Berdakwah 'Tuk Lawan Perang Pemikiran

Kamis, 06 Agustus 2009

-->Keresahan, kegusaran, dan kemelut batin seringkali terjadi dalam hati manusia. Apalagi di zaman yang banyak tuntutan ini, rasanya ketenangan semakin sulit diperoleh. Modernisme telah banyak mengantarkan masyarakat ke dalam hedonisme yang gemerlap, padahal praktek hedonis pun tidak melulu memberikan solusi atas berbagai permasalahan dunia. Memang, dari segi fisik, orang-orang hedonis terlihat begitu sejahtera, tapi kesejahteraan belum tentu hadir dalam batin mereka. Masyarakat yang kecewa dengan modernisme selalu mencari alternatif-alternatif yang mampu memberikan kenyamanan dalam hati mereka. Ketenangan hati yang bersifat abstrak tidak bisa mereka dapatkan dengan hal-hal konkrit, seperti materi, kemewahan, dan lain-lain. Akibatnya, banyak penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan untuk mencari ketenangan itu. Penodaan, pelecehan, dan penistaan terhadap agama adalah integralistik dari kekecewaan mereka terhadap agama.
Untuk menghadapi berbagai tuntutan itu, diperlukan aqidah yang kuat yang mampu menopang timpangnya kehidupan. Aqidah yang kuat tidak serta merta didapatkan dengan sendirinya, tapi harus melalui tahapan-tahapan. Berbagai tahapan itu bisa dilaksanakan melaui beragam cara, misalnya dengan membaca buku, mengaji, hadir dalam ta’lim atau cara-cara yang lain. Semua cara itu bisa disintesa dalam suatu bentuk yang disebut dengan dakwah. Dakwah menjadi penting ketika manusia mulai kehilangan pegangan kehidupan. Dakwah menjadi keharusan ketika agama acapkali diabaikan. Dan dakwah menjadi prioritas ketika akhirat dikesampingkan.

Dakwah memiliki peranan potensial dalam membangun suatu masyarakat karena dengan dakwah, kita bisa saling mengingatkan ketika kehidupan dunia sering membuat kita lupa, apalagi untuk kaum muda yang emosinya cenderung belum stabil. Para pelajar dan mahasiswa, yang umumnya beruasia muda, sangat rentan dengan berbagai macam godaan. Mereka sangat mudah diberikan stimulus-stimulus yang merusak pemikiran mereka. Apalagi, sekarang bangsa Barat sedang gencar-gencarnya membombardir pemuda muslim dengan perang pemikiran (Gazhul fikr) karena mereka telah putus asa jika harus berperang dengan cara yang konvensional. Perang pemikiran dipilih karena selain sulit untuk menaklukan orang muslim dengan perang konvensional, perang pemikiran juga lebih mudah dan lebih murah biaya operasionalnya daripada perang konvensional. Mereka tidak perlu membeli atau membuat tank-tank, pesawat tempur, rudal-rudal, dan berbagai macam peralatan perang lain yang mengeluarkan biaya sangat besar. Mereka hanya perlu ‘food, fashion, dan film’ untuk meracuni dan menghancurkan mental dan moral pemuda muslim.

Ya, perang pemikiran mereka hanya dilakukan dengan cara-cara seperti itu yang terlihat sangat mudah dan efisien. Dari strategi perang yang seperti ini, mereka mendapat untung dua kali lipat, yaitu mampu mengdekadensikan moral pemuda muslim dan mendapatkan keuntungan materi dari apa yang mereka usahakan. Kalau dijabarkan satu persatu, kita akan menemukan fakta-fakta betapa suksesnya mereka dengan perang pemikirannya. Dari segi food (makanan), kita patut sedih melihat berbagai macam outlet-outlet makanan siap saji yang memenuhi mall-mall dan pusat perbelanjaan di banyak negara, termasuk negara Islam. Naasnya lagi, masyarakat kita justru lebih memilih makanan-makanan siap saji mereka untuk konsumsi sehari-hari. Di Indonesia saja, pemuda-pemuda begitu antusias memenuhi outlet-outlet mereka hanya untuk mengantri membeli makanan. Bahkan seakan ada jargon yang menyebutkan bahwa “tidak gaul kalau tidak makan di tempat mereka”. Hal ini sungguh sangat memilukan, karena selain menyebabkan berkurangnya nasionalisme di hati pemuda, mengonsumsi makanan-makanan siap saji mereka juga sama saja membantu mereka untuk membantai saudara-saudara kita seiman di Timur Tengah, karena beberapa persen keuntungan dari hasil penjualan produk mereka akan disumbangkan untuk Israel (Yahudi) yang selalu memerangi umat Islam. Selain itu, jika ditinjau dari segi kesehatan, makanan-makanan asli Indonesia terbukti lebih sehat daripada makanan siap saji mereka. Makanan siap saji yang mereka tawarkan, lebih banyak mengandung zat-zat yang dapat meracuni tubuh, dibanding zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh. Justru zat-zat yang berguna itu akan hilang karena bahan makanan, diolah dengan cara yang tidak tepat.

Dari segi fashion, mereka (bangsa Barat) juga sudah terlalu banyak mengotori gaya hidup anak muda. Tampilan busana yang tidak karuan yang sering memperlihatkan aurat, menjadi andalan mereka untuk merusak pemikiran remaja muslim. Agar lebih menarik dan laku di pasaran, setiap model yang mereka keluarkan, akan diperkenalkan oleh artis-artis dan bintang film dunia. Hal ini harusnya menjadi perhatian penting bagi kita, karena kita tahu bahwa aurat adalah hal yang sangat tabu dan harus dijaga oleh tiap umat Islam. Tapi kini kita dapat dengan mudah menemukan remaja-remaja yang mempertontonkan auratnya di muka umum tanpa rasa malu. Selain itu, kita juga sering melihat rusaknya pemikiran manusia yang diterapkan dalam cara berbusana, dimana laki-laki lebih senang memakai pakaian perempuan dan begitu juga sebaliknya, perempuan lebih senang memakai pakaian laki-laki. sungguh bangsa Barat telah berhasil memutarbalikkan kebenaran.

Perang pemikiran yang bangsa Barat lakukan dari segi film lebih parah dan lebih berhasil lagi, karena peperangan yang dilakukan lewat jalan ini lebih mudah dilakukan dan sangat menguntungkan. Mereka merusak moral remaja-remaja muslim dengan menampilkan tayangan-tayangan yang sangat tidak layak ditonton. Kita dapat merasakan dampaknya sekarang dimana pelecehan-pelecehan seksual begitu marak dilakukan. Lewat jalan ini menguntungkan karena mereka sangat memanfaatkan pepatah lama yang berbunyi, “Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui”, sekali berbuat, bisa dapat untung materi dan kemenangan dalam peperangan. Film-film yang bangsa Barat produksi banyak yang menyisipkan misi Yahudi dimana orang muslim yang akan menjadi sasarannya. Misalnya saja film Spiderman yang dibuat dan diperankan oleh orang-orang Yahudi. Disana banyak disisipkan pembodohan, terutama untuk umat Islam (lebih lengkapnya bisa dibaca di buku yang berjudul “Spiderman, I Will Kill You”).

Kalau kita melihat berbagai ironi yang seperti itu, rasanya tidak mungkin jika kita sebagai umat Islam hanya berdiam diri membiarkan bangsa Barat melakukan perang pemikirannya. Kita harus mulai membentengi diri kita dan saudara-saudara seiman kita agar tidak ikut menjadi korban perang bangsa Barat. Oleh karena itu, dakwah menjadi mutlak dibutuhkan setiap orang, terutama para mahasiswa yang didominasi oleh pemuda-pemuda. Kehidupan kampus yang cenderung bebas merupakan sasaran perang paling empuk karena berbagai macam budaya dan kebiasaan dari luar, sangat mudah keluar-masuk kampus. Akibatnya, kampus akan sulit terkontrol yang dapat mengakibatkan rusaknya generasi penerus bangsa. Kalau Indonesia tidak memiliki generasi penerus yang berkualitas, bagaimana nasib bangsa ini ke depannya?

About Me

Foto Saya
Sulung dari tiga bersaudara. Sedang belajar Psikologi dan Manajemen Bencana. Suka mengamati benda langit. Suatu saat ingin mendampingi laga timnas, sebagai psikolog tentunya.

Chat Box