January 14, 2019

Sekilas Tentang Qalbu

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam sebuah haditsnya yang masyhur bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Meski cuma segumpal, tapi daging ini begitu vital perannya karena menjadi penentu baik dan buruk keseluruhannya. Jika yang segumpal ini baik, maka baik pula sisanya yang lain, dan sebaliknya. Segumpal daging yang dimaksud adalah Qalbu.
 
Ilustrasi Qalbu (sumber: webteb.net)
Pendapat para ulama tentang makna qalbu terfragmentasi menjadi dua. Pertama, qalbu diterjemahkan sebagai jantung, yaitu organ manusia yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Penafsiran ini tentu tidak keliru mengingat fungsi vital jantung bagi tubuh manusia senafas dengan peran qalbu seperti yang digambarkan Rasulullah dalam haditsnya.

Pada dunia kedokteran jantung bahkan dijadikan rujukan status hidup dan matinya seseorang.  Berhentinya detak jantung adalah dalil bagi dokter untuk memvonis bahwa pasien telah mati klinis. Jika ada alat rekam denyut jantung yang dipasang di tubuh pasien, maka monitor akan menampilkan kurva yang datar dan tidak lagi berdetak.

Akan tetapi selain makna jasad, di sisi lain ada juga yang memaknai qalbu sebagai hati (bukan liver dalam istilah kedokteran). Kalau pada tafsiran pertama terkandung unsur perangkat keras (hardware), maka unsur perangkat lunak (software) melekat pada tafsiran kedua ini.

Qalbu yang dimaknai sebagai hati merupakan wadah bagi beragam sifat (trait), perasaan (affect), perilaku (behavior), dan keyakinan (belief) manusia, yang mana kesemuanya itu merupakan konstruk psikologi modern. Laksana raja, qalbu berkuasa untuk mengatur semua perubahan kondisi (state) tersebut. Maka tidak heran dalam hidupnya manusia akan menghadapi tukar guling senang dan sedih, tenang dan gelisah, sayang dan jengkel, bahkan beriman dan kafir.

Apa Sebab Inkonsistensi Qalbu?
Ambivalensi qalbu dalam kehidupan manusia menaruh kesan inkonsisten. Padahal jika boleh memilih, manusia akan selalu memilih kesenangan sebagaimana teori Pleasure Principle yang diargumentasikan oleh Sigmund Freud, seorang pencetus aliran psikoanalisis.

Pada hakikatnya qalbu memang memiliki sifat natural untuk selalu aktif berbolak-balik. Dinamai sebagai qalbu karena memang dia seakar dengan kata mutaqallib yang bermakna selalu berubah atau tidak stabil. Merujuk pada sifat ini pula, Rasulullah saw mengajarkan doa kepada kita: 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Terjemah dari doa tersebut kurang lebih adalah: Wahai Dzat yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Dalam doa tersebut kita meminta kepada Allah untuk menetapkan hati kita hanya pada agama-Nya. Kata perintah (fi’il amr) yang digunakan Rasulullah saw adalah tsabit yang kemudian diterjemahkan menjadi tetapkanlah.

Tsabit sendiri berasal dari kata tsabat yang berarti kestabilan. Dalam paradigma ilmu nafs, tsabat lebih dikenal sebagai reliabilitas atau keajegan.  Suatu alat ukur misalnya, dapat dikatakan reliabel (ajeg) jika terdapat hasil pengukuran yang relatif konsisten dari satu pengukuruan ke pengukuran berikutnya.

Sebagai contoh, saya memiliki satu alat timbang. Hari pertama saya menimbang berat badan saya 60 kg. Lalu dengan mengontrol variabel lain, pada hari kedua, ketiga, dan keempat saya timbang lagi berat badan saya dan hasilnya berturut-turut adalah 59 kg, 60 kg, dan 59,5 kg. Dengan hasil ini maka saya dapat menyimpulkan bahwa alat timbang tersebut reliabel karena menunjukkan hasil pengukuran yang relatif konsisten dari waktu ke waktu.

Akan tetapi, reliabilitas saja rupanya tidak cukup karena itu tidak menjamin validitas. Artinya, sesuatu yang konsisten belum tentu benar. Dalam contoh di atas misalnya, walaupun memiliki konsistensi yang baik, tapi rupanya alat timbang itu gagal memenuhi standar validitas karena berat badan saya sesungguhnya adalah 70 kg, sebagai contoh. Maka ada selisih sekitar 10 kg di setiap pengukuran yang dilakukan.

Di dunia ini ada begitu banyak orang yang konsisten dalam mengoperasionalkan sifat (trait), perasaan (affect), perilaku (behavior), dan keyakinan (belief) mereka. Akan tetapi, banyak yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka konsisten pada hal yang salah. Atau mungkin mereka sengaja untuk konsisten dalam kesalahan.

Dengan memahami ini, kita akan menyadari betapa pentingnya meminta konsistensi di atas qalbu yang selalu bergolak. Dan doa yang Rasulullah ajarkan begitu jelas dan presisi karena tidak hanya meminta konsistensi, tapi juga menempatkan konsistensi itu pada tempat yang haq, yaitu di atas agama Allah.

#Asrama 27 Mahasiswa KSU

1 comment:

  1. halo kak. saya tertarik pemahaman2 ttg psikologi islam. boleh kenalan dan berdiskusi?

    ReplyDelete