July 28, 2020

Hiburan yang Tidak Menghibur

Begitu mudah manusia zaman sekarang mengakses hiburan. Dengan usap-usap layar hp saja, kita sudah bisa hadir dalam konser musik musisi kenamaan, menyaksikan film favorit, menonton acara lawak, bahkan merasakan sensasi berburu.

Smartphone dan paket data bukan lagi kebutuhan sekunder, apalagi tersier. Keduanya bahkan lebih penting dari makan. Jika makan hanya dilakukan tiga kali sehari, maka intensitas kita melongok smartphone tak bisa terhitung jari. Apapun dan dimanapun kegiatannya, skrol-skrol layar hp selalu menjadi penyerta. Seperti ada rasa lapar yang tak bermuara.

Ilustrasi main gadget (sumber : Pexels)

Hasil riset Hootsuite dan agensi marketing sosial We Are Social yang dirilis akhir Januari lalu mengungkap bahwa Indonesia masuk ke dalam 10 besar negara yang paling lama mengakses internet. Durasi akses internet orang Indonesia selama tahun 2019 rata-rata mencapai 7 jam 59 menit. Angka ini berada di atas angka rata-rata penduduk dunia yang “hanya” 6 jam 43 menit dan bisa jadi jauh meningkat selama pandemi corona.

Sayangnya aktivitas kita berselancar di dunia maya sangat jauh dari kata produktif. Dari nyaris 8 jam yang dihabiskan orang Indonesia untuk mengakses internet, 3 jam 26 menitnya digunakan untuk mengakses media sosial, 1 jam 30 menit untuk steraming musik dan 1 jam 23 menit untuk menggunakan konsol game. Otak kita dibanjiri dengan hiburan.

Kondisi otak yang terbiasa mudah mengakses hiburan membuatnya semakin berat untuk diajak “susah”. Dalam neuroscience, dikenal istilah neuroplasticity, yaitu kemampuan otak untuk mengorganisasikan (mengubah) dirinya sendiri, baik struktur maupun fungsinya.

Perubahan tersebut dipengaruhi oleh rangkaian pengalaman yang kontinu, seperti perilaku, pemikiran, perasaan, emosi, bahkan imajinasi sekalipun. Ketika satu pengalaman itu diulang terus-menerus, maka akan terbentuk jaringan sistem saraf yang unik atas pengalaman tersebut (Gumilar, 2016).

Jika demikian, maka tidak heran kalau ada orang yang kuat bermain game berjam-jam, karena setiap hari otaknya dilatih untuk itu. Ketika seseorang sudah berada pada kondisi seperti ini, otak akan semakin sulit diajak “susah”. Coba saja minta anak yang sudah kecanduan game untuk belajar, jangankan berjam-jam, sepuluh menit pun dia tak tahan.

Dan kondisi ini bukan hanya menyasar para pecandu game, tetapi juga pemburu hiburan dari media sosial, youtube, atau platform lain. Semakin seseorang bergantung pada hiburan dunia maya, semakin sulit dirinya menoleransi kesusahan.

Coba tanyakan pada dirimu, apakah kamu mudah marah, uring-uringan, bahkan kompulsif pada hal-hal sepele, seperti koneksi internet yang lambat saat mengakses media sosial? Jika iya, waspadalah, mungkin kamu sudah termasuk pecandu.

Candu internet, medsos atau game sama tidak baiknya dengan candu obat-obatan terlarang. Bedanya, obat-obatan terlarang lebih cepat merusak otak dibanding candu yang lain. Meski demikian, bukan berarti candu internet dapat disepelekan.

Selain struktur dan fungsi yang bisa berubah karena neuroplasticity, otak orang yang selalu mencari hiburan di internet juga akan dibanjiri oleh dopamin, yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan. Dopamin ini membuat kita ingin merasakan pengalaman yang serupa berulang-ulang. Karena itu, ketika kita mendapatkan suatu pengalaman yang menghibur, kita ingin terus-menerus merasakannya.

Maka tidak heran dalam sekali duduk, orang bisa menghabiskan berjam-jam dalam bermain game atau menonton video di youtube. Meski pada awalnya kita hanya ingin menonton satu video singkat, tapi sensasi dopamin membuat kita tidak beranjak hingga video kesekian.

Celakanya, semakin kita menuruti keinginan tersebut, semakin kita sulit lepas darinya. Niat awal menggunakan internet untuk mencari hiburan akan berakhir dengan kondisi mental yang semakin merasa kesepian dan tidak bermakna. Tidak hanya itu, hubungan interpersonal kita dengan orang lain juga akan bermasalah dan suasana hati semakin tidak menentu.

Oleh karena itu, kita perlu membatasi hiburan dengan kadar yang wajar. Kalaupun harus mencari kesenangan, carilah kesenangan yang lebih bermakna dengan usaha yang lebih agar jiwa tidak tersandera dengan hal-hal yang artifisial.

Apalagi di situasi pandemi corona seperti sekarang ini. Pilihan aktivitas yang semakin terbatas membuat manusia semakin mudah tergiring untuk lari ke dunia maya. Semoga niat baik untuk menghindari virus yang menyerang fisik tidak membuat kita abai dari virus yang menyerang psikis. 

Dimuat di The Columnist (https://thecolumnist.id/artikel/catatan-redaksi-hiburan-yang-tidak-menghibur-1017)

June 25, 2020

Tepatkah Pemerintah Batalkan Haji?


Setelah terkatung-katung dalam ketidakpastian, pemerintah melalui Kementerian Agama akhirnya secara resmi batal memberangkatkan jemaah haji tahun 1441 H.

Memang bukan keputusan yang mudah, apalagi jika melihat antusiasme masyarakat yang rela antri puluhan tahun demi menunaikan rukun Islam kelima ini. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, keputusan yang tidak populis ini terpaksa diambil.
Penampakan Masjidil Haram saat Lockdown (sumber: idxchannel.com)
Seperti yang sudah diduga, reaksi keras publik segera bermunculan setelah pengumuman tersebut. Apalagi pembatalan dilakukan tanpa menunggu keputusan dari Arab Saudi selaku tuan rumah penyelenggaraan haji.

“Setidaknya pemerintah bersabar menunggu keputusan dari Arab Saudi, apakah meniadakan haji atau tidak. Jangan mengambil keputusan sepihak” kurang lebih begitu salah satu bentuk protes masyarakat.

“Jangan-jangan uangnya mau dipakai untuk menanggulangi corona dan ekonomi yang nyungsep” ujar spekulasi yang lain.

Kekecewaan yang dibumbui spekulasi liar publik sangat beralasan, terlebih hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan adanya penurunan kepuasan publik terhadap langkah pemerintah dalam menangani Covid-19 (Tempo.co, 7/6). Rendahnya kepuasan ini pada akhirnya menjadi pemantik rupa-rupa praduga.

Meski demikian, pemerintah tentu memiliki deret pertimbangan sebelum mengambil keputusan sulit ini. Salah satu yang menjadi pertimbangan utama tentu saja masalah kesehatan. Biar bagaimanapun, mengirimkan jemaah ke tanah suci di tengah pandemi yang belum dapat dikendalikan adalah pilihan yang sangat beresiko.

Jemaah haji Indonesia yang jumlahnya mencapai 221.000 orang akan berjubel dengan 2 juta jemaah lain dari seluruh dunia (dengan asumsi semua negara tidak membatalkan haji). Jika satu orang saja terinfeksi corona, tidak terbayang malapetaka seperti apa yang akan terjadi.

Begini, ibadah haji adalah salah satu ibadah yang pengelolaannya paling rumit. Dalam kondisi normal saja, kesalahan sekecil apapun bisa jadi bencana besar. Rentetan tragedi Mina adalah salah satu contohnya. Tragedi Mina terakhir tahun 2015 yang merenggut 453 korban jiwa terjadi “hanya” karena dorong mendorong antar jemaah.

Itu dalam kondisi normal. Tidak ada variabel lain yang membahayakan seperti Covid-19. Lalu akan seperti apa jadinya jika ada virus mematikan ikut campur merecoki ibadah ini?

Di sisi lain, Arab Saudi sendiri masih berjibaku melawan Covid-19. Jumlah kasus terkonfirmasi per tanggal 9 Juni masih cukup tinggi, yaitu sebanyak 108.571 kasus. Pemberlakuan new normal yang dimulai bertahap sejak tanggal 28 Mei rupanya berimplikasi pada peningkatan kurva Covid-19 yang sempat melandai.

Lebih dari itu, pemerintah Arab Saudi masih memberlakukan lockdown bagi kota Mekkah di saat kota-kota lain mulai bergeliat menuju kenormalan baru. Mekkah memang menjadi salah satu kota dengan kasus Covid-19 terbanyak setelah Riyadh (Ministry of Health KSA, 9/6). Keadaan ini menjadi sangat riskan mengingat sebagian besar aktivitas haji terpusat di Mekkah.

Selain faktor kesehatan, sempitnya waktu persiapan juga menjadi pertimbangan serius pemerintah dalam memutuskan pembatalan haji tahun ini. Belum adanya kepastian haji dari Arab Saudi membuat langkah pemerintah dalam mempersiapkan haji sangat terbatas.

Orang bijak bilang, “gagal mempersiapkan sama artinya dengan mempersiapkan kegagalan.” Dalam keadaan normal, tiga bulan sebelum musim haji adalah masa-masa krusial, baik bagi jemaah maupun bagi pemerintah.

Jemaah memerlukan program manasik dan persiapan lain untuk mematangkan pelaksanaan ibadah di tanah suci. Adapun pemerintah perlu menyempurnakan detil demi kelancaran ibadah para jemaah. Beberapa persiapan mungkin bisa dilakukan sambil menunggu kepastian, tapi hal-hal yang sifatnya sangat teknis menjadi mandeg karena belum ada lampu hijau dari tuan rumah.

Dengan sisa waktu yang kurang dari tiga minggu, sangat sulit bagi pemerintah untuk menyiapkan urusan-urusan tersebut. Apalagi di tengah pandemi seperti ini ada protokol kesehatan yang harus dilaksanakan, seperti karantina sebelum keberangkatan. Menteri Agama menyatakan bahwa untuk mengarantina jemaah Indonesia, dibutuhkan setidaknya 28 hari.

Itu baru teknis sebelum pemberangkatan, urusan teknis selama pelaksanaan haji beda lagi perkaranya. Saya yang pernah menjadi bagian dari PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) cukup mengetahui bagaimana rumitnya pengelolaan selama hari H.

Dalam kondisi normal, lautan manusia yang berdesakan satu sama lain baik ketika thawaf, lempar jumroh, maupun prosesi lainnya tidak bisa terelakkan. Meski ada instruksi dan imbauan dari petugas untuk menjaga ketertiban, tapi tidak semua jemaah mematuhinya.

Banyak hal bisa menjadi penyebabnya, baik faktor internal jemaah maupun eksternal. Faktor internal misalnya karena ketidaktauan jemaah atau kurangnya kesadaran mereka.

Kurangnya kesadaran itu bisa juga dipicu karena faktor eksternal, misalnya suhu Arab Saudi yang pada musim haji belakangan ini selalu berkisar 45 derajat celcius. Di bawah kondisi cuaca yang sebegitu panasnya, sudah menjadi naluri manusia untuk mencari cara tercepat untuk ‘mengevakuasi diri’. Sehingga petugas yang jumlahnya sangat terbatas pun kewalahan menanganinya.

Karena itu, meski nantinya ada penerapan protokol Covid-19, saya tidak yakin hal itu akan banyak membantu. Maka dari itu, menunda keberangkatan haji hingga tahun berikutnya (atau sampai keadaan kondusif) menurut saya adalah jalan terbaik.

Toh dalam kondisi seperti ini, para ulama sepakat bahwa menjaga jiwa (hifz al-nafs) harus diutamakan. Karena tujuan dari setiap syariat (maqashid al-syariah) sejatinya untuk meraih kemaslahatan dan menghindari kemudharatan. Jangan sampai ibadah yang niatnya baik justru menjadi bencana karena hal-hal yang sebenarnya bisa ditangkal.

Adapun mengenai dana jemaah yang dikhawatirkan “disalahgunakan”, Anggito Abimanyu selaku kepala BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji) telah menegaskan bahwa dana tersebut aman dan tidak akan digunakan kecuali untuk kepentingan jemaah. Semoga janji tersebut dapat dijaga dan amanah yang berat ini dapat diemban dengan sebaik-baiknya.

*tulisan ini dimuat di The Columnist (klik di sini).

May 20, 2020

Puasa dan Belenggu Amarah


Ramadhan 1441 H menyisakan babak final. Al-asyru al-awakhir yang biasa kita songsong dengan i’tikaf di masjid tahun ini akan berbeda mengingat pandemi Covid-19 yang belum juga usai. Mau tidak mau, kita akan melepas bulan suci ini dari rumah sebagaimana kita menyambutnya dulu.

Satu hal yang patut kita refleksikan dari Ramadhan yang kita jalani #DiRumahAja adalah terkait outputnya. Allah mewanti-wanti kita dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan puasa adalah agar menjadi orang yang bertaqwa.

Taqwa memiliki rincian indikator yang sangat beragam, salah satunya yang tersurat dalam Ali-Imran ayat 134. Allah berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”

Ayat ini adalah penjelasan dari ayat sebelumnya tentang surga yang Allah janjikan bagi para muttaqin. Dalam ayat 134 di atas Allah menjelaskan bahwa salah satu indikator taqwa adalah “al-kadzimin al-ghaydzha” yang diterjemahkan sebagai “orang-orang yang menahan amarah”.

Ilustrasi marah (sumber: pixabay.com)
Dalam bahasa Arab, selain diartikan sebagai “orang yang menahan”, al-kadzim juga bisa bermakna “penutup” dari suatu bejana. Kalau bejana telah ditutup dengan kadzim-nya, maka tidak akan ada air yang keluar darinya. Bahkan meski hanya tanda-tanda berupa tetesan.


Ibarat bejana, al-kadzimina al-ghaydzha yang menjadi indikator taqwa juga adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dengan paripurna. Sehingga tidak ada kemarahan yang nampak meski hanya berupa tanda-tanda. Tidak ada mata yang melotot, gigi yang gemeletuk, tangan yang mengepal, apalagi kata yang menyayat.

Ini bukan berarti kemarahan itu tidak ada sama sekali. Bukan itu. Sebagai manusia, Allah menganugerahkan kita seperangkat emosi berupa senang, sedih, takut, duka, termasuk juga marah. Tanpa adanya emosi hidup manusia akan hambar, hubungan interpersonal akan kaku, dan drama Korea tidak akan digandrungi.

Akan tetapi, dengan emosi itu juga manusia diuji. Bagaimana manusia mengekspresikan emosi bisa menjadi kebaikan atau keburukan untuk dirinya. Dalam hal ini, Allah menjadikan marah sebagai penguji ketaqwaan seorang hamba.

Ketika manusia marah, sejatinya ia bukan hanya berpotensi mendzhalimi orang lain, melainkan juga dirinya sendiri. Saat marah, otot tubuh manusia akan menegang, detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan napas memburu.

Di dalam otak orang yang marah, korteks sebagai pusat logika terpinggirkan perannya, diganti oleh amigdala sebagai pusat emosi. Masalahnya amigdala beraksi tanpa memperhatikan konsekuensinya karena bagian ini tidak terlibat dalam menilai, berpikir atau mengevaluasi.

Oleh karena itu, marah yang dituruti akan membuat manusia kehilangan kontrol atas dirinya sehingga kadang mereka tega melakukan kekejaman. Setelah marah itu reda, yang artinya korteks kembali mengambil alih, barulah mereka menyesali perbuatannya. Hal itu biasanya ditandai dengan kalimat pamungkas “Maaf, saya khilaf”.

Menahan amarah memang tidak mudah. Ketidakmudahan itu bahkan dijadikan acuan kekuatan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dalam haditsnya yang mulia beliau bersabda:

“Bukanlah orang yang kuat itu orang yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullaah shallallahu alaihi wa sallam memahami betul bahwa perang terberat bagi manusia adalah melawan hawa nafsu karena perang ini akan terus berkecamuk hingga ajal menjemput. Hal itu dipersulit dengan sikap kita yang cenderung sayang kepada diri sendiri sehingga apa-apa yang bersumber dari hawa nafsu seringkali dituruti.

Padahal jika mau bersabar, hanya butuh 20 menit bagi amarah itu untuk reda (Fennely, Benau, Atchley, 2016). Dua puluh menit yang akan sangat membedakan, apakah kita hidup dengan penyesalan karena menuruti kemarahan atau bahagia karena mendahulukan kesabaran.

Covid-19 dan Potensi Ibadah Ramadhan Kita

Secara teori, Ramadhan di rumah semestinya bisa dilalui dengan lebih mudah karena akses terhadap godaan yang berseliweran di luar rumah menjadi terbatas. Lebih dari itu, rupa-rupa stressor yang berpotensi membuat kita naik darah juga seharusnya semakin terminimalisir. Entah itu stressor di sekolah, kampus, kantor atau jalan.

Artinya kita telah terkondisikan sedemikian rupa agar berhasil menjalani ibadah di bulan suci ini. Setan terbelenggu, lingkungan terkondisikan. Sempurna sudah.

Akan tetapi teori tinggallah teori. Kadang ia hanya berkelebat di alam pikiran, menggumpal dalam bentuk niat, tanpa mewujud dalam laku keseharian. Marah yang das sollen-nya tak akan mudah terpantik sewaktu Ramadhan #DiRumahAja, toh akhirnya menggejala juga.

Ragam stressor harian yang hilang selama #DiRumahAja tersubstitusi dengan stressor lain. Entah mengapa ada saja hal-hal yang memantik tensi, entah itu tugas sekolah anak yang butuh pendampingan, perilaku pasangan yang kadang bikin pening, atau tetek bengek lainnya.

Saya ingat dulu di awal-awal seruan work from home ada banyak meme yang beredar, salah satunya meme transformasi wujud ibu. Hari pertama work from home ibu dianalogikan sebagai boneka yang begitu ramah membersamai anak.

Akan tetapi suka cita itu hanya bertahan di hari pertama saja, karena di hari kedua dan ketiga ibu berubah menjadi macan dan T-Rex. Puncaknya setelah seminggu lebih ibu diibaratkan sebagai naga yang menyemburkan api.

Ya, tentu itu hanya metafora belaka. Tetapi saya rasa ada realitas yang terkandung juga dalam meme tersebut. Bahwa mempertahankan emosi yang socially desirable bukanlah pekerjaan mudah. Oleh karena itu, menahan amarah digolongkan sebagai ciri ketaqwaan yang beroleh surga. Karena memang susah mempraktekannya. Kalau mudah, mungkin cuma payung cantik hadiahnya.

Di Ramadhan yang telah memasuki sepertiga akhir ini, mari bersama kita tafakuri, adakah cerminan al-kadzimina al-ghaydzha dalam diri kita?


Dimuat di https://www.voa-islam.com/read/world-analysis/2020/05/16/71855/puasa-dan-belenggu-amarah/

April 30, 2020

Menjaga Kewarasan di Tengah Kecemasan


Hari-hari ini kita dihadapkan pada situasi yang sulit. Covid-19 yang semula dianggap remeh oleh sebagian kalangan nyatanya menjadi monster yang mengacaukan tatanan dunia. Setelah berbulan-bulan sejak kasus pertama ditemukan, akhir kisah Covid-19 bukannya semakin jelas, justru tambah runyam dengan ditemukannya ribuan kasus baru tanpa gejala di China.

Kita menjadi cemas dan khawatir, bukan hanya karena takut terinfeksi virus tersebut, melainkan juga karena kita dihadapkan pada ketidakpastian di masa depan. Paduan ambruknya kesehatan global dengan terpuruknya ekonomi adalah seburuk-buruk duet bagi mental manusia.
Ilustrasi gambar dari Pixabay.com

Ditambah lagi tidak ada satupun ahli yang dapat memastikan kapan akhir dari saga corona ini. Mereka hanya dapat mengira dengan perkiraan yang berbeda-beda. Bill Gates misalnya, dalam wawancaranya bersama CNN memprediksi corona akan kelar dalam waktu 2-3 bulan saja dengan syarat masyarakat tertib melaksanakan social distancing.

Selain itu, ada Rishi Desai dari Center for Disease Control (CDC) yang memperkirakan corona baru akan berakhir tahun 2021. Adapun untuk konteks Indonesia, jajaran peneliti ITB mengestimasi selesainya corona di tanah air terjadi akhir Mei atau awal Juni setelah sebelumnya mengatakan akan berakhir pertengahan April.

Berbagai prediksi tersebut seolah menegaskan ketidakpastian bencana ini. Celakanya, manusia adalah tipikal makhluk yang membenci ketidakpastian. Mereka tidak pelit menyisihkan pendapatannya demi meredam cemas yang mendera sebagai akibat dari ketidakpastian masa depan. Maka, ketika manusia modern mencemaskan hal-hal yang melekat padanya, baik nyawa maupun harta, bisnis asuransi dengan jeli hadir sebagai penyuplai ketenangan.

Akan tetapi, ahli jiwa memberi kabar gembira akan kecemasan massal akibat Covid-19 yang kita rasakan akhir-akhir ini. Bahwa di tengah situasi krisis seperti bencana alam, perang, termasuk juga pandemi corona, rasa cemas dan khawatir yang membelit jiwa kita sedianya adalah sesuatu yang normal.

Kecemasan itu tidak lain adalah reaksi psikologis sebagai mekanisme pertahanan diri kita terhadap kejadian yang abnormal. Dalam situasi krisis, entah bagaimana otak kita menjalankan sistem yang tidak seperti biasanya. Seperti sengaja bersekongkol untuk menyelamatkan tuannya.

Begini, tiap kali ancaman itu datang, sistem limbik sebagai pusat kendali emosi manusia akan bekerja lebih gesit. Saking gesitnya, pikiran rasional yang biasanya muncul sebagai buah kerja otak depan (frontal lobe) menjadi tak kelihatan, tertutupi oleh rangkaian emosi yang diproduksi sistem limbik tadi. Hasilnya, manusia dihantui rasa cemas dan takut.

Selama rasa cemas dan takut itu tidak menguasai diri, hal itu wajar-wajar saja adanya. Artinya secara mental kita masih sehat, selaras dengan kriteria sehat mental dari WHO. Lagipula, kecemasan itu kita butuhkan juga sebagai bagian dari naluri bertahan hidup manusia.

Akan tetapi, rasa cemas menjadi tidak wajar ketika ia membuat kita tersandera sampai tidak mampu melakukan hal-hal lain. Sehingga badan dan pikiran kita sepenuhnya di bawah kendali kecemasan.
Ini buruk. Selain kekurangan suplai pikiran rasional, cemas berlebih juga berakibat negatif bagi sistem imun manusia. Sebab saat seseorang mengalami stres yang tidak terkelola, akan ada perubahan fisiologis pada tubuhnya, terutama kaitannya dengan kadar hormon.

Neuropsikologi memercayai bahwa saat manusia merasakan cemas berlebih, hormon dopamin dan serotonin yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan akan menurun produksinya. Di sisi lain, hormon adrenalin dan kortisol yang sering disebut sebagai hormon stres justru meningkat.

Kondisi yang demikian akan menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh dan terganggunya sistem imun sehingga kita lebih rentan terhadap penyakit, baik penyakit asli maupun penyakit “bikinan” kita sendiri yang biasa disebut psikosomatis.

Ya, di tengah pandemi corona seperti sekarang ini, banyak orang mengalami psikosomatis. Merasa sakit, padahal tidak. Sesak napas karena takut corona dianggap terinfeksi corona betulan. Pilek karena kehujanan langsung sambat minta bantuan. Padahal bisa jadi masalah tersebut selesai hanya dengan mengatur pernapasan.

Hal buruk lainnya, kecemasan eksesif membuat manusia diliputi pikiran negatif. Dalam keadaan normal saja pikiran kita sudah didominasi oleh hal-hal negatif dengan proporsi mencapai 80% (National Science Foundation, 2005). Lalu apa jadinya pikiran kita di tengah pandemi corona seperti sekarang ini?

Konyolnya, dari semua pikiran negatif manusia, 85% diantaranya sebenarnya tidak pernah menjadi kenyataan. Pun dari 15% dari kekhawatiran yang jadi nyata, 79% subjek penelitian ternyata dapat menangani kesulitan dengan lebih baik dari yang mereka perikirakan (Leahy, 2005).

Pikiran negatif hanya membuat manusia dibayangi pesimisme. Ketika pesimisme mendominasi pikiran, maka pintu harapan menjadi buram di mata. Pada titik ekstrem, orang menjadi kehabisan alasan untuk sekadar melanjutkan hidup. Maka tidak mengherankan ada banyak kasus bunuh diri akibat kecemasan corona kita baca akhir-akhir ini. Ambil contoh kasus bunuh diri Menteri Keuangan negara bagian Hesse Jerman, perawat di Italia, sampai WNA Korea di Solo.

Lalu apa sebaiknya yang kita lakukan agar tidak cemas berlebihan?

Berpikir positif adalah jalan terbaik untuk membatasi kecemasan. Dengan pikiran yang positif kita akan menjadi lebih tenang dan kalem sehingga saluran rasionalitas tidak tersumbat. Hal itu bisa kita mulai, misalnya dengan membatasi diri dengan info yang akurat.

Bahwa kita membutuhkan update informasi betul adanya, tetapi menjadi keliru ketika informasi-informasi tersebut membanjiri pikiran kita. Apalagi akhir-akhir ini sebagian besar berita berisi informasi yang “tidak ramah” mental. Belum lagi berita-berita hoaks yang berseliweran di media. Ketidakmampuan untuk mengerem rasa ingin tahu akan berdampak buruk bagi kesehatan mental kita.

Yang tidak kalah penting, sebagai bangsa yang berketuhanan, mendekatkan diri pada Allah sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti sekarang. Selain membuat kita jadi lebih tenang, doa adalah penyempurna ikhtiar-ikhtiar kita untuk mencapai keselamatan.


Tulisan ini telah dimuat di Banten News (https://www.bantennews.co.id/menjaga-kewarasan-di-tengah-kecemasan/)

March 31, 2020

Hari-hari Tanpa Berjamaah


Berikut adalah tulisan saya yang dimuat di Hidayatullah.

Sejak ditemukan di Wuhan akhir tahun lalu, virus corona (Covid-19) telah merangsek tak terkendali ke berbagai belahan bumi. Menginfeksi tubuh manusia dalam senyapnya. Tak peduli umur, latar belakang, status sosial, bahkan agama. Semua berada dalam kerentanan yang sama.

Dengan perkiraan tingkat transmisi virus 1,4 – 2,5, sampai saat ini Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 245 ribu orang di seluruh dunia, 10 ribu diantara mereka terenggut jiwanya (Worldometers.info, sampai 20 Maret).

Bukan saja menjerat tubuh orang yang sudah positif, Covid-19 juga mengintimidasi psikologi manusia yang belum terinfeksi. Panic buying, rasa was-was, takut bahkan stres menjadi pemandangan baru yang belakangan masif menjejali beranda media sosial kita.

Semua sektor terdampak. Segala aktivitas yang mengundang kerumunan manusia dibatalkan, mulai dari sekolah, pertandingan olahraga, konser musik, seminar, pelatihan, bahkan agenda suci seperti peribadatan turut terkena imbasnya.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, sholat Jum’at dan sholat berjamaah di beberapa negara dihentikan sementara. Berharap dengan begitu virus tak semakin liar persebarannya. Umat muslim kini menghadapi hari-hari tanpa shalat berjamaah.

“Shollu fii buyutikum.” Begitu lantunan adzan yang bergema di banyak negeri belakangan ini. Kita teringat saat panggilan itu dikumandangkan pertama kali di langit Kuwait beberapa waktu lalu, sendu seketika menggelayut, lalu menjalar di hati umat muslim seluruh dunia. Seturut menjalarnya video sang muadzin yang menangis itu di jagat maya.
Ilustrasi sholat berjama'ah (sumber: wartamelayu.com)
Kesedihan melanda kalbu orang beriman, baik mereka yang memang rajin shalat berjamaah, maupun yang masih terantuk di pintu niat. Yang rajin shalat berjamaah gundah karena corona merenggut kesyahduan beribadah mereka. Tanpa berjamaah, seperti ada puzzle yang hilang dalam keseharian mereka.

Sungguh beruntung mereka yang disesak rindu untuk berjamaah. Baginya telah tercatat pahala apa-apa yang telah dirutinkannya. Yang karena sebab pandemi corona ini, tidak dapat dilakoninya amalan itu.

Mereka yang belum terbiasa berjamaah juga bersedih, betapa selama ini kelalaian begitu mendominasi jiwa. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa ada gunungan niat baik yang belum dieksekusi. Shalat berjamaah di masjid salah satunya.

Tetapi perasaan sedih itu tidak selayaknya mengendalikan logika. Supaya dengan begitu akal sehat kita tidak terkecoh oleh bujuk nafsu. Sehingga tidak ada lagi yang berujar “Kematian itu pasti dan saya tidak takut corona. Lebih baik mati di dalam masjid, itu lebih mulia. Jadi buat apa takut ke masjid?”

Pernyataan seperti ini juga tidak pada tempatnya.

Pertama, karena corona tidak menyebabkan mati mendadak layaknya peluru yang meluncur dari AK-47. Tertular di masjid bukan jaminan ajalnya juga dijemput di masjid. Bisa jadi Malaikat Izrail menemuinya di tempat lain.

Kedua, dan ini yang paling penting, ulama telah memberi fatwa untuk menghentikan sementara shalat Jum’at dan shalat berjamaah di masjid. Itulah yang semestinya menjadi rujukan kita. Biar bagaimanapun ulama adalah pewaris para nabi. Padanya terjamin satu pahala meski pendapatnya keliru. Dan baginya dua pahala atas kebenaran ijtihadnya.

Puluhan tahun mereka wakafkan hidupnya untuk menekuni ilmu agama. Siang dan malam mereka baktikan diri untuk Rabb-nya. Jika kepada mereka saja kita masih ragu, lalu kepada siapa lagi kita mesti menyimpan kepercayaan?

Penulis jadi terkenang kisah beberapa hari lalu. Ketika Arab Saudi mulai menghentikan shalat Jum’at dan shalat berjamaah di masjid, beberapa orang yang tinggal di asrama mahasiswa melaksanakan shalat berjamaah kecil-kecilan, sekira 5-10 orang. Tampak betul keinginan kuat para penuntut ilmu itu untuk menyempurnakan pahala shalat.

Tetapi rupanya praktik inipun tidak dibenarkan oleh para masyaikh. Karena hikmah dihentikannya shalat berjamaah adalah untuk menghindari kontak dengan orang lain, sekecil apapun unitnya. Supaya dengan itu penyebaran virus bisa ditekan. Ada maslahat yang lebih besar yang diperjuangkan di situ.

Berangkat dari situ pula, lamat-lamat saya teringat kisah Abdullah bin Ubay, gembong kaum munafik di zaman Rasulullah ﷺ.

Syahdan ketika kaum muslimin mendengar adanya rencana penyerangan kafir Quraisy ke Madinah, mereka terbelah dalam dua pendapat. Kelompok pertama menganggap serangan itu sebaiknya dihadapi di dalam kota. Abdullah bin Ubay termasuk di antaranya.

Sementara itu, sebagian sahabat yang mayoritas kaum muda menghendaki agar serangan kafir Quraisy dihalau di luar kota. Agar mereka tidak dianggap takut lagi kecut oleh Quraisy. Pada akhirnya Rasulullah ﷺ mengambil pendapat yang kedua dan kaum muslimin berangkat meninggalkan Madinah menuju Bukit Uhud.

Di tengah jalan, Abdullah bin Ubay bersama sepertiga pasukan – yang sebagian besar adalah pengikutnya – melakukan pembelotan. Mereka kembali ke Madinah dan meninggalkan kaum muslimin yang sedang dalam perjalanan perang. Hal ini tentu sedikit banyak berpengaruh pada mental kaum muslimin.

Kita semua tahu akhir kisah Perang Uhud. Kaum muslimin kalah, Rasulullah ﷺ hampir terbunuh, dan banyak sahabat yang menjadi syuhada.

Tetapi ada hikmah yang sangat agung tercuplik dari kisah ini. Betapapun pedihnya, Perang Uhud telah mengajari kaum muslimin tentang culasnya sifat para munafik.

Lalu apa hubungannya dengan cerita shalat berjamaah di masa pandemi corona ini?

Bukan. Saya sama sekali bukan sedang mengaitkan kisah para munafik dengan kekukuhan sebagian orang untuk menjaga shalat berjamaah di masjid. Jauh dari itu, ada rasa iri yang mengintip di lubuk hati saya atas ghirah beribadah yang membuncah dari saudara-saudara kita itu.

Akan tetapi, kita juga sepatutnya mewaspadai propaganda ini. Jangan sampai kondisi ini ditunggangi oleh musuh-musuh yang memang senang melihat perpecahan umat Islam. Jangan biarkan para pengikut Abdullah bin Ubay mencuri panggung di tengah kondisi kritis seperti ini.

Sikap waspada dengan mengedepankan prasangka baik diharapkan bisa selalu kita terapkan. Semoga dengan begitu ada akhir yang indah di ujung masa paceklik ini.


Link bisa merujuk ke sini: https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2020/03/22/180294/hari-hari-tanpa-berjamaah.html

February 24, 2020

Beri Aku Satu Reynhard Sinaga, Niscaya Kuguncang Dunia


Berikut tulisan saya yang dimuat di The Columnist.

Tak perlu sepuluh pemuda, seperti yang diminta Bung Karno, untuk mengguncang dunia. Reynhard Sinaga berhasil beri bukti bahwa dirinya seorang sudah cukup untuk menggegerkan alam raya.

Beberapa hari ini seisi Bumi memang digemparkan dengan berita perkosaan yang dilakukan Reynhard terhadap 190 korbannya di Manchester (hanya 48 orang yang baru terbukti). Seolah tidak cukup mengagetkan dengan jumlah korban yang sedemikian melimpah, Reynhard benar-benar membuat dunia terperangah karena semua korban ternyata adalah pria.
Demo anti gay (sumber: wikimedia.org)

Sebagai pribadi yang dikenal cerdas, ramah, supel, kaya lagi terhormat, tidak ada yang menduga kalau mahasiswa program doktoral itu memiliki sisi kelam. Biar bagaimanapun, kehidupan Reynhard terlalu sempurna untuk disentuh kriminalitas yang sedemikian hina.

Akan tetapi, apa-apa yang tampak indah di luar rupanya bukan jaminan kemolekan di dalam. Di balik wajah kalem bersulam senyum milik Reynhard, rupanya tersembunyi predator seks yang buas nan ganas.

Daily Mail menyebutnya sebagai Britain’s Worst Rapist Ever. Wikipedia menempatkannya di urutan kedua dunia, hanya kalah dari Joji Obara yang diyakini telah memerkosa 150 – 400 wanita. Ups, kalau korbannya pria, berarti Reynhard menjadi juara pertama.

Kejadian menggemparkan di awal tahun ini memantik diskusi terkait gangguan mental. Aksi Reynhard diyakini memberi bahan riset panjang bagi para akademisi psikologi dan bidang ilmu terkait. Salah satu tema diskusi yang menarik adalah tentang target sasaran pelaku homoseksual.

Reynhard yang diketahui sebagai seorang gay rupanya selalu mencari korbannya yang heteroseksual. Dikutip dari BBC, dari 48 korban yang kasusnya telah disidangkan, 45 diantaranya adalah heteroseksual. Dan Reynhard bangga akan hal tersebut dengan mengambil barang milik korban sebagai ‘trofi’ kemenangannya.


January 13, 2020

Mohammad Natsir dan Jejak Remaja Ideal


Izinkan saya mengajak anda kembali ke masa lampau, sekira tahun 1920-an, zaman ketika Belanda masih menghisap Indonesia.

Anggaplah anda sebagai salah satu orang yang beruntung mampu bersekolah hingga tingkat Algemene Middlebare School (AMS – setara SMA masa kini). Diajar oleh meneer berbahasa Belanda, bertemankan sinyo dan noni serta putra mahkota para pejabat. Sedangkan anda hanyalah anak pegawai rendah yang sekolah dengan bantuan beasiswa. Datang jauh dari pelosok pula!

Kalau ada rasa rendah diri dan terasing dengan lingkungan yang demikian saya bisa memaklumi. Yang demikian itu stresornya memang terlalu besar untuk tubuh kita yang kecil. Tetapi ternyata tidak demikian bagi Mohammad Natsir. Sosok yang kemudian dikenal sebagai Bapak NKRI ini memiliki kebesaran jiwa dan semangat yang jauh melampaui apapun. Sehingga rupa-rupa stresor tak menjadikannya ciut dan kecut.
Mohammad Natsir (sumber: antaranews.com)
Pernah suatu ketika, oleh gurunya yang orang Belanda itu, Natsir ditantang menulis makalah tentang pengaruh penanaman tebu dan pabrik gula bagi rakyat di Pulau Jawa. Si Meneer memang bukan main sinisnya pada pergerakan politik kaum nasionalis. Dan sinisme itu dia tunjukkan tanpa tedeng aling-aling dengan memberikan tugas maha sulit kepada anak setara kelas 2 SMA.

Ingat, peristiwa itu terjadi tahun 1920-an. Jangan konyol membayangkan komputer dan Google dengan mesin pencariannya yang canggih seperti sekarang. Di zaman itu, bisa memiliki mesin ketik saja sudah sangat istimewa. Jadi sebenarnya penugasan dari Si Meneer tidak lain adalah upaya membungkam bising para nasionalis. Karena mustahil dituntaskan.

December 22, 2019

Padahal Cuma Air


Hari Jumat lalu (20/12/19) saya sholat Jumat di masjid kampus (King Saud University) seperti biasa. Sebelum mengambil tempat, saya mendatangi freezer yang ada di shaf paling belakang untuk mengambil air mineral.

Disini dan kebanyakan masjid di Arab Saudi tradisinya memang begitu, selalu menyediakan air mineral untuk para jamaah. Tapi jumlahnya terbatas, apalagi untuk jamaah sholat jumat yang jumlahnya selalu lebih banyak dari sholat lima waktu. Jamaah yang datang belakangan pasti tidak kebagian.

Setelah air didapat, saya mengambil tempat terbaik lalu sholat sunnah. Botol air sengaja saya letakkan di depan tempat sujud, maksudnya ingin saya fungsikan sebagai sutrah (pembatas) sholat. Airnya belum saya buka dan tidak saya buka sampai khotib selesai naik mimbar.
Ilustrasi air mineral (sumber: pexels.com)
Ketika iqomat dikumandangkan, saya harus bergeser sedikit dari posisi saya sebelumnya untuk merapatkan shaf, sehingga botol air tadi tidak berada di depan saya lagi. Tadinya mau ikut saya pindahkan juga botolnya, tapi tidak jadi. Dan pada akhirnya di titik inilah saya merasa gelisah.

Pasalnya di beberapa masjid di Saudi, botol air sengaja ditaruh di shaf depan oleh pengurus masjid sebagai pelayanan mereka kepada jamaah. Saya khawatir botol air yang belum saya buka itu disangka tidak ada pemiliknya lalu diambil orang. Padahal itu air saya.

Dan celah ini dimanfaatkan betul oleh setan untuk mengganggu konsentrasi saya. Selagi sholat, pikiran saya bising dengan reka adegan tentang kemungkinan yang akan terjadi pada air saya.

Adegan pertama
Duh, kenapa tadi airnya gak dibuka dan diminum dulu ya, biar orang tau kalau itu air saya. Atau minimal tadi semestinya dipindahin dulu airnya, jadi ada di depan saya. Kalau gini bisa diambil orang nih airnya.

Adegan kedua
Biar ajalah kalau diambil. Toh cuma air. Harganya juga cuma setengah riyal. Kalau haus masih bisa minum di kamar

Adegan ketiga, dan ini yang paling konyol
Nanti kalau ada orang ambil air saya, terus orang di samping saya mencegahnya karena dia tau air itu milik saya, saya akan bilang ke orang di samping itu ‘biarin aja, gak apa-apa air itu untuk dia’. Sambil ngerasa udah berbuat baik.

Ketiga adegan itu silih berganti memenuhi pikiran saya selama sholat. Padahal cuma air sebotol yang harganya cuma setengah riyal. Masa saya menggadaikan agungnya sholat Jumat dengan sebotol air?

Dan anda tau adegan mana yang akhirnya jadi kenyataan? Kalau jawaban anda adegan yang ketiga, anda hampir benar. Nyatanya air saya memang diambil orang, tapi orang di samping saya tidak mencegahnya sama sekali. Orang yang mengambil air pun berlalu begitu saja. Meninggalkan saya yang menatapnya dengan perasaan kosong.

Padahal cuma air. Harganya setengah riyal. Jumat itu saya dikerjai setan habis-habisan.

#Tunggul Hitam – Padang

December 18, 2019

Dongeng dan Penjara Zimbardo


Berikut tulisan saya yang dimuat di detik.com tanggal 12 November 2019. Untuk melihat halaman aslinya, bisa klik disini.

***
Alkisah di suatu negeri terdapat dua jago yang saling beradu menjadi raja. Jago pertama, sebutlah Si Kurus, berwatak kalem dengan perawakan yang sangat mewakili rakyat. Banyak rakyat simpati dengan Si Kurus dan menaruh harapan yang tinggi bahwa kelak setelah terpilih, dia akan bersungguh-sungguh memperjuangkan nasib wong cilik.

Lawannya adalah Si Gemuk yang berkepribadian tegas lagi pandai dalam urusan perang. Pendukungnya juga tidak kalah banyak. Ciri, sifat, dan pengetahuan Si Gemuk sangat mewakili karakter pemimpin ideal. Negeri akan maju dan aman jika dipimpin orang seperti dia. Begitu kira-kira pendukungnya berlogika.

Dengan basis massa yang hampir imbang, negeri itu terbelah sempurna menjadi dua kutub. Keduanya sama-sama militan dengan kadar melebihi apapun. Masing-masing pendukung haqqul yaqin bahwa jago merekalah yang akan memenangkan pertarungan. Negeri panas membara. Tidak pernah sebelumnya perebutan kursi raja sepanas itu.

Singkat cerita, Si Kurus keluar sebagai pemenang pertarungan. Si Gemuk beserta pendukungnya tidak percaya, merasa dicurangi oleh Si Kurus dan kroninya. Didatanginya hakim untuk menggugat kemenangan Si Kurus. Tapi upaya Si Gemuk menemui jalan buntu; hakim membenarkan kemenangan Si Kurus.

Pendukung Si Kurus bersorak. Massa Si Gemuk bukan main kecewanya. Tapi sorak sorai serta kekecewaan tersebut seketika ambyar saat kisah perseteruan dua orang itu menemui ujungnya. Si Kurus menjadikan Si Gemuk hulubalang. Ini adalah akhir yang absurd, yang membuat masing-masing pendukung kecewa mengkerut. Tak dinyana, perseteruan dua orang yang menjalar hingga pelosok desa rupanya dagelan semata.

***

Ketika sejarawan Inggris, Lord Acton mendalilkan power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely, mungkin dia tidak menduga kalau kemudian dalilnya itu akan menyejarah. Kalimat itu adalah kutipan surat Acton kepada seorang uskup berdasarkan keresahannya terhadap kekuasaan pemimpin politik dan agama.

Kata orang, resah adalah perkara hati dan hati pantang berbohong. Hampir seabad setelah surat menyurat dua sejawat itu, dalil Acton menemukan muara ilmiahnya. Seorang psikolog sosial bernama Philip Zimbardo menyegel validitas dalil tersebut, meski sebenarnya penelitian Zimbardo tidak ada kaitan langsungnya dengan Acton.

Eksperimen Penjara Stanford, demikian proyek itu diberi nama. Zimbardo ingin cari tahu, bagaimana rupa hidup orang-orang yang ditempatkan dalam penjara buatan. Subjeknya mahasiswanya sendiri, yang lurus tiada cacat kriminal, juga sehat fisik dan psikologis.
Ilustrasi penjara (sumber: pixabay.com)

Dengan mengacu pada sistem bermain peran (role play), Zimbardo membagi subjeknya menjadi dua, kubu sipir dan narapidana. Kemudian meminta mereka untuk menginap selama 14 hari di kampus yang telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga menyerupai penjara. Gelap, pengap, tanpa jendela.

Meski direncanakan 14 hari, tapi eksperimen tersebut terpaksa harus disudahi pada hari keenam karena perilaku para mahasiswa yang berperan sebagai sipir berubah menjadi semakin bengis. Mereka semakin berani melakukan tindak kekerasan, baik fisik maupun verbal, kepada lawan mainnya yakni para mahasiswa yang menjadi narapidana. Seolah-olah lupa bahwa itu hanya permainan peran belaka, antarteman sesama mahasiswa pula.

Zimbardo memberi simpulan: tempat dengan ketimpangan kekuasaan yang tinggi cenderung menjadi tempat yang brutal lagi kasar, kecuali ada agen pengontrol yang mengendalikan impulsivitas penguasa. Dia menambahkan, "Bukannya kita menempatkan apel yang buruk dalam keranjang yang baik. Kami menaruh apel yang baik di keranjang yang buruk. Lalu keranjang merusak apa pun yang disentuhnya."

***

Rakyat di negeri antah berantah tadi boleh jadi kecewa dengan akhir kisah perseteruan dua jago mereka. Tapi meski demikian, sebenarnya bukan kekecewaan itu sendiri yang paling dicemaskan. Toh mereka sudah berkali-kali melalui kontestasi pemilihan raja seperti itu; kalah-menang urusan biasa. Mereka gelisah karena adanya persekutuan dua kekuatan besar yang dapat menghasilkan kekuasaan absolut. Itu yang membuat mereka panas-dingin.

Kekhawatiran rakyat sejatinya sangat beralasan, terlebih mereka memiliki sejarah otoritarianisme yang panjang dan kelam di negeri tersebut. Dulu mereka pernah dipimpin para diktator sebelum akhirnya perlawanan rakyat menumbangkan si rezim kotor. Meski telah tumbang, tapi luka traumatik telanjur menumpuk dalam memori kolektif mereka.

Rakyat juga wajar curiga. Ketika koalisi terbentuk secara bulat, akan mudah bagi penguasa untuk menggalang kekuatan demi melakukan amandemen. Jangan-jangan ada upaya mengubah masa jabatan raja menjadi lebih panjang? Begitu kira-kira salah satu keresahan yang menjalar di ruang publik negeri tersebut. Kalau benar demikian, berarti mereka akan kembali ke zaman otoriter dulu. Padahal sudah banyak martir yang berkorban demi menumbangkan rezim itu.

Memang narasi yang disampaikan penguasa atas pembentukan koalisi mereka isinya indah, tentang persatuan. Kalian rakyat jangan ribut-ribut melulu. Sudah terlalu banyak energi kita terbuang dengan keributan saat kontestasi. Sekarang mari kita bersatu memajukan negeri. Contohlah kami, tidak ada lagi permusuhan. Jangan dikira akurnya kami adalah kompromi pembagian kue ya. Oh, harum betul logika penguasa!

Tetapi Zimbardo telah mengajarkan kita bahwa kekuasaan tanpa pengawas akan sama tragisnya dengan kisah sipir dan narapidana. Karena kekuasaan absolut bersifat merusak. Jika dalam bermain peran saja orang bisa hanyut menjadi kejam ketika diberi kuasa, apalah jadinya kalau itu memang kehidupan nyata?

Ingat, yang buruk bukan apelnya, tapi keranjang yang dapat membusukkan apapun yang disentuhnya. Kita tidak sedang menuduh penguasa bermental korup, tapi kekuasaan absolut itulah yang mengkorupsi moral sesiapa yang bersinggungan dengannya.

Tulisan ini dimulai dengan kata pembuka "alkisah" agar pembaca percaya bahwa ini hanyalah dongeng pengantar tidur. Tapi rasanya pembaca juga telah tahu bahwa dongeng zaman sekarang juga seringkali dibuka dengan kalimat, "Kalau saya terpilih nanti...."

November 22, 2019

Entah Apa yang Merasukimu


Berikut adalah tulisan saya yang dimuat di thecolumnist.id

Apa yang anda lakukan jika khawatir rumah anda kemalingan?

Membuat kunci keamanan yang berlapis bisa jadi salah satu solusi. Atau kalau anda termasuk golongan beruang, mempekerjakan penjaga keamanan menjadi pilihan terbaik. Bukan hanya satu dua, kalau perlu 6 orang sekaligus. Agar nyenyak tidur anda.

Mungkin begitu juga yang ada di benak Presiden Jokowi ketika memilih 6 jenderal dari kalangan TNI dan Polri sekaligus untuk mendampingi beliau di pemerintahan. Samar-samar kita mengendus aroma ketidakamanan (insecurity) yang dirasakan presiden ketika memilih kabinet Indonesia Maju.
Pertemuan Prabowo dan Jokowi (sumber : wikimedia.com)

Tak apalah kita maklumi kalau kalangan aparat mengisi pos yang memang linier dengan keahliannya, seperti Kementerian Pertahanan (meski sebenarnya kalangan sipil juga pernah membuktikan kesanggupan mereka di kabinet Indonesia Bersatu I & II). Tetapi menempatkan barisan jenderal di banyak kementerian membuat kita ingin bertanya ‘entah apa yang merasukimu?’

Baca selengkapnya di sini:

November 20, 2019

Dunia Para Perundung


Berikut adalah tulisan saya yang dimuat di thecolumnist.id

Terjadi lagi. Kasus bunuh diri akibat perundungan (bullying) menunjukan eskalasi yang kian mengkhawatirkan. Yang terbaru adalah kisah bocah YSS (14) yang nekat mengakhiri hidup karena sering dirundung teman-temannya. Padahal tak kurang dia punya prestasi. Selain memonopoli status juara kelas sejak SD, dia juga jagoan olimpiade matematika dan IPA hingga tingkat provinsi. Hadiah sepeda dari Presiden Jokowi semakin mempermanis torehannya.
Ilustrasi perundungan (sumber : health.mil)

Tetapi sayang kilauan prestasi tersebut tak mampu memadamkan kobaran stigma negatif yang sering dialamatkan padanya. Ayahnya yang berprofesi sebagai tukang cor adalah pembunuh ibunya sendiri. Dengan tragis, sang ibu dicor dalam bak semen. Sejak saat itu, YSS mendapat ejekan dari teman-temannya sebagai keturunan pembunuh dan anak tukang cor. Tak kuat menanggung ujian hidup yang teramat berat, jiwa belia itu menyerahkan diri di bawah utasan tali.

Kasus YSS hanyalah secuil contoh dari kasus perundungan yang kian memprihatinkan. KPAI mencatat ada 253 kasus perundungan sejak tahun 2011-2016, terdiri dari 122 anak menjadi korban dan 131 anak menjadi pelaku.

Baca selengkapnya disini:

October 29, 2019

Fix Arabic Numbering Issue in Ms Word 2016 & 2019


Parah. Hampir saja saya stres dengan masalah numbering di Ms Word. Masalah yang sangat sepele sebenarnya, tapi menyita banyak sekali waktu. Sudah diotak-atik kesana kemari tetap belum terpecahkan juga. Untunglah percobaan iseng-iseng saya akhirnya membuahkan hasil.
Ilustrasi nomor Arab (sumber: quora.com)

Cerita bermula dari rasa penasaran saya yang ingin memakai office lebih baru. Karena kampus saya menyediakan banyak software gratis berlisensi asli, rasanya sayang kalau tidak dimanfaatkan. Akhirnya saya download office 2016 (sebelumnya office saya versi 2007).

Masalah muncul ketika mengatur numbering (penomoran). Karena saya sedang menulis tesis yang berbahasa Arab, maka otomatis penomoran juga harus memakai angka Arab. Yang bikin kesal, Word 2016 yang saya install ini selalu berbalik ke angka latin (1 2 3 4 5) ketika saya mengetik penomoran dengan angka Arab.

Saya sudah coba googling kesana kemari, tips yang banyak saya dapat dari website adalah dengan mengatur settingan. Here is the first trick:

  • Go to File – Option – Advanced 
  • Then under menu ‘show document content’ change numeral from Arabic to Context
  • Click OK

Tetapi sayang cara ini hanya mengganti nomor di tubuh dokumen secara umum, sedangkan format numbering-nya tidak terganti, masih tetap sama dengan angka latin. Selain tips itu, ada juga yang menyarankan dengan menambah menu RTL RUN di Quick Access Toolbar. If the first trick does not work for you, then try this one:

  • Go to File – Option – Customize Ribbon
  • Under menu ‘choose command from’ choose ‘All Commands’
  • Search RTL RUN and add to Main Tab
  • Click OK
  • Then at the top left in your Word will appear small circle
  • Click (or block) the numbering you want to change, and click the small circle above
  • The numbering should be changed to Arabic version

Dengan cara ini, awalnya numbering bisa berubah ke versi Arab, tapi keesokan harinya ketika saya buka Word lagi, cara seperti ini sudah tidak mempan. Saya sudah coba otak-atik dari Timur ke Barat masih belum bisa juga. Akhirnya setelah sekian hari mencoba, saya menyerah. Saya ambil jalan pintas dengan menginstall Word 2019. Harapannya masalah numbering tersebut akan terselesaikan.

Tetapi sayang seribu sayang, ternyata masalah itu masih muncul. Ya Allah, ngebul sudah kepala saya dibuatnya. Permasalahnnya sangat sepele, tapi jadi berpele-pele karena format penulisan tesis saya jadi tidak sesuai dengan pedoman. Bakal kena revisi terus kalau seperti ini.

Dengan kesabaran yang dipaksakan, barusan saya googling lagi cara untuk menyelesaikan masalah ini. Caranya masih belum saya dapat, tapi dari google saya dapat inspirasi. Awalnya saya lihat keterangan bahwa RTL itu singkatan dari Right to Left. Pikiran saya langsung terbersit dengan format penulisan Arab (Right to Left) yang yang berkebalikan dengan penulisan latin (Left to Right). Kalau ada RTL, mestinya ada LTR juga dong.

Setelah saya cari di menu All Commands tadi, ternyata memang ada LTR RUN. Dan setelah saya coba mengaplikasikannya, alhamdulillah berhasil. Format numbering jadi sesuai dengan angka Arab. Here is the ultimate trick for you deadlock people:

  • Go to File – Option – Customize Ribbon
  • Under menu ‘choose command from’ choose ‘All Commands’
  • Search LTR RUN and add to Main Tab
  • Click OK
  • Then at the top left in your Word will appear small circle
  • Click (or block) the numbering you want to change, and click the small circle above
  • The numbering should be changed to Arabic version

Semoga trik ini langgeng dan bisa dipakai terus. Sudah seminggu lebih saya dipusingkan dengan urusan yang kelihatannya sangat sepele ini. Long live the trick!!!

Asrama Mahasiswa KSU

October 27, 2019

Ketika Trump Nunggak Kontrakan


Pagi tadi saya mendapatkan pesan broadcast di salah satu grup Whatsapp (WA) yang saya ikuti. Isinya cukup bikin prihatin, tentang teman saya, sebutlah namanya Trump,  yang sedang dicari banyak orang. Sayangnya dia dicari bukan karena prestasi atau hal yang membanggakan, tapi karena utang.
Ilustrasi utang (sumber: pixabay.com)

Saya mengenal Trump sudah sangat lama. Bahkan kami dulu pernah kost bareng di Jogja selama kurang lebih 3 tahun. Selama itu pula, tidak ada hal yang janggal yang saya temukan dari dirinya. Sebaliknya, saya justru melihat banyak kelebihan seperti rajin sholat 5 waktu di masjid, suka masak untuk kami anak-anak kost, aktif ikut kajian, hingga akrab dengan penduduk sekitar.

Tetapi pesan broadcast yang saya dapati itu sungguh mengagetkan. Sang penyebar broadcast, yakni bapak kost kami sendiri, menuliskan bahwa Trump sudah menunggak uang kost selama 9 bulan. Namun masalah utamanya bukan disitu, melainkan daftar utang yang belum dia lunasi ke sejumlah orang dengan nominal yang sangat banyak, lebih dari 50 juta rupiah. Parahnya lagi, dia berani menggelapkan dana qurban suatu masjid selama 2 tahun. Subhanallah…

Saya sendiri sebenarnya termasuk korbannya juga. Dulu dia pernah meminjam uang dengan modus investasi. Awalnya saya agak curiga, tapi karena kasihan dan seringkali ditanya, akhirnya saya pinjamkan juga. Kecurigaan saya semakin nyata setelah beberapa bulan tidak ada laporan perkembangan usaha yang dia jalankan.

Dulu pernah saya tagih tapi Trump bilang dia lagi sibuk bolak balik Jawa – Sumatera. Dia cuma meminta saya mengirimkan nomor rekening untuk ditransfer kemudian. Sebulan berlalu tidak ada kabar juga darinya. Saya coba menghubungi dia lagi melalui WA, tapi pesan WA saya hanya dibaca, tidak dibalas. Dari sini saya sudah yakin ada yang tidak beres.

Karena penasaran, saya hubungi teman kost saya yang lain, sebut saja Roni. Dari Roni saya tau bahwa Trump telah berutang ke hampir semua penghuni kost. Tidak hanya saya, tapi juga Roni dan beberapa teman lain. Nominalnya pun lumayan, rata-rata jutaan rupiah, yang paling besar sekitar 12 juta rupiah.

Saya tidak tau untuk apa uang sebanyak itu dia gunakan. Saya coba korek dari teman kost lain dan juga bapak kost, mereka semua tidak ada yang tau pasti. Cuma katanya banyak korbannya ditawarkan program investasi, mulai dari penggemukan sapi, usaha beras, yoghurt, dll. Tapi tidak ada yang jelas semua usahanya.

Jujur saya sedih mendengar berita ini karena saya mengenal Trump sebagai orang yang baik, apalagi dia juga aktif di masjid. Tapi saya juga menyayangkan, mengapa dia bisa sampai setidakamanah itu. Tentu ini bisa jadi preseden yang buruk di mata masyarakat, apalagi bagi orang-orang yang suka nyinyir ke aktivis masjid. ‘Tuh lihat si Trump, buat apa sholat & ngaji rajin kalau kelakuan gak jauh beda sama maling?’

Saya jadi ingat, dulu teman saya pernah berkata ‘kalau urusan duit, gak peduli yang alim atau penjahat, rajin sholat atau suka maksiat, harus hati-hati’. Kalimat itu dia utarakan setelah ditipu oleh temannya sendiri sesama anak pengajian. Dulu saya menganggap angin lalu omongannya itu, sekarang justru saya yang merasakan.

Ini menjadi pelajaran penting buat kita dalam bermuamalah dengan orang lain, terutama yang berkaitan dengan uang. Jangan tertipu dengan tampilan. Penampilan bisa jadi solih tapi isi hati orang kita tidak tau. Jangan tertipu juga dengan tampang memelas dan minta dikasihani karena hal itu menjadi senjata pamungkas mereka untuk mendapatkan uang.

Terakhir, sering-seringlah berdoa agar dijauhi dari utang karena pertanggung jawabannya akan terus dikejar sampai akhirat. Hidup sederhana asal dari jerih payah sendiri lebih mulia daripada banyak gaya tapi dari hasil utang. Allahul musta’an.

#Asrama Mahasiswa KSU


October 18, 2019

Betawi Menggugat Ibu Kota



Berikut adalah tulisan saya yang terbit di thecolumnist.id

Menarik membaca tulisan Pemimpin Redaksi The Columnist, Yuli Isnadi, yang terbit Jumat (04/10) lalu dengan judul ‘Ibu Kota Apa Kabar, Jadi Pindah..?’ Dengan gaya bertutur yang mengalir, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama menyelami perasaan empat pihak yang terdampak pemindahan ibu kota. Keempat pihak tersebut masing-masing mewakili emosi: senang, galau, marah, dan sedih.

Perasaan senang diwakili oleh pihak yang ketiban rejeki akibat proyek ambisius pemerintah tersebut. Bung Yuli mencontohkan kawannya yang memiliki rumah di Balikpapan. Sedangkan perasaan galau menghinggapi para pekerja di Kementerian dan Lembaga Indonesia karena status sosial yang bisa terjerembab akibat pindah ke ‘pedalaman’. Adapun marah tertumpah di wajah DPR karena merasa dilangkahi pemerintah.

Bagian yang paling menarik adalah ketika Bung Yuli mengupas perasaan warga di empat desa Dayak Paser di Kabupaten Penajam Paser Utara, wilayah yang akan dijadikan ibu kota baru. Dia dengan lihai mengetuk pintu hati kita untuk ikut serta merasakan bagaimana keresahan mereka yang telah lama menderita dan akan semakin nelangsa manakala ibu kota jadi pindah.

Ah, saya jadi merutuki nasib, mengapa Bung Yuli tidak lahir sedari dulu, ketika Jakarta akan diputuskan menjadi ibu kota. Mungkin jika Bung Yuli lahir lebih awal, Bung juga akan menyuarakan pembelaannya untuk warga Betawi yang kini telah ‘abih tandeh’. Habis sehabis-habisnya.







October 16, 2019

Melankolia TKW Indonesia



Berikut tulisan saya yang diterbitkan di thecolumnist.id

Riyadh baru beranjak malam saat saya tiba di bandara King Khalid satu bulan lalu. Di depan saya ada puluhan wanita yang sedang antri melewati pintu imigrasi. Sebagian besar berusia muda, sekira 20-30 tahunan. Tapi ada pula diantara mereka yang rasanya sudah pantas menyandang gelar nenek.

Lelah dan penat karena perjalanan Jakarta – Riyadh yang tidak singkat, 7.353 km berdasarkan google map, terlukis jelas di wajah mereka. Raut bingung dan gerak langkah yang tidak pasti menyiratkan kesan bahwa sebagian dari mereka adalah orang baru. Bahasa daerah yang kental seolah menjadi penegas bahwa mereka berasal dari pelosok desa.

“Yang berbaris disana itu semua pembantu Indonesia” teriak seorang petugas imigrasi Arab Saudi kepada temannya sesama petugas. Tentu menggunakan bahasa Arab. Kalimat itu singkat tapi bagai sembilu yang menyayat. Saya yang berdiri tidak jauh dari si petugas tertegun cukup lama demi memaknai kalimat tersebut.