Awal Juni lalu, saya telah
mengikuti seleksi beasiswa S2 (BPP-DN) dari Dikti. Secara keseluruhan, saya
kurang puas dengan performa saya ketika seleksi. Well, jika dibuat skala
1-10, kepuasan saya berada di level 7. Tidak terlalu memuaskan, tapi juga tidak
terlalu mengecewakan. Standar lah.
Akan tetapi, yang namanya
beasiswa tentu yang dicari adalah bibit-bibit unggul, bukan cuma yang standar.
Apalagi para penerima beasiswa ini nantinya diproyeksikan menjadi dosen, tentu
yang dipilih adalah mereka yang benar-benar brilian, terutama dari sisi
akademis.
Pengumuman beasiswanya sendiri,
dari timeline yang dibuat Dikti, seharusnya sudah bisa diketahui akhir bulan
ini. Dari timeline yang dibuat UGM-pun menyatakan demikian, bahwa pengumuman
hasil seleksi sudah bisa diketahui di minggu ketiga bulan Juni. Akan tetapi
sampai sekarang (akhir bulan) belum ada pengumuman apa-apa, baik dari Dikti
maupun UGM.
Kemarin, selama masa penantian
pengumuman, saya mengikuti seleksi Jamsostek. Awalnya, hal ini saya lakukan
hanya untuk berjaga-jaga kalau nanti tidak diterima beasiswa, tapi lama
kelamaan saya semakin dalam terlibat affair dengan Jamsostek.
Saat ini, saya sudah mencapai
tahapan akhir dari seleksi, yaitu seleksi wawancara user dan medical check up.
Tahapan seleksinya sendiri sebenarnya ada banyak, insyaallah di tulisan
mendatang saya akan menyampaikannya dengan lebih rinci. Nah, kata seorang
sumber, jika kita sudah memasuki tahapan wawancara user dan medical check up
ini, peluang lolosnya sudah cukup besar.
Menghadapi hal ini saya jadi
semakin bingung. Awalnya, rencana saya dulu adalah, ketika sudah ada pengumuman
beasiswa (yang seharusnya minggu ketiga Juni) dan saya diterima, saya akan
mengundurkan diri dari seleksi Jamsostek. Toh, pada minggu ketiga itu pun tahapan
seleksinya masih tahap seleksi awal. Kalau tidak diterima beasiswa, barulah
saya mau “serius” menghadapi seleksi Jamsostek. Akan tetapi, sampai di tahapan
akhir seleksi Jamsostek ini, pengumuman beasiswa belum juga muncul.
Di sisi lain, saya mulai terpikat
dengan godaan yang sebenarnya lebih banyak bersifat duniawi-nya, yaitu bahwa
menjadi pegawai Jamsostek akan sangat sejahtera. Nun jauh di salah satu pojok
hati saya terselip keinginan untuk mencapai kesejahteraan seperti yang
orang-orang bilang itu. Terselip satu hasrat untuk memperbaiki kualitas hidup
dan kehidupan melalui “jalan” lain selain akademis.
Ah, saya lagi-lagi terjebak pada
keadaan yang sangat dilematis. Lagi-lagi saya harus mengambil keputusan yang
sulit. Apakah Jamsostek hanyalah cinta sesaat saya? Atau justru cinta sejati
karena saya bukan termasuk tipe “kutu loncat”? Yah, kalau sudah bimbang begini,
andalan saya hanya satu: istikhoroh. Dan selalu ingat postulat seorang muslim
sejati: apapun yang Allah berikan untukku, pasti yang terbaik.
#pojok Tawangsari
0 comments:
Post a Comment