November 19, 2015

Entah Bagaimana Harus Mensyukurinya



Entah bagaimana harus mensyukurinya. Kesempatan untuk kuliah di Saudi itu datang tepat ketika saya telah menyelesaikan S2 saya di tanah air. Kalau saja lebih cepat setahun, mungkin saya tidak akan berangkat karena di tanah air pun saya sedang terikat program beasiswa. Kalau saja lebih lambat setahun, mungkin juga tidak berangkat karena akan terikat kontrak kerja. Allah yang mengatur semuanya. Dia lah sebaik-baik Perencana.

Entah bagaimana harus mensyukurinya. Melalui mekanisme Allah yang rumit, saya memiliki tabungan yang jumlahnya sangat pas. Pas untuk mengurus visa dan pas pula untuk persiapan berangkat. Sehingga saya tidak perlu merepotkan orang lain. Meskipun ada juga bantuan dari kerabat dekat yang memberi dengan ikhlas. Allah Tahu jumlah yang saya butuhkan. Allah Paham nominal yang saya perlukan.

Entah bagaimana harus mensyukurinya. Ketika sudah sampai di Saudi, bahasa pengantar di jurusan saya ternyata berbahasa Arab. Sedangkan saya hampir tidak bisa berbahasa Arab. Lalu bagaimana mungkin saya bisa diterima? Terlebih setelah saya lihat berkas-berkas ketika saya dulu mengajukan beasiswa ini, saya ternyata tidak menyertakan ijazah, hanya surat keterangan bahwa saya akan segera lulus. Mengapa mereka menerima saya? Wallahu’alam. Dialah Allah Yang Maha Kuasa.

Entah bagaimana harus mensyukurinya. Karena saya tidak bisa berbahasa Arab, saya diminta untuk mengikuti kelas bahasa terlebih dahulu di Ma’had Lughoh. Dari peraturan yang ada, usia maksimal mahasiswa yang boleh belajar di Ma’had Lughoh adalah 25 tahun, sedangkan usia saya saat itu sudah lebih dari 25 tahun. Akan tetapi, karena kasus saya adalah kasus yang “luar biasa”, maka akhirnya saya diperbolehkan belajar di Ma’had. Segala puji bagi Allah.

Entah bagaimana harus mensyukurinya. Jumlah asrama mahasiswa di universitas ini lebih dari 30, tapi saya ditempatkan di asrama yang paling strategis. Dekat dengan restoran. Tidak jauh dengan masjid jami’. Yang lebih dahsyat dari itu, asrama saya banyak dihuni oleh mereka, para mahasiswa S2-S3 dari Indonesia, yang sholih dan luar biasa. Mereka adalah para assatidz dengan spesialisasinya masing-masing. Ada ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, ahli aqidah, bahkan ahli lughoh. Dan yang membuat saya berkaca-kaca, tidak sedikit dari mereka yang hafal al-Qur’an 30 juz. Bersanad pula. Masya Allah…

Entah bagaimana harus mensyukurinya. Dengan kuliah di Saudi dan satu asrama dengan para assatidz, kesempatan untuk memperdalam ilmu agama terbuka lebar. Peluang untuk menghafal dan memahami al-Qur’an semakin mudah. Tinggal bagaimana saya-nya, cakap atau tidak dalam memanfaatkan peluang-peluang ini?

Rabb, semoga Engkau karuniakan kepada hamba semangat untuk menuntut ilmu yang tiada pernah padam. 

رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي وعلى والدي وأن أعمل صالحا ترضاه وأدخلني برحمتك في عبادك الصالحين
"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh" (An-Naml (27) : 19)

Asrama 27, kamar 301

1 comment:

  1. Assalamualaikum mas Eden Fazard,
    Perkenalkan Nama Saya Muhammad Nur Syafaat, saat ini saya bekerja sbg PNS di Kementerian kelautan dan perikanan sebagai peneliti. Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan antum kuliah di KSU, bagaimanapun kuliah di Arab Saudi adalah dambaan pemuda muslimin di seluruh dunia, jadi sgt pantas bagi kita untuk mensyukurinya. Terima kasih telah berbagi cerita di atas sangat inspiratif dan menambah semangat saya untuk kuliah di KSU. Oh..iya mas Eden saat ini sy juga sedang mengajukan apply ke KSU (masih proses), bisa tidak sy minta email mas Eden untuk bisa komunikasi lebih lanjut. Syukron.

    ReplyDelete