Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

September 6, 2019

Perantauan Terberat

Seketika saya menjadi perantau pemula lagi, yang merasakan betapa beratnya tinggal jauh dari keluarga. Pengalaman berkelana selama sebelas tahun tak banyak membantu dalam mengobati rasa rindu kepada orang-orang terkasih. Rasanya baru kemarin saya memulai libur panjang yang saya kira sangat jauh ujungnya. Ternyata habis juga masa empat bulan itu. Kini saya sudah kembali ke tanah rantau lagi. Sendiri lagi.

Dibandingkan dengan perantauan-perantauan sebelumnya, yang satu ini lebih berlipat beratnya karena kini saya meninggalkan anak dan istri. Anak yang masih sangat kecil dengan tumbuh kembang yang sedang pesat-pesatnya. Saya ingat ketika saya datang, anak saya belum bisa menjambak rambut. Sekarang jambakannya sudah tidak perlu ditanya lagi. Butuh dua orang untuk melepaskannya. Saya tidak tau, apa yang akan sudah dia bisa lakukan ketika saya kembali nanti.
My lil' family

Setiap detik pertumbuhan anak hanya dilalui sekali saja. Sedetik yang telah berlalu tak akan bisa terulang. Bagi saya, sangat penting untuk bisa membersamai anak di setiap waktunya karena mereka adalah amanah yang Allah titipkan kepada kita. Sudah menjadi kewajiban orangtua untuk menjaga titipan tersebut. Maka apakah bisa disebut amanah orangtua yang menitipkan anaknya kepada orang lain? Padahal Allah telah memercayakan titipan-Nya kepada kita, kenapa kita malah titipi lagi?

Selain itu, membersamai anak juga penting dilakukan orangtua karena disitulah proses tarbiyah bisa terselenggara. Sehingga orangtua mendapat jatah dari doa anak yang berbunyi “Rabbigfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shagira.” Dalam doa itu, terselip kata “kama” yang menjadi syarat yang harus dipenuhi orangtua agar mendapat ampunan dan rahmat Allah. Syarat tersebut adalah tarbiyah (rabbayani). Maka orangtua yang berlepas diri dari men-tarbiyah anaknya selagi kecil jangan terlalu pede mendapatkan kebaikan dari doa tersebut.

Sebab itu pula saya rela tidak bekerja menjadi petugas haji tahun ini. Walaupun pendapatannya menggiurkan, tapi kalau saya menjadi petugas haji saya harus bersedia kembali sekitar 2,5 bulan lebih awal. Padahal periode 2,5 bulan yang dijalani anak saya hanya terjadi sekali. Bisa jadi 2,5 bulan itu menjadi titik terpenting kehidupan anak saya. Atau mungkin timbangan terbaik bagi amal saya?

Mungkin ada yang bilang “Toh kita bekerja siang malam ujung-ujungnya untuk anak juga”. Memang benar bahwa anak kita membutuhkan uang, tapi yang lebih mereka butuhkan sebenarnya ayah ibunya. Uang bagi mereka adalah pelengkap hidup, sedangkan ayah dan ibu adalah komponen utamanya. Selamanya uang tidak akan bisa mensubstitusi kehangatan orangtua dalam kehidupan anak.

Kembali ke topik utama, takdir menghendaki saya untuk jauh dari anak dan istri sementara waktu. Betapapun inginnya saya untuk selalu bersama keluarga, tapi tidak ada yang bisa saya lakukan saat ini kecuali bertarung habis-habisan untuk segera menyelesaikan studi. Di saat seperti ini, saya menghibur diri dengan mengingat kisah Nabi Ibrahim. Di saat beliau sudah mendapatkan putra yang diidam-idamkan, Allah justru memisahkan mereka dengan perintah hijrah. Ketaatan Nabi Ibrahim dan keluarga pada akhirnya menjadikan keturunan mereka diberkahi dan dikenal sebagai keluarga pembawa risalah kenabian.

Saya bukan Ibrahim. Istri saya bukan Hajar. Anak saya pun bukan Ismail. Tetapi kami berharap kesabaran kami melalui episode ini membawa berkah sebagaimana Allah memberkahi keluarga Nabi Ibrahim.
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya Rabb kami! sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, wahai Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (Q.S Ibrahim (14): 37).

#Asrama KSU - Riyadh

June 1, 2019

Lebaran

Sudah menjadi fardhu ain bagi saya untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman bersama keluarga besar.  Sejak lebaran edisi tahun pertama kelahiran hingga lebaran edisi tahun lalu, selalu saya rayakan bersama keluarga di Tangsel. Momen kehangatan lebaran versi kampung Pondok Cabe Ilir dan kebersamaan dengan keluarga besar adalah oase bagi perjalanan hidup saya yang dalam sebelas tahun kebelakang menjadi muhajir (perantau). 

Ilustrasi lebaran (sumber: www.nu.or.id)
Akan tetapi lebaran edisi tahun ini agaknya memiliki kisah yang berbeda. Hukum fardhu ain yang saya berlakukan untuk diri saya sendiri terpaksa saya revisi menjadi mubah karena kemungkinan besar saya akan berlebaran di kampung orang. Harga tiket pesawat yang menyentuh level gila akut ditambah Si Kecil yang masih dalam tahap recovery dari sakit membuat saya harus legowo untuk menjalani lebaran di kampung orang untuk pertama kalinya.

Memang berat rasanya, tapi mengingat saya sudah berkeluarga, maka saya tidak bisa hanya mengedepankan ego sendiri karena ada anggota keluarga lain (anak dan istri) yang juga harus saya pertimbangkan kemaslahatannya.

Lebaran di Kampung, Apa Urgensinya?
Bagi sebagian orang mungkin “berat hati” yang saya rasakan karena tidak lebaran di kampung dianggap terlalu lebay. Apa salahnya sesekali tidak berlebaran di kampung bersama keluarga? Mengapa saya seolah terlalu terlalu mendramatisir hal ini?

Yah, saya tidak bisa menyalahkan orang yang beranggapan seperti itu karena antara saya dan mereka memiliki sejarah hidup yang berbeda. Maka sudut pandang dalam menilai suatu perkara juga sangat mungkin berlainan. Kewajaran dalam kamus hidup saya bisa jadi dianggap lebay dalam peniliaian orang lain, atau sebaliknya.

Saya sendiri bisa sampai pada perasaan “berat hati” karena beberapa hal, pertama karena lebaran (Idul Fitri) adalah momen yang datang setahun sekali. Seperti yang kita tau, lebaran adalah momen berkumpulnya seluruh keluarga. Suka cita yang dihasilkan dari perkumpulan di hari raya itu bagi saya mengandung energi yang dapat melecut jiwa. Sebagai seorang muhajir, tentu saya sering merindukan keluarga. Nah, kumpul keluarga saat lebaran adalah kompensasi dari rindu-rindu yang mengendap selama berada di tanah rantau.

Kedua, lebaran di kampung bagi saya bukan sekedar perayaan hari besar, tapi juga perayaan identitas saya sebagai diri (self). Agak sulit bagi saya untuk menerangkannya, tapi intinya ketika kamu lahir dan besar di suatu tempat dan hati kamu terikat sangat kuat dengan tempat tersebut, maka kamu akan menjadikan tempat itu dengan segala isinya sebagai bagian dari identitas dirimu. Dalam dunia psikologi, hal ini bertaut erat dengan konsep diri (self concept) manusia.

Mungkin menjadi sedikit sulit dibayangkan jika kamu tidak memiliki kampung halaman atau terbiasa hidup nomaden sejak kecil. Bisa jadi kamu agak mengalami kebingungan dengan salah satu bagian dari konsep dirimu. Tetapi bagi saya pribadi yang hanya punya satu kampung halaman dimana saya menghabiskan masa kecil hingga remaja di situ, maka sangat jelas kampung halaman adalah bagian dari identitas saya yang tak terpisahkan. Oleh karena itu di paragraf sebelumnya saya mengatakan bahwa lebaran di kampung bagi saya bukan sekedar perayaan hari besar, tapi juga perayaan identitas.

Ketiga, lebaran di kampung adalah bagian dari usaha saya menyambung tali silaturahmi, terutama dengan keluarga ibu saya yang telah meninggal. Selain sebagai bentuk birrul walidain, mengunjungi keluarga ibu adalah upaya mengobati rindu kepada beliau (rahimahallah). Apalagi sejak kecil saya sudah sangat akrab dengan keluarga ibu dimana saya sering main, makan bahkan bermalam di rumah mereka. Maka tidak heran jika mereka sudah saya anggap seperti orangtua sendiri.

Keempat, dan ini yang paling penting, lebaran di kampung adalah upaya saya membayar kompensasi kepada keluarga, terutama adik-adik saya, dari ketidakhadiran saya sehari-hari. Sebagaimana yang telah saya tekankan sejak awal, lebaran adalah momen berkumpulnya keluarga. Saya tidak tega melihat adik-adik saya merasa kesepian di hari bahagia karena ketidakutuhan keluarga. Di saat keluarga lain bersuka cita merayakan lebaran dengan personil yang komplit, saya khawatir mereka justru bersedih karena teringat ibunya. Dan dikhawatirkan mereka semakin sedih karena saya juga tidak ada. Artinya, keluarga semakin tidak komplit. Maka saya berusaha menangkal kesedihan itu dengan selalu hadir merayakan lebaran bersama mereka.

Yah, manusia memang tempatnya ikhtiar, sedangkan Allah adalah eksekutor dari ikhtiar-ikhtiar itu. Lebaran tahun ini, meskipun saya tidak mudik, semoga tidak mengurangi kegembiraan keluarga di kampung dalam merayakannya.

Malam ke-28 Ramadhan 1440 H
Padang – Sumatera Barat

May 31, 2019

Digital-less Rendezvous

Sabtu, 4 Mei 2019, hari bersejarah itu tiba. Untuk pertama kalinya saya bertemu putra pertama saya setelah hampir 3 bulan dia hadir di dunia ini. Sebenarnya saya sudah tiba di Indonesia sejak tanggal 27 April, tapi tidak langsung berangkat ke Padang. Saya sengaja mampir dulu selama seminggu di Tangsel karena kemungkinan kami tidak bisa mudik saat lebaran nanti mengingat harga tiket domestik Indonesia sedang berada di puncak kegilaan dan tentunya akan semakin sinting mendekati lebaran.  

Anyway saya tiba di Padang sekitar pukul enam sore. Saat itu pas banget adzan magrib. Si Kecil kebetulan sedang terjaga. Jadi bisa langsung saya gendong.

Susah bagi saya menggambarkan perasaan menggendong anak pertama. Senang, sudah pasti. Tapi ada rasa sedih juga karena lagi-lagi saya teringat Ummi (rahimahallah). Saya membayangkan seandainya Ummi masih ada, pasti bahagia sekali beliau menggendong cucu pertamanya. Apalagi Faiq, nama anak kami, adalah bayi yang tergolong tidak rewel. Dia mau digendong siapa saja. Waktu pertama kali saya gendong pun dia tenang dan tidak nangis sama sekali. Ibu mertua saya malah sampai menjulukinya bayi paling baik sedunia, wkwk.

Sekarang sudah hampir satu bulan saya membersamai Faiq. Secara umum, saya sudah cukup paham tabiatnya dan saya menyimpulkan memang dia termasuk bayi yang baik budi. Tidak banyak merepotkan orangtua dan orang lain di sekitarnya. Semoga sampai dewasa begitu terus ya, Nak!

Tangisan Faiq biasanya berkisar antara empat hal, (1) haus/lapar; (2) popoknya penuh/celananya basah; (3) minta digendong atau; (4) ngantuk, mau tidur. Maka kalau dia menangis, bersiaplah dengan empat opsi itu.

Few Hours Challenge
Tantangan sebenarnya dalam membersamai Faiq hadir ketika istri saya berangkat kerja. Jika dia kerja, maka saya harus ngopeni Faiq seorang diri (sebelumnya ada ibu mertua, pas saya datang, ibu mertua pulang kampung karena bapak mertua sendirian di kampung). Beruntung di few hours challenge hari pertama Faiq seperti sedang penjajakan. Dia seperti sedang mengidentifikasi diri saya, makanya tidak ada nangis sama sekali. Hanya rengekan kecil yang mudah reda. Hari pertama pun dilalui tanpa turbulensi.

Kepanikan baru muncul di hari kedua. Saat itu dia nangis lumayan kuat. Karena waktu itu adalah pertama kalinya saya menghadapi tangisannya seorang diri, maka saya lumayan panik juga. Ingin saya buatkan susu, tapi dia akan nangis semakin kencang kalau ditinggal. Akhirnya saya gendong sambil saya bacakan sholawat. Alhamdulillah dia tidur. Mungkin karena capek nangis, wkwk.

Oiya, buat para lelaki, dalam hidup kalian harus coba pengalaman ini, yaitu menggendong anak sampai dia tertidur. Itu luar biasa banget, apalagi kalau anak itu adalah anak kandung kamu sendiri. Feel sebagai seorang ayah menurut saya akan terasa banget di momen itu. Kamu yang dulu kecil dan suka digendong ayah, sekarang sudah dewasa dan menggendong anak sendiri.  

Back to the few hours challenge, sekarang telah sekian puluh episode saya lalui. Alhamdulillah semuanya berjalan relatif lancar. Meskipun ada satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan kekurangan, saya anggap wajar karena kami adalah orang tua baru. Memang ada orangtua kami, yang walaupun tidak tinggal bersama kami tapi selalu hadir memberi nasihat. Berbagai nasihat itu bagai buku manual yang selalu kami perhatikan, meski kami juga tetap menelaah konteksnya karena kami mentarbiyah bayi zaman now yang tentu tidak sama dengan bayi zaman old. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib juga menasihatkan dalam perkataannya yang terkenal:

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”.

Sambil menikmati peran baru ini, kami juga harus terus belajar agar tidak menjadi orangtua yang durhaka kepada anaknya. 

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“…Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Al-Furqaan : 74]


Jumat, malam ke-27 Ramadhan 1440 H
Padang – Sumatera Barat

March 5, 2019

Status Baru

Ada dua hal besar yang saya dapatkan dalam tiga bulan terakhir ini. Kedua hal ini telah membawa saya pada level kehidupan yang berbeda. Bukan dalam perkara materi, tapi level dalam wujud fase perjalanan hidup. Hal pertama yang saya dapatkan itu adalah pertambahan usia.

Apa istimewanya pertambahan usia? Ya, memang biasa saja. Saya juga biasanya tidak terlalu memikirkan. Satu hal yang membedakan dari pertambahan usia kali ini adalah karena saya harus berganti “kepala”. Jika mengacu pada usia Rasulullah shalallahu alaihi wasallam (dan umatnya), pertambahan usia ini memiliki makna bahwa saya telah melalui separuh kehidupan saya di dunia. Artinya tinggal separuh waktu lagi bagi saya untuk menyiapkan bekal pulang. 

Apa yang sudah saya lakukan di paruh pertama sudah semestinya saya tafakuri agar kesalahan di masa itu tidak lagi terulang. Dan apa yang akan saya lakukan di paruh terakhir sudah seharusnya saya rencanakan agar kompas kehidupan selalu terarah sesuai dengan khittahnya.

Dan perjalanan menyiapkan bekal pulang di paruh terakhir kehidupan kini menjadi lebih semarak dengan bertambahnya satu anggota di armada saya. Pertambahan anggota ini sekaligus menjadi hal besar kedua yang saya peroleh di tiga bulan terakhir. Anggota ini sangat spesial karena berasal dari darah daging saya sendiri. 
Ilustrasi keluarga (sumber: rfclipart.com)

Ya, saya telah memiliki putra. Hampir sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 9 Februari 2019, anak pertama kami dilahirkan. Kelahirannya telah membuat saya resmi menjadi ayah, sebuah status yang menjadi penyempurna seorang pria.  

Sayangnya sampai saat ini saya belum merasakan sensasi asli menjadi ayah karena saya masih berada di tengah gurun. Jangankan menggendong, melihat secara langsung pun belum. Beruntung saya hidup di zaman yang sudah mengenal teknologi video call. Sehingga saya bisa berinteraksi dengan si buah hati.

Penambahan status dari sekedar menjadi suami, kemudian menjadi ayah, tentu menghadirkan konsekuensi dan tanggung jawab baru. Kewajiban sebagai seorang ayah kini melekat pada saya. Baik buruknya anak, tergantung bagaimana didikan ayah dan ibunya sebagaimana perkataan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam haditsnya: 

 يولد المولود على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

Artinya: Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka ibu bapaknya yang menjadikannya yahudi atau nasrani atau majusi.

Sudah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk menjaga anak tetap di atas fitrahnya. Dalam hal ini, fitrah tidak hanya diartikan sebagai makna teologis, yaitu menjadi manusia yang beriman kepada Allah. Disamping itu, orangtua juga berkewajiban menjaga fitrah karakternya sebagai seorang muslim sehingga dia tidak tumbuh dengan karakter-karakter Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana yang banyak dikisahkan dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits.

Sekarang ini kita mudah sekali menyaksikan bagaimana orangtua yang justru dengan bangga mengarahkan anaknya (entah disadari atau tidak) mengikuti kebiasaan orang-orang Yahudi atau Nasrani. Mulai dari hal-hal yang sederhana seperti cara berpakaian, gaya rambut, pemberian nama, hingga hal-hal yang sangat fundamental seperti pendidikan. 

Saya masih tidak habis pikir mengapa ada orangtua (muslim) yang tega memasukkan anaknya ke sekolah yang jelas-jelas sekolah kristen di saat sekolah-sekolah Islam sangat mudah ditemui. Mungkin sebagian beralasan demi kualitas, kalaupun demikian apakah mereka tega menggadaikan aqidah anak demi mengejar kualitas? Bukankah sama saja menggadaikan akhirat demi dunia?

Ya Rabb, jadikan kami orangtua yang tidak durhaka kepada anak-anak kami. Ajarkan kami menjadi sebaik-baik orangtua bagi mereka. 

#Riyadh

October 24, 2013

Sunatan Fahri

Wajah sendu Fahri setelah disunat
Ahad lalu (12/10/2013) adik bungsu saya, Fahri, menjalani prosesi sunatan. Meski baru kelas dua Madrasah Ibtidaiyah (MI), tapi dia sudah berani disunat karena hampir semua peer group-nya sudah disunat. Dia sendiri sebenarnya sudah ingin disunat sejak kelas satu, tapi keinginan itu tertunda karena saat itu Umi sedang sakit. Umi ingin Fahri disunat ketika ia sudah sembuh. Alhamdulillah kini Fahri sudah disunat meski Umi tidak bisa menyaksikan.

Saya yang tidak biasa mudik di pertengahan semester akhirnya mudik juga. Selain karena waktunya yang cukup strategis, libur panjang Idul Adha (lima hari), saya juga punya misi pribadi selain misi ingin mendampingi Fahri tentunya.

Pagi-pagi sekali Fahri sudah “dipersiapkan”. Jam 5.30 dia sudah siap dengan baju koko dan sarung, lengkap dengan pecinya. Jam 6.00 Bapak menjemput dokter yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Beberapa menit kemudian dokter datang dengan hanya membawa tas tangan kecil. Saya sedikit kaget, sebegitu simpelnya kah sunat zaman sekarang? Rasanya dulu ketika saya sunat tidak sesimpel itu.

Tanpa basa-basi, dokter langsung meminta agar Bapak merebahkan Fahri di ruang tamu yang sudah dipersiapkan sebagai tempat praktek dokter. Saya benar-benar tidak kuat untuk menyaksikan prosesi ini. Saya memilih masuk ke dapur untuk meminimalisir “ketidak-kuatan” saya. Dari dapur, terdengar suara rintihan tangis Fahri mulai mengalun. Ah, saya benar-benar tidak tega.

Ketidak-tegaan saya semakin mendera ketika mengingat dan membandingkan pengalaman saya dulu ketika disunat. Dulu, menjelang sunat, saya benar-benar diperlakukan seperti raja oleh keluarga saya, terutama oleh Umi. Saya diberi kebebasan untuk membeli apa saja menjelang sunat. Saya ingat, dulu saya meminta dibelikan celana yang sedang trend zaman itu. Tanpa pikir panjang, umi langsung membelikannya. Selain itu, saya juga dibelikan baju koko, peci, dan sarung baru untuk dipakai saat sunatan. Meskipun saya tidak menginginkannya, tapi perlengkapan itu penting keberadaannya karena saya akan “dipamerkan” saat hari H.

Berbeda sekali keadaannya dengan Fahri saat disunat kemarin. Jangankan memanjakan dan membelikan apa yang diinginkannya, perlengkapan sunat seperti baju koko, peci, dan sarung pun tidak dibelikan sehingga Fahri memakai perlengkapan seadanya. Apalagi ketika melihat tidak ada umi yang mendampingi Fahri ketika “dipamerkan” di hari H. Ah, tidak tega rasanya.

Selain kurangnya perlakuan khusus ketika pra dan during sunatan, saya juga kasihan melihat Fahri pasca sunatan karena lagi-lagi dia kurang mendapat “perhatian”. Yah, biar bagaimanapun kasih sayang Bapak dan kakak-kakaknya tidak akan setara dengan kasih sayang Ibunya. Rasa-rasanya, hanya ibu yang tulus dan mampu memberikan pelayanan 24 jam.

Semoga ada hikmah.



#wisma Pakdhe

July 15, 2013

Antara Idealisme dan Humanisme

Kemarin malam, sepulang tarawih saya dapat sms dari Wisnu (teman kost) yang isinya berbunyi kurang lebih begini, “Mas ada kabar baik, selamat anda diterima”. Saya mendadak heboh ketika membaca sms tersebut. “Diterima apa? Beasiswa Dikti kah?”, batin saya dalam hati. Dengan gesit, saya langsung ambil laptop dan modem, lalu membuka web UM UGM.

Setelah membuka website UM UGM yang ternyata tidak ada pengumuman apa-apa, saya beralih ke website Beasiswa Dikti. Ah, ternyata benar, pengumumannya penerima beasiswa BPP-DN Dikti sudah keluar dan bisa diunduh. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengunduh file tersebut dan mencari nama saya.
Allahu Akbar… nama saya tertera di daftar penerima beasiswa BPP-DN Dikti tahun 2013. Saya senang sekali dengan hasil tersebut. Dengan diterimanya saya menjadi salah satu penerima beasiswa Dikti, saya selangkah lebih dekat menuju impian saya.

Akan tetapi, di sela-sela kesenangan tersebut, timbul satu kegundahan dalam hati saya. Gundah ini berawal dari sesi “buka-bukaan” yang dilakukan oleh Bapak beberapa hari lalu. Dalam sesi “buka-bukaan” itu, Bapak menjelaskan kondisi ekonomi keluarga kami saat ini. Sebenarnya, tanpa dijelaskan pun saya sudah mengerti hal itu, tapi kemarin Bapak menjelaskannya dengan lebih gamblang dan detail, yang kemudian memunculkan kegundahan ini.
sumber: vectorstock.com

Dari hati yang terdalam, saya sungguh menginginkan beasiswa ini karena memang disinilah letak passion saya. Akan tetapi, jika ditinjau dari sisi humanisme, apakah saya sebegitu teganya mencari “sukses” seorang diri padahal di belakang ada Bapak dan adik-adik saya yang butuh perhatian?

Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, melalui beasiswa ini insyaallah kebutuhan pribadi saya telah tercukupi. Tapi bagaimana dengan kebutuhan Bapak, Fahrul yang mau kuliah, dan Fahri yang baru SD? Sebagai anak sulung, tentu saya punya tanggung jawab lebih untuk “mengurus” dan memperjuangkan mereka karena sebelumnya pun saya sudah diurus dan diperjuangkan oleh orangtua saya sehingga kini saya sudah jadi sarjana.

Ah, saya jadi teringat dengan nasihat seorang kawan yang sangat bijak. Dulu, ketika saya bingung apakah harus mencari beasiswa atau bekerja, seorang kawan pernah menasihati begini, “Setelah empat tahun kita berjuang dengan idealime kita*, sekarang bolehlah kita balik dulu ke keluarga untuk memperjuangkan mereka”.

“Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbi alaa diinik”

*Saat lulus SMA, melanjutkan kuliah adalah keinginan tertinggi saya. Sedangkan keluarga ingin agar saya bekerja.

#pojok Pondok Cabe

May 27, 2013

Wis Sudah #2 (End)

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (Ath-Thalaaq 2-3)

Kalau diingat-ingat, momen wisuda yang baru saja saya lalui rasanya cukup membuat saya tersenyum simpul. Bukan karena prestasi cum laude yang saya dapatkan *sekali lagi lw ngomong cum laude, gw jitak lw, Jar*, tapi karena sesuatu yang diluar kebiasaan. Yap, benar-benar di luar kebiasaan. Kalau biasanya wisudawan hanya diantar oleh orangtuanya saja, yah paling banter sama adik atau kakaknya juga lah, nah kalau saya diantar oleh orang satu bis. *benar-benar keluarga yang anti mainstream*
sumber: vectortoons.com

Well, sebenarnya hal itu pun terjadi dengan sangat mendadak. Awalnya, Bapak saya bilang bahwa hanya ada maksimal kira-kira 7 orang yang akan berangkat ke Jogja, mereka adalah adik (2 orang), bapak, 1 teman (Boim), Bu’de, Bu’le, dan supir, tapi ternyata isu wisuda ini berhembus dengan sangat liarnya.

Beberapa hari setelah Bapak mengatakan hal tersebut, saya ditelepon oleh Bu’le yang kemudian mengabari bahwa ada saudara-saudara Ibu (Paman-Bibi) yang juga ingin ikut sehingga jika ditotal jumlahnya mencapai 12 orang. Bu’le menanyakan kesediaan saya, apakah saya mengizinkan atau tidak.

Bagi saya pribadi sebenarnya tidak masalah jika mereka ingin ikut. Saya justru senang karena hal itu menunjukkan eratnya tali silaturahim di antara kami. Akan tetapi, saya khawatir jika keinginan untuk mendampingi saya wisuda justru malah menjadi beban yang memberatkan bagi mereka mengingat masing-masing dari mereka tentu punya kesibukan sendiri. Menanggapi kekhawatiran saya itu, Bu’le saya dengan tegas mengatakan bahwa mereka tidak akan merasa terbebani. “Yowis, silahkan saja”, saya mengizinkan.

Berhubung mobilnya cuma satu, akhirnya diputuskanlah rencana untuk menyewa mobil Elf (kapasitas 12=14 orang). Ingat, ini baru rencana karena tidak lama setelah itu keputusan ternyata berubah lagi. Selang beberapa hari setelah telepon Bu’le saya, saya ditelepon lagi oleh Pak’de (dari Ibu). Beliau mengabari bahwa ternyata masih ada lagi kerabat Ibu yang ingin ikut sehingga jika ditotal, jumlahnya kini mencapai 18 orang.

Pak’de menanyakan kepada saya, apakah saya keberatan dengan jumlah orang yang segitu banyak. Secara spontan saya menjawab tidak keberatan. Bahkan saya benar-benar senang dengan respon keluarga besar yang seperti itu. Mereka sangat perhatian kepada keluarganya.

Mendengar respon saya, mereka kemudian berembug lagi sampai akhirnya diputuskanlah untuk menyewa bis ukuran tanggung (kapasitas 25 orang). What a number, bro!!!

Saya baru sadar bahwa perkara ini bukan perkara ringan ketika Pak’de datang ke rumah (pada saat itu saya sedang pulang kampung) dan mengatakan bahwa beliau membayar uang muka untuk bis. Ya, ini bukan perkara ringan karena saya harus memikirkan akomodasi (penginapan) untuk 20 orang dengan harga yang sangat miring hampir jatuh.

Tadinya, ketika jumlah rombongan “baru” mencapai 12 orang, saya sudah mengontak Nadia (teman kampus) untuk meminjam rumahnya selama semalam. Saya pun sudah menjelaskan keadaan saya kepada Nadia. Alhamdulillah dia mengizinkan. Akan tetapi, jika kerabat yang ikut mencapai 20 orang atau lebih (dan saya haqqul yakin akan lebih dari 20 orang jika naik bis), maka saya tentu tidak enak kepada Nadia. Pertama, tidak enak karena kapasitas rumahnya pun terbatas. Kedua, karena lingkungan rumahnya yang kurang mendukung untuk dimasuki bis. Dan ketiga, karena lingkungan rumahnya yang berada di perumahan, yang cenderung privat.

Well, saya akhirnya kebakaran jenggot sampai H-1 kedatangan rombongan. Saya minta bantuan Mas Wiwit (anak dari Ibu Kost saya yang lama) untuk mencarikan rumah yang sekiranya bisa dipakai untuk semalaman saja. Sayangnya, sampai H-1 Mas Wiwit tidak mendapatkan rumah yang saya cari. Saya pun tidak menemukan rumah yang sesuai untuk dijadikan tempat menginap. Akhirnya, dengan berat hati, saya minta kesediaan Mas Wiwit dan Ibu Siti (Ibu Kost saya) untuk direpotkan selama semalam saja. Saya minta izin untuk memakai rumah mereka sebagai tempat singgah rombongan dari Jakarta. Alhamdulillah, mereka mengizinkan.

Rombongan berangkat dari Jakarta jam 8 kurang dan baru tiba di Jogja jam 12 malam. *aje gile lamanye*. Saya tidak bisa berlama-lama menemani mereka karena esoknya harus wisuda. Maka dari itu, jam 1 dini hari saya pamit pulang ke kost. Sebelum pulang, saya menanyakan kepada mereka, apa saja rencana esok hari. Pakde mengatakan bahwa rencana mereka adalah, ketika saya wisuda, mereka akan jalan-jalan ke Parangtritis. Yang mau ke wisuda, dipersilahkan, dan yang mau ke Parantritis juga dipersilahkan. Kemudian nanti bertemu lagi di penginapan ketika saya telah selesai wisuda. *jadi gw gak diajak jalan-jalan nih? wkwkwkwk…*

Usut punya usut, ternyata keesokan paginya mereka batal ke Parangtritis. Hampir semua dari mereka justru pergi ke wisuda sehingga pada hari itu mereka tidak jalan ke mana-mana. Saya sendiri tidak tau kalau ternyata mereka pergi ke wisuda karena tidak ada yang mengabari saya. Mereka baru mengabari ketika saya sudah berada di fakultas untuk mengikuti acara pelepasan wisudawan di kampus.

Rombongan keluarga saya tidak berlama-lama di Jogja. Hari itu juga, Selasa 21 Mei 2013 mereka pulang ke Jakarta. Sebelum pulang mereka memberikan selamat kepada saya untuk yang terakhir kalinya. Hampir semua yang memberikan selamat, menitipkan “lembaran harum” di tangan saya. Saya merasa sangat tidak enak. Saya berusaha menolaknya karena saya sadar bahwa mereka pun pasti sudah banyak berkorban untuk hadir ke Jogja. Tapi sekuat tenaga saya menolak, sekuat tenaga pula mereka memaksa saya untuk menerimanya. Akhirnya, saya terima juga pemberian mereka.

Sontak dada saya bergemuruh ketika mengetahui jumlah “lembaran harum” tersebut yang ternyata sama dengan jumlah biaya pendaftaran untuk seleksi S2. Allahu Akbar…!!!

Selama ini saya bermuram durja memikirkan biaya tersebut. Allah dengan kasih sayang-Nya memberikan solusi tanpa terpikirkan sama sekali oleh saya. Benar-benar rejeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Allahu Akbar…!!!

Inilah salah satu hikmah menjaga silaturahim. Seandainya keluarga yang datang cuma 12 orang, belum tentu saya bisa mendaftar S2.
Dan saya pun tersenyum simpul. Lagi.


#Jogja di kala senja

March 6, 2013

Ketika Fahri Berkisah



Sewaktu pulang ke rumah sebulan penuh kemarin, saya secara intensif berinteraksi dengan adik saya yang paling kecil, yaitu Fahri (7 tahun). Dari semua keluarga saya, kepada Fahri lah saya menaruh rasa kasihan yang paling dalam karena di usia yang sebegitu dini, dia sudah kehilangan sosok ibu yang seharusnya menjadi penyuplai utama kasih sayang kepadanya. Oleh karena itu, saya berusaha semaksimal mungkin merawat, mendidik, dan mengasihinya meski semua usaha itu tidak sebanding dengan apa yang dilakukan seorang ibu. Saya juga mengusahakan sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan muka cemberut kepadanya walau beberapa kali sempat jengkel juga karena kenakalannya. Well, semoga Allah mengampuni segala khilaf saya.

Meski masih bocah, Fahri tidak jarang menceritakan sesuatu yang bersifat “pribadi” kepada saya. Suatu malam, dia pernah bertanya kepada saya dengan suara berbisik, “Aa mau punya ibu baru?” Deg. Saya sangat kaget mendengar pertanyaannya itu. Mengapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu? Awalnya saya mengira anak sekecil dia belum punya pikiran ke arah sana, tapi ternyata dugaan saya salah. Belum sempat saya menjawab, dia sudah menuturkan opininya, “Kalo Fahri mah gak mau punya ibu baru.” Saya benar-benar tidak bisa melanjutkan dialog yang mengagetkan itu, maka dari itu saya buru-buru mengalihkan ke pembicaraan lain.

Pada kesempatan lain, Fahri juga pernah bertanya dengan pertanyaan yang menghujam dada. Dia pernah bertanya seperti ini, “Aa kangen sama Umi?” Jujur, saya senang mendengar dia bertanya seperti itu karena hal itu menunjukkan bahwa dia punya perhatian kepada umi, tapi saya juga heran dengan pertanyaannya yang keluar secara tiba-tiba itu. Dengan mantap saya jawab kepadanya, “Ya kangen. Kalo Fahri kangen gak?” “Kangen juga” dia menjawab singkat.

Tidak berhenti sampai di situ, dia melanjutkan pertanyaannya lagi, “Dulu waktu Umi meninggal, Aa kenapa nangis?” Saya mulai tertarik dengan pembicaraannya dan ingin mengungkap lebih jauh perasaannya pada masa lalu dan kini. “Aa sedih. Emang Fahri gak sedih?” Jawab saya sambil mengorek perasaannya pada waktu itu. “Sedih. Dulu Fahri juga mau nangis, tapi air matanya gak keluar.” Hmm…sekarang taulah saya perasaan dia yang sebenarnya. Dulu saya mengira Fahri masih belum mengenal konsep kematian karena wajahnya terlihat “enjoy-enjoy” saja saat umi meninggal, tapi rupanya dia juga memiliki perasaan yang sama dengan kami. Ekspresinya saja yang berbeda.

Suatu ketika, dia menuturkan kisahnya yang haru sekaligus lucu ketika dia menjalani ujian sekolah. Awalnya, saya lah yang memantiknya dengan pertanyaan, “Fahri kemarin dapat ranking berapa?” “14” jawabnya singkat. “Tapi ini di rapor kok gak ada rankingnya?” saya memastikan. “Iya, emang gak ada, tapi kata Ibu Guru ranking 14” jelasnya.

Kemudian, tanpa diminta dia bercerita pengalamannya waktu ulangan, “A, kemarin, waktu ulangan, kan ada pertanyaan, ‘Waktu saya sakit, ibu mengantar saya ke…’ terus Fahri jawabnya ‘ke restoran’”. Saya tergelak. Tak sanggup saya menahan tawa karena ceritanya. “Lah kok ke restoran?” saya mencoba mencari tahu alasannya. “Iya, kan dulu kalo Fahri sakit, umi biasanya ngajak ke McD” jawabnya polos.

Masya Allah… hati saya langsung berdesir mendengarnya. Memang, umi saya (hampir) selalu mengajak Fahri ke McD kalau dia sedang sakit dan biasanya McD memang lebih ampuh daripada obat dokter. Tapi saya tidak menyangka kalau “kebiasaan” itu rupanya sangat membekas di memorinya sampai-sampai “kebiasaan” itulah yang keluar menjadi jawaban atas pertanyaan di atas.

“Ya Allah, jadikan kami anak yang sholih, yang tau balas budi kepada orangtua”

#pojok kamar wisma Pakdhe