May 13, 2018

Review Maskapai Internasional Emirates

Satu hal yang menarik dari kuliah di Arab Saudi adalah, kita berkesempatan untuk mencicipi berbagai maskapai internasional, mengingat tiap akhir tahun akademik mahasiswa diberikan tiket mudik ke negara asalnya masing-masing. Meskipun secara aturan mahasiswa diharuskan menggunakan maskapai Saudia Airlines, tapi faktanya hal itu masih bisa disiasati sehingga mahasiswa bisa menggunakan maskapai lain sesuai kebutuhan. 
 
Saya sendiri telah mencicipi enam maskapai dengan rute Riyadh – Jakarta (pp). Berdasarkan pengalaman itu, saya akan memberikan ulasan bagi keenam maskapai tersebut dalam serial tulisan ini. Ulasan ini adalah ulasan orang awam yang dinilai berdasarkan pengalaman subjektif saya sebagai penumpang. Saya akan mengulas maskapai-maskapai tersebut berdasarkan aspek: pesawat, pelayanan saat terbang, bagasi, harga tiket, dan bandara induk.

Pada tulisan yang pertama, saya akan mengulas maskapai Emirates (EM) yang menjadi salah satu pemain besar dalam industri transportasi udara. Kiprahnya sudah tidak diragukan lagi dalam dunia internasional. Karena letak bandara induk yang strategis, EM menjadi rujukan banyak penumpang, baik untuk rute Asia, Eropa, maupun Amerika. Nama mereka bahkan menjadi nama stadion klub sepak bola Liga Inggris, Arsenal, satu indikator kuat yang menunjukkan bahwa mereka diterima dan diakui di negeri Ratu Elisabeth itu. 
Pesawat Emirates (sumber : wikipedia.com)
Beginilah ulasan saya terhadap maskapai Fly Emirates.

1.    Pesawat
Sejauh pengalaman saya melakukan penerbangan jarak jauh, terbang dengan pesawat EM-lah yang paling nyaman saya rasakan. EM selalu menggunakan pesawat tipe Air Bus dengan formasi kursi 2-4-2. Jadi kalau kamu duduk di dekat jendela, kamu tidak terlalu merepotkan tetangga sebelah mu seandainya kamu mau ke toilet.

Kelebihan pesawat EM menurut saya adalah suara mesinnya yang tidak bising, baik ketika lepas landas maupun mendarat. Fasilitas dalam pesawat juga sangat memanjakan. Bagi kamu yang suka nonton film, EM menyediakan film yang cukup up to date dan hiburan lain yang membuat perjalanan jauhmu tidak membosankan.

Nilai : * * * * *

2.    Pelayanan Saat Terbang
Pramugari dan pramugara EM benar-benar profesional, sigap, dan (yang paling penting) ramah. Meskipun EM adalah maskapai timur tengah, tapi petugas dalam pesawatnya cenderung heterogen, bahkan banyak yang berkulit putih juga (Eropa). Untuk rute Riyadh – Jakarta (pp) biasanya saya mendapat jatah 3x makan (Riyadh – Dubai = 1x (makan ringan); Dubai – Jakarta = 2x (makan ringan dan berat). Diluar jam makan pun kita masih bisa request makan dan/atau minum.

Selain profesional, sigap, dan ramah, para pramugari juga berperilaku sopan yang ditunjukkan dari gaya berpakaiannya. Walaupun tidak berhijab, tapi mereka memakai rok di bawah lutut dan baju yang serba tertutup. Mengapa saya menekankan hal ini? Karena saya pernah merasakan satu pengalaman terbang dengan salah satu maskapai yang pramugarinya kurang sopan gaya berpakaiannya dalam pandangan saya (akan saya ceritakan terpisah nanti). Hal itu membuat saya kapok menggunakan maskapai itu lagi.

Nilai : * * * * *

3.    Bagasi
Standar bagasi EM bagi tiap penumpang maksimal 30 kg. Tetapi ketika saya terbang dari Riyadh  ke Jakarta, saya mendapat bagasi 40 kg ditambah air zam-zam 10 liter di luar bagasi. Jadi totalnya sama dengan 50 kg. Sedangkan rute balik (Jakarta – Riyadh) tetap 30 kg. Adapun koper dalam kabin secara peraturan maksimal 7 kg.

Salah satu kelebihan EM dalam hal bagasi adalah mereka tidak terlalu ketat dan rewel. Jadi kalau bagasimu berlebih, mereka biasanya tetap akan mengizinkan asalkan lebihnya tidak kelewatan. Selisih 2 atau 3 kg masih dapat ditoleransi. Hal yang sama berlaku bagi koper kabin. Mengapa mereka cenderung longgar dalam urusan bagasi? Saya sendiri kurang tau, tapi pernah teman saya bilang bahwa EM sebenarnya adalah maskapai kargo yang sekaligus sebagai pesawat penumpang. Allahu‘alam.

Nilai : * * * * *

4.    Harga Tiket
Sebagai maskapai kelas dunia, harga tiket EM cenderung standar, tidak terlalu mahal, tapi juga tidak murah. Untuk rute Riyadh – Jakarta (pp) kisaran harganya 2000 – 2500 SAR (sekitar 8 juta rupiah). Ada maskapai lain yang lebih murah dari itu, ada juga yang lebih mahal. Tetapi menurut saya harga EM yang paling rasional dan senilai dengan fasilitas yang diberikan.

Nilai : * * * *

5.    Bandara Induk
Konsekuensi melakukan penerbangan jauh adalah biasanya sulit  menemukan (atau bahkan tidak ada) penerbangan langsung (direct) tanpa transit. Di sinilah pentingnya bandara induk dari pesawat yang kita tumpangi. EM sendiri menginduk ke bandara Dubai International Airport. Ini adalah salah satu bandara terbesar dan tersibuk di dunia.

Ukuran besarnya bandara bagi saya sangat penting karena dengan kondisi badan yang lelah, kesumpekan akan membuat jiwa raga saya semakin bertambah lelah. Kalau bandaranya besar, saya bisa memilih tempat yang agak kosong untuk istirahat menunggu penerbangan berikutnya.

Selain itu, fasilitas bandara induk EM juga sangat lengkap, mulai dari wifi gratis, ketersediaan layar jadwal penerbangan yang banyak dan dengan ukuran yang besar (sangat penting), pusat perbelanjaan, kecakapan pegawai bandara dalam berbahasa Inggris, musholla, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Nilai : * * * * * 

Secara keseluruhan, saya memberikan nilai 4,8 (dari 5) bagi maskapai EM. Nilai itu hampir sempurna karena nyatanya EM memang memiliki performa yang istimewa seperti yang saya sebukan di atas. Sekali lagi ini adalah pengalaman subjektif saya. Bagi pembaca yang memiliki penilaian lain, itu sah-sah saja. 

Oya, saya tidak mendapatkan bayaran apa-apa dari Emirates atas review ini. Motivasi saya menulis ini hanya untuk memberikan informasi bagi para pembaca yang ingin berpergian jauh, terutama mereka yang baru akan merasakan terbang jauh untuk pertama kalinya. 

#HomeSweetHome – Tangerang Selatan

0 comments:

Post a Comment