November 15, 2011

Arab vs Belanda


Di kampus tempat saya kuliah saat ini, Rijkuniversiteit Groningen, sedang dibuka program kursus singkat Bahasa Belanda untuk mahasiswa2 Internasional. Programnya akan berlangsung selama 7 minggu, November sampai pertengahan Desember, dan minggu ini sudah memasuki minggu kedua.

Saya sendiri ikut bergabung dalam program tersebut, tapi bukan karena ingin fasih berbahasa Belanda, melainkan untuk membangun relasi yang lebih luas lagi dengan mahasiswa internasional (well, bukan berarti saya tidak punya keinginan sama sekali untuk bisa berbahasa Belanda).

Di fakultas tempat saya belajar sekarang, Behavioral and Social Science,  banyak sekali mahasiswa Jerman. Hampir setiap orang yang saya ajak berkenalan pasti berasal dari Jerman. Bahkan buddy saya pun seorang Germany. Maka dari itu, agar saya punya relasi yang lebih variatif, saya ikut program kursus singkat ini. Akan tetapi sayangnya di program ini pun ternyata mahasiswa Jerman masih mendominasi. Mungkin sekitar 2/3 kelas isinya Jerman  -_-‘. Itu saya ketahui ketika meneer pengajar menanyakan negara asal mahasiswa.
***
Walaupun saat ini saya tinggal di Belanda, tapi saya justru lebih memiliki keinginan untuk bisa berbahasa Arab daripada Belanda. Alasannya, karena hampir setiap umat Islam yang ada di sini bisa berbahasa Arab dan biasa berkomunikasi dengan bahasa itu.

Saya kadang iri melihat keakraban mereka. Mereka sangat cair satu sama lain. Mau menjalin keakraban serupa sepertinya sangat sulit karena hanya segelintir dari mereka yang bisa berbahasa Inggris. Pernah saya diundang dalam acara aqiqah salah satu jama’ah. Acaranya sangat meriah dan banyak dihidangkan makanan yang memanjakan lidah. Meski demikian, saya merasa seperti orang asing di situ karena selain saya adalah satu2nya jamaah dari Indonesia, saya juga satu2nya jamaah yang tidak bisa berbahasa Arab.  Jadi, saya hanya bisa memasang senyum dan bahasa2 non verbal lain yang dibuat seramah mungkin.

Terkadang, saya juga malu jika ikut kajian singkat yang biasa dilaksanakan setelah sholat ashar di Masjid Korreweg (komunitas Turki). Pasalnya, setiap sang Imam selesai membacakan dan menjelaskan kitab rujukan, Riyadush Shalihin, beliau selalu minta seseorang yang fasih berbahasa Inggris untuk menerjemahkan kepada saya tentang apa yang baru saja beliau katakan. Dan beliau melakukan ini “spesial” hanya untuk saya, karena hanya saya dalam jamaah tersebut yang tidak bisa berbahasa Arab (meskipun terkadang saya juga cukup mengerti jika beliau membacakan hadits yang cukup populer). Diperlakukan spesial seperti ini sering membuat saya keki, salah tingkah, dan malu.

Pengalaman seperti ini membuat saya kembali meneguhkan tekad untuk kembali belajar bahasa Arab. Dulu saya sempat belajar, tapi belum mampu istiqomah sehingga hasilnya sangat jauh dari maksimal. Semoga tekad saya kali ini bukan tekad musiman yang timbul tenggelam seiring bergantinya musim. Mudah2an tekad kali ini diiringi keistiqomahan dan kesungguhan sehingga bisa mendapatkan hasil yang lebih optimal.

0 comments:

Post a Comment