Showing posts with label Psychology. Show all posts
Showing posts with label Psychology. Show all posts

July 28, 2020

Hiburan yang Tidak Menghibur

Begitu mudah manusia zaman sekarang mengakses hiburan. Dengan usap-usap layar hp saja, kita sudah bisa hadir dalam konser musik musisi kenamaan, menyaksikan film favorit, menonton acara lawak, bahkan merasakan sensasi berburu.

Smartphone dan paket data bukan lagi kebutuhan sekunder, apalagi tersier. Keduanya bahkan lebih penting dari makan. Jika makan hanya dilakukan tiga kali sehari, maka intensitas kita melongok smartphone tak bisa terhitung jari. Apapun dan dimanapun kegiatannya, skrol-skrol layar hp selalu menjadi penyerta. Seperti ada rasa lapar yang tak bermuara.

Ilustrasi main gadget (sumber : Pexels)

Hasil riset Hootsuite dan agensi marketing sosial We Are Social yang dirilis akhir Januari lalu mengungkap bahwa Indonesia masuk ke dalam 10 besar negara yang paling lama mengakses internet. Durasi akses internet orang Indonesia selama tahun 2019 rata-rata mencapai 7 jam 59 menit. Angka ini berada di atas angka rata-rata penduduk dunia yang “hanya” 6 jam 43 menit dan bisa jadi jauh meningkat selama pandemi corona.

Sayangnya aktivitas kita berselancar di dunia maya sangat jauh dari kata produktif. Dari nyaris 8 jam yang dihabiskan orang Indonesia untuk mengakses internet, 3 jam 26 menitnya digunakan untuk mengakses media sosial, 1 jam 30 menit untuk steraming musik dan 1 jam 23 menit untuk menggunakan konsol game. Otak kita dibanjiri dengan hiburan.

Kondisi otak yang terbiasa mudah mengakses hiburan membuatnya semakin berat untuk diajak “susah”. Dalam neuroscience, dikenal istilah neuroplasticity, yaitu kemampuan otak untuk mengorganisasikan (mengubah) dirinya sendiri, baik struktur maupun fungsinya.

Perubahan tersebut dipengaruhi oleh rangkaian pengalaman yang kontinu, seperti perilaku, pemikiran, perasaan, emosi, bahkan imajinasi sekalipun. Ketika satu pengalaman itu diulang terus-menerus, maka akan terbentuk jaringan sistem saraf yang unik atas pengalaman tersebut (Gumilar, 2016).

Jika demikian, maka tidak heran kalau ada orang yang kuat bermain game berjam-jam, karena setiap hari otaknya dilatih untuk itu. Ketika seseorang sudah berada pada kondisi seperti ini, otak akan semakin sulit diajak “susah”. Coba saja minta anak yang sudah kecanduan game untuk belajar, jangankan berjam-jam, sepuluh menit pun dia tak tahan.

Dan kondisi ini bukan hanya menyasar para pecandu game, tetapi juga pemburu hiburan dari media sosial, youtube, atau platform lain. Semakin seseorang bergantung pada hiburan dunia maya, semakin sulit dirinya menoleransi kesusahan.

Coba tanyakan pada dirimu, apakah kamu mudah marah, uring-uringan, bahkan kompulsif pada hal-hal sepele, seperti koneksi internet yang lambat saat mengakses media sosial? Jika iya, waspadalah, mungkin kamu sudah termasuk pecandu.

Candu internet, medsos atau game sama tidak baiknya dengan candu obat-obatan terlarang. Bedanya, obat-obatan terlarang lebih cepat merusak otak dibanding candu yang lain. Meski demikian, bukan berarti candu internet dapat disepelekan.

Selain struktur dan fungsi yang bisa berubah karena neuroplasticity, otak orang yang selalu mencari hiburan di internet juga akan dibanjiri oleh dopamin, yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan. Dopamin ini membuat kita ingin merasakan pengalaman yang serupa berulang-ulang. Karena itu, ketika kita mendapatkan suatu pengalaman yang menghibur, kita ingin terus-menerus merasakannya.

Maka tidak heran dalam sekali duduk, orang bisa menghabiskan berjam-jam dalam bermain game atau menonton video di youtube. Meski pada awalnya kita hanya ingin menonton satu video singkat, tapi sensasi dopamin membuat kita tidak beranjak hingga video kesekian.

Celakanya, semakin kita menuruti keinginan tersebut, semakin kita sulit lepas darinya. Niat awal menggunakan internet untuk mencari hiburan akan berakhir dengan kondisi mental yang semakin merasa kesepian dan tidak bermakna. Tidak hanya itu, hubungan interpersonal kita dengan orang lain juga akan bermasalah dan suasana hati semakin tidak menentu.

Oleh karena itu, kita perlu membatasi hiburan dengan kadar yang wajar. Kalaupun harus mencari kesenangan, carilah kesenangan yang lebih bermakna dengan usaha yang lebih agar jiwa tidak tersandera dengan hal-hal yang artifisial.

Apalagi di situasi pandemi corona seperti sekarang ini. Pilihan aktivitas yang semakin terbatas membuat manusia semakin mudah tergiring untuk lari ke dunia maya. Semoga niat baik untuk menghindari virus yang menyerang fisik tidak membuat kita abai dari virus yang menyerang psikis. 

Dimuat di The Columnist (https://thecolumnist.id/artikel/catatan-redaksi-hiburan-yang-tidak-menghibur-1017)

May 20, 2020

Puasa dan Belenggu Amarah


Ramadhan 1441 H menyisakan babak final. Al-asyru al-awakhir yang biasa kita songsong dengan i’tikaf di masjid tahun ini akan berbeda mengingat pandemi Covid-19 yang belum juga usai. Mau tidak mau, kita akan melepas bulan suci ini dari rumah sebagaimana kita menyambutnya dulu.

Satu hal yang patut kita refleksikan dari Ramadhan yang kita jalani #DiRumahAja adalah terkait outputnya. Allah mewanti-wanti kita dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan puasa adalah agar menjadi orang yang bertaqwa.

Taqwa memiliki rincian indikator yang sangat beragam, salah satunya yang tersurat dalam Ali-Imran ayat 134. Allah berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”

Ayat ini adalah penjelasan dari ayat sebelumnya tentang surga yang Allah janjikan bagi para muttaqin. Dalam ayat 134 di atas Allah menjelaskan bahwa salah satu indikator taqwa adalah “al-kadzimin al-ghaydzha” yang diterjemahkan sebagai “orang-orang yang menahan amarah”.

Ilustrasi marah (sumber: pixabay.com)
Dalam bahasa Arab, selain diartikan sebagai “orang yang menahan”, al-kadzim juga bisa bermakna “penutup” dari suatu bejana. Kalau bejana telah ditutup dengan kadzim-nya, maka tidak akan ada air yang keluar darinya. Bahkan meski hanya tanda-tanda berupa tetesan.


Ibarat bejana, al-kadzimina al-ghaydzha yang menjadi indikator taqwa juga adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dengan paripurna. Sehingga tidak ada kemarahan yang nampak meski hanya berupa tanda-tanda. Tidak ada mata yang melotot, gigi yang gemeletuk, tangan yang mengepal, apalagi kata yang menyayat.

Ini bukan berarti kemarahan itu tidak ada sama sekali. Bukan itu. Sebagai manusia, Allah menganugerahkan kita seperangkat emosi berupa senang, sedih, takut, duka, termasuk juga marah. Tanpa adanya emosi hidup manusia akan hambar, hubungan interpersonal akan kaku, dan drama Korea tidak akan digandrungi.

Akan tetapi, dengan emosi itu juga manusia diuji. Bagaimana manusia mengekspresikan emosi bisa menjadi kebaikan atau keburukan untuk dirinya. Dalam hal ini, Allah menjadikan marah sebagai penguji ketaqwaan seorang hamba.

Ketika manusia marah, sejatinya ia bukan hanya berpotensi mendzhalimi orang lain, melainkan juga dirinya sendiri. Saat marah, otot tubuh manusia akan menegang, detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan napas memburu.

Di dalam otak orang yang marah, korteks sebagai pusat logika terpinggirkan perannya, diganti oleh amigdala sebagai pusat emosi. Masalahnya amigdala beraksi tanpa memperhatikan konsekuensinya karena bagian ini tidak terlibat dalam menilai, berpikir atau mengevaluasi.

Oleh karena itu, marah yang dituruti akan membuat manusia kehilangan kontrol atas dirinya sehingga kadang mereka tega melakukan kekejaman. Setelah marah itu reda, yang artinya korteks kembali mengambil alih, barulah mereka menyesali perbuatannya. Hal itu biasanya ditandai dengan kalimat pamungkas “Maaf, saya khilaf”.

Menahan amarah memang tidak mudah. Ketidakmudahan itu bahkan dijadikan acuan kekuatan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dalam haditsnya yang mulia beliau bersabda:

“Bukanlah orang yang kuat itu orang yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullaah shallallahu alaihi wa sallam memahami betul bahwa perang terberat bagi manusia adalah melawan hawa nafsu karena perang ini akan terus berkecamuk hingga ajal menjemput. Hal itu dipersulit dengan sikap kita yang cenderung sayang kepada diri sendiri sehingga apa-apa yang bersumber dari hawa nafsu seringkali dituruti.

Padahal jika mau bersabar, hanya butuh 20 menit bagi amarah itu untuk reda (Fennely, Benau, Atchley, 2016). Dua puluh menit yang akan sangat membedakan, apakah kita hidup dengan penyesalan karena menuruti kemarahan atau bahagia karena mendahulukan kesabaran.

Covid-19 dan Potensi Ibadah Ramadhan Kita

Secara teori, Ramadhan di rumah semestinya bisa dilalui dengan lebih mudah karena akses terhadap godaan yang berseliweran di luar rumah menjadi terbatas. Lebih dari itu, rupa-rupa stressor yang berpotensi membuat kita naik darah juga seharusnya semakin terminimalisir. Entah itu stressor di sekolah, kampus, kantor atau jalan.

Artinya kita telah terkondisikan sedemikian rupa agar berhasil menjalani ibadah di bulan suci ini. Setan terbelenggu, lingkungan terkondisikan. Sempurna sudah.

Akan tetapi teori tinggallah teori. Kadang ia hanya berkelebat di alam pikiran, menggumpal dalam bentuk niat, tanpa mewujud dalam laku keseharian. Marah yang das sollen-nya tak akan mudah terpantik sewaktu Ramadhan #DiRumahAja, toh akhirnya menggejala juga.

Ragam stressor harian yang hilang selama #DiRumahAja tersubstitusi dengan stressor lain. Entah mengapa ada saja hal-hal yang memantik tensi, entah itu tugas sekolah anak yang butuh pendampingan, perilaku pasangan yang kadang bikin pening, atau tetek bengek lainnya.

Saya ingat dulu di awal-awal seruan work from home ada banyak meme yang beredar, salah satunya meme transformasi wujud ibu. Hari pertama work from home ibu dianalogikan sebagai boneka yang begitu ramah membersamai anak.

Akan tetapi suka cita itu hanya bertahan di hari pertama saja, karena di hari kedua dan ketiga ibu berubah menjadi macan dan T-Rex. Puncaknya setelah seminggu lebih ibu diibaratkan sebagai naga yang menyemburkan api.

Ya, tentu itu hanya metafora belaka. Tetapi saya rasa ada realitas yang terkandung juga dalam meme tersebut. Bahwa mempertahankan emosi yang socially desirable bukanlah pekerjaan mudah. Oleh karena itu, menahan amarah digolongkan sebagai ciri ketaqwaan yang beroleh surga. Karena memang susah mempraktekannya. Kalau mudah, mungkin cuma payung cantik hadiahnya.

Di Ramadhan yang telah memasuki sepertiga akhir ini, mari bersama kita tafakuri, adakah cerminan al-kadzimina al-ghaydzha dalam diri kita?


Dimuat di https://www.voa-islam.com/read/world-analysis/2020/05/16/71855/puasa-dan-belenggu-amarah/

April 30, 2020

Menjaga Kewarasan di Tengah Kecemasan


Hari-hari ini kita dihadapkan pada situasi yang sulit. Covid-19 yang semula dianggap remeh oleh sebagian kalangan nyatanya menjadi monster yang mengacaukan tatanan dunia. Setelah berbulan-bulan sejak kasus pertama ditemukan, akhir kisah Covid-19 bukannya semakin jelas, justru tambah runyam dengan ditemukannya ribuan kasus baru tanpa gejala di China.

Kita menjadi cemas dan khawatir, bukan hanya karena takut terinfeksi virus tersebut, melainkan juga karena kita dihadapkan pada ketidakpastian di masa depan. Paduan ambruknya kesehatan global dengan terpuruknya ekonomi adalah seburuk-buruk duet bagi mental manusia.
Ilustrasi gambar dari Pixabay.com

Ditambah lagi tidak ada satupun ahli yang dapat memastikan kapan akhir dari saga corona ini. Mereka hanya dapat mengira dengan perkiraan yang berbeda-beda. Bill Gates misalnya, dalam wawancaranya bersama CNN memprediksi corona akan kelar dalam waktu 2-3 bulan saja dengan syarat masyarakat tertib melaksanakan social distancing.

Selain itu, ada Rishi Desai dari Center for Disease Control (CDC) yang memperkirakan corona baru akan berakhir tahun 2021. Adapun untuk konteks Indonesia, jajaran peneliti ITB mengestimasi selesainya corona di tanah air terjadi akhir Mei atau awal Juni setelah sebelumnya mengatakan akan berakhir pertengahan April.

Berbagai prediksi tersebut seolah menegaskan ketidakpastian bencana ini. Celakanya, manusia adalah tipikal makhluk yang membenci ketidakpastian. Mereka tidak pelit menyisihkan pendapatannya demi meredam cemas yang mendera sebagai akibat dari ketidakpastian masa depan. Maka, ketika manusia modern mencemaskan hal-hal yang melekat padanya, baik nyawa maupun harta, bisnis asuransi dengan jeli hadir sebagai penyuplai ketenangan.

Akan tetapi, ahli jiwa memberi kabar gembira akan kecemasan massal akibat Covid-19 yang kita rasakan akhir-akhir ini. Bahwa di tengah situasi krisis seperti bencana alam, perang, termasuk juga pandemi corona, rasa cemas dan khawatir yang membelit jiwa kita sedianya adalah sesuatu yang normal.

Kecemasan itu tidak lain adalah reaksi psikologis sebagai mekanisme pertahanan diri kita terhadap kejadian yang abnormal. Dalam situasi krisis, entah bagaimana otak kita menjalankan sistem yang tidak seperti biasanya. Seperti sengaja bersekongkol untuk menyelamatkan tuannya.

Begini, tiap kali ancaman itu datang, sistem limbik sebagai pusat kendali emosi manusia akan bekerja lebih gesit. Saking gesitnya, pikiran rasional yang biasanya muncul sebagai buah kerja otak depan (frontal lobe) menjadi tak kelihatan, tertutupi oleh rangkaian emosi yang diproduksi sistem limbik tadi. Hasilnya, manusia dihantui rasa cemas dan takut.

Selama rasa cemas dan takut itu tidak menguasai diri, hal itu wajar-wajar saja adanya. Artinya secara mental kita masih sehat, selaras dengan kriteria sehat mental dari WHO. Lagipula, kecemasan itu kita butuhkan juga sebagai bagian dari naluri bertahan hidup manusia.

Akan tetapi, rasa cemas menjadi tidak wajar ketika ia membuat kita tersandera sampai tidak mampu melakukan hal-hal lain. Sehingga badan dan pikiran kita sepenuhnya di bawah kendali kecemasan.
Ini buruk. Selain kekurangan suplai pikiran rasional, cemas berlebih juga berakibat negatif bagi sistem imun manusia. Sebab saat seseorang mengalami stres yang tidak terkelola, akan ada perubahan fisiologis pada tubuhnya, terutama kaitannya dengan kadar hormon.

Neuropsikologi memercayai bahwa saat manusia merasakan cemas berlebih, hormon dopamin dan serotonin yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan akan menurun produksinya. Di sisi lain, hormon adrenalin dan kortisol yang sering disebut sebagai hormon stres justru meningkat.

Kondisi yang demikian akan menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh dan terganggunya sistem imun sehingga kita lebih rentan terhadap penyakit, baik penyakit asli maupun penyakit “bikinan” kita sendiri yang biasa disebut psikosomatis.

Ya, di tengah pandemi corona seperti sekarang ini, banyak orang mengalami psikosomatis. Merasa sakit, padahal tidak. Sesak napas karena takut corona dianggap terinfeksi corona betulan. Pilek karena kehujanan langsung sambat minta bantuan. Padahal bisa jadi masalah tersebut selesai hanya dengan mengatur pernapasan.

Hal buruk lainnya, kecemasan eksesif membuat manusia diliputi pikiran negatif. Dalam keadaan normal saja pikiran kita sudah didominasi oleh hal-hal negatif dengan proporsi mencapai 80% (National Science Foundation, 2005). Lalu apa jadinya pikiran kita di tengah pandemi corona seperti sekarang ini?

Konyolnya, dari semua pikiran negatif manusia, 85% diantaranya sebenarnya tidak pernah menjadi kenyataan. Pun dari 15% dari kekhawatiran yang jadi nyata, 79% subjek penelitian ternyata dapat menangani kesulitan dengan lebih baik dari yang mereka perikirakan (Leahy, 2005).

Pikiran negatif hanya membuat manusia dibayangi pesimisme. Ketika pesimisme mendominasi pikiran, maka pintu harapan menjadi buram di mata. Pada titik ekstrem, orang menjadi kehabisan alasan untuk sekadar melanjutkan hidup. Maka tidak mengherankan ada banyak kasus bunuh diri akibat kecemasan corona kita baca akhir-akhir ini. Ambil contoh kasus bunuh diri Menteri Keuangan negara bagian Hesse Jerman, perawat di Italia, sampai WNA Korea di Solo.

Lalu apa sebaiknya yang kita lakukan agar tidak cemas berlebihan?

Berpikir positif adalah jalan terbaik untuk membatasi kecemasan. Dengan pikiran yang positif kita akan menjadi lebih tenang dan kalem sehingga saluran rasionalitas tidak tersumbat. Hal itu bisa kita mulai, misalnya dengan membatasi diri dengan info yang akurat.

Bahwa kita membutuhkan update informasi betul adanya, tetapi menjadi keliru ketika informasi-informasi tersebut membanjiri pikiran kita. Apalagi akhir-akhir ini sebagian besar berita berisi informasi yang “tidak ramah” mental. Belum lagi berita-berita hoaks yang berseliweran di media. Ketidakmampuan untuk mengerem rasa ingin tahu akan berdampak buruk bagi kesehatan mental kita.

Yang tidak kalah penting, sebagai bangsa yang berketuhanan, mendekatkan diri pada Allah sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti sekarang. Selain membuat kita jadi lebih tenang, doa adalah penyempurna ikhtiar-ikhtiar kita untuk mencapai keselamatan.


Tulisan ini telah dimuat di Banten News (https://www.bantennews.co.id/menjaga-kewarasan-di-tengah-kecemasan/)

February 24, 2020

Beri Aku Satu Reynhard Sinaga, Niscaya Kuguncang Dunia


Berikut tulisan saya yang dimuat di The Columnist.

Tak perlu sepuluh pemuda, seperti yang diminta Bung Karno, untuk mengguncang dunia. Reynhard Sinaga berhasil beri bukti bahwa dirinya seorang sudah cukup untuk menggegerkan alam raya.

Beberapa hari ini seisi Bumi memang digemparkan dengan berita perkosaan yang dilakukan Reynhard terhadap 190 korbannya di Manchester (hanya 48 orang yang baru terbukti). Seolah tidak cukup mengagetkan dengan jumlah korban yang sedemikian melimpah, Reynhard benar-benar membuat dunia terperangah karena semua korban ternyata adalah pria.
Demo anti gay (sumber: wikimedia.org)

Sebagai pribadi yang dikenal cerdas, ramah, supel, kaya lagi terhormat, tidak ada yang menduga kalau mahasiswa program doktoral itu memiliki sisi kelam. Biar bagaimanapun, kehidupan Reynhard terlalu sempurna untuk disentuh kriminalitas yang sedemikian hina.

Akan tetapi, apa-apa yang tampak indah di luar rupanya bukan jaminan kemolekan di dalam. Di balik wajah kalem bersulam senyum milik Reynhard, rupanya tersembunyi predator seks yang buas nan ganas.

Daily Mail menyebutnya sebagai Britain’s Worst Rapist Ever. Wikipedia menempatkannya di urutan kedua dunia, hanya kalah dari Joji Obara yang diyakini telah memerkosa 150 – 400 wanita. Ups, kalau korbannya pria, berarti Reynhard menjadi juara pertama.

Kejadian menggemparkan di awal tahun ini memantik diskusi terkait gangguan mental. Aksi Reynhard diyakini memberi bahan riset panjang bagi para akademisi psikologi dan bidang ilmu terkait. Salah satu tema diskusi yang menarik adalah tentang target sasaran pelaku homoseksual.

Reynhard yang diketahui sebagai seorang gay rupanya selalu mencari korbannya yang heteroseksual. Dikutip dari BBC, dari 48 korban yang kasusnya telah disidangkan, 45 diantaranya adalah heteroseksual. Dan Reynhard bangga akan hal tersebut dengan mengambil barang milik korban sebagai ‘trofi’ kemenangannya.


January 13, 2020

Mohammad Natsir dan Jejak Remaja Ideal


Izinkan saya mengajak anda kembali ke masa lampau, sekira tahun 1920-an, zaman ketika Belanda masih menghisap Indonesia.

Anggaplah anda sebagai salah satu orang yang beruntung mampu bersekolah hingga tingkat Algemene Middlebare School (AMS – setara SMA masa kini). Diajar oleh meneer berbahasa Belanda, bertemankan sinyo dan noni serta putra mahkota para pejabat. Sedangkan anda hanyalah anak pegawai rendah yang sekolah dengan bantuan beasiswa. Datang jauh dari pelosok pula!

Kalau ada rasa rendah diri dan terasing dengan lingkungan yang demikian saya bisa memaklumi. Yang demikian itu stresornya memang terlalu besar untuk tubuh kita yang kecil. Tetapi ternyata tidak demikian bagi Mohammad Natsir. Sosok yang kemudian dikenal sebagai Bapak NKRI ini memiliki kebesaran jiwa dan semangat yang jauh melampaui apapun. Sehingga rupa-rupa stresor tak menjadikannya ciut dan kecut.
Mohammad Natsir (sumber: antaranews.com)
Pernah suatu ketika, oleh gurunya yang orang Belanda itu, Natsir ditantang menulis makalah tentang pengaruh penanaman tebu dan pabrik gula bagi rakyat di Pulau Jawa. Si Meneer memang bukan main sinisnya pada pergerakan politik kaum nasionalis. Dan sinisme itu dia tunjukkan tanpa tedeng aling-aling dengan memberikan tugas maha sulit kepada anak setara kelas 2 SMA.

Ingat, peristiwa itu terjadi tahun 1920-an. Jangan konyol membayangkan komputer dan Google dengan mesin pencariannya yang canggih seperti sekarang. Di zaman itu, bisa memiliki mesin ketik saja sudah sangat istimewa. Jadi sebenarnya penugasan dari Si Meneer tidak lain adalah upaya membungkam bising para nasionalis. Karena mustahil dituntaskan.

December 18, 2019

Dongeng dan Penjara Zimbardo


Berikut tulisan saya yang dimuat di detik.com tanggal 12 November 2019. Untuk melihat halaman aslinya, bisa klik disini.

***
Alkisah di suatu negeri terdapat dua jago yang saling beradu menjadi raja. Jago pertama, sebutlah Si Kurus, berwatak kalem dengan perawakan yang sangat mewakili rakyat. Banyak rakyat simpati dengan Si Kurus dan menaruh harapan yang tinggi bahwa kelak setelah terpilih, dia akan bersungguh-sungguh memperjuangkan nasib wong cilik.

Lawannya adalah Si Gemuk yang berkepribadian tegas lagi pandai dalam urusan perang. Pendukungnya juga tidak kalah banyak. Ciri, sifat, dan pengetahuan Si Gemuk sangat mewakili karakter pemimpin ideal. Negeri akan maju dan aman jika dipimpin orang seperti dia. Begitu kira-kira pendukungnya berlogika.

Dengan basis massa yang hampir imbang, negeri itu terbelah sempurna menjadi dua kutub. Keduanya sama-sama militan dengan kadar melebihi apapun. Masing-masing pendukung haqqul yaqin bahwa jago merekalah yang akan memenangkan pertarungan. Negeri panas membara. Tidak pernah sebelumnya perebutan kursi raja sepanas itu.

Singkat cerita, Si Kurus keluar sebagai pemenang pertarungan. Si Gemuk beserta pendukungnya tidak percaya, merasa dicurangi oleh Si Kurus dan kroninya. Didatanginya hakim untuk menggugat kemenangan Si Kurus. Tapi upaya Si Gemuk menemui jalan buntu; hakim membenarkan kemenangan Si Kurus.

Pendukung Si Kurus bersorak. Massa Si Gemuk bukan main kecewanya. Tapi sorak sorai serta kekecewaan tersebut seketika ambyar saat kisah perseteruan dua orang itu menemui ujungnya. Si Kurus menjadikan Si Gemuk hulubalang. Ini adalah akhir yang absurd, yang membuat masing-masing pendukung kecewa mengkerut. Tak dinyana, perseteruan dua orang yang menjalar hingga pelosok desa rupanya dagelan semata.

***

Ketika sejarawan Inggris, Lord Acton mendalilkan power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely, mungkin dia tidak menduga kalau kemudian dalilnya itu akan menyejarah. Kalimat itu adalah kutipan surat Acton kepada seorang uskup berdasarkan keresahannya terhadap kekuasaan pemimpin politik dan agama.

Kata orang, resah adalah perkara hati dan hati pantang berbohong. Hampir seabad setelah surat menyurat dua sejawat itu, dalil Acton menemukan muara ilmiahnya. Seorang psikolog sosial bernama Philip Zimbardo menyegel validitas dalil tersebut, meski sebenarnya penelitian Zimbardo tidak ada kaitan langsungnya dengan Acton.

Eksperimen Penjara Stanford, demikian proyek itu diberi nama. Zimbardo ingin cari tahu, bagaimana rupa hidup orang-orang yang ditempatkan dalam penjara buatan. Subjeknya mahasiswanya sendiri, yang lurus tiada cacat kriminal, juga sehat fisik dan psikologis.
Ilustrasi penjara (sumber: pixabay.com)

Dengan mengacu pada sistem bermain peran (role play), Zimbardo membagi subjeknya menjadi dua, kubu sipir dan narapidana. Kemudian meminta mereka untuk menginap selama 14 hari di kampus yang telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga menyerupai penjara. Gelap, pengap, tanpa jendela.

Meski direncanakan 14 hari, tapi eksperimen tersebut terpaksa harus disudahi pada hari keenam karena perilaku para mahasiswa yang berperan sebagai sipir berubah menjadi semakin bengis. Mereka semakin berani melakukan tindak kekerasan, baik fisik maupun verbal, kepada lawan mainnya yakni para mahasiswa yang menjadi narapidana. Seolah-olah lupa bahwa itu hanya permainan peran belaka, antarteman sesama mahasiswa pula.

Zimbardo memberi simpulan: tempat dengan ketimpangan kekuasaan yang tinggi cenderung menjadi tempat yang brutal lagi kasar, kecuali ada agen pengontrol yang mengendalikan impulsivitas penguasa. Dia menambahkan, "Bukannya kita menempatkan apel yang buruk dalam keranjang yang baik. Kami menaruh apel yang baik di keranjang yang buruk. Lalu keranjang merusak apa pun yang disentuhnya."

***

Rakyat di negeri antah berantah tadi boleh jadi kecewa dengan akhir kisah perseteruan dua jago mereka. Tapi meski demikian, sebenarnya bukan kekecewaan itu sendiri yang paling dicemaskan. Toh mereka sudah berkali-kali melalui kontestasi pemilihan raja seperti itu; kalah-menang urusan biasa. Mereka gelisah karena adanya persekutuan dua kekuatan besar yang dapat menghasilkan kekuasaan absolut. Itu yang membuat mereka panas-dingin.

Kekhawatiran rakyat sejatinya sangat beralasan, terlebih mereka memiliki sejarah otoritarianisme yang panjang dan kelam di negeri tersebut. Dulu mereka pernah dipimpin para diktator sebelum akhirnya perlawanan rakyat menumbangkan si rezim kotor. Meski telah tumbang, tapi luka traumatik telanjur menumpuk dalam memori kolektif mereka.

Rakyat juga wajar curiga. Ketika koalisi terbentuk secara bulat, akan mudah bagi penguasa untuk menggalang kekuatan demi melakukan amandemen. Jangan-jangan ada upaya mengubah masa jabatan raja menjadi lebih panjang? Begitu kira-kira salah satu keresahan yang menjalar di ruang publik negeri tersebut. Kalau benar demikian, berarti mereka akan kembali ke zaman otoriter dulu. Padahal sudah banyak martir yang berkorban demi menumbangkan rezim itu.

Memang narasi yang disampaikan penguasa atas pembentukan koalisi mereka isinya indah, tentang persatuan. Kalian rakyat jangan ribut-ribut melulu. Sudah terlalu banyak energi kita terbuang dengan keributan saat kontestasi. Sekarang mari kita bersatu memajukan negeri. Contohlah kami, tidak ada lagi permusuhan. Jangan dikira akurnya kami adalah kompromi pembagian kue ya. Oh, harum betul logika penguasa!

Tetapi Zimbardo telah mengajarkan kita bahwa kekuasaan tanpa pengawas akan sama tragisnya dengan kisah sipir dan narapidana. Karena kekuasaan absolut bersifat merusak. Jika dalam bermain peran saja orang bisa hanyut menjadi kejam ketika diberi kuasa, apalah jadinya kalau itu memang kehidupan nyata?

Ingat, yang buruk bukan apelnya, tapi keranjang yang dapat membusukkan apapun yang disentuhnya. Kita tidak sedang menuduh penguasa bermental korup, tapi kekuasaan absolut itulah yang mengkorupsi moral sesiapa yang bersinggungan dengannya.

Tulisan ini dimulai dengan kata pembuka "alkisah" agar pembaca percaya bahwa ini hanyalah dongeng pengantar tidur. Tapi rasanya pembaca juga telah tahu bahwa dongeng zaman sekarang juga seringkali dibuka dengan kalimat, "Kalau saya terpilih nanti...."

November 20, 2019

Dunia Para Perundung


Berikut adalah tulisan saya yang dimuat di thecolumnist.id

Terjadi lagi. Kasus bunuh diri akibat perundungan (bullying) menunjukan eskalasi yang kian mengkhawatirkan. Yang terbaru adalah kisah bocah YSS (14) yang nekat mengakhiri hidup karena sering dirundung teman-temannya. Padahal tak kurang dia punya prestasi. Selain memonopoli status juara kelas sejak SD, dia juga jagoan olimpiade matematika dan IPA hingga tingkat provinsi. Hadiah sepeda dari Presiden Jokowi semakin mempermanis torehannya.
Ilustrasi perundungan (sumber : health.mil)

Tetapi sayang kilauan prestasi tersebut tak mampu memadamkan kobaran stigma negatif yang sering dialamatkan padanya. Ayahnya yang berprofesi sebagai tukang cor adalah pembunuh ibunya sendiri. Dengan tragis, sang ibu dicor dalam bak semen. Sejak saat itu, YSS mendapat ejekan dari teman-temannya sebagai keturunan pembunuh dan anak tukang cor. Tak kuat menanggung ujian hidup yang teramat berat, jiwa belia itu menyerahkan diri di bawah utasan tali.

Kasus YSS hanyalah secuil contoh dari kasus perundungan yang kian memprihatinkan. KPAI mencatat ada 253 kasus perundungan sejak tahun 2011-2016, terdiri dari 122 anak menjadi korban dan 131 anak menjadi pelaku.

Baca selengkapnya disini:

October 18, 2019

Betawi Menggugat Ibu Kota



Berikut adalah tulisan saya yang terbit di thecolumnist.id

Menarik membaca tulisan Pemimpin Redaksi The Columnist, Yuli Isnadi, yang terbit Jumat (04/10) lalu dengan judul ‘Ibu Kota Apa Kabar, Jadi Pindah..?’ Dengan gaya bertutur yang mengalir, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama menyelami perasaan empat pihak yang terdampak pemindahan ibu kota. Keempat pihak tersebut masing-masing mewakili emosi: senang, galau, marah, dan sedih.

Perasaan senang diwakili oleh pihak yang ketiban rejeki akibat proyek ambisius pemerintah tersebut. Bung Yuli mencontohkan kawannya yang memiliki rumah di Balikpapan. Sedangkan perasaan galau menghinggapi para pekerja di Kementerian dan Lembaga Indonesia karena status sosial yang bisa terjerembab akibat pindah ke ‘pedalaman’. Adapun marah tertumpah di wajah DPR karena merasa dilangkahi pemerintah.

Bagian yang paling menarik adalah ketika Bung Yuli mengupas perasaan warga di empat desa Dayak Paser di Kabupaten Penajam Paser Utara, wilayah yang akan dijadikan ibu kota baru. Dia dengan lihai mengetuk pintu hati kita untuk ikut serta merasakan bagaimana keresahan mereka yang telah lama menderita dan akan semakin nelangsa manakala ibu kota jadi pindah.

Ah, saya jadi merutuki nasib, mengapa Bung Yuli tidak lahir sedari dulu, ketika Jakarta akan diputuskan menjadi ibu kota. Mungkin jika Bung Yuli lahir lebih awal, Bung juga akan menyuarakan pembelaannya untuk warga Betawi yang kini telah ‘abih tandeh’. Habis sehabis-habisnya.







October 16, 2019

Melankolia TKW Indonesia



Berikut tulisan saya yang diterbitkan di thecolumnist.id

Riyadh baru beranjak malam saat saya tiba di bandara King Khalid satu bulan lalu. Di depan saya ada puluhan wanita yang sedang antri melewati pintu imigrasi. Sebagian besar berusia muda, sekira 20-30 tahunan. Tapi ada pula diantara mereka yang rasanya sudah pantas menyandang gelar nenek.

Lelah dan penat karena perjalanan Jakarta – Riyadh yang tidak singkat, 7.353 km berdasarkan google map, terlukis jelas di wajah mereka. Raut bingung dan gerak langkah yang tidak pasti menyiratkan kesan bahwa sebagian dari mereka adalah orang baru. Bahasa daerah yang kental seolah menjadi penegas bahwa mereka berasal dari pelosok desa.

“Yang berbaris disana itu semua pembantu Indonesia” teriak seorang petugas imigrasi Arab Saudi kepada temannya sesama petugas. Tentu menggunakan bahasa Arab. Kalimat itu singkat tapi bagai sembilu yang menyayat. Saya yang berdiri tidak jauh dari si petugas tertegun cukup lama demi memaknai kalimat tersebut. 



July 18, 2019

Psikologi Jemaah Haji Indonesia

Berikut adalah tulisan saya yang dimuat di detik.com
 
Kloter pertama jamaah haji Indonesia telah berangkat ke tanah suci pada Sabtu 6 Juli 2019 lalu. Pada penerbangan perdana tersebut, jamaah haji Indonesia terbagi menjadi 4 kloter dari total 529 kloter yang rencananya akan diberangkatkan. Jumlah jamaah haji Indonesia sendiri tahun ini mengalami peningkatan menjadi 231.000 karena adanya penambahan kuota haji sebanyak 10.000.
 
Kloter pertama jemaah haji dari embarkasi Padang (sumber: detik.com)
Mengurus jamaah dalam jumlah sebesar itu tentu bukan perkara mudah. Apalagi jamaah haji Indonesia juga akan bergabung dengan jamaah haji dari seluruh dunia yang jumlahnya lebih dari 2 juta orang. Semuanya akan tumplek bleg di satu tempat. Kesalahan sekecil apapun sudah semestinya dihindari agar tidak terjadi kekacauan yang berefek domino. Maka pengelolaan haji yang rapi menjadi mutlak diperlukan.

Beruntung Indonesia telah memiliki pengalaman puluhan tahun dalam pengelolaan jamaah haji. Selama di tanah suci, para jamaah haji Indonesia akan didampingi oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Dengan tiga tugas pokok yang meliputi pembinaan, pelayanan, dan perlindungan, PPIH diharapkan menjadi ujung tombak penyelenggaraan ibadah haji yang aman dan nyaman, untuk kemudian mempermudah jamaah memperoleh haji yang mabrur.

Sebagai orang yang pernah menjadi petugas haji, melayani jamaah haji Indonesia memiliki tantangan tersendiri karena jumlahnya yang sangat besar, bahkan paling besar diantara negara-negara lain. Meskipun begitu, kondisi ini juga merupakan kesempatan emas untuk mengenal wajah nusantara. Bisa dibilang musim haji menjadi waktu yang sangat tepat untuk memahami psikologi orang Indonesia dan mengamati perbedaannya dengan jamaah haji dari negara lain, karena di musim inilah perilaku-perilaku mereka yang alami dan orisinil dapat ditemukan.

Selengkapnya baca disini:

April 30, 2019

Psikologi Pelaku Hoaks

Pesatnya perkembangan teknologi berdampak masif yang mau tidak mau dinikmati oleh dua kubu, yaitu kubu baik dan kubu jahat. Bagi pelaku kebaikan, digitalisasi informasi telah membantu mereka menyebarkan pesan positif, harapan, kedamaian, pengetahuan serta optimisme. Kebaikan dari Timur secepat kilat akan juga menyambar ke Barat, dan sebaliknya.

Di sisi lain, pelaku kejahatan juga diuntungkan dengan kemajuan ini. Tidak bisa tidak, derasnya arus digitalisasi peradaban ikut mengangkut sampah dan kotoran ke tengah masyarakat. Sampah yang paling sering muncul wujudnya berupa berita bohong atau hoaks.
Ilustrasi Hoaks (sumber: thatsnonsense.com)
Hoaks memiliki efek yang masif dan destruktif karena sifatnya yang cepat menyebar, bahkan lebih cepat daripada berita yang valid (Vosoughi, Roy, dan Aral, 2018). Konten berita hoaks sangat beragam, tapi diantara berbagai konten tersebut, Vosoughi dkk (2018) dalam penelitiannya menemukan bahwa hoaks dengan tema politik adalah yang paling cepat penyebarannya.  

Tidak dapat disangkal berita politik memang menjadi berita yang paling digandrungi masyarakat. Seolah tidak mengenal strata kehidupan, konten politik selalu riuh dibahas berbagai kalangan, mulai dari tukang ojek sampai pegawai kantoran, dari warung kopi sampai mimbar akademisi. Terlebih, Indonesia kini memasuki tahun politik. Hoaks sudah pasti berseliweran mengisi ruang digital. Ketidak-ketatan seseorang dalam menyeleksi informasi bisa membuatnya terbawa hoaks atau bahkan ikut mendistribusikannya.

Mengapa Orang Suka Hoaks?
Cepatnya penyebaran berita palsu daripada berita valid mengindikasikan bahwa manusia suka dengan hoaks. Sifatnya yang menghibur dan penuh sensasi mampu mengisi ruang-ruang jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut selalu mencari kesenangan (seek pleasure) dan menghindari penderitaan (avoid pain).

Melalui asas kesenangan (pleasure principle) ini kita dapat memahami bahwa hoaks tidak lain merupakan manifestasi kesenangan yang menerobos masuk dari alam fantasi menuju alam nyata. Bagi satu kubu, berita hoaks tentang lawan politiknya adalah upaya pemenuhan kesenangan yang tidak mereka dapat di kehidupan sebenarnya.

Kesenangan yang didapat melalui hoaks adalah substitusi dari kesenangan yang diterima norma.  Norma memiliki standar kesenangan yang sulit dicapai berupa prestasi. Karena prestasi sulit dicapai, maka manusia menggantinya dengan menjatuhkan lawan melalui berita hoaks. Dengan kata lain, hoaks adalah bentuk frustrasi dari ketidaktercapaian prestasi.

Berita hoaks juga disukai dan cepat menyebar karena adanya kecenderungan bersikap naif pada diri manusia yang dalam istilah psikologi sosial disebut naive realism. Ini adalah kecenderungan manusia untuk menganggap diri mereka sebagai pengamat dan pemikir obyektif, sehingga ketika mereka  mendengar atau melihat sesuatu yang selaras dengan keyakinannya, mereka condong memercayai dan bahkan ikut menyebarkannya.

Hal ini senada dengan penelitian Mackie, Worth, dan Asuncion (1990) yang mendapati bahwa manusia cenderung memercayai suatu berita jika itu dibuat oleh seseorang yang memiliki pandangan yang sama, daripada seseorang yang tidak. Selagi berita itu dianggap relevan dengan keyakinan kelompoknya, maka berita itu akan diterima secara kuat. Tentu hal ini menjadi sangat bias.

Selain faktor-faktor di atas, orang-orang juga menyukai berita hoaks dan cepat menyebarkannya karena biasanya berita hoaks menampilkan penjahat yang bisa disalahkan. Munculnya musuh bersama diyakini dapat meningkatkan kohesivitas kelompok dan lebih dekat pada tercapainya tujuan. Akan tetapi perlu disadari juga bahwa peningkatan kohesivitas dengan memunculkan musuh bersama gejalanya mirip dengan gangguan psikologi yang disebut xenofobia.

Reynolds, Falgar, dan Vine (1987) mendefinisikan xenofobia sebagai kondisi psikologis yang penuh permusuhan terhadap orang di luar kelompok (outsiders). Efeknya dua: dapat memobilisasi orang untuk memperjuangkan kelompok mereka, sekaligus juga berfungsi untuk mengikat anggota kelompok itu sendiri.

Dalam konteks mikro, pertandingan sepakbola misalnya, xenofobia bisa jadi berguna untuk menyatukan tim, dengan agresivitas berlebih menjadi resikonya. Tetapi dalam lingkup makro seperti kehidupan bernegara, xenofobia akan sangat fatal karena dapat menimbulkan perpecahan dan hilangnya kerukunan antar warga negara. Atas dasar itu pula, strategi menggunakan hoaks sebagai senjata politik dalam arena pemilu menjadi sangat tidak bijak karena keutuhan bangsa menjadi taruhannya.

Dalam konteks demokrasi, pemilu seringkali disebut sebagai pesta terbesarnya. Fitrah pesta adalah bersenang-senang. Akan tetapi, kesenangan itu rasanya begitu utopis bagi rakyat karena sampai kini hoaks terus dipelihara dan dikembangbiakan. Alih-alih bersenang-senang, pesta demokrasi justru bising dengan hujatan. Mereka yang menyenangi pesta semacam ini tidak lain hanyalah mereka yang frustrasi dan fobia.


Pustaka:
Mackie, D. M., Worth, L. T., & Asuncion, A. G. (1990). Processing of persuasive in-group messages. Journal of Personality and Social Psychology, 58(5), 812-822.

Reynolds, V.,  Falger, V., and Vine, I. (1987). The sociobiology of ethnocentrism: Evolutionary dimensions of xenophobia, discrimination, racism, and nationalism. Athens: University of Georgia Press.

Vosoughi, S., Roy, D., Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science, 359 (6380), pp. 1146-1151.