach him to do his homework. I’m happy when I teach him read Koran. I’m happy when we pray together at the mosque. I’m happy when we play soccer in the afternoon. And also I’m happy when I bike him to his TPA (a place to learn Koran).

Interact many times with him makes me enjoy, though sometimes also annoyed because he asked me for many things. But overall, his attitude often makes my miss of mom healed. Formerly, my mom put so much love to him. He often gets special treat from her. It caused he is the youngest among us. Nevertheless I didn’t feel any envy at all to him. The truth is I feel so sorry for him.

I think Fahri is the unluckiest son among us (me and my 2 young brothers). Why? Well, he just turned into 7 and lost the main source of affection in that age. I think everyone agree that mother is the best people to take care of her child. Until the end of the world, there is no father has an ability to take care of his child as good as mother. Therefore, Fahri may be lack of affection.

I wonder the lack of affection impacting his future. What if he has a psychological problem? Indeed, there is no sign about it till now and I hope the sign never come to him. In consequence, I want to do my best to take care of him in order to prevent it.

When I was going home from Yogyakarta for the first time after my mom’s passed away, I looked he seriously careless. He looked thin sadly. After few days at home, I know it caused by the lack of nutrition. His mainly dishes was only either fried egg or noodle. Although he was still fun and enjoy with that, but I have a duty to be more responsible to him. Therefore, I feed him with more nutritiously food.

His appearance was also not good. He has long and dirty fingernail. His skin also looked dusty. In general, his appearance made me so sad. I was so sad because I knew it would never happen when my mom still alive. My father can’t take care of him at all times because he should work. The person who most care to Fahri is my neighbor whom also the closest friend of my mom.

She had a heart of gold. She always pays her attention to us (my family) and often cooks for Fahri and gives him special attention. I hope Allah bless her and give her a healthy and long life, happiness, also good ending. 

#room corner, Pakdhe's dorm

November 24, 2012

Untuk Ibunda Terkasih: Dua Wajah Ramadhan #3 - End


Pada tanggal 22 Ramadhan 1426 H, kami sekeluarga berbahagia karena kedatangan anggota baru dalam keluarga kecil kami. Hari itu, ibu saya melahirkan Fahri, adik saya yang kedua setelah Fahrul. Tujuh tahun setelahnya, masih di bulan yang sama, kami sekeluarga berduka karena wanita mulia yang melahirkan Fahri menemui ajalnya. Ibu saya meninggal pada hari Sabtu, 8 Ramadhan 1433 H pukul 23.45 WIB.

Ahad, 08 Ramadhan 1433 H (29 Juli 2012)
Malam itu menjadi malam yang paling sendu dalam hidup saya. Saya menangis dan berduka ditinggal pergi oleh umi. Para tetangga berdatangan. Saudara-saudara juga mulai berdatangan. Encing (bibi) saya berusaha menenangkan saya. Saya tenang, tapi tetap menangis. Walaupun sudah berusaha saya menahan air mata, tapi nyatanya tetap keluar juga.

Beberapa saat setelah meninggal, umi dipindahkan dari kamarnya menuju ruang tamu. Orang-orang mulai membaca al-qur’an di sebelah jasad umi. Saya masih tetap menangis di kamar. Kaki saya lemas untuk diajak berdiri. Saya hanya bisa duduk sambil memegang kepala. Satu jam setelahnya, saya mulai tenang tanpa tangisan.

Sekitar jam dua dini hari, saya keluar kamar, tapi masih belum mampu melihat dan mendampingi jasad umi. Saudara-saudara sudah banyak yang datang. Melihat saya duduk termenung di depan ruang tv, mereka kembali mendekati saya. Kata “sabar” menjadi kata yang paling populer pada hari itu.

Beberapa saat setelah itu, saya menghampiri jasad umi. Jasad umi seluruhnya ditutupi kain sehingga saya tidak bisa melihatnya langsung. Saya pun tidak ingin air mata saya meledak lagi ketika melihat jasad beliau. Saya duduk di sebelahnya dan mulai membaca al-qur’an.

Memasuki waktu subuh, kami sholat subuh berjamaah di rumah. Setelah sholat, banyak tetangga berdatangan. Kerabat-kerabat umi banyak yang menyalami saya sambil menangis. Saya sendiri tidak mau terprovokasi untuk kembali menangis. Saya tahan kuat-kuat mata saya agar tidak merembes lagi.

Sejak sholat subuh saya masih berada di dalam rumah. Tidak kemana-mana. Akan tetapi, karena semakin banyak pelayat wanita di dalam rumah saya memutuskan keluar, bergabung bersama pelayat pria. Di luar ternyata banyak teman-teman saya yang berdatangan. Mereka berbela sungkawa kepada saya.

Sampai saat jenazah umi akan dimandikan, tidak ada lagi tetesan air mata yang keluar dari mata saya. Walaupun para pelayat banyak yang menangis, saya tidak menangis. Akan tetapi, ketika umi dimandikan, sontak air mata itu meleleh lagi. Air mata itu meleleh ketika saya membantu memandikan jenazah umi. Sosok yang dulu selalu memandikan saya ketika kecil, kini saya mandikan, tapi dengan kondisi kaku. Kaki saya kembali lemas. Saya tidak kuat berlama-lama di situ. Akhirnya, saya kembali ke kamar.

Setelah beberapa saat di kamar, saudara saya mengabari bahwa umi akan dikafani. Saya diajak keluar agar bisa melihat umi untuk terakhir kalinya. Saya pun keluar, menyaksikan proses pengkafanan umi. Lagi-lagi air mata tumpah tanpa diperintah. Di hadapan saya, umi yang dulu selalu memakaikan saya pakaian ketika saya kecil, kini sedang dikafani oleh petugas pengurus jenazah. Tangisan membuat saya tidak berdaya memakaikan pakaian terakhir untuk umi.

Jam sembilan pagi, seusai dikafani, beliau dibawa ke mushala dekat rumah untuk disholati. Lalu di bawa ke pemakaman.

Ya Allah… begitu cepatnya Engkau memanggil beliau.

Di pemakaman, liang lahat sudah dipersiapkan. Saya dengar, liang itu sudah digali sejak tadi malam sebelum sahur. Mereka yang menggali adalah warga sekitar rumah. Teman-teman saya juga banyak yang ikut membantu. Mereka sengaja mempersiapkan liang sebelum sahur karena khawatir kelelahan dan berdampak pada puasa mereka jika dilakukan pagi hari, mengingat saat itu adalah bulan puasa.

Qodarullah, jenazah umi mendapat liang persis di sebelah liang lahat (almh) ibunya (nenek saya). Hal ini sangat jarang terjadi, karena: pertama, pemakaman itu adalah pemakaman umum. Kedua, nenek saya sudah meninggal sejak satu setengah tahun yang lalu. Dalam waktu satu setengah tahun itu, pasti sudah ada puluhan atau mungkin ratusan orang yang meninggal, tapi nyatanya tidak ada yang menggali liang di situ sehingga kini ditempati jasad umi.

Detik-detik menjelang dimakamkannya umi, saya menjadi semakin lemas. Saya berharap bisa menjadi salah satu orang yang menanggapi jenazah umi ketika akan dimasukkan ke dalam liang lahat. Saya juga berharap bisa mengadzani beliau. Akan tetapi, karena tangis kembali meleleh, dua tugas itu diwakilkan oleh saudara saya.

Jenazah umi dibaringkan di permukaan tanah yang sudah dipersiapkan. Permukaan itu mirip dengan lekuk tubuh manusia. Sekepal demi sekepal, tanah menutupi rongga-rongga yang tersisa dari tempat itu. Kemudian, jenazahnya dihimpit dengan papan-papan sampai tertutupi semua bagiannya. Lalu, tanah mulai dijatuhkan. Perlahan-lahan, tanah memenuhi liang, bersamaan dengan penuhnya hati ini oleh duka. Duka ditinggal oleh orang yang tercinta.

Tak lama kemudian, makam umi telah padat dengan tanah. Umi benar-benar telah tiada. 

#pojok kamar, wisma Pakdhe

November 21, 2012

Untuk Ibunda Terkasih: Dua Wajah Ramadhan #2


Pada tanggal 22 Ramadhan 1426 H, kami sekeluarga berbahagia karena kedatangan anggota baru dalam keluarga kecil kami. Hari itu, ibu saya melahirkan Fahri, adik saya yang kedua setelah Fahrul. Tujuh tahun setelahnya, masih di bulan yang sama, kami sekeluarga berduka karena wanita mulia yang melahirkan Fahri menemui ajalnya. Ibu saya meninggal pada hari Sabtu, 8 Ramadhan 1433 H pukul 23.45 WIB.

Jum’at, 06 Ramadhan 1433 H (27 Juli 2012)
Menurut orang-orang, keadaan umi pada hari itu jauh lebih baik dari hari sebelumnya karena umi sudah dapat berbicara dan mau makan dan minum. Sebelumnya, kata mereka umi tidak bisa berbicara dan tidak mau makan dan minum. Akan tetapi, untuk aktivitas lain beliau sama sekali tidak bisa melakukannya. Butuh bantuan orang untuk menopang berbagai aktivitasnya, mulai dari mandi, buang air (mengganti pampers), bahkan untuk membalikan badan pun harus dibantu.

Masyaallah… Semoga Allah memuliakanmu Umi, setelah Dia mengujimu dengan ujian yang sangat berat.

Meskipun orang-orang bilang bahwa umi sudah mengalami kemajuan, tapi bagi saya, melihat kondisi umi seperti itu sungguh sangat menyayat hati. Sungguh tidak tega melihat wanita mulia ini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Kondisi itu benar-benar menguji keimanan, tidak hanya iman umi, tapi juga iman kami, orang-orang terdekatnya.

Pada hari itu, umi sudah mulai banyak bicara. Suaranya sudah terdengar jelas, tidak seperti tadi malam yang hanya sayup-sayup. Hari itu umi meminta maaf kepada saya karena menurut beliau, akibat “ulahnya” lah saya harus pulang lebih awal.

Rabbana…Rabbana…Rabbana… Semoga Allah memuliakan engkau, wahai Umi. Di saat seperti itu, engkau masih saja membela anakmu ini. Demi Allah yang menggenggam langit dan bumi, engkau sama sekali tidak salah, justru anakmu inilah yang harus sering beristighfar karena lalai merawatmu.

Hari itu umi minta dipindahkan ke ruang tamu karena beliau bosan terus-terusan berada di kamar. Sampai waktu berbuka puasa hampir tiba, umi masih berbaring di sofa ruang tamu. Saya mengajak bapak dan adek-adek agar berbuka puasa di ruang tamu. Untuk pertama kalinya di bulan Ramadhan itu, kami berbuka puasa bersama. Ternyata saat itu pula yang menjadi saat terakhir kami berbuka puasa bersama beliau karena pada Sabtu malam beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Sabtu, 07 Ramadhan 1433 H (28 Juli 2012 M)
Memasuki hari Sabtu, pembicaraan umi sudah mulai banyak melantur. Umi menjadi sering mengigau. Nafasnya kembali sesak. Sedihnya, umi tidak mau memakai masker untuk menyuplai oksigennya. Walaupun kami bujuk, umi tetap tidak mau.

Sejak kemarin, umi terus berwasiat kepada saya agar menjaga adek-adek. Sungguh pilu rasanya mendengar hal itu. Saya mulai memikirkan yang tidak-tidak.

Hari itu beberapa saudara umi datang menjenguk. Mereka memang setiap hari bergantian menjenguk. Pada saat itu, kepada salah satu saudaranya, umi minta dibuatkan minuman kesukaannya, yaitu es coffeemix. Dengan kondisinya yang seperti itu, mereka melarang umi memakan makanan yang macam-macam.

Kemudian beliau minta dibuatkan es nutrisari. Kali ini mereka membuatkannya. Saya sendiri baru tau kejadian itu setelah mereka cerita karena pada saat itu saya sedang tidak di kamar umi. Saya sendiri sebenarnya agak bingung kalau ditanya tentang itu, mau melarang atau mengiyakan permintaan umi karena saya tidak tau dampaknya bagi kesehatan beliau dengan meminum minuman itu. Akan tetapi, satu hal yang menjadi perhatian saya saat itu adalah mengapa beliau tiba-tiba meminta minuman itu? Sungguh tidak biasa.

Malam harinya (08 Ramadhan 1433 H), saya sholat tarawih di rumah. Saya tidak mau meninggalkan umi jauh-jauh mengingat kondisinya yang kembali menurun. Kemarin malam pun saya mengajak adek saya, Fahrul, sholat tarawih di rumah.

Kira-kira jam delapan malam, teman-teman sekolah beserta guru Fahrul datang menjenguk umi. Ada salah satu teman Fahrul yang bertabiat aneh. Dia berperilaku seperti dukun dan mengajak saya mengobrol empat mata. Sebelum mengajak ngobrol, dia seperti melakukan ritual aneh. Dalam obrolan empat mata itu, dia bilang umi sangat kangen dengan saya. Saya juga diminta bersabar. Entah maksudnya bersabar karena apa.

Jam sembilan malam, giliran teman-teman rumah saya berkunjung ke rumah. Mereka bermaksud menghibur saya, sekaligus menjenguk umi. Cukup lama mereka bertamu. Sekitar jam setengah sebelas malam mereka baru pulang.

Sepulangnya mereka, suhu badan umi naik drastis. Saya ukur menggunakan thermometer, suhu badan beliau mencapai 40 derajat celcius! Anehnya, bagian tubuh yang panas hanya kepala dan sekitar perut, sedangkan bagian lengan dan perut ke bawah dingin. Beliau juga mulai mengigau lagi. Beliau selalu mengatakan agar beliau diantarkan pulang ke rumah karena di situ gelap, seperti di gua, padahal beliau saat itu berada di kamar dengan lampu menyala. Kami menjadi semakin bingung.

Akhirnya bapak menelepon dokter dan memintanya datang ke rumah. Dokter mengatakan bahwa itu hanya panas biasa, cukup dikompres saja. Kami pun mengompresnya. Saya dan Fahrul duduk di samping umi, membersamai beliau sambil mengompresnya.

Pukul setengah dua belas malam, nafas umi semakin terlihat sesak. Beliau bernafas dengan tersengal-sengal. Beliau pun sudah tidak bisa diajak berbicara. Saya terus memanggil-manggilnya, mencoba mengajak bicara, tapi tidak ada respon darinya. Nafasnya justru semakin terputus-putus. Saya panik, saya panggil bapak saya yang sedang makan. Bapak langsung terperanjat ketika melihat umi dalam kondisi seperti itu. Beliau mengucapkan innalillahi wa inna’ilaihi ro’jiun dan menutup mata umi. Umi meninggal di hadapan kami. Bersambung.

#pojok kamar, wisma Pakdhe