Showing posts with label Campus Zone. Show all posts
Showing posts with label Campus Zone. Show all posts

October 29, 2019

Fix Arabic Numbering Issue in Ms Word 2016 & 2019


Parah. Hampir saja saya stres dengan masalah numbering di Ms Word. Masalah yang sangat sepele sebenarnya, tapi menyita banyak sekali waktu. Sudah diotak-atik kesana kemari tetap belum terpecahkan juga. Untunglah percobaan iseng-iseng saya akhirnya membuahkan hasil.
Ilustrasi nomor Arab (sumber: quora.com)

Cerita bermula dari rasa penasaran saya yang ingin memakai office lebih baru. Karena kampus saya menyediakan banyak software gratis berlisensi asli, rasanya sayang kalau tidak dimanfaatkan. Akhirnya saya download office 2016 (sebelumnya office saya versi 2007).

Masalah muncul ketika mengatur numbering (penomoran). Karena saya sedang menulis tesis yang berbahasa Arab, maka otomatis penomoran juga harus memakai angka Arab. Yang bikin kesal, Word 2016 yang saya install ini selalu berbalik ke angka latin (1 2 3 4 5) ketika saya mengetik penomoran dengan angka Arab.

Saya sudah coba googling kesana kemari, tips yang banyak saya dapat dari website adalah dengan mengatur settingan. Here is the first trick:

  • Go to File – Option – Advanced 
  • Then under menu ‘show document content’ change numeral from Arabic to Context
  • Click OK

Tetapi sayang cara ini hanya mengganti nomor di tubuh dokumen secara umum, sedangkan format numbering-nya tidak terganti, masih tetap sama dengan angka latin. Selain tips itu, ada juga yang menyarankan dengan menambah menu RTL RUN di Quick Access Toolbar. If the first trick does not work for you, then try this one:

  • Go to File – Option – Customize Ribbon
  • Under menu ‘choose command from’ choose ‘All Commands’
  • Search RTL RUN and add to Main Tab
  • Click OK
  • Then at the top left in your Word will appear small circle
  • Click (or block) the numbering you want to change, and click the small circle above
  • The numbering should be changed to Arabic version

Dengan cara ini, awalnya numbering bisa berubah ke versi Arab, tapi keesokan harinya ketika saya buka Word lagi, cara seperti ini sudah tidak mempan. Saya sudah coba otak-atik dari Timur ke Barat masih belum bisa juga. Akhirnya setelah sekian hari mencoba, saya menyerah. Saya ambil jalan pintas dengan menginstall Word 2019. Harapannya masalah numbering tersebut akan terselesaikan.

Tetapi sayang seribu sayang, ternyata masalah itu masih muncul. Ya Allah, ngebul sudah kepala saya dibuatnya. Permasalahnnya sangat sepele, tapi jadi berpele-pele karena format penulisan tesis saya jadi tidak sesuai dengan pedoman. Bakal kena revisi terus kalau seperti ini.

Dengan kesabaran yang dipaksakan, barusan saya googling lagi cara untuk menyelesaikan masalah ini. Caranya masih belum saya dapat, tapi dari google saya dapat inspirasi. Awalnya saya lihat keterangan bahwa RTL itu singkatan dari Right to Left. Pikiran saya langsung terbersit dengan format penulisan Arab (Right to Left) yang yang berkebalikan dengan penulisan latin (Left to Right). Kalau ada RTL, mestinya ada LTR juga dong.

Setelah saya cari di menu All Commands tadi, ternyata memang ada LTR RUN. Dan setelah saya coba mengaplikasikannya, alhamdulillah berhasil. Format numbering jadi sesuai dengan angka Arab. Here is the ultimate trick for you deadlock people:

  • Go to File – Option – Customize Ribbon
  • Under menu ‘choose command from’ choose ‘All Commands’
  • Search LTR RUN and add to Main Tab
  • Click OK
  • Then at the top left in your Word will appear small circle
  • Click (or block) the numbering you want to change, and click the small circle above
  • The numbering should be changed to Arabic version

Semoga trik ini langgeng dan bisa dipakai terus. Sudah seminggu lebih saya dipusingkan dengan urusan yang kelihatannya sangat sepele ini. Long live the trick!!!

Asrama Mahasiswa KSU

November 28, 2018

Personal Psychotherapy Model

As a counseling psychology student, we are offered many approaches to psychotherapy. Every single therapy has its own characteristics and specialties which are highly correlated to the journey of life of the founder. We cannot deny that personality and life experience contributes to the theory and technique in psychotherapy. For example, Victor Frankl’s experience in Nazi concentration camps has leads him to develop logotherapy.

At the very first time I read psychoanalyst and behaviorist techniques in Corey’s book, Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy, I got overwhelmed because the list of technique was so long. Of course, it is impossible to be understood in only one time reading. Moreover, I am not a person who like dependant on the technique. In my opinion overly being stick to the technique make us become stiff whereas psychotherapy is not like engineering, it is an art to facing and dealing with human beings.


After finishing psychoanalysis and behaviorism, I moved to other approach named person-centered therapy by Carl Rogers. I began with a brief biography of Rogers and got interested in his history of life. It says that his family atmosphere characterized by close and warm relationships but also by strict religious standards. Rogers also was an introverted person, and he spent a lot of time reading and engaging in imaginative activity and reflection. When I was read this section, I realize that I have some similarity with him.
Ilustrasi Modifikasi Perilaku (sumber : blogpsikologi.blogspot.com)

Then my interest in person-centered therapy continues to the therapeutic process. Rogers is not a psychologist who emphasize the techniques during the therapeutic process. In contrast, he makes the client be psychologist itself. Rogers believes that client is the person who most understands himself. It means they know their problems as well. Rogers also being convinced that client has the capacity to solve their problem.

So what is the therapist roles? As Rogers said, therapist needs three attributes to create a growth-promoting climate in which individuals can move forward and become what they are capable of becoming: (1) congruence (genuineness, or realness), (2) unconditional positive regard (acceptance and caring), and (3) accurate empathic understanding. According to Rogers, if therapists communicate these attitudes, those being helped will become less defensive and more open to themselves and their world, and they will behave in prosocial and constructive ways.

In my perspective, these attributes make therapeutic process become less stressful, for both client and therapist. It also makes therapist pay his full attention to the client instead of the techniques. I myself like this approach because it places the human in their nature as a human being, not like an animal.

#Ditulis untuk memenuhi tugas matakuliah Psychotherapy and Behavior Modification"(al-'ilaj an-nafsi wa ta'dil as-suluk) di semester lalu. Ditulis dengan bahasa Inggris karena deadline yang sudah sangat mepet.

#Asrama Mahasiswa KSU

September 24, 2018

Si Putih

Si Putih. Sebut saja demikian. Itu bukan nama sapi, apalagi anjing. Itu julukan untuk laptop saya. Eh bukan laptop, tapi netbook merek Samsung tipe NC108. Usianya sudah tujuh tahun tiga bulan dan hingga kini masih aktif saya pakai setiap hari. Sebagai barang elektronik zaman now, usia Si Putih terbilang cukup panjang dengan performa yang masih oke. Selama kurun waktu itu, saya tidak pernah mendapati Si Putih sakit keras. Baterainya pun masih lumayan, kuat dipakai hingga tiga jam. 

Satu-satunya penyakit yang menimpa Si Putih adalah adanya lingkaran hitam yang berada di pojok kanan layar. Persis mirip black hole. Teman saya sering meledek untuk tidak terlalu dekat dengan lingkaran tersebut karena khawatir tersedot, haha. Lingkaran itu muncul setelah Si Putih jatuh menghentak dari ketinggian satu meter. Awalnya hanya titik-titik kecil di beberapa bagian, kemudian menyebar dan jadilah bentuknya seperti sekarang. Tetapi untungnya black hole itu tidak menghalangi pandangan saya dan tidak mengganggu kinerja sama sekali.

Si Putih dengan black hole-nya
Si Putih saya beli tepat di akhir semester enam, yaitu ketika saya akan mengikuti program pertukaran pelajar di Belanda di semester tujuh. Saat itu saya khawatir tidak menemukan rental komputer di sana sehingga saya minta ke ibu untuk dibelikan laptop, haha. Tetapi saya kira saat itu memang saat yang sangat tepat untuk membeli laptop karena setelah dari Belanda saya langsung bergelut dengan skripsi.

Ibu mentransfer uang ke saya tiga juta. Dengan uang itu saya langsung berangkat ke El’s Computer yang terletak di Jalan C. Simanjuntak daerah Terban dekat Mirota Kampus. Dengan mahar 2,8 juta, saya bisa memboyong Si Putih ke kamar kost.

Saya ingat betul saat itu saya menggunakan sepeda saya menuju toko itu. Jarak dari kostan ke toko memang tidak terlalu jauh, tidak sampai dua kilometer, tetapi jalannya agak menurun. Dari kost ke toko menurun, sedangkan dari toko ke kost menanjak. Tetapi karena saat itu saya memboyong “mainan baru”, lelah akibat kondisi jalan yang menanjak ketika pulang pun teralihkan dengan suka cita mendapatkan Si Putih.

Bersama Si Putih, saya telah melewati berbagai suka dan duka. Melalui Si Putih pula, saya menumpahkan ide untuk skripsi dan tesis sehingga dapat menghasilkan gelar sarjana dan master. Rasanya sudah banyak sekali jasa Si Putih bagi saya.

Sebenarnya sudah beberapa kali muncul keinginan untuk membeli laptop baru. Apalagi jika melihat spesifikasi komputer untuk software-software terkini sudah semakin tinggi. Biar bagaimanapun, Si Putih yang berasal dari generasi lampau akan kewalahan jika berhadapan dengan software (apalagi operating system) paling mutakhir. Tetapi niat itu masih belum saya laksanakan karena saya pikir Si Putih masih cukup bugar untuk sekedar melaksanakan tugas Office, yang menjadi perangkat utama saya dalam bekerja. Dan alasan terpenting mengapa saya masih mempertahankan laptop ini adalah karena laptop ini salah satu kenangan dari ibu saya. Saya berharap kebaikan-kebaikan yang muncul dari laptop ini akan mengalir juga pahalanya bagi beliau.

#Asrama Mahasiswa King Saud University, Riyadh

March 16, 2018

Menikmati Kuliner Pakistan dan Mengunjungi Istana Raja Abdul Aziz

Tadi malam saya diundang makan oleh salah satu dosen bahasa Arab saya. Beliau baru saja pulang dari Amerika untuk menemani istrinya yang kuliah di sana, sekaligus belajar bahasa Inggris. Malam itu saya tidak sendiri, ada tiga orang lain yang juga diundang, satu orang Jepang, satu Kanada, dan satu Malaysia. Kecuali Si Jepang, kami semua pernah diajar beliau ketika di ma’had dulu dan kami sepakat bahwa belajar bersama beliau sangat menyenangkan. 
Tempat makan yang dipilih adalah sebuah restoran Pakistan. Tempat itu dipilih oleh teman saya yang Kanada. Meskipun berpaspor Kanada (dan Amerika), tapi sejatinya dia orang Pakistan. Yah, sudah jadi rahasia umum penduduk Pakistan menyebar ke berbagai daerah di seluruh dunia. Bahkan salah satu kota termasyhur di dunia, London, kini diperintah oleh seorang keturunan Pakistan. Saking banyaknya orang Pakistan yang menetap di sana, kini kota tersebut dijuluki Londonistan.  

Restoran yang kami kunjungi rupanya bukan restoran besar untuk makan malam. Kebetulan saya juga sudah makan malam di asrama. Itu hanya restoran kecil, semacam kafe, yang menjual berbagai macam makanan khas Pakistan. Hampir semua makanan itu rasanya manis atau lebih tepat disebut manisan. Kami mencicipi Gulab Jamuns, Jalebi, Ras Malai, Burfi, dan banyak makanan lain yang saya tidak hafal namanya.

Berbagai kuliner Pakistan (sumber : nextews.com)
Setelah ngobrol ngalor-ngidul di kafe, dosen kami mengajak jalan-jalan ke Istana Raja Abdul Aziz. Atau lebih tepatnya bekas istana Raja Abdul Aziz yang kini menjadi museum dan taman. Sebenarnya saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, yang merupakan jam tidur saya (hehe), tapi untuk menghormati beliau, saya terima juga ajakannya itu. Toh, saya juga belum pernah jalan-jalan ke sana.

Sayangnya saat itu istana sedang ditutup. Jadi kami tidak bisa melihat-lihat ke dalamnya. Padahal dosen saya bilang biasanya istana selalu dibuka untuk umum. Meskipun demikian, berkeliling mengitari bagian-bagian luar istana saja sudah cukup membuat saya kagum. Arsitektur dan design tamannya sangat khas sekali. Megah dengan gaya khas Timur Tengah. Dosen saya bilang istana ini dibangun dengan menggunakan tin (tanah liat) sebagai material utamanya.

Istana Raja Abdul Aziz (sumber : www.alweeam.com.sa)
Satu hal yang membuat saya takjub dari Saudi adalah bagaimana ketatnya mereka mengatur wilayah umum dan khusus. Sudah menjadi rahasia bersama bahwa urusan ikhtilat (percampuran) antara laki-laki dan perempuan di Saudi adalah urusan yang sangat sensitif. Kita tidak bisa masuk ke sembarang tempat tanpa melihat peruntukan tempat tersebut, apakah dibuka untuk umum atau khusus untuk perempuan/keluarga. Seperti di taman istana tersebut misalnya. Ketika kami mau masuk ke satu bagian, kami dicegah oleh satpam taman tersebut. Dia bilang tempat itu hanya untuk keluarga, sehingga kami (yang semuanya adalah lelaki) dilarang masuk. Lain hal kalau kami membawa istri dan anak-anak, satpam akan mengizinkan kami masuk. 

Selain takjub melihat istana dan ketatnya peraturan ikhtilat, saya juga takjub (atau lebih tepatnya heran?) melihat kebiasaan orang Saudi yang jarang ditemui di kebudayaan Indonesia, yaitu kegemaran mereka beraktivitas di malam hari. Ya, mengingat cuaca di Saudi umumnya sangat panas di siang hari, maka beraktivitas di waktu malam cenderung lebih disenangi. Saya sendiri, meskipun sudah hampir tiga tahun tinggal di Saudi, tetap saja terheran-heran melihat semaraknya aktivitas malam mereka. Apalagi saya juga jarang keluar kampus, sehingga pemandangan seperti malam itu sangat jarang saya temui. 

Malam itu, Istana Raja Abdul Aziz, yang kini menjadi tempat wisata, ramai dikunjungi banyak orang, terutama orang Saudi. Mereka umumnya datang bersama keluarganya, termasuk anak-anak kecilnya. Kalau jam sepuluh malam biasanya anak-anak Indonesia sudah lelap dalam tidurnya, anak-anak Saudi justru sedang aktif-aktifnya main kejar-kejaran. Sampai pukul 12 malam, dimana kami sudah beranjak pulang, tidak terlihat tanda-tanda bubarnya pengunjung di taman itu. 
Salah satu bagian istana (sumber : dokumentasi pribadi)
Kalau dipikir-pikir sebenarnya agak disayangkan juga, mengapa saya tidak banyak bereksplorasi selama hampir tiga tahun di Riyadh. Tetapi posisi kampus yang berada di pinggir kota, transportasi umum yang minim (hanya ada taksi), dan tempat hiburan yang terbatas membuat kegiatan “bersemedi” di asrama memang rasanya lebih favorable.

#Asrama 27

February 28, 2018

Perpus Snickers

Belakangan ini saya sedang hobi ke perpus. Bukan karena rajin, tetapi lebih karena ingin menghindari udara dingin di kamar. Kebetulan di kampus saya ada perpustakaan besar dan homy, King Salman Central Library namanya. Terdiri dari enam lantai yang tiap lantainya kurang lebih setara dengan ukuran lapangan bola. Gak heran kalau menurut pengakuannya, perpustakaan ini adalah yang terbesar di Timur Tengah. 
Perpustaan King Salman (sumber : dok. pribadi)
Akan tetapi saya bukan sedang ingin membicarakan perpus itu. Ada hal yang menurut saya lebih menarik untuk dituliskan, yaitu tentang perilaku seorang pengunjung perpus yang seringkali saya temui. Maklumlah, mahasiswa psikologi, matanya lebih tergoda mengamati gerak gerik manusia. 

Si pengunjung ini, sebutlah namanya Mahmud, seringkali mencari posisi yang kurang lebih sama dengan tempat saya. Yah, hanya beda dua atau tiga meja saja kira-kira. Padahal ada banyak sekali sudut di perpus yang bisa dijadikan tempat mangkal. Masa iya sih dari “enam lapangan bola”, gak ada satu sudutpun yang menarik?

Saya sendiri lebih tertarik di sudut itu karena di sana tidak banyak orang. Walaupun ada banyak meja, tapi biasanya cuma saya dan Mahmud yang mangkal. Kadang ada orang lain juga, tetapi mereka umumnya cuma pengunjung singgahan. Tidak seperti saya dan Mahmud yang meng-kavling  tempat dalam waktu yang lama.

Saya pribadi sebenarnya tidak masalah kalau Mahmud mau duduk di sudut itu. Ya iyalah, emangnya itu perpus punya nenek moyang gue, bisa ngatur seenaknya? Tapi masalahnya ada satu perilakunya yang bikin saya sungkan. Mahmud begitu baik, saking baiknya setiap kali datang dia pasti memberi saya snack pengganjal perut macam Snickers atau Kit Kat. Yah, sebagai manusia yang mengalir di tubuhnya darah NKRI (baca: Indonesia banget), saya jadi gak enak hati dong. Masa saya disumbang terus, emangnya saya masjid?

Kalau sungkan, kenapa gak cari tempat lain aja?

Itulah dia. Saya malas mengeksplorasi sudut lain karena di sudut ini saya sering dapat rejeki sudah terlanjur pewe. Jujur. Kalian taulah gimana rasanya kalau buang air di tempat lain selain di rumah, kurang nyaman kan? Nah begitulah kira-kira, sudut ini sudah seperti rumah bagi saya, tapi bukan untuk buang air, melainkan untuk mencari kehangatan.  

Sebagai orang Indonesia yang menghayati sila kelima, awalnya saya berpikir tidak adil rasanya kalau tidak membalas perbuatannya. Tapi setelah saya renungkan lagi, sila kelima kan berbunyi: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sedangkan Mahmud orang Saudi. Jadi, gak usahlah saya balas perbuatannya.

#Ditulis di Perpus Pusat Malik Salman

June 11, 2017

Akhir Cerita Sebuah Kelas Bahasa


Selasa 16 Mei 2017 menjadi hari terakhir saya berada di Ma’had Lughoh. Tidak terasa sudah dua tahun saya investasikan waktu saya di sana. Terasa begitu singkat jika mengenangnya saat ini, tapi tampak sangat lambat ketika menjalaninya dulu.

Kuliah di Ma’had Lughoh bisa dibilang susah-susah gampang (susahnya dua kali lho). Susah karena saya menjalani aktivitas yang repetitif seperti layaknya anak sekolah. Pergi pagi, pulang siang plus dibekeli PR hampir setiap hari. Susah karena saya tidak punya background Bahasa Arab sama sekali, bahkan sekedar angka pun dulu saya tidak tau. Lalu gampang karena para assatidzah di Ma’had yang begitu pengertian (semoga Allah menjaga mereka).

Dari empat semester yang saya lalui di Ma’had, bisa dibilang semester empat lah yang paling menyulitkan saya. Di semester itu saya ditempatkan bersama orang-orang yang sebenarnya sudah expert dalam Bahasa Arab. Total jumlah mahasiswa di kelas saya ada 6 orang, 2 dari China, 1 dari Jepang, 1 dari Afganistan, dan 1 lagi dari Somalia. 

Dua orang China itu adalah lulusan S1 Bahasa Arab di negaranya. Mereka datang ke Saudi hanya untuk memperbaiki kompetensi bahasa mereka. Satu orang Jepang adalah lulusan Ma’had Lughoh di Jepang dan pernah satu tahun belajar di Mesir. Dia menjadi mahasiswa terpandai di kelas dengan kosakata yang sudah sangat kaya. Mereka (orang China dan Jepang) itu baru bergabung di Ma’had pada semester ketiga. Lalu satu orang dari Afganistan juga pernah belajar Bahasa Arab di negaranya. Selain itu, bahasa nasional dia, Persia, merupakan bahasa yang masih serumpun dengan Bahasa Arab, bahkan hurufnya pun serupa. Lalu terakhir, satu orang Somalia, meski mengaku baru belajar Bahasa Arab di Saudi, tapi dia adalah lulusan madrasah diniyah. Tentu sudah tidak asing dengan istilah-istilah dalam Bahasa Arab.

Konsekuensi negatif dari penempatan yang tidak strategis itu adalah, saya menjadi mahasiswa yang tampak paling lemah di kelas. Celakanya, beberapa matakuliah seperti ta’bir syafawi (speaking), istima’ (listening) dan qiro’ah muwassa’ah (extensive reading) menggunakan sistem penilaian berdasarkan performa di kelas. Otomatis norma pembandingnya adalah teman-teman sekelas saya yang expert-expert itu. Dibandingkan dengan mereka tentu membuat saya kerdil. Bahkan saya sempat mengalami degradasi percaya diri akibat ketimpangan skill diantara kami.

Meski ada konsekuensi negatif dalam hal nilai (IPK), tapi saya tak menampik konsekuensi positif yang juga menjamur dari sistem penempatan itu. Ditempatkan bersama mereka yang sudah pandai membuat saya memiliki kemajuan yang pesat dalam bahasa. Istilah-istilah dan kosakata yang mereka gunakan umumnya sudah lebih maju dari mahasiswa kelas sebelah yang juga semester empat. Bahkan beberapa dosen kami juga sempat mengutarakan hal itu, bahwa kelas kami memiliki skill yang lebih advance daripada kelas sebelah (ehem).

Farewell Party
Dan penutup perjalanan kami selama di Ma’had adalah sebuah farewell party pada Selasa malam, 23 Mei 2017. Malam itu adalah malam terakhir duo China di Saudi. Esoknya mereka akan terbang ke China untuk final exit. Sedangkan teman-teman yang lain masih menunggu pemberkasan untuk masuk ke tingkat universitas. 

Well, meski agak ganjil, tapi saya akui saya sedih dengan perpisahan ini (apakah perpisahan selalu menyedihkan?). Kami baru saja akrab satu sama lain, menemukan chemistry untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Tapi kami harus segera berpisah dan menjalani hidup kami masing-masing. Duo China akan kembali bekerja sebagai PNS di negaranya. Si Jepang akan masuk ke kuliah (S1, meski dia sudah punya gelar S1) untuk mengejar cita-citanya sebagai sastrawan Bahasa Arab. Si Afganistan akan terbang ke Amerika untuk berkumpul bersama keluarganya. Dan Si Somalia juga akan masuk ke kuliah untuk merasakan pendidikan tinggi yang merupakan barang langka di negaranya. Lalau bagaimana dengan saya? Hmm…pertanyaan sulit. Tidak bisa saya jawab sekarang.

Kembali ke farewell party, “pesta” itu dibagi menjadi dua shift. Shift pertama kami makan malam di sebuah mall di Riyadh. Sejujurnya ini adalah pertama kali saya masuk mall di Arab Saudi, haha. Saat itu hampir semua tagihan dibayar oleh Si Jepang. Luar biasa memang orang ini. Yang menarik, saat itu Si Jepang memakai kimono (pakaian khas Jepang) lengkap dengan sandal bakyak-nya, dan akibat pakaiannya itu, dia sempat beberapa kali berurusan dengan security mall. Maklum, Saudi termasuk negara yang “kolot” sehingga cara berpakaian pun sangat diperhatikan. Beruntung, meski sempat dilarang, Si Jepang pada akhirnya diperbolehkan masuk mall. 

Kalau Si Jepang memakai kimono yang sangat menarik (terbukti beberapa orang minta foto sama dia), maka Si Somalia memakai kemeja dan dasi, lengkap dengan jasnya agar tidak kalah menarik. Alih-alih membuat orang tertarik, menurut saya justru terlihat sangat norak, haha. FYI, Si Somalia ini adalah sasaran bully di kelas. Dia seringkali membuat orang tertawa dengan tingkahnya. Kalau sudah berdebat dengan Si Afganistan, tidak ada yang bisa memisahkan kecuali jam pulang. Meski Si Somalia seringkali di-bully, tapi dia tidak pernah marah. Itu yang sangat saya suka darinya.

Shift pertama selesai sekitar jam sepuluh malam. Kami langsung kembali ke kampus untuk melanjutkan farewell party shift kedua karena pada shift pertama tadi Si Afganistan urung bergabung. Shift kedua berlokasi di kafe kampus. Kami ngobrol lama sekali di sana. Hampir jam dua dinihari kami baru bubar. Sejujurnya saya tidak pernah bergadang selama di Saudi dan sangat rentan ngantuk, tapi pada malam itu selalu ada bahan cerita untuk kami obrolkan sehingga tak terasa waktu sudah sangat larut. 

Di kesempatan itu pula kami bertukar cindera mata sebagai kenang-kenangan sebelum berpisah. Mengingat saya tidak menyiapkan apa-apa dari Indonesia, maka gantungan kunci dari Mesir saya jadikan cindera mata untuk mereka. Saya sendiri dapat beberapa cindera mata dari Duo China dan Jepang. 

Setelah benar-benar kehabisan bahan obrolan, ditambah energi yang sudah melemah, kami pulang ke mabna (asrama) masing-masing dengan kepala berat. Berat karena perpisahan, juga berat karena ngantuk.

#Home Sweet Home, Tangsel
#Perdana ngetik pake iPad dan eksternal keyboard-nya, enak juga

May 16, 2017

Thesis : The Most Destructive of Student Mentality



Kita sering berharap agar kita bisa meraih kesuksesan bersama teman-teman yang membersamai kita sejak awal. Anak-anak SMA kelas XII misalnya, indikator kesuksesan yang paling utama bagi mereka adalah lulus ujian nasional. Setiap siswa tentu berharap agar dirinya dan semua temannya, terutama yang satu sekolah, bisa lulus tanpa terkecuali. Ada perasaan kebersamaan yang kuat diantara mereka karena mereka memulai perjuangan itu bersama-sama.  Mereka memahami susah dan senangnya menghadapi perjuangan itu. 

Pun begitu dengan anak kuliah, indikator kesuksesan mereka juga sama, yaitu lulus dan diwisuda. Begitu besar harapan kita agar semua teman seperjuangan kita bisa lulus dan diwisuda. Bersama-sama merasakan suka cita memakai toga setelah perjuangan panjang nan melelahkan di bangku kuliah. Akan tetapi, betapapun mulianya harapan itu, takdir sering berkata lain. Sering kita melihat teman kita (atau bahkan diri kita sendiri) punya masalah serius dengan skripsinya. Masalah yang pada akhirnya berdampak pada psikologisnya. Perasaan tertekan, stres, kemudian depresi karena skripsi yang tak kunjung selesai tidak jarang menjangkiti mahasiswa tingkat akhir. Bagi mereka yang memiliki daya lenting super, mungkin bisa bangkit setelah terpuruk untuk kemudian menyelesaikan skripsinya. Tapi sayangnya tidak semua orang dikaruniai sifat itu.

Ah, skripsi memang selalu menjadi momok paling menakutkan bagi mahasiswa. Kenapa menakutkan? Karena daya rusak skripsi bagi mental mahasiswa sangat tidak berpola. Dia meneror siapa saja, baik yang cerdas maupun kurang cerdas. Yang relijius maupun pendosa. Yang ber-IPK dewa maupun dua koma. Semua bisa terseret ke dalam stres yang berkelanjutan akibat skripsi yang tak kunjung kelar. Saya punya segudang contoh kasus dari permasalahan ini. Jadi jangan dikira orang yang cerdas bisa dengan mudah menyelesaikan skripsinya. Juga jangan beranggapan orang yang relijius akan lancar-lancar saja skripsinya. Belum tentu! Karena sekali lagi, semua variabel itu tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan kesuksesan menulis skripsi.

Menulis skripsi memang bukan sekedar urusan kecerdasan kognitif semata, tapi merupakan gabungan dari kecerdasan emosi dan spiritual. Ketika menulis skripsi mental kita akan digedor sekuat-kuatnya melalui berbagai permasalahan, entah ketidaksepahaman ide dengan dosen pembimbing, kesulitan dalam mencari rujukan, rasa malas yang dituruti, atau hal-hal administratif yang kelihatannya sepele. Penumpukan masalah itu bisa menggiring kondisi psikologis seseorang ke level terendah.

Saya pribadi, sangat tidak tega melihat kawan yang tertekan luar biasa karena skripsi atau tesis yang belum kelar. Tahun lalu, ketika saya sowan ke kampus saya (MMB UGM), seorang pengelola prodi bercerita kepada saya bahwa ada mahasiswa yang stres karena tesisnya belum juga selesai. “Badannya itu sampai habis lho mas, kurus banget sekarang” cerita karyawan itu kepada saya. Kisah dan deskripsi dari karyawan itu membuat saya sangat sedih karena saya kenal betul mahasiswa yang dimaksud. Saya tau dia mahasiswa yang pintar dan mudah bergaul. Saya juga sering melihat keseharian beliau yang selalu ceria dan antusias. Sampai kemudian keceriaan itu terampas oleh tesis.

Akan tetapi kabar itu tidak lebih mengagetkan dari kabar yang saya terima kemarin di salah satu grup BBM. Melalui grup itu, dosen kami, yang juga merupakan sekretaris prodi, mengabarkan bahwa mahasiswa angkatan 2013 yang tidak lulus bulan Juli tahun ini akan di-drop out. Hal yang membuat saya kaget bukan informasi drop out-nya, karena memang sejak awal kita sudah diwanti-wanti bahwa kuliah S2 cuma diberi jatah maksimal 4 tahun, saya kaget karena jumlah teman seangkatan saya yang belum lulus ternyata mencapai 10 orang. Itu artinya sepertiga dari jumlah keseluruhan kami. Angka yang fantastis menurut saya.

Apa sebab utama keterlambatan mereka? Allahu a’lam. Masing-masing orang pasti memiliki kisahnya sendiri. Saya hanya sedih jika mereka benar-benar di-drop out. Saya sedih karena saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu mereka, orang-orang yang membersamai saya sejak memulai  kuliah S2. Dan saya sangat sedih karena ternyata saya sangat sibuk dengan urusan saya sendiri, sampai tidak tau bahwa ada 10 orang dari teman saya yang terancam DO. 

#Asrama Mahasiswa King Saud University – Riyadh

March 3, 2017

يعيش بحماس

 
نفسك عالم عجيب! يتبدل كل لحظة ويتغير ولا يستقر على حال.. تحب المرء فتراه ملكا, ثم تكرهه فتبصره شيطانا, وما كان ملكا ولا كان شيطانا وما تبدل! ولكن تبدلت (حالة نفسك)
.
وتكون في مسرة فترى الدنيا ضاحكة, ثم تراها وأنت في كدر باكية قد فرغت في سواد الحداد.. ما ضحكت الدنيا قط ولا بكت! ولكن كنت أنت (الضاحك الباكي). مسكين جدا أنت حين تظن أن الكره يجعلك أقوى, وأن الحقد يجعلك أذكى.. وأن القسوة والجفاف هيا ما تجعلك إنسانا مترحما!

تعلم أن تضحك مع من معك, وأن تشاركه ألمه ومعاناته.. عش معه وتعايش به عش كبيرا, وتعلم أن تحتوي كل من يمر بك. ولا تصرخ عندما يتأخر صديقك, ولا تجزع حين تفقد شيئا يضحك. تذكر أن كل شيء قد كان في لوحة القدر قبل أن تكون شخصا من بين ملايين البشر!

إن خسرت شيئا فتذكر: أنك قد ربحت أشياء. وإن فاتك موعد: فتذكر أنك قد تلحق موعدا آخر! مهما كان الألم مريرا, ومهما كان القادم مجهولا افتح عينيك للأحلام والطموح.. فغدا يوم جديد, وغدا أنت شخص جديد.

 إسكان الطلاب بجامعة الملك سعود بالرياض

July 20, 2015

Nikmat yang Banyak


Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fih kamaa yuhibbu Robbuna wa yardho, wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Amma ba’du.

Sekiranya manusia mencoba menghitung nikmat Allah, maka sungguh dia tidak akan mampu menghitungnya (wa in ta’uddu ni’matallahi laa tuh suuha). Tugas kita sebenarnya sederhana saja, yaitu bersyukur, bersyukur, dan bersyukur atas samudra nikmat Allah yang tiada bertepi. Sholawat beriring salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Rasullullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Tidak ada yang ingin saya tulis dalam ulasan kali ini selain syukur, syukur, dan syukur atas karunia yang saya dapatkan selama bulan Ramadhan kemarin. Sungguh, Allah memberikan nikmat yang sangat banyak dan tidak terduga kepada saya di momen Ramadhan yang baru saja berlalu. Sampai malu rasanya diri ini karena rasa-rasanya lebih banyak khianat yang saya lakukan kepada Allah daripada ketaatan. Rasa-rasanya sangat mudah hati ini berburuk sangka atas takdir yang tidak sesuai dengan “keinginan”, padahal sudah jelas Dia mengatakan bahwa apa yang kita ingini mungkin saja suatu keburukan. Sedangkan apa yang Dia takdirkan, sudah pasti kebaikan (Al-Baqarah: 216).

Pada bulan Ramadhan yang lalu, setidaknya ada tiga hal yang membuat hati saya membuncah kegirangan setelah badai yang cukup menyempitkan hati selama beberapa bulan ke belakang. Pertama, saya telah menjalani ujian tesis dan berhasil lulus dari Magister Manajemen Bencana. Pendadaran dilaksanakan pada hari Selasa, 14 Juli 2014 jam 08.00-09.00 WIB. Waktu tersebut sangat mepet dengan waktu cuti bersama Lebaran yang jatuh pada tanggal 16 Juli 2015.

Saya sendiri baru daftar sidang Rabu minggu sebelumnya, 08 Juli 2015. Sebenarnya saya sendiri sudah agak pesimis bisa mendapatkan jadwal ujian sebelum Lebaran karena waktunya yang sangat mepet. Pak Pri, pengelola MMB, pun sudah merasa keberatan jika harus mengurus ujian di hari itu karena memang waktunya sudah terlalu dekat dengan waktu libur Lebaran. Beliau bahkan mengatakan bahwa ujian mungkin baru bisa dilaksanakan setelah Lebaran.

Akan tetapi, saya kemudian melakukan negosiasi kepada Pak Pri dengan mengatakan bahwa Prof. Junun, salah satu penguji, akan pergi ke luar negeri setelah Lebaran. Akhirnya beliau mencoba menghubungi dosen-dosen penguji untuk mengagendakan ujian saya di hari Selasa. Dari ke-empat dosen yang dihubungi, yaitu Bapak Prof. Junun, Ibu Dr. Rini, Bapak Rahmat Ph,D, dan Ibu Dr. Dina, hanya Ibu Dr. Rini yang tidak bisa karena beliau sedang umrah. Pak Pri dan Ibu Dina (pembimbing saya) mengusulkan agar mengganti Ibu Rini dengan Bapak Prof. Sudibyakto. Saya awalnya agak ragu karena tentu Prof. Sudib memiliki standar yang lebih tinggi dari Bu Rini. Tapi karena target saya adalah bisa ujian sebelum Lebaran, maka saya terima saja tawaran itu.

Singkat kata, ujian telah dilewati dengan baik. Prof Sudib yang awalnya saya khawatirkan kekritisannya, saat itu alhamdulillah masih bisa saya “ikuti”. Alhamdulillah saya pun mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari ke-empat dosen tersebut. Lega rasanya bisa mudik setelah ujian. Beban terasa lebih ringan.

Berita kedua yang membuat hati saya bergetar adalah berita dari King Saud University (KSU). FYI, saya telah mendaftar beasiswa di KSU dua tahun lalu untuk jenjang master di jurusan Psikologi, tapi belum ada kejelasan tentang diterima atau tidaknya saya sampai Ramadhan kemarin. Nah, bulan Ramadhan kemarin alhamdulillah saya mendapatkan email dari KSU yang isinya menyatakan bahwa saya diterima di KSU untuk jenjang master di jurusan Psikologi pada periode 2015/2016. Ah, benar-benar nikmat yang tidak disangka-sangka.

Nikmat itu semakin terasa ketika saya diberitahukan bahwa saya bisa mengonversi beasiswa S2 itu menjadi S3 karena saya telah menyelesaikan S2 saya di UGM. Saya diminta untuk segera datang ke Saudi untuk bisa memastikan hal tersebut. Bagi saya pribadi, kalaupun saya harus menempuh S2 lagi, itu tidaklah mengapa karena membayangkan bisa tinggal di Saudi saja sudah sangat luar biasa. Peluang saya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima semakin besar. Peluang untuk mendalami dan menyelami ajaran Islam juga semakin besar. Ah, nikmat apalagi yang harus saya dustakan?

Berita ketiga, ini terkait masalah hati. Tidak dapat dipungkiri bahwa momen Ramadhan kemarin benar-benar menjadi momen yang sangat penting. Saya sangat merasakan bagaimana Ramadhan “menjaga” dan mengondisikan saya (dan kaum muslimin lainnya) sehingga saya mendapatkan ketenangan hati yang tidak ternilai harganya. Kondisi yang berbeda saya rasakan sebelum Ramadhan dimana hati saya lebih sering gelisah oleh perkara-perkara yang sedang saya hadapi. Tapi ketika Ramadhan, walaupun perkaranya belum selesai, tapi alhamdulillah ketenangannya sudah saya dapatkan. Itulah yang lebih penting. Setidaknya saya dapat menghadapi permasalahan yang ada dengan hati yang lebih mantap, yakin, dan tenang.

Ramadhan kali ini memang benar-benar penuh berkah. Allah benar-benar mendatangkan rezeki dari pintu yang tidak disangka-sangka. Sejujurnya saya sendiri malu mendaptkan nikmat yang banyak ini. Malu karena saya sadar betapa sering saya khianat kepada-Nya. Semoga saya selalu bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

#Home Sweet Home

June 12, 2015

Buat Yang Mau Studi Di Luar Negeri



Belakangan ini saya memperhatikan animo mahasiswa untuk melanjutkan studinya di luar negeri semakin meninggi. Wajar sih, karena peluangnya memang semakin terbuka lebar. Beasiswa yang pemerintah tawarkan untuk studi di luar negeri memang sangat menggiurkan. Apalagi sejak ada LPDP, program beasiswa yang tidak kalah menterengnya dengan program beasiswa dari luar, terutama dari segi tunjangan hidup.

Banyak alasan orang ingin studi di luar negeri, ada yang karena memang ingin mencari kualitas kampus yang lebih baik, ada yang cuma karena ingin merasakan tinggal di luar negeri, ada juga yang hanya sekedar gengsi atau ikut-ikutan. Well, saya hanya bisa bilang: Innamal a’malu binniyat. Amal itu tergantung niat dan mereka akan mendapatkan sesuai apa yang mereka niatkan.

Meski studi di luar negeri menawarkan banyak keuntungan, tapi perlu dicermati bahwa studi di luar negeri juga bisa membuat kita (umat Islam) kehilangan beberapa nikmat, apalagi kalau kita studi di negeri yang muslimnya menjadi minoritas, seperti kebanyakan di negara-negara Eropa. Niscaya kita akan benar-benar merindukan nikmatnya tinggal di Indonesia. Beberapa nikmat yang (menurut saya) hilang itu diantaranya adalah:

a.       Hilangnya Romantisme Mendengar Senandung Adzan
Di negara-negara yang muslimnya menjadi minoritas, terutama di Eropa, suara adzan tidak boleh dikumandangkan dengan menggunakan speaker karena menurut mereka itu adalah hal yang mengganggu. Kita akan merasakan betapa berbedanya suasana di sana dibandingkan dengan di Indonesia. Tidak ada lagi suara muadzin yang sahut-menyahut di langit untuk mengingatkan bahwa waktu sholat telah masuk, kemudian mengajak kita sholat berjamaah. Kita harus selalu sadar dan ingat kapan waktu sholat itu tiba. Jika lalai, maka bisa jadi kita tidak sadar bahwa kita telah masuk waktu sholat berikutnya. Terlebih waktu sholat di Indonesia dengan di Eropa sangat berbeda.

Kalau kita datang ke masjid bersamaan dengan waktu sholat tiba, mungkin kita masih beruntung bisa mendengarkan suara adzan karena muadzin tetap boleh adzan di dalam masjid tanpa speaker. Akan tetapi apakah kita selalu bisa seperti itu? Dan lagi, romantisme ketika langit ramai dengan suara muadzin yang mengagungkan asma Allah tidak akan bisa terganti dengan hanya mendengarkan suara seorang muadzin di dalam masjid saja.

b.      Hilang/Berkurangnya Kesempatan I’tikaf (Berdiam Diri di Masjid)
Tidak semua masjid buka 24 jam. Ada masjid yang hanya dibuka ketika waktu sholat tiba dan ditutup lagi setelah sholat berjamaah selesai dilaksanakan. Bagi mereka yang tau keutamaan berdiam diri lebih lama di masjid, hal ini tentu akan sangat merugikan. Ada banyak sekali kebaikan yang akan berkurang atau hilang, misalnya kebaikan didoakan oleh malaikat, diampuni dosa, dihujamkan ketenangan, dan ditumbuhkan rasa cinta kepada Allah.

c.       Rusaknya Sholat Berjamaah
Bagi laki-laki, saya bisa mengatakan bahwa studi di luar negeri bisa menjadi pintu utama dalam merusak kebiasaan mereka dalam sholat berjamaah. Ada banyak sekali penghalangnya, mulai dari letak masjid yang sangat jauh, suara adzan yang tidak berkumandang  sehingga tidak menyadari bahwa waktu sholat telah masuk, hingga cuaca yang tidak bersahabat, terlebih ketika memasuki musim dingin. Alhasil, kalau tekad tidak kuat, maka penghalang-penghalang tersebut akan selalu menjadi pembenaran bagi kita untuk tidak sholat berjamaah.

d.      Terbatasnya Makanan Halal
Beruntung kalau kita tinggal di negara yang memiliki kelompok umat muslim yang kuat karena biasanya mereka akan memfasilitasi umat muslim lainnya dalam banyak hal, terutama penyediaan makanan halal. Di Belanda misalnya, ada komunitas muslim dari Turki yang sangat kuat (meski mereka tetap menjadi minoritas di Belanda). Mereka memiliki beberapa toko yang menyediakan makanan-makanan halal, baik yang mentah maupun yang sudah siap santap. Meskipun dalam beberapa hal harganya bisa lebih mahal.

Masalah harga ini saya lihat cukup menjadi penggoyah juga bagi beberapa orang sehingga tidak sedikit yang akhirnya memilih membeli di tempat yang harganya lebih murah meskipun tidak jelas kehalalannya. Pertanyaannya, tidakkah kita khawatir dengan nasib kita ketika datang hari penghisaban nanti?

e.      Terbatasnya Majelis Ilmu
Kalau di Indonesia, kita bisa dengan mudah menemukan majelis ilmu di masjid-masjid. Tetapi kalau di luar negeri tidak semudah itu. Majelis ilmu cukup jarang dilaksanakan dan kalaupun dilaksanakan, biasanya menggunakan bahasa “mereka” masing-masing. Di Belanda misalnya, karena banyak imigran dari Turki, biasanya majelis ilmu mereka juga menggunakan Bahasa Turki. Ada juga majelis ilmu yang menggunakan Bahasa Belanda dan Arab. Saya sendiri belum pernah menemukan majelis ilmu yang menggunakan Bahasa Inggris. Beruntung teman-teman dari Indonesia punya majelis ilmu sendiri yang biasanya diadakan sepekan sekali.

Well, mungkin kita masih bisa mengobati kerinduan bermajelis seperti di Indonesia dengan cara mendengarkan via web streaming. Tapi perlu diingat juga bahwa kita akan banyak kehilangan berkah dari majelis ilmu kalau kita hanya mendengar via web streaming, misalnya berkah berkumpul bersama orang sholih, berkah menempuh perjalanan menuntut ilmu (kan kalau web steaming tinggal duduk di depan laptop sambil ngemil :p), serta berkah berdiam diri di masjid.

Dengan berbagai nikmat yang banyak berkurang itu, maka muslim yang baik harus benar-benar memperhitungkan jika ia hendak belajar ke luar negeri yang minoritas muslim. Sehingga kepergiannya ke sana dapat membuat kualitas dirinya sebagai hamba Allah bertambah-tambah, bukan justru semakin terkikis dan tergerus karena pengaruh negeri yang dikunjungi. Harus diingat bahwa kerugian bukanlah ketika kita gagal pergi ke luar negeri, tapi kerugian adalah ketika kita jauh dari Allah. Meskipun gagal ke luar negeri, tapi kalau tambah dekat dengan Allah, maka sejatinya dia untung.

#Wisma Pakdhe