Showing posts with label Thought. Show all posts
Showing posts with label Thought. Show all posts

April 30, 2019

Psikologi Pelaku Hoaks

Pesatnya perkembangan teknologi berdampak masif yang mau tidak mau dinikmati oleh dua kubu, yaitu kubu baik dan kubu jahat. Bagi pelaku kebaikan, digitalisasi informasi telah membantu mereka menyebarkan pesan positif, harapan, kedamaian, pengetahuan serta optimisme. Kebaikan dari Timur secepat kilat akan juga menyambar ke Barat, dan sebaliknya.

Di sisi lain, pelaku kejahatan juga diuntungkan dengan kemajuan ini. Tidak bisa tidak, derasnya arus digitalisasi peradaban ikut mengangkut sampah dan kotoran ke tengah masyarakat. Sampah yang paling sering muncul wujudnya berupa berita bohong atau hoaks.
Ilustrasi Hoaks (sumber: thatsnonsense.com)
Hoaks memiliki efek yang masif dan destruktif karena sifatnya yang cepat menyebar, bahkan lebih cepat daripada berita yang valid (Vosoughi, Roy, dan Aral, 2018). Konten berita hoaks sangat beragam, tapi diantara berbagai konten tersebut, Vosoughi dkk (2018) dalam penelitiannya menemukan bahwa hoaks dengan tema politik adalah yang paling cepat penyebarannya.  

Tidak dapat disangkal berita politik memang menjadi berita yang paling digandrungi masyarakat. Seolah tidak mengenal strata kehidupan, konten politik selalu riuh dibahas berbagai kalangan, mulai dari tukang ojek sampai pegawai kantoran, dari warung kopi sampai mimbar akademisi. Terlebih, Indonesia kini memasuki tahun politik. Hoaks sudah pasti berseliweran mengisi ruang digital. Ketidak-ketatan seseorang dalam menyeleksi informasi bisa membuatnya terbawa hoaks atau bahkan ikut mendistribusikannya.

Mengapa Orang Suka Hoaks?
Cepatnya penyebaran berita palsu daripada berita valid mengindikasikan bahwa manusia suka dengan hoaks. Sifatnya yang menghibur dan penuh sensasi mampu mengisi ruang-ruang jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut selalu mencari kesenangan (seek pleasure) dan menghindari penderitaan (avoid pain).

Melalui asas kesenangan (pleasure principle) ini kita dapat memahami bahwa hoaks tidak lain merupakan manifestasi kesenangan yang menerobos masuk dari alam fantasi menuju alam nyata. Bagi satu kubu, berita hoaks tentang lawan politiknya adalah upaya pemenuhan kesenangan yang tidak mereka dapat di kehidupan sebenarnya.

Kesenangan yang didapat melalui hoaks adalah substitusi dari kesenangan yang diterima norma.  Norma memiliki standar kesenangan yang sulit dicapai berupa prestasi. Karena prestasi sulit dicapai, maka manusia menggantinya dengan menjatuhkan lawan melalui berita hoaks. Dengan kata lain, hoaks adalah bentuk frustrasi dari ketidaktercapaian prestasi.

Berita hoaks juga disukai dan cepat menyebar karena adanya kecenderungan bersikap naif pada diri manusia yang dalam istilah psikologi sosial disebut naive realism. Ini adalah kecenderungan manusia untuk menganggap diri mereka sebagai pengamat dan pemikir obyektif, sehingga ketika mereka  mendengar atau melihat sesuatu yang selaras dengan keyakinannya, mereka condong memercayai dan bahkan ikut menyebarkannya.

Hal ini senada dengan penelitian Mackie, Worth, dan Asuncion (1990) yang mendapati bahwa manusia cenderung memercayai suatu berita jika itu dibuat oleh seseorang yang memiliki pandangan yang sama, daripada seseorang yang tidak. Selagi berita itu dianggap relevan dengan keyakinan kelompoknya, maka berita itu akan diterima secara kuat. Tentu hal ini menjadi sangat bias.

Selain faktor-faktor di atas, orang-orang juga menyukai berita hoaks dan cepat menyebarkannya karena biasanya berita hoaks menampilkan penjahat yang bisa disalahkan. Munculnya musuh bersama diyakini dapat meningkatkan kohesivitas kelompok dan lebih dekat pada tercapainya tujuan. Akan tetapi perlu disadari juga bahwa peningkatan kohesivitas dengan memunculkan musuh bersama gejalanya mirip dengan gangguan psikologi yang disebut xenofobia.

Reynolds, Falgar, dan Vine (1987) mendefinisikan xenofobia sebagai kondisi psikologis yang penuh permusuhan terhadap orang di luar kelompok (outsiders). Efeknya dua: dapat memobilisasi orang untuk memperjuangkan kelompok mereka, sekaligus juga berfungsi untuk mengikat anggota kelompok itu sendiri.

Dalam konteks mikro, pertandingan sepakbola misalnya, xenofobia bisa jadi berguna untuk menyatukan tim, dengan agresivitas berlebih menjadi resikonya. Tetapi dalam lingkup makro seperti kehidupan bernegara, xenofobia akan sangat fatal karena dapat menimbulkan perpecahan dan hilangnya kerukunan antar warga negara. Atas dasar itu pula, strategi menggunakan hoaks sebagai senjata politik dalam arena pemilu menjadi sangat tidak bijak karena keutuhan bangsa menjadi taruhannya.

Dalam konteks demokrasi, pemilu seringkali disebut sebagai pesta terbesarnya. Fitrah pesta adalah bersenang-senang. Akan tetapi, kesenangan itu rasanya begitu utopis bagi rakyat karena sampai kini hoaks terus dipelihara dan dikembangbiakan. Alih-alih bersenang-senang, pesta demokrasi justru bising dengan hujatan. Mereka yang menyenangi pesta semacam ini tidak lain hanyalah mereka yang frustrasi dan fobia.


Pustaka:
Mackie, D. M., Worth, L. T., & Asuncion, A. G. (1990). Processing of persuasive in-group messages. Journal of Personality and Social Psychology, 58(5), 812-822.

Reynolds, V.,  Falger, V., and Vine, I. (1987). The sociobiology of ethnocentrism: Evolutionary dimensions of xenophobia, discrimination, racism, and nationalism. Athens: University of Georgia Press.

Vosoughi, S., Roy, D., Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science, 359 (6380), pp. 1146-1151.

March 6, 2019

Travelingnya Rasulullah

Zaman sekarang traveling sepertinya bukan lagi barang mewah. Kondisi ekonomi yang semakin baik, kemudahan akses (transportasi, tiket, informasi), dan keberagaman tempat wisata membuat traveler tak sungkan mengeluarkan uangnya. Kecenderungan itu semakin diperkuat berkat peran media sosial. Banyak orang berlomba mengunggah foto-fotonya yang sedang berlibur di berbagai tempat wisata demi mendapat “like” orang lain.
 
Ilustrasi traveling (sumber: selectquote.com)
Di satu sisi, traveling baik bagi pertumbuhan pariwisata karena dapat memberikan dampak positif bagi para pelakunya. Kantong-kantong wisata adalah ladang yang subur bagi perekonomian masyarakat. Tidak hanya bagi masyarakat sekitar, tapi juga bagi masyarakat daerah lain yang ikut bermain di bisnis wisata tersebut. Seperti bisnis cindera mata yang seringkali dipasok oleh produsen luar daerah.

Akan tetapi di sisi lain traveling juga membuat seseorang menjadi boros. Bahkan sebuah survei dari Rumah123 memprediksi 95% kaum milenial terancam jadi 'gelandangan' di 2020 karena ketidakmampuan membeli properti akibat gaya hidup boros, salah satunya hobi traveling (berita disini). Kalau sudah seperti ini, rasanya kecintaan pada traveling harus dipikir ulang. Kita tentu tidak mau menjadi gelandangan karena menuruti nafsu yang tidak ada habisnya.  

Bahkan kalau mau dicermati lebih jauh, sebenarnya keharusan membatasi hobi traveling bukan perkara hitung-hitungan materi semata, tapi juga ada alasan teologis dibaliknya. Sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam kitabnya Zaadul Ma’ad berikut ini:

كانت أسفاره صلى الله عليه وسلم دائرةً بين أربعة أسفار: سفره لهجرته، وسفره للجهاد وهو أكثرها، وسفره للعمرة، وسفره للحج.

(Safarnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meliputi empat perkara: untuk hijrah, untuk jihad dan ini yang paling banyak, untuk umroh serta untuk haji).

Ini menarik. Dalam penjelasan ini kita dapat melihat bagaimana Rasulullah sangat hati-hati memanfaatkan waktunya. Sehingga safarnya pun tidak dilakukan kecuali untuk ibadah, bukan untuk urusan yang remeh temeh seperti menghilangkan penat, mencari suasana baru atau sekedar mengusir kebosanan.

Sebagai umat yang mengaku mencintai Rasulullah, maka sudah sepantasnya kita mengikuti sunnah-sunnah beliau. Memang ini berat. Saya pribadi, sebagai orang yang suka traveling, sangat sulit jika diminta untuk tidak bepergian kecuali untuk empat hal di atas. Akan tetapi saya rasa hal itu dapat dimulai dengan mengurangi nafsu untuk traveling (yang cenderung mengarah kepada pemborosan). Jikapun sudah kebelet ingin traveling, sebisa mungkin perjalanan itu diniatkan untuk ibadah dan tidak bepergian ke tempat-tempat maksiat. Allahu ‘alam.

#Riyadh
المرجع:
الجوزية، ابن قيم. (٢٠١٤). زاد المعاد في هدي خير العباد. دمشق: مؤسسة الرسالة ناشرون.

January 14, 2019

Sekilas Tentang Qalbu

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam sebuah haditsnya yang masyhur bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Meski cuma segumpal, tapi daging ini begitu vital perannya karena menjadi penentu baik dan buruk keseluruhannya. Jika yang segumpal ini baik, maka baik pula sisanya yang lain, dan sebaliknya. Segumpal daging yang dimaksud adalah Qalbu.
 
Ilustrasi Qalbu (sumber: webteb.net)
Pendapat para ulama tentang makna qalbu terfragmentasi menjadi dua. Pertama, qalbu diterjemahkan sebagai jantung, yaitu organ manusia yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Penafsiran ini tentu tidak keliru mengingat fungsi vital jantung bagi tubuh manusia senafas dengan peran qalbu seperti yang digambarkan Rasulullah dalam haditsnya.

Pada dunia kedokteran jantung bahkan dijadikan rujukan status hidup dan matinya seseorang.  Berhentinya detak jantung adalah dalil bagi dokter untuk memvonis bahwa pasien telah mati klinis. Jika ada alat rekam denyut jantung yang dipasang di tubuh pasien, maka monitor akan menampilkan kurva yang datar dan tidak lagi berdetak.

Akan tetapi selain makna jasad, di sisi lain ada juga yang memaknai qalbu sebagai hati (bukan liver dalam istilah kedokteran). Kalau pada tafsiran pertama terkandung unsur perangkat keras (hardware), maka unsur perangkat lunak (software) melekat pada tafsiran kedua ini.

Qalbu yang dimaknai sebagai hati merupakan wadah bagi beragam sifat (trait), perasaan (affect), perilaku (behavior), dan keyakinan (belief) manusia, yang mana kesemuanya itu merupakan konstruk psikologi modern. Laksana raja, qalbu berkuasa untuk mengatur semua perubahan kondisi (state) tersebut. Maka tidak heran dalam hidupnya manusia akan menghadapi tukar guling senang dan sedih, tenang dan gelisah, sayang dan jengkel, bahkan beriman dan kafir.

Apa Sebab Inkonsistensi Qalbu?
Ambivalensi qalbu dalam kehidupan manusia menaruh kesan inkonsisten. Padahal jika boleh memilih, manusia akan selalu memilih kesenangan sebagaimana teori Pleasure Principle yang diargumentasikan oleh Sigmund Freud, seorang pencetus aliran psikoanalisis.

Pada hakikatnya qalbu memang memiliki sifat natural untuk selalu aktif berbolak-balik. Dinamai sebagai qalbu karena memang dia seakar dengan kata mutaqallib yang bermakna selalu berubah atau tidak stabil. Merujuk pada sifat ini pula, Rasulullah saw mengajarkan doa kepada kita: 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Terjemah dari doa tersebut kurang lebih adalah: Wahai Dzat yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Dalam doa tersebut kita meminta kepada Allah untuk menetapkan hati kita hanya pada agama-Nya. Kata perintah (fi’il amr) yang digunakan Rasulullah saw adalah tsabit yang kemudian diterjemahkan menjadi tetapkanlah.

Tsabit sendiri berasal dari kata tsabat yang berarti kestabilan. Dalam paradigma ilmu nafs, tsabat lebih dikenal sebagai reliabilitas atau keajegan.  Suatu alat ukur misalnya, dapat dikatakan reliabel (ajeg) jika terdapat hasil pengukuran yang relatif konsisten dari satu pengukuruan ke pengukuran berikutnya.

Sebagai contoh, saya memiliki satu alat timbang. Hari pertama saya menimbang berat badan saya 60 kg. Lalu dengan mengontrol variabel lain, pada hari kedua, ketiga, dan keempat saya timbang lagi berat badan saya dan hasilnya berturut-turut adalah 59 kg, 60 kg, dan 59,5 kg. Dengan hasil ini maka saya dapat menyimpulkan bahwa alat timbang tersebut reliabel karena menunjukkan hasil pengukuran yang relatif konsisten dari waktu ke waktu.

Akan tetapi, reliabilitas saja rupanya tidak cukup karena itu tidak menjamin validitas. Artinya, sesuatu yang konsisten belum tentu benar. Dalam contoh di atas misalnya, walaupun memiliki konsistensi yang baik, tapi rupanya alat timbang itu gagal memenuhi standar validitas karena berat badan saya sesungguhnya adalah 70 kg, sebagai contoh. Maka ada selisih sekitar 10 kg di setiap pengukuran yang dilakukan.

Di dunia ini ada begitu banyak orang yang konsisten dalam mengoperasionalkan sifat (trait), perasaan (affect), perilaku (behavior), dan keyakinan (belief) mereka. Akan tetapi, banyak yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka konsisten pada hal yang salah. Atau mungkin mereka sengaja untuk konsisten dalam kesalahan.

Dengan memahami ini, kita akan menyadari betapa pentingnya meminta konsistensi di atas qalbu yang selalu bergolak. Dan doa yang Rasulullah ajarkan begitu jelas dan presisi karena tidak hanya meminta konsistensi, tapi juga menempatkan konsistensi itu pada tempat yang haq, yaitu di atas agama Allah.

#Asrama 27 Mahasiswa KSU

October 31, 2018

Berani Gagal Itu Baik

Sebagai makhluk yang dinamis, manusia tentu selalu memiliki harapan untuk berkembang. Peningkatan dalam karir, prestasi, materi, serta hubungan lazim menjadi resolusi banyak orang. Akan tetapi keberanian beresolusi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan upaya nyata dalam mewujudkannya. Banyak orang fasih dalam beresolusi tapi tergagap dalam aplikasi. Masalahnya kadang bukan karena ketidakmampuan, tapi karena rasa takut yang begitu hiperbolis. Ketakutan yang saya maksud adalah takut untuk gagal. 
Ilustrasi Berani Gagal (sumber : thenextscoop.com)

Hal ini sangat alamiah dan dapat dipahami. Sebagai makhluk yang disebut Freud selalu mencari kesenangan dan menghindari kepahitan (seek of pleasure and avoid of pain), maka kegagalan sangat tidak selaras dengan pleasure principle manusia. Kegagalan dapat membuat jiwa manusia merana dan itu berkorelasi positif dengan tingkat harapan. Semakin tinggi harapan seseorang akan sesuatu, akan semakin nelangsa pula jiwanya jika dia gagal. Atas dasar ini manusia jadi takut untuk mencoba.

Barangkali mereka lupa bahwa kehidupan ini adalah akumulasi dari kegagalan. Kita bisa berjalan dan berlari setelah terjatuh sekian kali ketika bayi. Seandainya jatuh membuat kita putus asa, mungkin selamanya kita tidak akan bisa berjalan. Cahaya lampu yang benderang dapat kita nikmati setelah beribu kegagalan eksperimen Thomas Edison. Jika gagal membuatnya menyerah, kita tidak tau kapan manusia bisa hidup dalam gemerlap cahaya. 

Akan tetapi tidak semua kegagalan memiliki efek yang sama. Ada gagal yang berefek (saya menyebutnya gagal positif), ada pula gagal yang tidak berefek (gagal negatif). Gagal positif terjadi manakala seseorang menyadari betul kegagalannya. Artinya, dia telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk sukses, tapi takdir yang tertulis untuknya ternyata gagal. Kegagalan jenis ini akan membuat orang sangat memaknai kegagalannya.

Sebaliknya, gagal negatif terjadi ketika seseorang memang tidak niat untuk melakukan sesuatu, kemudian gagal. Contohnya iseng-iseng ikut lomba. Kalau gagal, pasti dia tidak terlalu meresapi kegagalannya karena memang hanya iseng belaka. Beda dengan orang yang memang tiap hari latihan untuk menghadapi lomba tersebut, kegagalan menjuarai lomba akan meresap di jiwanya. 

Penyikapan yang baik dari gagal positif akan membuat jiwa tumbuh dan berkembang. Butuh waktu memang, tetapi kesabaran dalam menghadapinya akan membuat daya juang dan daya lenting jiwa terakselerasi. Tidak peduli berapa kali gagal, kamu akan bangkit untuk merebut kesuksesanmu. Sebagaimana pepatah Jepang yang berkata, fall seven times, stand up eight

Jadi, jangan takut gagal karena berani gagal itu baik. 

#Jelang Musim Dingin
 #Asrama Mahasiswa King Saud University

August 15, 2018

Tenang dengan Ujian

Seorang guru yang sangat saya kagumi keshalihannya sering berkata : “Beruntunglah orang-orang yang didera kesempitan, karena dengan kesempitan itu akan didatangkan kelapangan bagi mereka, dihapuskan dosa-dosanya, dan dinaikkan derajatnya.”

Sejujurnya setiap menghadiri majelis beliau, saya seringkali bingung. Disaat kebanyakan orang menginginkan hidup yang tenang, stabil dan penuh kenikmatan, beliau seolah-olah menunjukkan hal yang sebaliknya. Saya tidak sedang mengatakan beliau orang yang berharap diuji, karena hal itu seolah-olah sedang menantang Allah. Tetapi dari gaya bicara, ekspresi, dan gestur tubuh beliau, saya yakin betul bahwa beliau sudah sangat mengakrabi ujian. Sehingga ujian yang datang bukan lagi disabari, tapi disyukuri karena beliau sangat memahami bagaimana efek baik ujian tersebut bagi dirinya. 
Ilustrasi tenang (sumber : mozaik.inilah.com)

Saya yang dulu “rutin” mendapat ujian, kadang jengkel mendengar nasihat beliau. “Ustadz kan tidak berada di posisi saya, tidak tau apa yang saya rasakan” begitu kira-kira hati memprotes. Jangankan mensyukuri ujian, menyabarinya saja saya belum mampu. Alih-alih berlapang hati dengan ujian, saya begitu menginginkan kehidupan yang tenang tanpa gejolak. Damai tanpa guncangan. 

Akan tetapi anehnya, justru di tengah gejolak ujian tersebut-lah saya menemukan ketenangan. Dalam kondisi terguncang itulah saya merasakan kedamaian. Sehingga saya bisa merasakan kondisi jiwa yang sangat tenang seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya (lihat disini). 

Lain halnya ketika kehidupan ini berjalan stabil tanpa adanya turbulensi. Stabilitas itu justru kadang membuat kita terlena. Sehingga kadang kita lupa bahwa kita semakin dekat dengan akhir perjalanan (kematian). Hal inilah yang sama-sama kita takutkan sebagai Hamba Allah. 

Kita tentu berharap dapat menjadi hamba yang senantiasa dekat dengan Allah meski tanpa diperantarai ujian dan kesulitan hidup. Akan tetapi faktanya memang sangat sulit bagi manusia biasa untuk melakukannya. Hidup yang tenang, apalagi disertai limpahan nikmat, lebih sering menjerumuskan manusia pada dua hal, kalau tidak lalai, ya stagnan imannya. 

Saya bukan sedang berharap diuji dan tidak mengajak anda untuk mengharapkan ujian dari Allah. Bukan begitu etikanya. Saya hanya mengingatkan, sebagaimana guru saya selalu mengingatkan di tiap majelisnya, bahwa ujian hidup yang datang sudah selayaknya disyukuri, minimal disabari. Karena begitu banyak kebaikan yang Allah selipkan dibalik ujian tersebut seandainya kita mau bersabar dan bersyukur. 

#Selagi piket di hotel 122 – Syisyah
#Mekkah Al-Mukarromah

April 18, 2018

Kesenangan yang Menipu

Banyak mahasiswa menganggap skripsi sebagai momok. Hal itu tidak saya pungkiri karena saya adalah salah satunya. Dulu saya sempat stres waktu mengerjakan skripsi. Permasalahan dengan dosen pembimbing, urusan pribadi yang juga lagi ruwet, ditambah kondisi finansial yang sedang semrawut benar-benar menekan saya. Murung, kehilangan gairah hidup, dan mulai menarik diri dari lingkungan. Apa yang saya rasakan persis seperti gejala depresi yang pernah saya pelajari di kampus.

Melihat kondisi yang cenderung destruktif tersebut, saya berusaha mencari solusi agar tidak tenggelam semakin dalam. Saya kemudian menemukan satu kegiatan yang membuat saya gembira dan sedikit melupakan kemurungan skripsi, yaitu main bola bareng anak-anak TPA. Ya, saya dulu pernah mengajar TPA dan mereka sering mengajak saya main bola. Saya sendiri memang hobi main bola, juga hobi main sama anak-anak.

Kami biasanya main bola di lapangan Grha Sabha Pramana (GSP UGM) tiap sore, ketika tidak ada jadwal mengaji. Jujur, ketika bermain saya benar-benar merasa gembira. Saya melupakan kemurungan dan kesedihan saya terkait skripsi. Tetapi kegembiraan itu seketika lenyap begitu saya kembali ke kamar kost. Lagi-lagi saya diliputi kesedihan dan ketidakberdayaan.

Saya sendiri paham bahwa main bola itu hanya pelarian saya dari kewajiban yang belum usai. Tetapi saya benar-benar tidak menyangka efek psikologis dari pelarian itu sebegitu kontrasnya. Saya seperti terjerembab ketika berpindah dari kondisi yang menyenangkan (main bola) ke realita. Kesenangan yang saya rasakan saat itu ternyata semu. Sangat menipu. “Permainan bola” menipu saya dengan kesenangan dan melalaikan saya dari realita.
***
Apakah kamu pernah mengalami kondisi seperti itu? Menghindari suatu beban dan mencari penggantinya yang lebih disukai hati. Saya kira kita semua pernah mengalaminya dan bahkan saat ini kita sedang dihadapkan pada momen tersebut. Perhatikan firman Allah berikut ini :

كل نفس ذآئقة الموت وإنما توفون أجوركم يوم القيامة فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز وما الحياة الدنيا إلا متاع الغرور (آل عمران : ١٨٥)
Artinya : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
 
Ilustrasi kesenangan (sumber : vallain.wordpress.com)
Allah menjadikan kehidupan dunia ini sebagai kesenangan yang menipu. Seperti ilustrasi permainan bola yang saya ceritakan di atas, ada saatnya kita juga akan meninggalkan kesenangan itu, kembali ke muasal kita, yaitu tempat kita menjalani hidup yang sebenarnya.

Sebagai makhluk langit (yes, we are), kita meyakini bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah akhirat, bukan dunia. Dunia tidak pantas menjadi tujuan manusia karena dalam sifatnya yang fana terkandung benih-benih kekecewaan bagi yang mengobsesikannya. Dunia tidak lain hanyalah tempat singgah mencari bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal.

Masalahnya kadang (atau bahkan banyak) orang lupa bahwa mereka akan kembali ke realita karena tertipu oleh kesenangan dunia yang memperdaya tadi, sehingga ketika kembali ke realita (menghadap Rabb-nya) mereka akan menemui diri mereka dalam keadaan murung seraya berkata : “ya laytani kuntu turoba.” Seandainya aku jadi tanah saja. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita bukan bagian dari kelompok tersebut. 

#Asrama 27 King Saud University

January 22, 2018

Manusia Modern dan Banjir Informasi

Betapa sibuknya menjadi manusia modern. Segala yang terjadi di dunia selalu ingin diketahui. Berbagai berita dari Timur ke Barat dikonsumsi. Seolah-olah hal itu menjadi suatu kewajiban. Perkara itu berhubungan dengan pekerjaan atau tidak, itu urusan belakangan, yang penting tau dulu. Haram hukumnya ketinggalan informasi.

Betapa sibuknya menjadi manusia modern. Ikan mati di laut seberang pun harus dikomentari. Mobil nabrak tiang listrik pun begitu serius jadi diskusi. Seolah-olah dunia akan bertambah gawat kalau yang demikian itu tidak dibahas. Sedangkan apa yang menjadi inti pekerjaan dan tugas mereka, cukup disinggung tipis-tipis saja. 

Tetapi bukan berarti manusia modern kering spiritualitas. Sibuk memikirkan dunia dan melupakan akhirat. Tidak! Mereka juga rajin mengaji dan memupuk keshalihan. Yah minimal shalih di dunia digital. Lihat saja channel yang mereka ikuti, dari ustadz salafi sampai ustadz HTI. Dari kajian bertema tafsir Al-Qur’an sampai perang pemikiran, semua dipelototi. Akan tetapi, jangan kau tanya kepada mereka apa materi kajian itu setelah 10 menit berlalu, karena lupa akan membuatnya malu.

***

Banjir informasi (overwhelming information) yang melanda jagat saat ini tampaknya tidak dianggap sebagai ancaman oleh sebagian besar penghuninya. Bagai bocah TK yang jingkrak kegirangan main ciprat air di tengah banjir, manusia modern juga tampak menikmati banjirnya. Mungkin karena peristiwa banjir ini adalah peristiwa yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya. Atau mungkin sudah ada, tapi dengan format yang berbeda, misalnya dengan format surat kabar atau televisi. Adapun yang dialami manusia modern saat ini adalah banjir informasi dengan format media sosial (medsos).
Sumber : huffingtonpost.com

Medsos menawarkan manusia “entertainment” tiada henti (one stop entertainment). Saya sebut entertainment karena memang medsos itu biasanya digunakan sebagai hiburan di waktu sela (walaupun kenyataannya tidak cukup hanya menjadi penyela). Akan tetapi, entertainment yang ditawarkan dalam medsos tidak melulu hal yang sifatnya hedon seperti musik, film, atau game. Dia bisa juga berbentuk berita, pengetahuan, bahkan ceramah agama. Meski demikian, berbagai ilmu dan informasi yang didapatkan manusia modern melalui medsos menjadi sangat mudah tereduksi karena sifatnya yang “entertainment” tadi. Belum melekat satu ilmu di otaknya, dia sudah beralih ke ilmu lain yang lebih entertaining

Kecenderungan manusia modern untuk cepat beralih dari satu berita ke berita lain, atau dari satu video ke video lain, diakselerasi dengan pilihan judul dari pihak pengunggah (uploader) yang seringkali intimidatif – provokatif. Jangankan wong cilik, presiden pun bisa dibuat penasaran membaca judul dari suatu konten. Padahal bisa dipastikan judul-judul nyeleneh itu hanyalah strategi marketing pengunggah agar semakin banyak orang yang melihat konten yang dia unggah. 

Ini gawat. Kalau manusia modern tidak sadar akan ancaman banjir informasi ini, mereka akan kehilangan fokusnya. Manusia modern akan semakin sulit memilah dan memilih perkara yang layak menjadi kebutuhan. Hidup mereka terbawa arus konten-konten hiburan sampai limit kuota data memisahkan mereka, meski pada akhirnya perpisahan itu selalu bersifat sementara karena akan selalu diisi kuota yang baru.

*lagi transit 8 jam di Abu Dhabi :’(

June 12, 2017

Tentang Buka Bersama


“Suami sebenarnya sudah mengizinkan saya untuk buka bersama, tapi saya gak tega meninggalkan dia di rumah berbuka seorang diri” (seorang ibu paruh baya)

Kalimat pembuka di atas adalah kutipan percakapan saya dengan seorang ibu paruh baya. Sebuah percakapan singkat yang akhirnya membuat saya lama termenung, betapa orangtua kita dulu begitu memahami arti sebuah kesetiaan. Tidak hanya dipahami, tapi juga diinternalisasi dalam diri mereka sehingga tiap gerak lakunya merupakan ekspresi cinta pada pasangannya.

Dalam percakapan itu, Si Ibu mengaku diajak buka bersama oleh kerabatnya. Sebenarnya yang diajak bukan cuma ibunya, tapi juga seisi keluarganya. Namun Si Ayah berkeberatan untuk menghadirinya, entah karena udzur apa. Karena Si Ayah urung hadir, maka Si Ibu juga berkeberatan untuk hadir. Tidak tega katanya meninggalkan suaminya berbuka sendiri. So sweet. Meski demikian, beliau tetap mengutus anak-anaknya untuk memenuhi undangan tersebut.

Bagi saya, pilihan Si Ibu untuk mendahulukan Si Ayah adalah ekspresi kesetiaan. Bagi saya, pengorbanan Si Ibu untuk tidak menghadiri buka bersama kerabat agar bisa menemani Si Ayah berbuka adalah bentuk tanggung jawab. Bagi saya, ketulusan Si Ibu melayani Si Ayah adalah performa cinta yang sangat mulia. Ibu itu paham betul bagaimana ber-khidmat kepada suami, yang menjadi amanah utamanya di dunia ini, yang dengan khidmat itu beliau berharap ridho dari suaminya sebagai tiket terusan menuju surga.

Hari ini kita hidup di tengah gempuran feminisme yang sangat sadis. Kaum perempuan begitu ingin disejajarkan dengan laki-laki. Meski menolak paham feminisme, toh nyatanya banyak perempuan yang sangat ingin bisa mandiri sehingga menihilkan ketergantungan kepada suaminya. Sekilas, pemikiran ini terlihat normal-normal saja, bahkan dianggap baik oleh beberapa kalangan. Tapi bermula dari pemikiran ini pula, akhirnya banyak kaum istri yang durhaka kepada suaminya. Karena merasa memiliki kekuatan dan sumber daya, sikap ta’dhim mereka kepada suami perlahan memudar. Apalagi kalau ternyata penghasilan si istri lebih besar daripada suami. Bisa sangat berbahaya kalau keduanya tidak memiliki pondasi iman yang kokoh.

Kembali ke masalah buka bersama, dulu ada seorang aktivis dakwah yang sempat cerita kepada saya. Katanya beliau diprotes oleh ibunya karena hampir setiap hari memiliki jadwal buka puasa di luar dan sangat jarang berbuka di rumah bersama keluarga. Hmm…kelihatannya sepele, cuma masalah buka bersama, tapi saya rasa menjadi tidak se-sepele itu ketika ada hak-hak keluarga yang ditelantarkan. Iya, niat beliau memang mulia untuk menuntaskan proyek-proyek akhirat bertema dakwah, tapi bukankah seharusnya keluarga terdekat lah yang menjadi ladang dakwah utama kita? Penelantaran kita terhadap hak-hak keluarga, meski itu hanya sekedar berbuka puasa bersama, dapat mendatangkan kesan negatif dari keluarga kepada dakwah itu sendiri. “Gara-gara kegiatan yang katanya dakwah, anak saya jadi gak mau buka bersama di rumah.” Pikiran semacam itu bukan tidak mungkin mencuat di tengah anggota keluarga kita. 

Lalu apa hubungannya cerita pertama, feminisme, dan buka bersama? 

Hmm…saya mengamati nilai-nilai feminisme hakikatnya sudah sangat kentara, bahkan bermunculan di kalangan aktivis dakwah. Banyak aktivis dakwah (perempuan) yang sangat aktif berkegiatan di luar sehingga hak-hak keluarganya terpinggirkan. Padahal kalau mau dibikin skala prioritas, siapa sih yang menjadi prioritas tanggung jawab kaum perempuan? Bukankah anak-anak dan suaminya? (atau orangtuanya kalau dia belum menikah). Dan sebenarnya siapa yang paling berkewajiban keluar/safar untuk berdakwah? Bukankah justru pihak laki-laki?

Mungkin banyak aktivis dakwah yang berkilah, “Saya sudah menyiapkan semuanya (hidangan berbuka) untuk keluarga kok. Jadi saya tidak melalaikan tanggung jawab saya.” Kalau sekedar menyiapkan hidangan berbuka, saya kira tidak perlu disiapkan juga mereka (suami/anak-anak/orangtua) pasti akan tetap berbuka. Mereka bisa ke warung atau warteg untuk membeli ifthar. Tapi esensinya kan bukan di situ. Pelayanan istri kepada suaminya tidak akan pernah bisa disamakan dengan pelayanan mbak-mbak penjaga warteg. Bakti anak kepada orangtuanya tidak akan serupa rasanya dengan bakti bibi/pembantu di rumah. Ada keterputusan emosi di sana.

Saya di sini bukan sedang menggugat peran perempuan dalam dakwah. Sama sekali bukan. Hanya saja terkadang saya lihat ada ketimpangan antara pemenuhan kewajiban primer dengan sekunder.  Apa-apa yang bersifat sekunder kadang justru lebih diprioriotaskan, mengalahkan kewajiban primer. Hal ini yang sangat disayangkan.

Kita, biar bagaimanapun pahamnya terhadap syariat, kadang penerapannya justru kalah telak dengan orangtua-orangtua kita yang kita anggap “awam” dalam hal agama. Seperti kisah ibu yang saya sampaikan di awal, mungkin kalau ditanya pemahaman agama, beliau masih sangat kurang. Akan tetapi dalam hal praktik, bagaimana khidmat serta ta’dhim beliau kepada suami, lalu memenangkan hati kerabatnya dengan mengutus anak-anaknya, menurut saya sikap beliau sudah sangat excellent. Allahua’lam.

“Allahumma ihdinashshiratal mustaqim”

#Home Sweet Home, Tangsel

April 22, 2017

Inilah Jayakarta, Kemenangan Paripurna


Pilkada DKI Jakarta 2017 baru saja berlalu. Tidak bisa saya pungkiri, saya sangat senang dengan hasil tersebut. Kekhawatiran yang sebelumnya saya rasakan alhamdulillah tidak terjadi. Anies Baswedan dan Sandiaga Uno akhirnya dapat memenangkan pertarungan sengit melawan calon petahana, Ahok dan Djarot.

Saking khawatirnya, bahkan saya sampai bermimpi di malam sebelum pencoblosan. Di mimpi itu si penista Al-Qur’an dapat mengungguli pasangan Anies-Sandi. Sebuah mimpi yang sangat ganjil dan membuat was-was. Bagaimana tidak was-was kalau penista Al-Qur’an dapat memenangkan kontestasi politik di wilayah sekelas Jakarta? Yah, meskipun saya tidak ber-KTP Jakarta, tapi tempat tinggal saya berbatasan langsung dengan ibukota. Apapun kebijakan yang berlaku di Jakarta, sedikit banyak akan berdampak juga bagi kota di sekitarnya. 


Akan tetapi intinya sebenarnya bukan masalah geografis sih. Ada hal yang lebih ideologis daripada sekedar letak tempat tinggal. Ini menyangkut keyakinan. Karena di belahan bumi manapun, entah itu di Jakarta, Bandung, Surabaya, Aceh, atau Kalimantan, kalau ada penista Al-Qur’an yang berani “mendikte” kaum muslimin yang menjadi mayoritas, selamanya saya tidak akan ridho. Maka dari itu, saya sangat bersuka cita dengan kemenangan Anies-Sandi.

Kemenangan umat Islam terhadap penista Al-Qur’an mengingatkan saya tentang kisah pembebasan Jakarta oleh tentara umat Islam dari tangan Portugis. Ketika itu pasukan umat Islam yang dikomandoi Fatahillah berhasil merebut Jakarta (saat itu masih bernama Sunda Kelapa) pada tanggal 22 Juni 1527. Pada saat itu pula Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang diambil dari bahasa Arab, Fathun Mubina, yang bermakna kemenangan paripurna (baca : Api Sejarah). Hingga kini tanggal pembebesan Jakarta dari kuffar Portugis diperingati sebagai HUT Jakarta.

Semakna dengan kemenangan tersebut meski dalam konteks yang berbeda, umat Islam lagi-lagi berhasil membebaskan Ibukota dari “penjajahan” kafir. Pilkada 2017 telah mengakhiri kekuasaan Ahok di Jakarta. Yah, memang pada mulanya bukan Ahok yang memimpin Jakarta, melainkan Jokowi. Tapi ketika Jokowi maju sebagai calon presiden tahun 2014, yang mana dia mengkhianati janjinya untuk tidak meninggalkan Jakarta, tampuk kekuasaan pada akhirnya beralih ke Ahok. Mau tidak mau, suka tidak suka, Jakarta yang mayoritas penduduknya beragama Islam harus dipimpin oleh seorang kafir selama tiga tahun, 2014-2017.

Meskipun calon dari petahana dapat dikalahkan, tapi menurut saya ada catatan yang harus digarisbawahi, terutama tentang sepak terjang si penista agama. Sebagaimana kita ketahui penista agama telah di-bombardir dengan berbagai macam serangan. Entah melalui aksi jutaan umat Islam yang turun ke jalan, khutbah para ulama di tengah masyarakat, jeratan hukum, atau resistensi warga terhadap kampanyenya. Akan tetapi serangan yang sangat masif itu ternyata masih mampu membuatnya menang dalam pilkada putaran pertama dengan perolehan suara di atas 40%. Entah apa jadinya jika ikhtiar para ulama dan umat Islam saat itu tidak maksimal. Entah bagaimana hasilnya jika umat Islam dari seluruh Indonesia tidak ikut serta dalam berbagai aksi di Jakarta dan berpikiran “Ah, itu kan urusan warga Jakarta.” Bukan tidak mungkin dia menang satu putaran sebagaimana grand design-nya di awal.

Mengingat dia masih muda dan karir politiknya masih panjang, maka sepak terjangnya harus selalu diwaspadai. Apalagi sekarang dia digadang-gadang menjadi salah satu menteri dalam kabinet Jokowi. Bukan tidak mungkin grand design menjadikannya calon wakil presiden tahun 2019 akan tetap berjalan.

Tangisan Sandi
Pada hari pencoblosan sebenarnya saya tidak bisa mengikuti hasil quick count karena ada kuliah. Saya baru tau hasilnya ketika quick count sudah memasuki angka 80% lebih. Di saat itulah saya benar-benar senang. Yang menarik, ada satu artikel yang memberitakan tentang Sandiaga yang menangis usai hasil quick count keluar.

Kenapa saya tertarik? Karena saya paham betul apa yang dia rasakan. Yah, saya memang belum pernah ikut kontestasi politik sekelas Pilkada, apalagi Pilkada Jakarta, tapi setidaknya saya pernah merasakan jadi calon ketua Lembaga Mahasiswa. Saat itu sebenarnya saya tidak ingin maju sebagai calon ketua. Boleh dibilang saya ini manusia plegmatis yang mencandu kedamaian. Politik praktis rasanya bukan alam natural saya. Tapi karena saat itu teman-teman telah mengumpulkan KTM nya untuk saya dan mendorong saya untuk maju sebagai calon ketua, akhirnya saya maju juga.

Kalau ditanya daftar kejadian yang pernah mengguncangkan hati saya, dapatlah momen Pemira (Pemilihan Raya Mahasiswa) itu dimasukan dalam daftar tersebut. Dalam masa-masa itu, saya merasa sangat tidak nyaman. Entah berapa kali saya menangis karena tekanan yang dihadapi (haha, ketauan deh). Tentu bukan menangis di depan orang lain, apalagi di depan umum. Di hadapan orang saya berusaha tampil normal. Proses Pemira pun saya hadapi senormal mungkin. Debat kandidat, kampanye, sampai pemungutan suara pada akhirnya berjalan lancar. Meski saya tidak menang dalam Pemira tersebut, tapi saya bersyukur dapat melewati momen itu dengan waras, haha.

Nah, dalam pandangan saya, Sandiaga Uno itu orang yang plegmatis. Suka dengan harmoni dan kedamaian. Meskipun di alam naturalnya (dunia bisnis) juga ada kompetisi dan persaingan yang bersifat menekan, tapi tekanan di dunia politik tentu berbeda. Dalam dunia politik, segala cara dihalalkan untuk menjatuhkan lawan. Entah bagaimana hebatnya tekanan yang dia rasakan ketika pilkada kemarin. Dan tangisan di hari kemenangannya menurut saya adalah luapan ekspresi dari berbagai tekanan yang dia terima.

Masih dalam pandangan saya, Sandiaga Uno adalah orang baik dan cerdas, tapi masih belum bisa berdiri di kaki sendiri. Dia membutuhkan mentor. Maka dari itu, langkah dia memilih Anies Baswedan sebagai rekan juangnya menurut saya sangat tepat. Dia tidak memaksakan kehendak partai yang ingin mengusungnya sebagai calon gubernur dan memilih “hanya” menjadi wakilnya saja. Dia memahami betul kapabilitas dirinya. Sebagai kader partai, dia termasuk langka karena berhaluan rasionalis dan bukan ideologis. Untungnya partai pengusungnya dapat memahami situasi tersebut sehingga mengubah kehendak mereka.

Hmm… Saya jadi tidak sabar menunggu bagaimana jadinya Sandiaga Uno dalam sepuluh tahun kedepan. Saya ingin segera melihat bagaimana jadinya Indonesia dalam 20 tahun kedepan. Perkembangan negara ini sangat menjanjikan. Kalau Indonesia dapat menghindari berbagai jegalan dari negara lain, tentu Indonesia bisa menjadi salah satu pemain utama di kancah internasional.

Ah, saya jadi teringat perkataan dosen saya yang entah berapa kali dia bilang, “Di masa mendatang, negara kamulah yang akan memimpin umat Islam, bukan lagi negara Arab.”

#Asrama Mahasiswa KSU

June 11, 2016

Mari Nakal!!!


Kaku. Semakin kemari rasanya hidup saya semakin kaku pada peraturan. Terlalu takut salah. Terlalu taat pada pihak yang saya anggap berwenang. Terlalu menyanderakan diri pada dogma-dogma. Atau kalau mau diperas dan diambil intinya, saya terlalu berlebihan jadi “anak baik”.

Well, saya bukan sedang menyombongkan diri karena memang saya tidak bangga dengan itu. Justru menurut saya itu adalah masalah. Sebuah persoalan yang harus saya selesaikan. Karena ini berkaitan dengan karir saya sebagai akademisi (haiiss), apalagi akademisi ilmu sosial.

Sebagai akademisi, modal utama yang harus kita pelihara baik-baik adalah pemikiran kritis. Seolah-olah ada postulat bahwa setiap pendapat, opini, peraturan, atau hal semisal harus dikritisi. Tidak peduli siapa pihak yang mengeluarkan opini atau peraturan itu. Entah itu pemuka agama, pemerintah, dosen, akademisi lain atau sekedar warga biasa. Selama itu bukan syariat-syariat yang telah jelas hukumnya dari Allah, maka menjadi wajib hukumnya untuk mengkritisi pendapat mereka. Toh, mereka bukan utusan yang menerima wahyu dari Jibril.

Nah, kemampuan mengkritisi inilah yang rasanya pudar dari saya. Belakangan ini saya terlalu mem-beo. Terlalu berlebihan mengiyakan perkataan orang, apalagi kalau orang itu memiliki otoritas atau kewenangan. Bisa semakin merunduk saya jadinya.

Saya menduga hal ini bersebab rasa cinta saya yang berlebih pada harmoni serta kekhawatiran yang terlalu mendalam pada konflik hingga menjadikannya mental block. Bahkan untuk sekedar berdebat atau adu argumen pun rasanya sungkan. Padahal hal itu menjadi keharusan bagi akademisi.

Saya tercenung mendengar perkataan teman saya yang bilang, “menjadi nakal itu tidak selamanya buruk. Kadang dengan nakal itulah kita temukan kreativitas, inovasi, dan ide-ide”. Yang dimaksud nakal oleh teman saya itu bukan nakalnya pengonsumsi narkoba, miras, dan sebagainya. Kalau itu sudah jelas dosanya. Nakal disini artinya berusaha mengupayakan jalan lain untuk mencari kebaikan sekaligus juga kesenangan, selama tidak dosa, hehe.

Sebagai contoh, berapa banyak anak yang akhirnya bisa berenang karena terbiasa mandi di sungai? Saya yakin banyak orangtua yang melarang kegiatan itu, tapi karena si anak ingin mengejar kesenangannya, maka iapun berani menyiasati larangan orangtua dengan kreativitasnya. Mulanya mungkin dia bertanya kepada orangtuanya mengapa dia dilarang? Kemudian dia memberikan argumen-argumen untuk meyakinkan orangtuanya bahwa kekhawatiran mereka terlalu berlebihan. Kalau masih dilarang juga, sedangkan keinginan mandi di sungai begitu menggebu, mereka lancarkan strategi lain. Dengan ngumpet-ngumpet atau dengan mencari akses lain menuju ke sungai sehingga orangtuanya tidak tau. Sesudah mandi, dia harus cari cara agar orangtuanya tidak tau kalau dia baru mandi. Kalaupun orangtuanya tahu, dia harus mencari alasan agar dia tidak dimarah. Begitu terus, sehingga terasa begitu hidup otak si anak nakal itu.

Coba bandingkan dengan anak yang manut-manut saja, yang sekali dilarang langsung mem-beo, saya yakin mereka akan kalah kreatif dengan si nakal. Oleh karena itu, rasanya kenakalan itu kadang diperlukan, selama hal itu bukan perbuatan kriminal dan merugikan orang. Kita yang dewasa pun rasanya cenderung lebih suka dengan anak nakal daripada anak yang mem-beo. Mereka yang nakal terlihat lebih menarik dan tidak membosankan serta lebih enak diajak bercanda.

Oleh karena itu, mari nakal…!!!

#Home Sweet Home