Sebagai (mantan) mahasiswa
Psikologi, saya seringkali ditodong dengan pertanyaan seputar psikotes oleh job
hunters yang mulai stres karena belum mendapat pekerjaan. Pertanyaan yang
biasanya dilontarkan adalah, “Kalau gambar pohon, yang bagus gimana sih biar
bisa diterima?”, “Gw udah ngerjain soal itungan dan yakin banget bisa, tapi gw
kok tetep gak lolos?”, “Masa cuma disuruh gambar pohon, orang, dan rumah aja gw
gagal. Ini serius gak sih?”, “Gw mau tes anu besok, bagi triknya dong biar bisa
lolos”, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang setipe.
Sejujurnya saya sudah lelah
sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Kalau tidak dianggap tidak
sopan, saya akan merekamkan jawaban saya agar nanti kalau ada yang bertanya
lagi tinggal saya suruh dengarkan rekamannya saja. Simpel kan?
Tapi sebagai Psikolog “setengah
matang”, sudah semestinya saya tau bahwa melakukan hal itu sama saja dengan
menunjukkan ketidak-empatian saya kepada penanya. Padahal, empati adalah syarat
pertama yang harus dipenuhi oleh seorang Psikolog. Oleh karena itu, setiap kali
ada job hunter yang bertanya tentang psikotes, saya usahakan menjawabnya
dengan hati penuh.
Di sinilah letak permasalahannya.
Meski sudah sepenuh hati menjawab pertanyaan mereka, mereka umumnya kecewa
dengan jawaban yang saya berikan karena jawaban itu lebih bersifat “ceramah
untuk direnungkan” ketimbang fixed solution. Well, saya akui bahwa
jawaban saya ini tidak populis di telinga mereka (job hunters), tapi hal
ini perlu saya lakukan agar mereka tidak terjebak dalam pola berpikir pragmatis.
Lah, bagaimana tidak pragmatis kalau mereka sudah meminta jalan pintas (shortcut)
untuk menaklukan psikotes? Keinginan mendapatkan jalan pintas itu tentu timbul,
salah satunya, karena pemahaman mereka yang salah terhadap tes tersebut. Dan
saya tidak rela menyesatkan mereka lebih jauh lagi dengan cara menunjukkan
jalan pintas tersebut.
Oke, mari kita bahas apa yang
saya sampaikan kepada mereka. Begini, mula-mula saya berikan pemahaman dulu
bahwa ilmu psikologi dalam dunia kerja itu biasanya digunakan untuk mengungkap
karakteristik, kepribadian atau kecenderungan para pelamar. Sebelum melangkah
lebih jauh, perlu digarisbawahi bahwa dalam dunia psikologi, tidak ada istilah tipe
kepribadian yang baik dan buruk. Semuanya netral. Yang membedakan adalah
konteks atau keadaan yang sedang dihadapi. Oke, agar lebih mudah, saya beri
contoh.
Mungkin banyak orang yang mengira
bahwa tipe kepribadian ekstrovert itu lebih baik daripada introvert karena
orang yang ekstrovert lebih mudah bergaul, “rame”, dsb. Alhasil, mereka (job
hunters) yang percaya dengan doktrin ini pun mempelajari tes psikologi agar
hasil yang mereka dapatkan nanti menunjukkan bahwa dia adalah seseorang dengan
tipe ekstorvert.
Perlu saya sampaikan dan tegaskan
bahwa keyakinan seperti itu adalah keyakinan sesat karena tidak ada rumusnya
dalam dunia psikologi bahwa ekstrovert itu lebih baik daripada introvert. Begitu
juga sebaliknya, introvert pun tidak lebih baik dari ekstrovert. Mereka berdiri
sendiri-sendiri. Baik-buruknya tergantung pada konteks yang dihadapi. Tipe
ekstrovert tentu lebih baik untuk pekerjaan yang berhubungan dengan orang
banyak, seperti sales, public relation, trainer, dan sejenisnya. Akan tetapi,
jika seseorang ingin melamar menjadi pustakawan, maka kepribadian ekstrovert
ini tentu menjadi poin yang sangat menjatuhkan karena dunia perpus adalah dunia
hening. Butuh ketenangan, bukan “rame” seperti di pasar.
Oleh karena itu, setiap kali ada
orang yang bertanya seputar psikotes, apalagi menanyakan tips dan trik, maka saya
akan memberikan “ceramah untuk direnungkan” seperti di atas, kemudian mengarahkannya
agar dia menjawab tes tersebut sesuai dengan kata hatinya. Istilah pasarannya, be
your self!
Memanipulasi atau mengakali
psikotes agar bisa lolos hanya akan merugikan kedua belah pihak, yaitu
perusahaan dan pencari kerja. Perusahaan rugi karena mereka mendapatkan pekerja
yang tidak sesuai dengan kriteria mereka karena pencari kerja telah memalsukan
“identitas” yang sebenarnya. Pencari kerja juga rugi karena akan mendapatkan pekerjaan
yang tidak sesuai dengan ciri sifat mereka. Hal ini akan menimbulkan stress kerja.
Kalau sudah seperti ini, ujung-ujungnya mereka akan meminta resign
(mengundurkan diri) dengan berbagai alasan. Hal ini akan membuat track record mereka
buruk di mata perusahaan lain.
#pojok Tawangsari
0 comments:
Post a Comment