Showing posts with label Catatan Kajian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Kajian. Show all posts

March 6, 2019

Travelingnya Rasulullah

Zaman sekarang traveling sepertinya bukan lagi barang mewah. Kondisi ekonomi yang semakin baik, kemudahan akses (transportasi, tiket, informasi), dan keberagaman tempat wisata membuat traveler tak sungkan mengeluarkan uangnya. Kecenderungan itu semakin diperkuat berkat peran media sosial. Banyak orang berlomba mengunggah foto-fotonya yang sedang berlibur di berbagai tempat wisata demi mendapat “like” orang lain.
 
Ilustrasi traveling (sumber: selectquote.com)
Di satu sisi, traveling baik bagi pertumbuhan pariwisata karena dapat memberikan dampak positif bagi para pelakunya. Kantong-kantong wisata adalah ladang yang subur bagi perekonomian masyarakat. Tidak hanya bagi masyarakat sekitar, tapi juga bagi masyarakat daerah lain yang ikut bermain di bisnis wisata tersebut. Seperti bisnis cindera mata yang seringkali dipasok oleh produsen luar daerah.

Akan tetapi di sisi lain traveling juga membuat seseorang menjadi boros. Bahkan sebuah survei dari Rumah123 memprediksi 95% kaum milenial terancam jadi 'gelandangan' di 2020 karena ketidakmampuan membeli properti akibat gaya hidup boros, salah satunya hobi traveling (berita disini). Kalau sudah seperti ini, rasanya kecintaan pada traveling harus dipikir ulang. Kita tentu tidak mau menjadi gelandangan karena menuruti nafsu yang tidak ada habisnya.  

Bahkan kalau mau dicermati lebih jauh, sebenarnya keharusan membatasi hobi traveling bukan perkara hitung-hitungan materi semata, tapi juga ada alasan teologis dibaliknya. Sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam kitabnya Zaadul Ma’ad berikut ini:

كانت أسفاره صلى الله عليه وسلم دائرةً بين أربعة أسفار: سفره لهجرته، وسفره للجهاد وهو أكثرها، وسفره للعمرة، وسفره للحج.

(Safarnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meliputi empat perkara: untuk hijrah, untuk jihad dan ini yang paling banyak, untuk umroh serta untuk haji).

Ini menarik. Dalam penjelasan ini kita dapat melihat bagaimana Rasulullah sangat hati-hati memanfaatkan waktunya. Sehingga safarnya pun tidak dilakukan kecuali untuk ibadah, bukan untuk urusan yang remeh temeh seperti menghilangkan penat, mencari suasana baru atau sekedar mengusir kebosanan.

Sebagai umat yang mengaku mencintai Rasulullah, maka sudah sepantasnya kita mengikuti sunnah-sunnah beliau. Memang ini berat. Saya pribadi, sebagai orang yang suka traveling, sangat sulit jika diminta untuk tidak bepergian kecuali untuk empat hal di atas. Akan tetapi saya rasa hal itu dapat dimulai dengan mengurangi nafsu untuk traveling (yang cenderung mengarah kepada pemborosan). Jikapun sudah kebelet ingin traveling, sebisa mungkin perjalanan itu diniatkan untuk ibadah dan tidak bepergian ke tempat-tempat maksiat. Allahu ‘alam.

#Riyadh
المرجع:
الجوزية، ابن قيم. (٢٠١٤). زاد المعاد في هدي خير العباد. دمشق: مؤسسة الرسالة ناشرون.

April 1, 2017

Menspesialkan Jum’at


Syaikh Ibnu Qudamah dalam kitabnya Minhajul Qasidin menuliskan adab-adab yang berkaitan dengan sholat Jum’at. Ada sebelas adab yang beliau paparkan, diantaranya adalah:

  1. Mempersiapkan diri sejak hari Kamis dengan membersihkan pakaian dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Mengingat zuhudnya orang-orang salih terdahulu, biasanya mereka tidak punya pakaian yang banyak, maka Syaikh Ibnu Qudamah mengingatkan agar pakaian itu telah dibersihkan sejak hari Kamis supaya bisa dipakai di hari Jum’at. 
  2. Mandi pada hari Jum’at sebagaimana telah tertulis dalam kitab Bukhari dan Muslim. Dan sebaik-baiknya mandi Jum’at adalah ketika dilaksanakan sesaat sebelum berangkat ke masjid agar badan masih bersih dan segar.
  3. Menghiasi badan dengan pakaian-pakaian yang bersih, memotong kuku, bersiwak, memakai wangi-wangian serta memakai pakaian terbaik sebagaimana yang telah dicontohkan Rasululllah.
  4. Bergegas atau bersegera ke masjid dengan berjalan kaki. Dan selayaknya kita berjalan kaki dengan tenang dan khusyuk serta meniatkan diri untuk i’tikaf di masjid sampai waktu pelaksanaan sholat Jum’at benar-benar datang.
  5. Jangan melangkahi leher atau pundak jamaah lain demi mendapat tempat di depan dan tidak boleh memisahkan dua jamaah yang duduk berdekatan agar dirinya mendapatkan shaf, kecuali memang ada ruang yang cukup diantara dua jamaah itu.
  6. Tidak boleh berjalan di depan orang yang sedang sholat.
  7. Hendaknya kita mencari shaf yang paling awal, kecuali ada kemungkaran atau keburukan jika kita duduk di shaf itu. Syaikh Ibnu Qudamah tidak menerangkan apa yang dimaksud kemungkaran di sini. Kalau melihat situasi di zaman sekarang, rasanya tidak ada kemungkaran atau keburukan yang dimaksud, tapi bisa jadi di zaman dahulu kondisinya berbeda.
  8. Menyudahi sholat dan zikir ketika imam telah naik mimbar, lalu menjawab adzan serta mendengarkan khutbah dengan khusyuk.
  9. Sholat sunnah setelah sholat Jum’at sesuai dengan jumlah raka’at yang dikehendaki. BIsa dua, empat, atau enam raka’at.
  10. Berdiam diri di masjid sampai tiba waktu sholat Ashar. Dan apabila dia berdiam diri sampai waktu Maghrib, maka hal itu lebih afdhol mengingat keutamaan hari Jum’at dibandingkan dengan hari-hari lainnya.
  11. Hendaknya kita menghadirkan hati kita sepenuhnya pada hari Jum’at dan senantiasa berdzikir kepada Allah.
Perlu diketahui, kata seorang ustadz kitab Minhajul Qasidin ini adalah versi “bersih” dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Artinya, kitab ini berusaha memaparkan metode tazkiyatun nafs dengan dalil-dalil yang lebih shahih, mengingat banyak ulama yang mempermasalahkan hadits-hadits dalam kitab Ihya Ulumuddin.

Walau belum membaca sampai tuntas, saya merasa kitab Minhajul Qasidin ini kurang mengena untuk tazkiyatun nafs. Saya justru sangat penasaran dengan isi kitab Ihya Ulumuddin. Karena rasa penasaran itulah, akhirnya pada pameran buku Riyadh International Book Fair kemarin saya membeli kitab tersebut. Total ada lima jilid dan masing-masing jilid terdiri dari 500 an halaman lebih. Hal-hal seputar nafs dan qalb banyak dibahas di jilid ketiga. Saya baru baca beberapa halaman saja. Semoga dapat diambil manfaatnya.

#Asrama Mahasiswa KSU – Riyadh

February 7, 2017

Mendengar dan Mendengarkan

Setelah jeda dua pekan, perkuliahan kembali dimulai. Beranjak dari fase malas-malasan menuju rutinitas selalu tidak mudah. Butuh usaha ekstra untuk memanaskan “mesin”. Ditambah lagi suhu di Riyadh belakangan ini turun ke titik terendah, hingga minus dua derajat. Dengan suhu segitu, jangankan berangkat kuliah, mengangkat kaki untuk sarapan di mat’am (kantin) kampus saja rasanya seperti mengangkat palu Thor. Untung dalam kisah ini saya yang jadi Thor-nya, hehe. 

Sebagaimana biasa, kuliah di minggu pertama selalu dihadiri oleh hanya segelintir mahasiswa. Mungkin jumlahnya hanya seperempat. Para ustadz juga sebenarnya masih belum siap dengan materi kuliah. Biasanya minggu pertama memang hanya digunakan untuk ta’aruf, baik ta’aruf antara dosen dengan mahasiswa maupun mahasiswa dengan mata kuliahnya.
 
Sumber : islamdownload.net
Hari ini saya baru saja menjalani ta’aruf yang sangat berkesan dengan mata kuliah istima’ (listening). Dosen istima’ kali ini adalah orang Mesir, nama beliau Sya’ban (bisa jadi beliau lahir di bulan Rajab). Jujur sebenarnya saya agak khawatir diajar oleh orang Mesir karena mereka punya lahjah yang sama sekali berbeda dengan orang Saudi, apalagi jika mereka bicara dengan bahasa ‘amiyah (pasar) mereka. Duh, sebagai pemula saya sangat sulit memahaminya. Kemarin ketika rihlah ke Mesir juga saya seringkali garuk-garuk kepala karena roaming dengan bahasa mereka.

Akan tetapi dosen saya ini alhamdulillah hampir selalu memakai bahasa fushah (resmi). Setidaknya untuk pertemuan pertama tadi, hehe. Yah, meski terkadang beliau keseleo dan mengucapkan bahasa ’amiyah, tapi secara umum masih dapat dimengerti. Dan tadi beliau membawa pengantar mata kuliah istima’ dengan sangat baik.

Setelah kami saling ta’aruf, beliau membuka diskusi dengan melempar pertanyaan kepada kami, apa bedanya sama’a (سمع), istima’ (استمع), dan inshat (انصت)? Dua kata pertama telah kami pahami dan memang sering disampaikan oleh dosen istima’ sebelumnya, tapi kata terakhir masih asing di telinga kami. Karena tidak ada yang bisa menjawab kata terakhir, akhirnya beliau menjelaskan untuk kami.

“Sama’a artinya mendengar tanpa diniatkan dan tanpa tujuan. Misal kalian mendengar suara burung, suara mobil yang melintas, atau suara air di toilet. Kalian mendengar suara itu karena suara itu sampai ke telinga kalian, padahal kalian tidak berniat mendengarkannya” beliau memulai  penjelasannya. “Sedangkan istima’ artinya mendengarkan dengan kehati-hatian dan dengan tujuan. Misal kalian mendengarkan murottal Al-Qur’an, mendengarkan perkataan teman, mendengarkan penjelasan saya, dan sebagainya. Adapun inshat artinya mirip dengan istima’, bedanya derajat inshat lebih tinggi lagi, selain penuh kehati-hatian dan memiliki tujuan yang jelas, kalian juga bersungguh-sungguh, fokus dan mengambil faedah darinya” terang beliau.

Beliau lalu membacakan satu ayat Al-Qur’an untuk kami. Satu hal yang saya senang dari dosen-dosen di Arab adalah mereka begitu fluent dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Seringkali mereka mengambil contoh dari Al-Qur’an untuk menjelaskan satu konsep sehingga kami mudah memahaminya. Ini benar-benar membuat saya iri. Adapun ayat Al-Qur’an yang beliau baca pada kesempatan itu adalah ayat 204 dari surat Al-A’raf yang berbunyi:

وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون
“Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” 

“Pada ayat tersebut Allah memerintahkan kepada kita agar istima’ dan inshat ketika Al-Qur’an dibacakan” syarah beliau. “Perhatikan bahwa Allah tidak menggunakan kata isma’. Artinya Allah tidak ingin kita mendengar Al-Qur’an sambil lalu saja, melainkan harus dengan fokus dan perhatian yang penuh. Agar apa? La’allakum turhamun. Agar kalian mendapat rahmat” Masya Allah…

“Akan tetapi sayangnya umat sekarang ini tidak bisa melakukan inshat sebagaimana para sahabat melakukannya. Para sahabat dahulu bisa melakukan inshat dengan maksimal karena mereka memiliki kepedulian yang sangat tinggi dengan agama ini” beliau melanjutkan penjelasannya. “Selain itu, satu hal yang paling penting mengapa para sahabat bisa optimal dalam ber-inshat adalah karena Al-Qur’an hadir di sekitar mereka dan mewujud dalam rupa manusia, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ingatkah kalian hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa akhlak Rasulullah adalah akhlak Al-Qur’an?” tanya beliau yang kemudian hanya dijawab anggukan oleh kami karena telah terhipnotis pemaparannya. “Kehadiran Rasulullah itulah yang menjadi salah satu wasilah mengapa para sahabat mudah ber-inshat. Beliau membanjiri kehidupan para sahabat dengan isi kandungan Al-Qur’an,” tuntasnya.

Masya Allah. Dapat ilmu lagi. Memang benar bahwa sebaik-baik cara untuk memahami Al-Qur’an adalah dengan memahami bahasanya. Mengingat Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab, maka sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk mempelajarinya, sehingga kita benar-benar bisa merasakan kemukjizatan Al-Qur’an. Tidak kah kita ingin terperangah sebagaimana Bani Israil terperangah melihat mukjizat tongkat Nabi Musa membelah lautan? 

Allahummarhamni bil Qur’an…

#Senja Asrama Mahasiswa KSU 

March 6, 2016

Kisah Nabi Musa 'alaihi salam


Setelah mengikuti kuliah Qiro’ah Muwassa’ah dengan kitab Qoshoshun Nabiyin sebagai kitab acuannya, saya merasa memiliki pemahaman yang lebih integratif tentang kisah para nabi. Pada pertemuan terakhir misalnya, kami sedang membahas kisah Nabi Musa. Sebenarnya, kisah ini belum selesai kami bahas karena begitu panjangnya, di Al-Qur’an sendiri kisah Nabi Musa menjadi kisah terpanjang diantara para nabi. Tapi walaupun belum selesai dibahas, saya akan sedikit mengulas kisah tersebut disini.

Penulis kitab Qoshoshun Nabiyin, Abu Ali An-Nadwi, mengawali kisah dengan menceritakan bahwa Nabi Yusuf, setelah diangkat menjadi bendaharawan Mesir, mengajak semua keluarganya untuk hijrah kesana. Beliau merasa tidak nyaman hidup sendirian di Mesir. Oleh karena itu, diundanglah Nabi Ya’qub (Bapaknya Yusuf), Ibunya Yusuf, dan ke-sebelas saudaranya untuk berkumpul bersama beliau di Mesir. Sebelumnya mereka tinggal di Negeri Kan’an atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syam (meliputi wilayah Palestina, Suriah, Yordania, dan Libanon).

Singkat cerita, mereka hijrah ke Mesir dan membangun kehidupan selama berpuluh tahun disana. Mereka dicintai dan dihormati oleh warga Mesir karena Nabi Yusuf memiliki akhlak yang mulia dan menjadi “penyelamat” berkat takwil mimpinya yang melegenda. Keturunan-keturunan dari Nabi Ya’qub ini selanjutnya disebut sebagai Bani Israil. Israil adalah nama lain dari Ya’qub. Mereka berbeda dengan penduduk asli Mesir yang disebut sebagai Kaum Qibthi.

Nah, permasalahan bermula ketika para tetua Bani Israil telah wafat. Dimulai dari Nabi Ya’qub, kemudian disusul oleh Nabi Yusuf. Setelah waktu yang panjang, terjadi perubahan pada Bani Israil. Mereka mulai meninggalkan dakwah kepada Allah dan sibuk memikirkan dunia sampai akhirnya tibalah masa dimana Fir’aun menjadi penguasa Mesir.

Ketika Fir’aun berkuasa di Mesir dan mendeklarasikan diri sebagai Tuhan, ada seorang ahli nujum (kahin atau tukang ramal) yang meramalkan bahwa akan datang seseorang laki-laki di masa depan yang akan menjatuhkan kerajaannya. Mendengar ramalan ini, Fir’aun ketakutan. Dia kemudian memerintahkan bawahannya untuk membunuh semua bayi yang lahir dari Bani Israil. Fir’aun hanya membunuh bayi laki-laki dari Bani Israil dan tidak membunuh bayi laki-laki dari Kaum Qibthi karena menurut tukang ramal, laki-laki perebut kekuasaan Fir’aun itu berasal dari Bani Israil.

Kebijakan Fir’aun itu berlangsung cukup panjang hingga akhirnya para penasihat kerajaan mulai khawatir akan hilangnya generasi yang akan membantu pemerintahan. Kekhawatiran ini disampaikan kepada Fir’aun. Kekhawatiran yang sangat logis dan berdasar ini pada akhirnya merubah kebijakan awal. Kalau semula Fir’aun membunuh habis bayi laki-laki yang lahir dari Bani Israil, setelah adanya masukan dari penasihat ini, Fir’aun membunuh mereka dengan waktu yang berselang-seling. Setahun membunuh. Setahun membiarkan. Artinya, kalau ada bayi laki-laki yang lahir di tahun ini, dia akan dibunuh dan dia akan membiarkan hidup bayi yang lahir di tahun depan. Begitulah kebijakan barunya.

Kebijakan baru itu sedikit memberi angin sejuk bagi Bani Israil. Setidaknya harapan untuk memiliki bayi laki-laki sebagai penerus generasi tidak hilang sama sekali. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi kekhawatiran para orangtua, terutama kaum ibu, karena mereka tidak bisa memprediksi bayi dengan jenis kelamin apa yang akan terlahir nanti pada tahun pembunuhan. Kalau dia berjenis laki-laki, maka pengorbanan mereka selama sembilan bulan dan pertaruhan hidup-mati mereka ketika melahirkan akan menjadi sia-sia.

Kekhawatiran yang serupa juga dialami oleh istri dari Imron, yang kelak menjadi Ibunda Nabi Musa. Beliau saat itu hamil bertepatan dengan tahun pembunuhan. Dan ketika tiba waktunya melahirkan, beliau menjadi semakin ketakutan karena yang terlahir ternyata laki-laki, yaitu Musa.

Di bawah kecemasan dan ketakutan tersebut, Ibunda Musa masih sempat merawat Musa kecil selama tiga bulan tanpa sepengetahuan Fir’aun. Akan tetapi beliau sadar, cepat atau lambat Fir’aun akan mengetahuinya dan beliau tidak mau melihat putra kesayangannya disembelih di depan matanya. Melalui ilham dari Allah, beliau akhirnya menempatkan Musa kecil dalam sebuah kotak dan menghanyutkannya di Sungai Nil.
Salah satu sisi sungai Nil (sumber : dok. pribadi)
 وأوحينا إلى أم موسى أن أرضعيه فإذا خفت عليه فألقيه في اليم ولا تخافي ولا تحزني إنا رادوه إليك وجاعلوه من المرسلين

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul (Surat Al-Qashash (28) : 7).


Hikmah
Walaupun kisah Nabi Musa belum selesai kami baca dan bahas, tapi setidaknya sudah ada dua hikmah yang tercetus dalam pikiran saya. Pertama, tentang pentingnya nasab atau garis keturunan. Dalam kisah Nabi Musa, keturunan Nabi Yaqub dapat teridentifikasi dengan jelas karena mereka memiliki nama umum, yaitu Bani Israil. Di kalangan bangsa Arab, kita juga mengetahui bahwa nama seseorang sering dinisbatkan pada nama ayah atau anaknya. Misal, Abu Ismail, yang berarti Bapaknya Ismail. Atau Ibnu Ibrahim, yang berarti Anaknya Ibrahim.

Penisbatan nama ayah atau anak pada nama seseorang (atau sering disebut nama kun’yah) membuat statusnya menjadi jelas, dari keluarga mana dia berasal. Jika mengacu pada perspektif sosial, menurut saya budaya ini sangat penting karena dapat mencegah, atau setidaknya meminimalisir, terjadinya kelahiran “anak tidak berbapak”. Seperti yang kita ketahui, zaman sekarang ini banyak anak yang terlahir dengan status yang tidak jelas siapa orangtuanya karena hubungan haram yang dilakukan di luar nikah.

Nah, budaya penisbatan nama ayah atau anak ini akan membuat orang berpikir dua kali untuk melakukan hubungan haram karena sanksi sosial yang mereka dapatkan akan sangat berat jika kelak terlahir seorang anak dari hubungan haramnya itu. Baik si anak maupun si bapak tidak akan saling bisa menisbatkan nama mereka (duh, agak muter-muter, semoga dapat dipahami). Ingat, ini baru bicara perspektif sosial, hubungan antara manusia dengan manusia, belum bicara hubungan manusia dengan Tuhannya (perspektif agama).

Hikmah kedua yang terlintas dalam pikiran saya adalah tentang kemahasempurnaan skenario Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, sebelum Musa kecil dihanyutkan di sungai Nil, Bunda Musa menyempatkan diri merawat Musa selama tiga bulan. Allah kemudian memberikan jobdesc yang lebih spesifik lagi kepada beliau, yaitu dengan memerintahkannya menyusui Musa, seperti pada surat Al-Qashash ayat tujuh yang saya kutip di atas.

Dalam ilmu psikologi, ada istilah kelekatan (attachment) antara bayi dengan figur lekat. Kepada siapa bayi melekatkan dirinya akan sangat tergantung pada siapa figur lekat yang ia dapati di awal kehidupannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kaum ibu untuk menyusui dan membersamai bayinya sejak awal kelahiran.

Nah, ketika Musa kecil nantinya diambil oleh istri Fir’aun, ternyata tidak ada satupun kaum wanita yang dapat menyusuinya. Musa sama sekali tidak mau menyusu kepada mereka. Dia terus menangis sampai akhirnya nanti ia dipertemukan dengan ibunya, barulah ia mau menyusu. Allahu Akbar. Walaupun baru tiga bulan disusui, tapi Musa telah memiliki kelekatan yang sangat kuat kepada ibunya.

Allah menepati janjinya kepada Bunda Musa bahwa Dia akan mengembalikan Musa padanya. Ini merupakan karunia bagi beliau karena setelah menghanyutkan anaknya ke sungai, hati beliau seperti kosong (emotionally paralyzed). Yah, ibu mana yang tidak gamang melihat bayinya yang masih merah hanyut di sungai? Saya rasa semua ibu akan merasakan hal itu.

#InsyaAllahBersambung

#Asrama 27 King Saud University, Riyadh

January 20, 2016

Menghadirkan Lisan, Hati, dan Perbuatan dalam Istighfar


Sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk senantiasa ber-istighfar kepada Allah Ta’ala atas segala kemaksiatan yang telah dilakukan. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sendiri ber-istighfar 100 kali dalam sehari, padahal beliau telah dijamin masuk surga. Maka seharusnya manusia biasa seperti kita lebih banyak lagi memohon ampun.

Istighfar sendiri berasal dari kata maghfirah. Dalam bahasa Arab maghfirah sering diartikan sebagai “ampunan”, tapi kata aslinya berasal dari kata mighfar, yang berarti “menutupi sesuatu”. Mighfar berarti seperti helm. Jika seorang pengendara motor memakai helm, maka dia tidak akan dikenali oleh orang lain. Setelah helmnya dibuka, barulah ia dapat dikenali. Itulah arti dari kata mighfar, yaitu untuk menutupi.
Ketika kita memohon maghfirah kepada Allah, maka pada hakikatnya kita meminta-Nya agar menutupi dosa-dosa kita. Dosa manusia memang tidak bisa di-indera ketika mereka masih hidup di dunia, tapi ketika tiba hari penghitungan, kelak mereka akan segera sadar bahwa dosa-dosa mereka teramat sangat buruk, busuk, bau, hina, dan menjijikan. Maka pada hari itu kita tidak mau melihatnya dan kita juga tidak mau orang lain melihatnya. Hanya dengan maghfirah-Nya lah segala aib tersebut dapat tertutupi.

Kata istighfar memiliki tiga makna. Makna yang pertama adalah “meminta ampunan”. Orang yang sedang melafadzkan kalimat istighfar maka berarti ia sedang meminta ampunan dari Allah. Sama seperti orang yang melafadz istath’ama yang berarti dia sedang “meminta makan”. Atau yang lebih sering kita dengar, istisqo, yang berarti meminta air (hujan).

Adapun makna yang kedua dari kata istighfar adalah “menginginkan ampunan” Kalau makna yang pertama adalah perkara lisan, yaitu dengan melafadzkannya, maka makna yang kedua adalah perkara hati, yaitu dengan menghadirkan keinginan yang kuat di dalam hati agar diampuni oleh Allah.

Kadang seseorang meminta ampunan, tapi dari sikapnya, perhatiannya, dan tindak-tanduknya nampak jelas bahwa ia tidak menginginkan ampunan. Kita sering melihat orang melafadz istighfar, tapi di saat yang sama dia senyam-senyum untuk sesuatu yang tidak jelas. Tidak jarang kita juga menyaksikan orang melantunkan istighfar, tapi pandangannya beredar kemana-mana yang menandakan dia sedang sibuk memikirkan hal lain (psikologi mode: on). Lisannya komat-kamit, tapi hatinya entah sedang tamasya kemana. Maka kita tidak seharusnya ber-istighfar sampai kita sadar dan mengingat akan kelakuan buruk yang telah kita lakukan.

Makna ketiga dari kata istighfar adalah “mencoba untuk diampuni”. Maksudnya, selain meminta ampunan dan menginginkan ampunan, kita juga harus melakukan sesuatu agar diampuni. Artinya, ada usaha yang dilibatkan dalam istighfar. Jika kita memohon dan menginginkan ampunan karena telah berkata kotor, maka usaha kita agar mendapat ampunan adalah dengan mengganti kata-kata kotor dengan kata-kata baik. Jika kita meminta ampunan kepada Allah karena telah merampas hak tetangga, maka mengganti hak mereka adalah usaha kita untuk mendapat ampunan tersebut. Dan seterusnya.

Jadi ketika seseorang ber-istighfar, maka sejatinya ada tiga hal yang terlibat, yaitu lisan, hati, dan perbuatan. Jika salah satu dari ketiga komponen tersebut tidak dilibatkan, maka sebenarnya dia tidak sedang sungguh-sungguh meminta ampunan. Apa yang ia lafadzkan hanyalah legalitas formal atau kebiasaan berulang yang mungkin bahkan tidak disadarinya.

Hal tersebut sama seperti orang yang mengatakan istath’ama (meminta makan). Sekiranya dia benar-benar merasa lapar, maka selain meminta dan menginginkan makanan, dia juga akan berjuang untuk mendapatkan makanan, entah dengan memasak atau pergi ke restoran. Begitu juga ketika orang benar-benar merasa berdosa, maka “jihad”nya akan mengiringi lisan dan hatinya dalam meminta ampunan. Tidak hadirnya “jihad” dalam istighfar adalah pertanda dia merasa tidak berdosa dan tidak serius membutuhkan ampunan.

Disarikan dari kajian Ustadz Nouman Ali Khan (dengan beberapa perubahan).

#Asrama 27, King Saud University

September 10, 2015

Menemukan Ketenangan Hidup (Membahas Surat Al-An’am ayat 82)


الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Di surat Al-An’am ayat 82, Allah SWT berfirman bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mengatakan kepada kaumnya pada ayat sebelumnya (ayat 81), “kelompok mana yang lebih layak mendapat kedamaian?”

Ayat 82 menjelaskan tentang orang yang mendapat kedamaian hidup. Orang yang menderita gangguan emosional, seperti depresi, sedih, mudah marah, gelisah. Bagaimana mereka mendapatkan kedamaian? Apakah ada hubungan antara keimanan dan kedamaian, yaitu kedamaian diri dan psikologis?

Allah berfirman:
“Orang yang benar-benar beriman, tidak mencampuraduk keimanannya dengan amalan buruk.”

Amalan buruk tidak hanya menimbulkan gangguan terhadap orang lain. Indahnya, di ayat ini Allah SWT mengatakan bahwa jika anda berbuat buruk terhadap orang lain, anda juga sebenarnya merusak diri anda sendiri.

Allah mengatakan, jika anda bisa untuk tidak melakukannya, yaitu tidak melakukan hal buruk dan melakukan ketidakadilan terhadap orang lain, orang seperti itulah yang berhak mendapatkan kedamaian. Mereka akan mendapatkannya dan merasakan kedamaian dalam dirinya.

Kita tahu sekarang ini banyak tentara yang pulang dari medan perang, menyaksikan aksi kekejaman atau disengajanya aksi kekejaman tersebut. Atau hanya menjadi saksi terhadap aksi tersebut yang dilakukan rekannya saat perang. Saat pulang mereka akhirnya bunuh diri atau mereka dihantui mimpi buruk, tidak bisa tidur nyenyak, atau harus melalui berbagai pengobatan. Mereka mengalami trauma, bukan hanya trauma (cidera) fisik, tapi juga trauma psikologis. Mereka mungkin dianggap sudah patuh, yaitu mematuhi sesuai peraturan pemerintah. Namun di dalam diri mereka sebenarnya hancur. Mereka tidak memiliki kedamaian lagi. Mereka tidak bisa menjalani hidup seperti itu.

Ada orang yang melakukan berbagai perbuatan dosa, misalnya bekerja di industri hiburan, industri musik. Mereka mungkin bukan artis terkenal, tapi mereka terlibat dalam industri tersebut sehingga harus melakukan dosa terus menerus dan berbuat buruk. Mereka yang berada di industri clubbing atau di industri yang penuh maksiat. Orang-orang ini mungkin harus terus menerus mengonsumsi narkoba untuk mendapatkan kedamaian karena mereka telah melakukan hal buruk ke diri mereka dan orang lain. Mereka membuat dirinya mati rasa dan menjauh dari kenyataan untuk mampu mengatasinya.

Allah mengatakan, orang yang sungguh memiliki keimanan, mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka temukan di klub malam, di pesta, di narkoba, di minuman keras. Mereka tidak menemukan kedamaian dimanapun. Untuk orang yang tidak tenggelam di hal-hal buruk itu, mungkin anda tenggelam di dunia hiburan. Anda menonton film terus menerus. Hal ini mengacaukan dan merusak diri anda sendiri. Hal yang terus anda lakukan adalah mengisi diri dengan hiburan terus menerus. Hal itu tidak akan berhenti.

Ketika bulan Ramadhan tiba, anda memutuskan berhenti melakukannya atau setidaknya berkurang intensitasnya. Lalu anda pergi ke masjid dan merasakan kedamaian tersebut. Anda mungkin baru merasakan kedamaian itu setelah waktu yang sangat lama hingga anda bisa membedakan antara racun di dalam diri anda, yaitu racun spiritual. Dan anda juga dibersihkan hanya dengan mendengar al-Qur’an, bersujud bersama jamaah lainnya. Itu mungkin hanya beberapa menit saja, tapi betapa besar dampaknya ke diri anda. 

Pada mulanya, dimana anda sudah terbiasa makan makanan buruk, makanan yang sehat terasa tidak enak. Jadi orang yang sudah lama tidak ke masjid, mereka merasa tidak nyaman di dalam. Mereka lebih ingin pergi keluar masjid untuk nonton. Anda bisa lihat anak muda, khususnya yang biasanya terlihat di luar atau serambi masjid, mereka sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Tidak ada yang bisa duduk tenang.

Inilah manfaat keimanan, yaitu memberi ketenangan dan kedamaian. Anda tidak gelisah ataupun risih. Anda tidak akan merasa selalu kekurangan. Apakah itu mata, pikiran, lidah, atau tubuh anda. Anda tidak akan merasakan adanya kekurangan. Anda hanya merasakan ketenangan. Merekalah orang yang selalu (berkomitmen) di atas petunjuk-Nya.

Allah di sini mengatakan, jika tanpa komitmen, usaha kita tidak akan berhasil. Jadi anda harus menunjukkan komitmen untuk mendapatkan kedamaian tersebut.

Allah SWT berfirman di ayat yang lain:
ألا بذكر الله تطمئن القلوب
“hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram (ar-Ra’d ayat 28).”

Dan inilah inti ayat 82 dari Surat Al-An’am. Demi Allah, semua manusia di bumi ini mencari kedamaian hidup. Mereka mencari ketenangan dalam diri mereka. Sesuatu mengganggu mereka dan mereka mengatakan ke dirinya, “jika saya bisa mendapatkan hal itu, maka saya akan bahagia”. Atau dengan memakai kata lain untuk mendapatkan kebahagiaan. Misalnya dengan mengatakan jika saya punya uang banyak, saya akan bahagia. Jika mendapatkan gadis ini atau mobil ini saya akan bahagia. Dan banyak hal lain yang dicari untuk mendapatkan kebahagiaan, misalnya dengan berusaha membeli rumah, video game, jabatan, melakukan ini dan itu. Kita selalu menargetkan keinginan kita dan mengatakan bahwa kita akan bahagia bila target itu tercapai. Pertanyaannya, berapa lama kebahagiaan itu akan bertahan? Anda akan mencoba hal lainnya dan anda tetap tidak pernah puas. Ayat 82 dari Surat Al-An’am inilah ayatnya dimana Allah SWT mengajarkan kita melalui kata-kata Ibrahim ‘alaihi salam yang diabadikan.

Orang yang betul-betul menemukan keimanan dan tidak menggantinya dengan perbuatan buruk. Jika anda orang Islam, belum tentu mendapat kedamaian ini. Mungkin anda mengganti keimanan anda dengan tindakan buruk. Anda perlu menghentikannya dalam kehidupan anda dan Allah akan menghadiahkan kedamaian.

Semoga Allah jadikan kita orang yang mendapatkan ketenangan dan semoga Allah jadikan kita bagian dari “al muhtadin” (orang yang mendapatkan petunjuk.

(Materi tulisan diambil dari Kajian Ustadz Nouman Ali Khan


#Riyadh, Saudi Arabia

September 9, 2015

Mengobati Hati yang Terluka (Surat Al-Qashash (28) ayat 10)


وأصبح فؤاد أم موسى فارغا إن كادت لتبدي به لولا أن ربطنا على قلبها لتكون من المؤمنين

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).”

Setiap manusia pernah mengalami pengalaman yang membuat trauma. Ada yang merasa sakit karena kehilangan orang yang dicintai. Ada yang sakit karena mendengar ucapan orang yang kita cintai, misalnya perkataan yang diucapkann oleh orangtua kita, anak kita atau yang diucapkan oleh pasangan kita. atau teman kita. Ada juga yang sakit karena mengalami kejadian yang membuat trauma, seperti kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah atau bahkan yang lebih buruk lagi.

Beberapa orang di dunia ini hidup dalam keadaan yang memilukan yang tak dapat kita bayangkan penderitaannya. Beberapa anak hidup menderita, yang mungkin tidak bisa kita bayangkan jika anak kita yang mengalaminya. Itulah kenyataan yang dihadapi oleh beberapa orang.

Ayat 10 dalam surat al-Qashash ini adalah ayat yang sangat memberikan harapan, karena bila seseorang terluka perasaannya, mereka merasa tak akan dapat sembuh dan tak bisa kembali menatap hidup lagi.

Ibunda Musa dihadapkan dengan ujian yang amat luar biasa berat. Ia harus menaruh bayinya di air. Seorang ibu harus menaruh bayinya di air! Itu bukanlah hal yang dapat dibayangkan oleh seorang ibu. Dia hanya punya 2 pilihan, melihat anaknya disembelih oleh tentara Fir’aun di depan matanya atau menaruh anaknya di keranjang yang belum teruji anti air. Dan akhirnya ia memilih menjatuhkan keranjang itu ke sungai.

Ibunda Musa menaruh bayinya ke sungai atas ilham yang diberikan Allah karena sesungguhnya perasaannya tak mampu melakukannya. Oleh karena itu, Allah bantu ia melakukannya. Allah berkata:

“Dan menjadi kosonglah hati Ibu Musa”

Hati Ibunda Musa menjadi kosong karena rasa trauma melepas anaknya pergi mengalir di sungai dan tidak bersamanya lagi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, apakah ia akan tenggelam? Apakah ia akan tertangkap oleh tentara Fir’aun? Apakah keranjangnya akan terbalik? Ia tidak tahu. Hal terburuk mungkin terlintas di pikirannya. Maka dari itu hati Ibunda Musa menjadi kosong.

Ketika seseorang mendengar kabar buruk dan matanya mulai menatap kosong, yang kemudian membuatnya tak bisa berbicara, cuma bisa diam, perasaannya lumpuh. Itulah kondisi yang dihadapi Ibunda Nabi Musa ‘alaihi salam saat itu.

Dia hampir berlari dan berteriak, “Itu bayi saya, itu bayi saya”. Tapi kalau ia teriak, maka bayinya akan dibunuh.

Kemudian Allah berkata:
“Seandainya tidak Kami teguhkan hatinya”

Jika tidak Allah ikat hatinya. Jika tidak Allah jaga hatinya. Allah jadikan hatinya yang tadinya bergejolak (fuad) dan di ayat yang sama, Allah gunakan kata lain dari “fuad” yaitu “qalb”, lalu Allah jadikan hatinya tenang. Membuatnya kembali ke kondisi normal. Allah katakan bahwa Dia mampu melakukannya.

Ada orang-orang yang hatinya mengalami trauma, dan ia tak bisa pulih. Kenapa tak bisa? Karena Allah tak melepaskan hatinya. Allah belum melepasnya. Terkadang manusia memang tak memiliki kemampuan untuk pulih dari kondisi ini, tapi dari ayat ini kita tau bahwa Allah dapat menyembuhkannya.

Mungkin ada orang yang berkata, “Perasaan saya tak bisa untuk memaafkan kamu”, tapi Allah bisa jadikan hatimu mampu melakukannya. Mungkin ada orang yang berfikir, “Saya sangat terpukul atas apa yang terjadi, tidak mungkin saya bisa kembali ke kehidupan saya”, tapi keimanan kita kepada Allah cukup untuk membuat kita kembali pada hidup kita.

Allah berfirman dalam ayat yang sama:
“jika tak kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya”

Ibu mana yang tidak trauma bila melihat bayinya dihanyutkan di sungai dan tak bisa melihanya lagi? Bagaimana dia bisa pulih kalau tanpa campur tangan Allah? Tak hanya bisa pulih, tapi ia juga bisa berpikir jernih setelahnya untuk kemudian mengirim saudarinya untuk mencari tahu Musa. Ia sama sekali tak akan bisa berpikir jika Allah tak campur tangan.

Seperti halnya Ibunda Musa, Allah juga akan turut campur tangan atas kondisi perasaan kita. Ibunda Musa bukanlah seorang nabi, namun ia adalah orang yang beriman. Artinya, ini kesempatan bagi kita juga. Apapun trauma yang kamu hadapi, ketahuilah bahwa Allah dapat campur tangan untuk memberi ketenangan dalam pikiran dan hatimu. Dan Allah pun dapat memberimu kedamaian lagi. Apakah itu kegelisahan, ketakutan, kesedihan atau kemarahan, apapun perasaan atau kejadian yang melukaimu, Allah dapat menghilangkan luka itu sepenuhnya.

Semoga Allah dapat memberi kita kekuatan di hati sehingga dapat menjadikan kita orang yang benar-benar beriman, yang hidup dalam kondisi spiritual dan emosi yang sehat.

(Materi tulisan diambil dari Kajian Ustadz Nouman Ali Khan

#Riyadh, Saudi Arabia