Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

March 6, 2019

Travelingnya Rasulullah

Zaman sekarang traveling sepertinya bukan lagi barang mewah. Kondisi ekonomi yang semakin baik, kemudahan akses (transportasi, tiket, informasi), dan keberagaman tempat wisata membuat traveler tak sungkan mengeluarkan uangnya. Kecenderungan itu semakin diperkuat berkat peran media sosial. Banyak orang berlomba mengunggah foto-fotonya yang sedang berlibur di berbagai tempat wisata demi mendapat “like” orang lain.
 
Ilustrasi traveling (sumber: selectquote.com)
Di satu sisi, traveling baik bagi pertumbuhan pariwisata karena dapat memberikan dampak positif bagi para pelakunya. Kantong-kantong wisata adalah ladang yang subur bagi perekonomian masyarakat. Tidak hanya bagi masyarakat sekitar, tapi juga bagi masyarakat daerah lain yang ikut bermain di bisnis wisata tersebut. Seperti bisnis cindera mata yang seringkali dipasok oleh produsen luar daerah.

Akan tetapi di sisi lain traveling juga membuat seseorang menjadi boros. Bahkan sebuah survei dari Rumah123 memprediksi 95% kaum milenial terancam jadi 'gelandangan' di 2020 karena ketidakmampuan membeli properti akibat gaya hidup boros, salah satunya hobi traveling (berita disini). Kalau sudah seperti ini, rasanya kecintaan pada traveling harus dipikir ulang. Kita tentu tidak mau menjadi gelandangan karena menuruti nafsu yang tidak ada habisnya.  

Bahkan kalau mau dicermati lebih jauh, sebenarnya keharusan membatasi hobi traveling bukan perkara hitung-hitungan materi semata, tapi juga ada alasan teologis dibaliknya. Sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam kitabnya Zaadul Ma’ad berikut ini:

كانت أسفاره صلى الله عليه وسلم دائرةً بين أربعة أسفار: سفره لهجرته، وسفره للجهاد وهو أكثرها، وسفره للعمرة، وسفره للحج.

(Safarnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meliputi empat perkara: untuk hijrah, untuk jihad dan ini yang paling banyak, untuk umroh serta untuk haji).

Ini menarik. Dalam penjelasan ini kita dapat melihat bagaimana Rasulullah sangat hati-hati memanfaatkan waktunya. Sehingga safarnya pun tidak dilakukan kecuali untuk ibadah, bukan untuk urusan yang remeh temeh seperti menghilangkan penat, mencari suasana baru atau sekedar mengusir kebosanan.

Sebagai umat yang mengaku mencintai Rasulullah, maka sudah sepantasnya kita mengikuti sunnah-sunnah beliau. Memang ini berat. Saya pribadi, sebagai orang yang suka traveling, sangat sulit jika diminta untuk tidak bepergian kecuali untuk empat hal di atas. Akan tetapi saya rasa hal itu dapat dimulai dengan mengurangi nafsu untuk traveling (yang cenderung mengarah kepada pemborosan). Jikapun sudah kebelet ingin traveling, sebisa mungkin perjalanan itu diniatkan untuk ibadah dan tidak bepergian ke tempat-tempat maksiat. Allahu ‘alam.

#Riyadh
المرجع:
الجوزية، ابن قيم. (٢٠١٤). زاد المعاد في هدي خير العباد. دمشق: مؤسسة الرسالة ناشرون.

June 2, 2018

Review Maskapai Saudia Airlines

Setelah mengulas maskapai Emirates, kali ini saya akan membahas maskapai Saudia Airlines. Maskapai ini adalah maskapai kebanggaan warga Arab Saudi. Boleh dibilang ini adalah Garuda-nya mereka. Saya sendiri baru dua kali naik maskapai ini dengan rute Riyadh – Jakarta (pp) dan Riyadh – Cairo (pp). Bukan karena tidak nyaman, tapi lebih karena penasaran ingin mencoba maskapai yang lain. 
 
Saudia Airlines (sumber : altayyaronline.com)

Satu hal yang menjadi daya tarik dari maskapai Saudia adalah tersedianya rute penerbangan langsung (direct) Riyadh – Jakarta (pp). Rute yang tanpa transit ini membuat durasi perjalanan menjadi lebih singkat, yaitu hanya sekitar sembilan jam. Hal ini berbeda dengan maskapai-maskapai lain yang umumnya memakan waktu belasan jam.

Baik tanpa panjang lebar lagi, saya akan mengulas maskapai Saudia ini. Seperti biasa, ulasan ini saya buat berdasarkan lima aspek, yaitu : pesawat, pelayanan saat terbang, bagasi, harga tiket, dan bandara induk. Dan seperti biasa pula, perlu saya tekankan bahwa ulasan ini dibuat berdasarkan pengalaman subjektif saya.  Beberapa orang mungkin merasakan pengalaman berbeda.

1.       Pesawat
Saudia Airlines menempuh rute Riyadh – Jakarta (pp) dengan pesawat jenis Boeing dengan formasi kursi 3-3-3. Bagi anda yang suka duduk di dekat jendela, mungkin kurang menyukai formasi ini karena anda harus meminta izin ke dua orang di samping anda untuk pergi ke toilet. Kalau badan anda super ramping, mungkin itu tidak akan terlalu merepotkan dua tetangga anda karena anda bisa melalui mereka tanpa membuat mereka bangkit dari kursinya. Tapi kalau badan anda normal (atau bahkan besar) maka anda harus siap-siap bermuka manis untuk menggusur tetangga anda.

Untuk tingkat kebisingan, saya rasa suara mesin pesawat Saudia tidak terlalu bising, tapi menurut saya masih lebih halus suara Emirates. Sedangkan untuk fasilitas hiburan di dalamnya saya kira sudah sangat baik. Mereka menyediakan hiburan yang sangat beragam, mulai dari film, games, murottal (lantunan Al-Qur’an), dll. Satu fasilitas unggulan yang mungkin tidak ada di pesawat lain adalah musholla. Ya, Saudia menyediakan musholla kecil di bagian belakang pesawat. Sangat luar biasa khidmahnya bagi umat Islam. Selain itu, sebelum lepas landas, biasanya kru pesawat akan memutarkan doa safar untuk memohon keselamatan perjalanan.

Nilai : ****

2.       Pelayanan Saat Terbang
Mengingat Saudia adalah maskapai resmi Arab Saudi, negara yang sangat ketat menerapkan syariat Islam, awalnya saya mengira pramugarinya akan mengenakan hijab, tapi ternyata tidak. Penampilan mereka pada umumnya sama seperti pramugari maskapai lain, pakai topi/peci, celana panjang, dan baju lengan panjang dengan rompi/jas. Saat terbang dari Riyadh ke Jakarta beberapa pekan yang lalu, kami dilayani oleh pramugari Indonesia (awalnya saya kira Filipina).

Jatah makan selama perjalanan Riyadh – Jakarta adalah 2x yang terdiri dari menu ringan dan berat. Makanan yang disajikan cukup diterima oleh perut saya dan rasanya juga tidak mengecewakan. Pelayanan lainnya, tiap penumpang mendapatkan headset dan selimut. Khusus untuk headset boleh dibawa pulang, sedangkan selimut saya rasa conditional. Kemarin (atas permintaan nyonya di rumah) saya meminta selimut kepada pramugari untuk dibawa pulang dan ternyata dibolehkan. Saya tidak tau apakah secara peraturan memang diperbolehkan atau saat itu karena kebaikan pramugarinya saja, yang kebetulan orang Indonesia, hehe.

Nilai : *****

3.       Bagasi
Inilah dia satu dari berbagai kelebihan maskapai Saudia, yaitu timbangan bagasi yang tidak pelit. Maskapai ini memberikan bagasi kepada tiap penumpang sebanyak dua pieces yang tiap piece-nya maksimal 23 kg. Jadi tiap penumpang bisa membawa total bagasi 46 kg. Pemberlakuan bagasi 46 kg ini bukan hanya sekali jalan saja, tapi dua kali (bolak balik). Jadi Riyadh – Jakarta mendapat jatah 46 kg, Jakarta – Riyadh juga mendapat 46 kg. Adapun untuk koper kabin maksimal 7 kg.

Selama melakukan penerbangan langsung (direct) dengan Saudia, alhamdulillah saya tidak pernah mendapat masalah ketika pengambilan bagasi. Tapi untuk penerbangan transit saya kurang tau. Beberapa teman saya yang ambil penerbangan tidak langsung (non direct) mengatakan bagasinya terlantar di Madinah (tempat transit) ketika kembali dari Jakarta ke Riyadh.

Nilai : *****

4.       Harga Tiket
Boleh dibilang harga tiket Saudia cenderung lebih mahal daripada harga tiket maskapai lain pada umumnya, terutama untuk penerbangan langsung (direct). Selisih harga penerbangan langsung bisa mencapai 1 – 2 juta, sedangkan untuk penerbangan tidak langsung selisihnya mencapai 500 ribu sampai 1 juta jika dibandingkan maskapai-maskapai lain. Sayangnya dengan perbedaan harga yang cukup signifikan, fasilitas yang diberikan tidak berbeda jauh dengan maskapai lain yang lebih murah.

Nilai : ****

5.       Bandara Induk
Mengingat perjalanan saya dengan Saudia selalu mengambil rute langsung (direct), maka bandara induknya adalah bandara dimana saya lepas landas. Kalau di Riyadh, bandara induknya adalah King Khalid International Airport (KKIA). Bandara ini membagi zonasi rute internasional dan domestik secara terpisah. Untuk rute internasional, bandara KKIA tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu bagus. Tetapi untuk rute domestik, bandara ini sudah sangat bagus dan elegan.

Nilai : ****

Secara keseluruhan, saya memberikan nilai 4,4 (dari 5). Keunggulan Saudia dari maskapai lain yang paling menonjol adalah dari segi durasi perjalanan. Mengingat saya selalu mengambil penerbangan langsung (direct), maka durasinya jadi lebih pendek. Selain itu, saya juga tidak perlu repot turun naik pesawat untuk transit, lalu buka pasang sabuk (bahkan sepatu) untuk melewati sistem keamanan bandara transit. Akan tetapi durasi yang lebih singkat itu harus ditebus dengan harga tiket yang lebih mahal. Meskipun begitu, semahal-mahalnya tiket, tidak akan terasa jika anda dibayari oleh pihak sponsor, hehe. 

#HomeSweetHome – Lubuk Minturun (Padang)

May 13, 2018

Review Maskapai Internasional Emirates

Satu hal yang menarik dari kuliah di Arab Saudi adalah, kita berkesempatan untuk mencicipi berbagai maskapai internasional, mengingat tiap akhir tahun akademik mahasiswa diberikan tiket mudik ke negara asalnya masing-masing. Meskipun secara aturan mahasiswa diharuskan menggunakan maskapai Saudia Airlines, tapi faktanya hal itu masih bisa disiasati sehingga mahasiswa bisa menggunakan maskapai lain sesuai kebutuhan. 
 
Saya sendiri telah mencicipi enam maskapai dengan rute Riyadh – Jakarta (pp). Berdasarkan pengalaman itu, saya akan memberikan ulasan bagi keenam maskapai tersebut dalam serial tulisan ini. Ulasan ini adalah ulasan orang awam yang dinilai berdasarkan pengalaman subjektif saya sebagai penumpang. Saya akan mengulas maskapai-maskapai tersebut berdasarkan aspek: pesawat, pelayanan saat terbang, bagasi, harga tiket, dan bandara induk.

Pada tulisan yang pertama, saya akan mengulas maskapai Emirates (EM) yang menjadi salah satu pemain besar dalam industri transportasi udara. Kiprahnya sudah tidak diragukan lagi dalam dunia internasional. Karena letak bandara induk yang strategis, EM menjadi rujukan banyak penumpang, baik untuk rute Asia, Eropa, maupun Amerika. Nama mereka bahkan menjadi nama stadion klub sepak bola Liga Inggris, Arsenal, satu indikator kuat yang menunjukkan bahwa mereka diterima dan diakui di negeri Ratu Elisabeth itu. 
Pesawat Emirates (sumber : wikipedia.com)
Beginilah ulasan saya terhadap maskapai Fly Emirates.

1.    Pesawat
Sejauh pengalaman saya melakukan penerbangan jarak jauh, terbang dengan pesawat EM-lah yang paling nyaman saya rasakan. EM selalu menggunakan pesawat tipe Air Bus dengan formasi kursi 2-4-2. Jadi kalau kamu duduk di dekat jendela, kamu tidak terlalu merepotkan tetangga sebelah mu seandainya kamu mau ke toilet.

Kelebihan pesawat EM menurut saya adalah suara mesinnya yang tidak bising, baik ketika lepas landas maupun mendarat. Fasilitas dalam pesawat juga sangat memanjakan. Bagi kamu yang suka nonton film, EM menyediakan film yang cukup up to date dan hiburan lain yang membuat perjalanan jauhmu tidak membosankan.

Nilai : * * * * *

2.    Pelayanan Saat Terbang
Pramugari dan pramugara EM benar-benar profesional, sigap, dan (yang paling penting) ramah. Meskipun EM adalah maskapai timur tengah, tapi petugas dalam pesawatnya cenderung heterogen, bahkan banyak yang berkulit putih juga (Eropa). Untuk rute Riyadh – Jakarta (pp) biasanya saya mendapat jatah 3x makan (Riyadh – Dubai = 1x (makan ringan); Dubai – Jakarta = 2x (makan ringan dan berat). Diluar jam makan pun kita masih bisa request makan dan/atau minum.

Selain profesional, sigap, dan ramah, para pramugari juga berperilaku sopan yang ditunjukkan dari gaya berpakaiannya. Walaupun tidak berhijab, tapi mereka memakai rok di bawah lutut dan baju yang serba tertutup. Mengapa saya menekankan hal ini? Karena saya pernah merasakan satu pengalaman terbang dengan salah satu maskapai yang pramugarinya kurang sopan gaya berpakaiannya dalam pandangan saya (akan saya ceritakan terpisah nanti). Hal itu membuat saya kapok menggunakan maskapai itu lagi.

Nilai : * * * * *

3.    Bagasi
Standar bagasi EM bagi tiap penumpang maksimal 30 kg. Tetapi ketika saya terbang dari Riyadh  ke Jakarta, saya mendapat bagasi 40 kg ditambah air zam-zam 10 liter di luar bagasi. Jadi totalnya sama dengan 50 kg. Sedangkan rute balik (Jakarta – Riyadh) tetap 30 kg. Adapun koper dalam kabin secara peraturan maksimal 7 kg.

Salah satu kelebihan EM dalam hal bagasi adalah mereka tidak terlalu ketat dan rewel. Jadi kalau bagasimu berlebih, mereka biasanya tetap akan mengizinkan asalkan lebihnya tidak kelewatan. Selisih 2 atau 3 kg masih dapat ditoleransi. Hal yang sama berlaku bagi koper kabin. Mengapa mereka cenderung longgar dalam urusan bagasi? Saya sendiri kurang tau, tapi pernah teman saya bilang bahwa EM sebenarnya adalah maskapai kargo yang sekaligus sebagai pesawat penumpang. Allahu‘alam.

Nilai : * * * * *

4.    Harga Tiket
Sebagai maskapai kelas dunia, harga tiket EM cenderung standar, tidak terlalu mahal, tapi juga tidak murah. Untuk rute Riyadh – Jakarta (pp) kisaran harganya 2000 – 2500 SAR (sekitar 8 juta rupiah). Ada maskapai lain yang lebih murah dari itu, ada juga yang lebih mahal. Tetapi menurut saya harga EM yang paling rasional dan senilai dengan fasilitas yang diberikan.

Nilai : * * * *

5.    Bandara Induk
Konsekuensi melakukan penerbangan jauh adalah biasanya sulit  menemukan (atau bahkan tidak ada) penerbangan langsung (direct) tanpa transit. Di sinilah pentingnya bandara induk dari pesawat yang kita tumpangi. EM sendiri menginduk ke bandara Dubai International Airport. Ini adalah salah satu bandara terbesar dan tersibuk di dunia.

Ukuran besarnya bandara bagi saya sangat penting karena dengan kondisi badan yang lelah, kesumpekan akan membuat jiwa raga saya semakin bertambah lelah. Kalau bandaranya besar, saya bisa memilih tempat yang agak kosong untuk istirahat menunggu penerbangan berikutnya.

Selain itu, fasilitas bandara induk EM juga sangat lengkap, mulai dari wifi gratis, ketersediaan layar jadwal penerbangan yang banyak dan dengan ukuran yang besar (sangat penting), pusat perbelanjaan, kecakapan pegawai bandara dalam berbahasa Inggris, musholla, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Nilai : * * * * * 

Secara keseluruhan, saya memberikan nilai 4,8 (dari 5) bagi maskapai EM. Nilai itu hampir sempurna karena nyatanya EM memang memiliki performa yang istimewa seperti yang saya sebukan di atas. Sekali lagi ini adalah pengalaman subjektif saya. Bagi pembaca yang memiliki penilaian lain, itu sah-sah saja. 

Oya, saya tidak mendapatkan bayaran apa-apa dari Emirates atas review ini. Motivasi saya menulis ini hanya untuk memberikan informasi bagi para pembaca yang ingin berpergian jauh, terutama mereka yang baru akan merasakan terbang jauh untuk pertama kalinya. 

#HomeSweetHome – Tangerang Selatan

February 13, 2017

Solo Travelling to Egypt (Day #9 : Kepulangan)


Ekspedisi Sinai merupakan hari-hari terakhir saya di Mesir. Setelah dari Sinai, saya tidak sempat kemana-mana lagi karena waktu yang sudah sangat mepet dengan kepulangan ke Riyadh. Sebetulnya selesai snorkeling di Dahab pada hari kedelapan, kami masih ada satu tujuan lagi, yaitu ke Sharm Al-Shaikh. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, akhirnya kami langsung pulang ke Kairo. Lagipula Sharm Al-Shaikh memiliki objek wisata yang sama dengan Dahab, yaitu pantai. Jadi tidak terlalu membuat kami penasaran.

Kami tiba di Asrama Mahasiswa Selangor, kawasan Hay Asyir, pukul 21.00. Ketika tiba di sana sebenarnya Zaki mau menjemput saya, tapi berhubung saat itu ada dua teman Malaysia yang tujuan pulangnya searah dengan saya, serta karena tidak mau merepotkan Zaki, akhirnya saya ikut dua kawan Malaysia itu. Sebelum pulang, kami sempatkan mampir di warung Thailand untuk makan malam. Waktu itu saya pesan nasi goreng. Sudah lama sekali saya tidak makan menu ini.

Satu hal dari Kairo yang sangat membuat saya iri adalah, di sana ada banyak sekali restoran Asia Tenggara. Bahkan banyak juga restoran Indonesia. Sehingga jika suatu waktu kita rindu dengan cita rasa Indonesia, kita dapat dengan mudah mengobati rindu itu. Apalagi harga menunya juga murah, setidaknya jika dibandingkan dengan harga di Riyadh. Sudah banyak, murah pula! Aaakkk….!!!

Lepas makan, kami langsung pesan Uber. Sengaja kami pesan taksi Uber karena kami tidak mau repot turun naik bis. Apalagi saya juga tidak terlalu hafal jalur bis, sedangkan dua kawan Malaysia saya berhenti di tempat yang berbeda. Daripada nanti kesasar, padahal besok mau pulang ke Riyadh, lebih baik cari yang praktis saja.

Malam itu jalanan masih sangat ramai, padahal sudah cukup larut. Kami terjebak macet di beberapa titik. Saya baru tiba di kontrakan Zaki pukul 24.00.  Setelah berbasa-basi sedikit dengan Zaki dan temannya, saya langsung tidur.

Pesawat saya take-off pukul 11.00 siang. Pagi hari itu, setelah packing dan pamitan ke teman-temannya Zaki, saya langsung berangkat menuju bandara, diantar oleh Zaki. Zaki katanya mau mengkonfirmasi ke pihak imigrasi dan maskapai tentang paspornya yang tercuci. Paspornya tidak sengaja tercuci beberapa hari yang lalu, padahal beberapa hari lagi dia akan mudik ke Indonesia. Dia khawatir tidak bisa lolos bagian imigrasi karena fotonya di paspor rusak (tidak jelas). Duh, kasihan sekali mendengarnya.

Saat itu kami berangkat dari kontrakan menuju bandara pukul 09.00. Saya kira dengan menyisihkan waktu dua jam sebelum take-off sudah cukup pas, tapi ternyata saya hampir saja telat. Kami (lagi-lagi) terjebak macet di beberapa titik. Untung supirnya bisa mencari jalan-jalan alternatif sehingga saya dapat tiba tepat waktu.

Saya sebenarnya ingin singgah sebentar di depan terminal 3 untuk melihat dan mengambil gambar hanging stones, yaitu dua buah batu yang jika dilihat dari gambar sangat ajaib. Dua batu itu diikat dengan tali dengan posisi satu batu berada di atas, dan batu lain berada di bawah, sehingga seolah-olah batu-batu itu melayang. Tapi karena waktu yang sangat mepet, saya hanya bisa melihatnya dari dalam taksi.

Hanging stones in Cairo Int'l Airport (sumber : Google)
Ketika baru mau menyetorkan bagasi, panggilan boarding dari announcer bandara untuk para penumpang tujuan Riyadh telah dikumandangkan. Sebenarnya saat itu saya cukup khawatir ketinggalan, tapi karena ternyata ada banyak penumpang di belakang saya yang punya tujuan sama, saya menjadi lebih tenang. Setelah semua urusan check-in dan imigrasi beres, saya langsung masuk ke pesawat. Saat itu sudah pukul 10.50. Artinya, 10 menit lagi pesawat mestinya take-off. Tapi karena ada banyak penumpang yang telat, pesawat akhirnya baru bisa take-off jam 11.15.

Alhamdulillah kami semua tiba dengan selamat di King Khalid International Airport, Riyadh. Dari bandara, saat itu saya memesan taksi Careem, yaitu sebuah aplikasi taksi mirip Uber buatan Qatar. Kami, para mahasiswa sering menggunakan taksi ini karena mereka bisa masuk menjemput dan mengantar kami sampai ke dalam asrama. Saya tiba di asrama kampus kurang lebih pukul empat sore. Alhamdulillah semua urusan saya dengan Mesir, mulai dari pra hingga pasca rihlah, diberi kelancaran, tidak ada masalah yang berarti.

#Asrama Mahasiswa KSU




February 11, 2017

Solo Travelling to Egypt (Day #8 : Lubang Biru di Laut Merah)


Telah saya ceritakan bahwa pada hari ketujuh saya melakukan pendakian ke puncak Sinai. Ekspedisi hari itu sebenarnya belum berakhir meski kami telah sampai di bawah. Setelah turun, kami langsung berangkat lagi ke arah timur menuju Dahab yang jaraknya sekitar 136 km dari Saint Catherine. Dahab adalah wilayah pesisir Teluk Aqabah yang berada di Laut Merah. Jika kita menyebrangi teluk ini, maka kita akan sampai di Arab Saudi.

Perjalanan menuju Dahab dari Saint Catherine cukup lama. Sejak berangkat pukul sebelas siang, kami baru tiba di hotel Dahab sekitar dua jam setelahnya. Setelah check in dan mengurus pembagian kamar, sore hari itu sebenarnya ada agenda wisata naik motor ATV di sekitaran pantai. Akan tetapi karena saya tidak terlalu minat, juga karena cukup lelah, maka saya putuskan untuk menghabiskan sore dengan beristirahat di kamar.

Ketika waktu beranjak malam, teman-teman sekamar mengajak saya berkeliling di sekitaran pantai. Karena sudah cukup puas istirahat, maka saya sambut ajakan dua kawan Malaysia itu. Lagi pula cuaca saat itu cukup bersahabat, sangat enak untuk dipakai jalan-jalan. Di sekitar pantai ada banyak sekali toko dan restoran. Kebanyakan toko tersebut menjual souvenir, pakaian dan perlengkapan renang. Saya sendiri membeli peta. Lah? Entah mengapa jika berkunjung ke suatu kota, saya selalu tertarik dengan petanya.

Setelah puas berkeliling, kami kembali ke hotel. Di hotel ternyata teman-teman panitia sudah menyiapkan barbeque. Masya Allah, nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Saat itu, satu nampan besar barbeque dan nasi dijatah untuk enam orang. Meski kami makan di satu nampan secara bersamaan, tapi kami tetap senang. Bahkan justru disitulah nikmatnya karena kami bisa merasakan kebersamaan. Satu hal yang sangat saya kagumi dari teman-teman Malaysia adalah, mereka selalu berdoa bersama sebelum makan. Selama tiga hari dua malam safar bersama mereka, tidak pernah sekalipun saya lihat ada orang yang makan tanpa doa bersama. Selalu saja ada satu orang yang memimpin doa sebelum makan. Kebiasaan seperti ini sangat jarang saya temui di Indonesia.

Selesai makan, panitia memberi kebebasan kepada peserta untuk beraktivitas. Karena saya dan teman-teman sekamar sudah keliling pantai, maka kami langsung kembali ke kamar untuk istirahat. Besok pagi kami akan snorkeling di Blue Hole Red Sea.

Wisata snorkeling ini sebenarnya bersifat pilihan, peserta boleh mengikuti atau tidak mengikutinya. Sama seperti wisata naik ATV kemarin sore. Kalau mau ikut snorkeling, peserta dikenakan biaya tambahan 60 EGP. Saya sendiri sebenarnya agak enggan mengikuti kegiatan ini karena saya memiliki masalah yang sangat serius dengan dunia perairan: saya tidak bisa berenang! Perlu diketahui, renang adalah salah satu dari dua olahraga yang tidak saya sukai. Olahraga lainnya adalah basket. Tapi dua kawan Malaysia saya membujuk dan mempersuasi saya dengan mengatakan bahwa snorkeling tidak membutuhkan keahlian renang. Karena bujuk rayu mereka, serta kenyataan bahwa saya belum pernah merasakan snorkeling sebelumnya, maka akhirnya rontok juga pertahanan saya untuk tidak ikut.
Sejak pagi sekali kami sudah berangkat menuju Blue Hole. Jarak dari hotel ke Blue Hole ternyata lumayan jauh. Memakan waktu sekitar 20 menit naik mobil. Sepanjang perjalanan itu kami menyusuri tepi Laut Merah yang tenang tanpa ombak. Penyusuran itu membuat saya teringat dengan kisah Nabi Musa saat beliau membelah lautan dengan tongkatnya. Tapi entah di bagian Laut Merah yang mana beliau memukulkan tongkatnya.

Tepi Laut Merah (sumber : dokumentasi pribadi)
Sampai di lokasi, kami disambut oleh seorang instruktur. Beliau menjelaskan kepada kami tentang wilayah Blue Hole yang akan kami jadikan tempat snorkeling. Jadi Blue Hole itu adalah satu titik di tepi pantai yang memiliki kedalaman berbeda dengan sekelilingnya. Mirip seperti palung tapi tidak sedalam palung. Di titik itu, warna air laut menjadi biru pekat. Berbeda dengan warna di sekelilingnya. Di titik itu pula banyak terumbu karang dan aneka ikan laut yang indah.

Blue Hole tampak dari atas (sumber : Google)
Saat itu beruntung tidak ada wisatawan lain selain kami yang snorkeling. Jadi kami lebih leluasa menjelajah wilayah Blue Hole. Yah, wajar sih, karena saat itu masih sangat pagi dan bertepatan dengan musim dingin. Mungkin bagi sebagian orang snorkeling di pagi hari musim dingin terdengar konyol. Jangankan snorkeling, wisata ke pantai di musim dingin saja rasanya sudah tidak lazim. Tapi mau bagaimana lagi, memang itulah waktu yang kami punya. Kami tidak bisa menunggu sampai siang karena karena siang nanti kami harus pulang.

Karakteristik Blue Hole (sumber : Google)
Setelah salin pakaian dan sedikit pemanasan, kami langsung masuk ke wilayah Blue Hole. Meski suhu tidak terlalu dingin, tapi air laut saat itu cukup dingin. Walau begitu, saya kira rasa dingin itu terbayar lunas dengan apa yang kami lihat di dalam Blue Hole. Pesona terumbu karang dan ikan laut yang sangat indah! Belum pernah saya melihat pemandangan yang seperti ini sebelumnya. Ya iyalah, orang gue belum pernah snorkeling!

Bagi mereka yang pandai berenang, kegiatan snorkeling itu menjadi sangat mengasyikan. Saya melihat banyak diantara kawan-kawan Malaysia yang berenang ke daerah yang lebih dalam untuk melihat keindahan biota laut. Saya juga sebenarnya sempat dibersamai oleh seorang kawan untuk melihat biota laut di tempat yang paling dalam, tapi hanya sebentar. Walau cuma sebentar, tapi cukup puas karena bisa menyaksikan rupa-rupa biota laut yang belum pernah saya lihat dengan mata kepala saya langsung.

Selain mendapatkan kepuasan melihat biota laut, melalui kegiatan snorkeling ini pula saya mendapati kenyataan yang sangat pahit. Bahkan lebih pahit dari jamu cap kupu-kupu yang sering ibu saya berikan kalau saya meriang ketika masih kecil. Di Blue Hole itu saya mengetahui bahwa saya mengidap penyakit tidak bisa berenang level kronis. Bagaimana tidak, walau saat itu saya sudah memakai perlengkapan snorkeling lengkap, yaitu jaket pelampung dan alat bernafas, tapi saya hampir tenggelam.

Jadi saat itu ketika saya sedang asyik berenang, ternyata secara tidak sadar saya sudah sampai di bagian yang paling dalam. Sehingga ketika kaki saya mau menapak ke bawah untuk beristirahat, ternyata sudah tidak ada batu karang lagi yang bisa dijadikan pijakan. Alhasil saya panik dan banyak air laut yang tertelan. Hampir saja saya tidak bisa bernafas dan tenggelam. Untung saya masih bisa berenang sedikit ke tempat yang ada pijakannya.

Setelah kejadian itu, buru-buru saya menepi untuk menyudahi kegiatan snorkeling. Sungguh saya tidak mau bernasib sama seperti Fir’aun yang ditenggelamkan di Laut Merah.

#Asrama Mahasiswa KSU