August 1, 2015

Pergiliran Senang dan Sedih


“Dari dulu beginilah dunia, senang dan sedih selalu dipergilirkan. Agar tidak euforia ketika senang tiba. Supaya tidak melankolis saat sedih tertulis. Karena keduanya akan selalu saling menggantikan.”

Dalam suatu kajian, guru saya pernah berkata seperti ini: Senang dan susah itu datang silih berganti. Rahmat Allah itu lebih dekat kepada orang-orang yang susah. Oleh karena itu, seharusnya berbahagialah kalau orang yang sedang ditimpa kesusahan karena dengan begitu dia sedikitnya akan mendapatkan dua kebaikan, pertama, Rahmat Allah. Kedua, akan segera datang kepadanya kesenangan, karena tidak mungkin hidup ini berisi kesusahan terus menerus (Al-Insyirah (94); 5-6). Sebaliknya, orang yang sedang diberikan kesenangan seharusnya “berjaga-jaga” karena akan datang padanya kesusahan.

Sebelum membahas susah dan senang lebih jauh, saya akan memberikan sedikit pengantar tentang Rahmat Allah. Rahmat Allah, dalam terminologi guru saya, memiliki tiga definisi. Pertama, Rahmat Allah adalah kekayaan langit yang membuat hati kita dipenuhi oleh cinta dan bahagia dengan segala yang baik (Rahmat Al-Imtitsaliyah). Kedua, Rahmat Allah adalah kekayaan langit yang membuat hati kita dipenuhi oleh keinginan untuk menjauhi dosa (Rahmat Al-Ijtinabiyyah). Ketiga, Rahmat Allah adalah kekayaan langit yang membuat hati kita dipenuhi oleh rasa sayang dan cinta kepada sesama (Rahmat At-Tarhimiyyah).

Nah, ketika kita sudah mendapatkan ketiga macama Rahmat tersebut, maka sesungguhnya kita telah menyelesaikan hidup kita. Menyelesaikan hidup berbeda dengan mengakhiri hidup. Akhir hidup adalah urusan Allah (kapan, dimana, dan bagaimana), sedangkan menyelesaikan hidup adalah urusan kita. Hidup harus segera diselesaikan agar saat sakaratul maut datang kita tidak panik karena urusan yang belum selesai itu. Sebaliknya, kita akan ikhlas meninggalkan kehidupan ini.

Kalau untuk dapat menyelesaikan hidup kita membutuhkan Rahmat Allah dan Rahmat itu lebih dekat kepada orang-orang yang susah, maka sejatinya kita lebih membutuhkan kesusahan daripada kesenangan. Senang itu lebih dekat kepada kelalaian, sedangkan susah lebih dekat kepada ketaatan. Sangat jarang manusia di bumi ini yang seperti Abdurrahman bin Auf radiyallahu ‘anhu yang senantiasa istiqomah dalam ketaatan ketika diberikan kesenangan. Sebaliknya, sangat banyak orang-orang seperti Qarun di dunia ini, yang lalai ketika pintu dunia dibukakan untuknya.

Ketika konsep ini sudah benar-benar mendarah daging dalam jiwa seorang muslim, maka sesungguhnya kehidupan dunia ini sudah tidak akan menarik lagi baginya. Kalau mendapatkan kesenangan, dia tidak akan euforia sehingga lalai dengan kewajibannya. Dia akan ingat bahwa dibalik kesenangan ini akan datang masa-masa sulit. Pun begitu ketika datang masa sulit, dia tidak akan dirundung sedih yang berlarut karena yakin bahwa akan segera datang baginya kesenangan.

Ah, dari dulu beginilah dunia.

NB: Ini baru teori ya, jangan tanya prakteknya sama saya, hehe.


#Wisma Pakdhe

0 comments:

Post a Comment